Febi memakai pakaiannya untuk ke kantor. Setelah dua hari dirinya berdiam diri di apartement dan tidak beranjak sedikitpun. Kecuali dirinya lapar dan memesan makanan terus diantar ke apartement miliknya.
Febri kemarin sudah kembali ke rumah, kakaknya itu menyarankan Febi untuk pulang bersama Kellan nantinya. Agar keluarga mereka bisa membicarakan lebih lanjut tentang pernikahan ulang Febi dan Kellan, kalau Kellan setuju dengan usul Febi itu.
"Aku sangat malas pergi," gumam Febi keluar dari dalam apartement, berjalan dengan anggun memasuki lift dan menekan tombol menuju lobi aprtement. Febi melihat pada ponselnya, dan melihat kiriman pesan dari Sonya yang mengatakan kalau pagi ini ada rapat dengan klien penting.
Febi menghela napasnya berjalan keluar dari gedung apartement. Febi masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobilnya menuju perusahaan. Hari ini Febi mengendarai mobilnya sendiri. Dia tidak mau merepotkan supir, karena hari ini dirinya akan ke beberapa tempat dan juga ke tempat yang tidak boleh diketahui oleh orang lain.
Febi menghentikan mobilnya di depan gedung perusahaan. Febi keluar dari dalam mobil, dan berjalan masuk ke dalam gedung perusahaan dengan wajah datar tanpa senyumannya.
"Selamat pagi," ucap karyawan menyapa.
Febi hanya mengangguk singkat. Beberapa karyawan yang menyapa tadi menggigit bibir mereka. Dan karyawan wanita yang tidak disapa balik oleh Febi tadi, langsung mendengkus dan semakin tidak suka dengan Febi. Padahal Febi lebih muda dari mereka. Nasib Febi saja yang beruntung memiliki keluarga kaya raya dan bisa memimpin perusahaan.
"Dia sombong sekali. Aku sangat ingin perusahaan ini dipimpin oleh Febri. Dia sangat tampan dan pastinya sangat ramah," ucap wanita-wanita itu mulai bergosip.
Febi yang masih mendengarnya menggeleng pelan. Febi tahu, kalau kakaknya itu sangat ramah pada karyawan di perusahaan mereka. Dan kalau kakaknya ke sini, maka dia tidak akan segan untuk menggoda karyawan wanita yang menurutnya sangat cantik.
Sayang sekali, kakaknya akan ke sini hanya beberapa kali. Karena kakaknya lebih memilih untuk mengelola perusahaan lain, dan Febi yang bertanggung jawab penuh pada perusahaan ini sekarang.
Febi menekan tombol lift menuju lantai ruangannya. Febi keluar dari dalam lift, menatap Sonya yang sibuk bekerja dan mengatur jadwal Febi.
"Kau sudah menyiapkan bahan meeting?" Tanya Febi pada Sonya.
Sonya terkejut dengan kedatangan Febi secara tiba-tiba. Dan mengusap dadanya beberapa kali. Sonya berdiri dari tempat duduknya dan mengangguk. Dia sudah menyiapkan bahan meeting.
"Kita pergi sekarang." Kata Febi berbalik, dan berjalan masuk ke dalam lift.
Sonya yang melihatnya, langsung terburu-buru menyusul Febi masuk ke dalam lift. Sonya merapikan pakaiannya, dan tersenyum sopan pada Febi. Febi hanya melihat sekilas dan membuka ponselnya, melihat pesan yang dikirim oleh Kellan dua hari yang lalu padanya.
Pria itu tidak mengirim pesan lagi padanya. Ntah ke mana pria itu sekarang, yang tidak mengirim pesan lagi padanya. Febi kembali menyimpan ponselnya, dan keluar dari dalam lift dengan wajah datarnya.
Namun, langkahnya terhenti ketika melihat seorang pria yang masuk ke dalam perusahaan dan berjalan menuju dirinya dengan senyuman manis pria itu.
Pria itu langsung memeluk Febi dan memberikan sebuah kecupan di puncak kepala Febi.
"Sayang, aku rindu," ucap pria itu melepaskan pelukannya dengan Febi. Febi yang mendengar ucapan pria itu, menatap sekelilingnya dan karyawan-karyawan di sini semua melihat pada mereka.
