Febi dan Kellan memasuki salah satu resto bintang lima. Febi berjalan menuju meja yang berada di pojok restoran. Kellan yang melihat Febi memilih tempat duduk itu menahan senyumannya.
"Kau sengaja memilih tempat duduk di sini?" Tanya Kellan duduk di depan Febi.
Febi yang mendengar pertanyaan dari Kellan mengangkat sebelah alisnya dan tertawa kecil. Dari dulu sampai sekarang, Febi selalu memilih tempat duduk di pojok dan tidak pernah beralih. Kecuali kalau dia bersama dengan klien. Maka dia akan memilih yang tengah atau ruangan privasi.
"Aku selalu memilih yang pojok." Jawab Febi memanggil pelayan.
Febi melihat buku menu dan memesan beberapa makanan. Kellan ikut memesan dan tersenyum pada Febi yang duduk di depannya.
"Kau selalu makan di sini?" Tanya Kellan.
Febi mendengar itu mengangguk. "Sering. Tapi, tidak terlalu sering." Jawab Febi.
"Tapi, ini restoran favoritmu?" Tanya Kellan kembali. Mereka masih harus saling lebih mengenal lagi dan semakin dekat lagi.
"Salah satunya. Kalau kau tidak suka makanan di sini nanti, kita bisa pindah ke restoran lain," ucap Febi tersenyum, dan ingin menjadi perempuan pengertian untuk Kellan.
Kellan menggeleng. "Tidak usah. Aku yakin restoran pilihanmu enak. Tapi, aku sering makan di pingir jalan," ucap Kellan tertawa kecil mengatakannya.
Ntah kenapa, dirinya sedikit merasa malu mengatakan itu. Makanan pingiran jalan tidak terlalu buruk. Kalau Kellan malas mencari restoran, maka dia akan singah ke makanan pingiran jalan dan lebih memilih makan di situ.
Febi mendengar itu terkejut. Orang terpandang seperti Kellan makan di pingir jalan? Rasanya mustahil sekali. Tapi, melihat Kellan yang mengatakannya bersungguh-sungguh, Febi tidak meragukan pria itu dan malah semakin tertarik pada Kellan. Dia harus lebih banyak mengenal Kellan.
"Oh iya? Aku kira kau tidak suka makan di pingir jalan? Aku juga sering makan di pingir jalan, walau tidak sering sekali," ucap Febi membuat Kellan mendengarnya juga terkejut.
Febri tidak pernah mengatakan ini padanya. Atau dirinya yang tidak bertanya pada pria itu, sehingga Febri tidak mengatakannya. Kellan hanya menanyakan sedang apa Febi dan apa yang dilakukan dan siapa yang berani mendekati istrinya itu. Hanya itu saja yang ditanyakan oleh dirinya. Dan tidak menanyakan, di mana tempat makanan favorit Febi dan lainnya.
"Lain kali kita akan makan di pinggir jalan," ucap Kellan menarik piringnya agar mendekat padanya.
Febi mendengar itu mengangguk. "Iya. Lain kali kita akan makan di pinggir jalan," ucap Febi.
"Bagaimana meeting-mu tadi? Apakah berjalan lancar atau ada kendala?" Tanya Kellan, berusaha untuk mengobrol terus dengan Febi.
"Semuanya berjalan lancar." Jawab Febi.
Febi menatap pada Kellan dan menghela napasnya. Dia harus membicarakan ini pada Kellan kalau dirinya ingin menikah ulang dengan pria itu. Lebih baik dia membicarakannya setelah mereka makan bersama.
"Kita tidak usah jalan-jalan. Aku ingin pulang ke apartement dan ada yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Febi.
Kellan yang mendengar itu menaikkan sebelah alisnya. Penasaran dengan apa yang akan Febi bicarakan padanya. Bukan tentang Febi yang tidak mau melanjutkan pernikahan ini bukan? Membayangkan itu saja, sudah membuat Kellan takut rasanya.
"Kau ingin membicarakan apa?" Tanya Kellan penasaran.
Febi mengulum senyumannya, melihat Kellan yang penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh dirinya.
"Nanti kau juga tahu. Aku ingin membicarakan hal serius. Kalau di sini kita membicarakannya, nanti malah tidak terlalu privasi," kata Febi memakan makanannya.