Mereka sudah tahu siapa pria ini. Pria yang mengaku sebagai suami Febi—atasan mereka. Dan juga sering main ke sini waktu dulu menemui Febi. Dan mereka dengar kabar, kalau Febi sering mengusir pria itu dan tidak mengakui pria itu sebagai suaminya. Dan kenapa sekarang malah Febi tampak senang dan menerima kehadiran pria ini?
"Kau kapan pulang?" Tanya Febi mengalihkan pembicaraan mereka.
Kellan yang mendengar pertanyaan istrinya, tertawa pelan. "Aku pulang kemarin. Maaf, aku tidak langsung menemui dirimu. Aku ingin memberi kejutan. Kau mau ke mana?" Jawab dan tanya Kellan, melihat istrinya yang diikuti oleh Sonya di belakang memegang berkas.
"Aku mau bertemu dengan klien dan melakukan meeting." Jawab Febi.
Kellan mendengarnya menunduk lesuh. Dia ingin menghabiskan waktu bersama istrinya hari ini, ternyata Febi tidak bisa diganggu.
"Aku kira kau tidak memiliki kegiatan penting hari ini. Aku mau mengajakmu jalan-jalan," ucap Kellan.
Febi yang mendengarnya merasa tak tega. Mereka baru baikan, dan Febi malah tidak bisa meluangkan waktu dengan pria ini sekarang. Febi menatap pada Sonya, dan memikirkan kembali tentang meeting-nya hari ini. Kalau dibatalkan pasti akan membuat klien mereka marah.
"Aku hanya dua jam. Dan setelah itu kita bisa pergi bersama," ucap Febi, membuat Kellan mendongak dan menatap wajah cantik Febi.
"Jadi, kau akan menghadiri meeting itu dan setelah itu kau mau jalan berdua denganku?" Tanya Kellan semangat.
Febi yang mendengarnya tertawa gemas. Semua karyawan tertegun melihat Febi yang tertawa. Atasan mereka itu, kebanyakan menatap dengan muka datar. Tapi, kali ini malah tertawa dan sangat cantik.
"Iya. Aku akan jalan denganmu. Kau salah kenapa baru pulang. Dua hari kemarin libur dan tidak kemana-mana," ucap Febi, membuat Kellan merasa bersalah. Dia dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya. Agar dia bisa menikmati waktu berdua dengan Febi di sini.
"Aku harus bekerja. Nanti jam makan siang kau bersamaku, dan jangan makan siang bersama klien," ucap Kellan diangguki oleh Febi.
Febi dan Sonya berjalan keluar dari perusahaan, setelah Febi berpamitan dengan Kellan. Febi menghentikan langkahnya dan berbalik menatap pada Kellan.
"Kau bisa menunggu di ruang kerjaku. Aku usahakan tidak akan lama," ucap Febi diacungi jempol oleh Kellan.
Kellan berjalan menuju lift, dan masuk ke dalamnya mengantarkan dirinya ke lantai ruangan Febi. Beberapa karyawan wanita, juga tampak menggoda Kellan dengan mengedipkan mata mereka. Kellan tidak tertarik dengan mereka semuanya.
Dia hanya mencintai Febi. Kellan keluar dari dalam lift, namun, langkahnya terhentik ketika akan masuk ke dalam ruangan kerja istrinya. Melihat seorang karyawan wanita yang menghadang dirinya.
"Tuan Kellan, mau ke mana?" Tanya wanita itu dengan suara mendesahnya.
Kellan mengangkat sebelah alisnya. "Aku mau masuk ke ruangan kerja istriku," ucap Kellan datar, dan tidak mau menanggapi wanita ini lebih lama lagi.
Wanita itu menahan senyumannya. "Anda masih berharap pada Nona Febi? Bukankah Nona Febi tidak menyukai dan mengakui anda?" Tanya wanita itu dengan sengaja membuka dua kancing kemejanya di depan Kellan.
Kellan yang melihat itu mengerutkan keningnya. Wanita ini sungguh akan menggoda dirinya? Kellan tidak tergoda melihat belahan d**a wanita itu. Yang tampak biasa dan banyak dirubah sana sini.
"Bukan urusanmu! Kau menghalangi langkahku! Dan kau harus ingat, aku tidak akan suka padamu!" Kata Kellan kasar, dan berjalan memasuki ruangan istrinya. Tidak lupa Kellan mengunci pintu ruangan itu.
Wanita yang mendengar ucapan Kellan terdiam, dan merasa tersingung dengan apa yang dikatakan oleh Kellan. Dia mengentakkan kakinya, dan masuk ke dalam lift. Padahal saat Febi mengatakan kalau menyuruh Kellan untuk ke ruangan gadis itu, dia langsung berlari ke sini dan bertujuan untuk menggoda Kellan.
Kalau berhasil dirinya menggoda Kellan, maka dirinya bisa menjadi istri Kellan. Dan hidupnya akan terasa enak, dan tidak perlu bekerja di perusahaan ini lagi.
Namun, ternyata. Menggoda Kellan tidak semudah apa yang dipikirkan olehnya.
***
Febi masuk ke dalam ruangannya, menatap Kellan yang tertidur lelap di sofa dalam ruangannya. Febi tersenyum melihat itu, dan berjalan mendekati Kellan.
Febi mengusap rambut Kellan lembut, membuat Kellan terganggu dalam tidurnya.
"Hei! Bangun!" Ucap Febi di telinga Kellan.
Namun, bukannya bangun. Malahan Kellan semakin merapatkan matanya dan tertidur dengan nyaman. Febi yang melihat itu menggeleng pelan, dan mencium pipi Kellan.
Kellan tersenyum mendapatkan sebuah ciuman di pipinya. Kellan perlahan membuka matanya. Ini bangun tidur terindah yang Kellan rasakan.
"Kenapa tidak mencium bibirku langsung?" Tanya Kellan jenaka.
Febi yang mendengar itu berdecak pelan. Febi beranjak dari sisi Kellan, dan berjalan menuju kursi kebesarannya dan memeriksa beberapa berkas sebelum mereka pergi saat jam makan siang.
"Tunggu sebentar. Aku hanya memeriksa berkas ini, dan kita akan pergi setelahnya," kata Febi lembut.
Kellan yang mendengar itu mengangguk. Kellan duduk dan mengambil air minum di atas meja dan meminumnya hingga habis.
"Karyawa wanita di perusahaanmu sangat berani sekali menggoda seseorang," kata Kellan, membuat Febi melihat pada pria itu dan menaikkan sebelah alisnya dan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu.
"Menggoda? Siapa yang digoda? Biasanya karyawan wanita di sini, hanya digoda oleh Febri dan mereka akan menjadi cacing kepanasan akibat ulah kakakku itu!" Decak Febi.
Kellan tersenyum. "Salah satu karyawan wanita di sini, menggodaku tadi dan mengatakan untuk apa aku menemui dirimu, bukankah kau mengusirku?" Ucap Kellan, mengingat kejadian tadi.
Febi tertawa pelan. "Terus kau tergoda olehnya?" Tanya Febi masih memeriksa berkas-berkas di atas meja, dan menunggu apa yang dikatakan oleh Kellan selanjutnya.
"Tidak. Mana mungkin aku tergoda oleh wanita seperti itu. Aku hanya mencintai dirimu," ucap Kellan mengedipkan sebelah matanya.
Febi yang melihat itu mendengkus. "Jangan banyak menggombal!" Kata Febi yang ingin muntah mendengar gombalan dari suaminya itu.
Kellan berdecak mendengarnya. Febi memang sangat susah sekali untuk dirayu dan lihat sekarang, istrinya itu tidak ada tersipunya dan malah serius dengan pekerjaannya.
Kellan yang melihat wajah serius Febi, semakin mencintai gadis itu. Febi yang serius seperti ini, maka kecantikan Febi berkali lipat dan semakin membuat Kellan ingin merengkuh tubuh Febi dan membuat Febi mendesah di bawahnya.
Sialan!
Pikiran kotornya sangat mendominasi sekali. Kellan tidak boleh melakukan itu, yang akan membuat Febi berpikiran, kalau Kellan itu pria yang hanya memikirkan selakangan dan tidak serius pada Febi.
"Kau cantik." Puji Kellan.
Febi yang mendengar pujian itu langsung mendongak.
"Apa yang kau katakan? Aku cantik? Aku memang sudah cantik dari dulu." Kata Febi percaya diri sekali.