Kellan yang mendengar itu hanya bisa mengangguk, dan memakan makanannya dalam diam. Pikiran Kellan kemana-mana kalau Febi tidak mau menganggap dirinya suami lagi. Padahal Kellan sudah sangat senang, dengan Febi yang menerima dirinya. Pikiran negatif itu terus saja bermunculan dalam kepalanya.
Tanpa sadar makanan Kellan sudah habis. Dan Febi juga sudah menghabiskan makananya. Febi mendorong piringnya agak menjauh dan meminum minumannya.
"Kita pergi sekarang?" Tanya Febi pada Kellan.
Kellan yang mendengar itu mengangguk, dan berdiri dari tempat duduknya untuk pergi mengikuti Febi dari belakang. Setelah dirinya membayar makanan mereka.
Kellan membuka pintu mobil untuk Febi. Febi tersenyum dan mengucapkan kata terima kasih pada Kellan. Kellan mengangguk dan memutari mobil, untuk masuk ke dalam kursi mengemudi. Kellan menoleh ke arah Febi yang duduk di sampingnya.
"Ke apartement-ku saja bagaimana?" Tanya Kellan, yang mengajak Febi ke apartement miliknya.
Febi mengangguk. "Tidak masalah. Ayo, kita ke apartement-mu saja," jawab Febi, setuju dengan ucapan Kellan untik ke apartement pria itu.
Kellan mulai melajukan mobilnya membelah jalanan, dan menuju ke apartement miliknya. Kellan menatap Febi yang tenang duduk di sampingnya dan tidak terlihat tanda-tanda Febi akan memutuskan hubungan mereka.
Kellan menghentikan mobilnya di pakiran apartement. Febi yang melihat itu langsung keluar dari dalam mobil. Kellan ikut keluar dan mengandeng tangan Febi masuk ke dalam apartement.
Febi yang merasakan tangannya digandeng, merasakan jantungnya berdetak dan merasa gugup. Dia harus tenang dan tidak boleh terlihat gugup.
Kellan dan Febi masuk ke dalam lift, dan menekan tombol lift yang membawa mereka ke lantai apartement milik Kellan. Keduanya keluar dari dalam lift, Febi mengikuti langkah Kellan yang membawa dirinya.
Dan saat pria itu membuka pintu apartement, Febi masuk secara perlahan ke dalamnya. Dan menatap takjub dengan apartement Kellan. Ini lebih besar dari apartement miliknya. Dan juga sangat rapi untuk ukuran seorang pria.
Febi berjalan menuju sofa apartement Kellan, dan duduk di atas sofa dengan anggunnya. Kellan yang melihat itu tersenyum manis dan berjalan menuju dapur, mengambil air minum untuk Febi.
Kellan kembali ke ruang tengah, dan meletakkan air minum di atas meja. Febi yang melihat itu langsung mengambil dan meminumnya.
"Segar," ucap Febi.
Kellan tertawa kecil. "Apa yang mau kau bicarakan? Kau tidak menyesal bukan karena menerimaku? Dan kau mau memutuskan hubungan ini?" Tanya Kellan, ntah mengapa merasakan sesak di dadanya ketika mengatakan itu.
Kellan tak bisa Febi pergi darinya. Dan meninggalkan dirinya. Kellan ingin Febi selalu berada di sampingnya dan menemani setiap harinya.
Febi mendengar itu tertawa pelan. Kellan sangat lucu sekali astaga! Ingin sekali Febi mencubit pipi suaminya itu dan mengatakan, jangan banyak berpikiran yang tidak-tidak. Mana mungkin Febi bisa melakukan itu pada Kellan. Dirinya tak terpikirkan itu sama sekali. Kecuali saat pertama Kellan menemui dirinya.
Ingin rasanya Febi saat itu melempar Kellan menggunakan balok es dan berkata, kalau Kellan tidak boleh datang ke dalam kehidupannya lagi. Tapi, itu dulu. Sekarang sudah berbeda. Febi ingin Kellaj menjadi prianya. Dan menjadi satu-satunya pria yang menjadi suaminya.
"Aku tidak akan melakukan itu. Hem ... bagaimana kalau kita menikah ulang," ucap Febi menatap serius pada Kellan.
Kellan yang mendengarnya tertegun. Apakah dirinya tidak salah mendengar? Kalau mereka akan menikah ulang. Bukankah mereka sudah menikah? Untuk apa mereka ulang kembali?