Kellan mendengarnya tertawa kecil. Sudah dibilang, dirinya salah menggoda seseorang. Febi tidak mudah digoda sama sekali! Malahan Febi itu akan mengiakannya. Seperti Kellan yang mengatakan Febi cantik, dan Febi mengataka dirinya memang cantik.
"Iya, kau gadis tercantik. Aku rasanya tidak mau mengalihkan mataku darimu," kata Kellan mengedipkan sebelah matanya.
Febi yang mendengarnya mengulum senyumnya. "Kau pria yang banyak merayu ternyata! Jangan-jangan kau juga suka merayu perempuan lain?!" Tuduh Febi, membuat Kellan mendengar itu terkejut dan menggeleng keras.
"Aku tidak suka merayu perempuan lain! Aku hanya merayu dirimu saja," kata Kellan, tidak terima dituduh oleh istrinya.
Kellan tak pernah berpikir dirinya merayu perempuan lain. Yang mana istrinya saja sudah cantik dan mampu membuat jantungnya berdebar tak karuan.
"Ya. Ya. Aku percaya. Kau sudah lapar?" Tanya Febi melihat jam dinding dalam ruangannya, sudah menunjukkan pukul dua belas siang lewat beberapa menit.
Febi sudah merasa lapar. Tadi pagi dirinya hanya memakan dua potong roti. Dan saat melakukan pertemuan dengan klien-nya tadi Febi tidak makan, karena mengingat pesan Kellan kalau Febi harus makan siang dengan pria itu.
Padahal klien sudah menawarkan makan siang pada Febi. Dan klien-nya itu yang akan mentraktir. Febi menolaknya sopan, dan mengatakan dia ada janji dengan seseorang untuk makan siang. Klien itu mengangguk dan tidak masalah dengan itu semua.
"Hem. Aku sudah lapar. Kita pergi sekarang?" Tanya Kellan.
Febi yang mendengarnya mengangguk. "Ayo, kita pergi sekarang. Aku juga sudah lapar. Tadi pagi aku hanya sarapan dengan dua potong roti," kata Febi berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati suaminya.
Kellan memeluk tubuh Febi sebentar sebelum keduanya keluar. Kellan memiringkan wajahnya, dan melumat bibir Febi lembut. Febi mengalungkan tangannya di leher Kellan, membalas lumatan Kellan.
Lidah keduanya saling membelit dan menukar saliva satu sama lain. Kellan yang merasakan napas Febi sudah mulai habis, Kellan melepaskan ciumannya pada Febi dan tersenyum.
"Bibirmu sangat manis sekali. Aku ingin terus melumatnya. Tapi, nanti kita tidak akan makan siang," ucap Kellan tertawa pelan.
Febi ikut tertawa mendengarnya. Febi mengusap d**a Kellan lembut. "Lebih baik kita makan siang sekarang, atau kita akan makan siang dengan cara lain," ucap Febi mengedipkan sebelah matanya dan berjalan keluar dari dalam ruangannya.
Kellan yang mendengar itu sangat terkejut. Kellan menyusul istrinya dan tersenyum sopan pada Sonya yang membungkuk padanya. Mungkin dalam perusahaan ini, hanya Sonya wanita yang tidak menggoda pria yang dekat dengan Febi.
"Apa yang kau katakan tadi?" Tanya Kellan setelah masuk ke dalam lift dan hanya berdua saja dengan Febi.
Febi melirik pada suaminya. "Tidak ada. Menjauhlah sedikit. Jangan terlalu rapat," ucap Febi mengusir Kellan untuk menjauh sedikit darinya.
Kellan yang mendengar itu langsung cemberut. Padahal Kellan yang ingin berdekatan dengan istrinya, dan tidak melakukan apa pun.
"Aku hanya ingin berdekatan denganmu sayang," kata Kellan cemberut.
Febi yang melihat itu langsung menggeleng pelan. "Jangan seperti anak kecil. Aku harus menyesuaikan diri dulu," kata Febi menepuk pundak Kellan beberapa kali.
Kellan yang mendengarnya mengangguk. Mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Febi. Febi baru menerima dirinya, dan Febi masih banyak harus menyesuaikan diri dan tidak merasa risih nantinya.
"Terima kasih mau menerima kehadiranku," ucap Kellan tulus.
Febi mendengarnya mengangguk dan tersenyum manis pada Kellan.