"Menikah ulang? Bukankah kita sudah menikah?" Tanya Kellan tak mengerti.
Febi yang mendengarnya tersenyum manis. "Aku tahu kita sudah menikah. Hanya saja, aku ingin pernikahan kita lebih sah. Jadi, aku ingin kita menikah ulang. Dan membuat pesta pernikahan," ucap Febi menatap Kellan lembut.
Kellan yang ditatap lembut oleh Febi, balik menatap istrinya itu. Dia tahu pernikahan mereka waktu kecil itu meragukan dan tidak meyakinkan untuk Febi.
"Jadi, kau ingin kita menikah ulang, karena ingin pernikahan kita lebih sah?" Tanya Kellan.
Febi mengangguk. "Iya. Dan kita tinggal di negara yang tidak menerima pernikahan seperti ini. Kalau kita tinggal di luar negeri, mungkin aku tidak akan masalah dengan kita tidak menikah ulang," ucap Febi menjelaskan pada Kellan.
Kellan mengerti maksud dari istrinya. "Aku mengerti. Aku tidak akan menolak ini. Asalkan aku bisa bersamamu dan kau tidak akan meninggalkanku," kata Kellan, membuat Febi tersenyum mendengarnya.
"Aku juga tidak akan meninggalkan dirimu. Sayang saja aku meninggalkan laki-laki sepertimu." Ucap Febi tertawa kecil.
Febi membuka blazernya, dan hanya memakai kaos lengan pendek saja. Kellan yang melihat itu meneguk salivanya kasar. Godaan sekali melihat Febi seperti ini.
Kellan sangat ingin merengkuh tubuh Febi, dan membawa gadis itu ke atas ranjang dan membelai tubuh Febi lembut.
Pemikiran itu Kellan usahakan untuk membuangnya jauh-jauh. Kellan menelan salivanya dan melihat ke arah lain.
"Kau mau menginap di sini?" Tanya Kellan, berharap Febi mau menerima tawarannya untuk menginap di sini.
Febi mendengar itu mengerjapkan matanya beberapa kali. "Baiklah. Tapi, kita tidai melakukan apa pun!" Kata Febi, tidak mau melakukannya sebelum mereka menikah ulang.
Kellan yang mendengarnya terkekeh pelan dan mengangguk. Mereka tidak melakukan itu sekarang.
"Aku tidak akan melakukannya. Kau bisa pegang ucapanku," ucap Kellan tersenyum.
Febi mendengar itu mengangguk, dan berjalan menuju ke arah dapur dan memeriksa isi kulkas Kellan. Beberapa buah ada di dalam kulkas Kellan. Febi mengambilnya dan membawanya ke meja pantry dan memotong buah-buah itu.
Febi membawa buah itu ke atas meja dan memakannya. Febi menghidupkan televisi, dan berdecak melihat tidak ada acara yang menyenangkan ditayangkan oleh televisi di negara ini.
Febi mematikan televisi, melirik ke arah Kellan.
"Kau punya DVD drama atau film luar?" Tanya Febi.
Kellan menunjuk ke arah bawah meja di depan mereka. Febi yang melihat itu mengambil beberapa DVD dan melihat film mana yang akan ditonton olehnya. Semua ini sudah ditonton olehnya.
Febi kembali meletakan DVD itu ke tempat semula. Kellan yang melihat itu menaikkan sebelah alisnya, dan tidak mengerti dengan jalan pikiran istrinya ini yang tidak dimengerti olehnya.
"Tidak jadi?" Tanya Kellan.
Febi menggeleng dan tidak mau menonton semua film itu. "Aku sudah menontonnya berulang kali. Aku bingung mau melakukan apa," ucap Febi sudah mulai bosan dan tidak tahu akan melakukan apa.
Kellan yang mendengarnya tersenyum. "Bagaimana kalau kita saling menceritakan tentang diri kita masing-masing. Kau ingin tahu tidak, kenapa waktu kecil kita bisa menikah?" Tanya Kellan membuat Febi merasa tertarik pada apa yang dikatakan oleh suaminya itu.
"Bagaimana?" Tanya Febi.
Kellan tersenyum. "Aku dulu menyukaimu. Dan ingin menikah denganmu, aku memaksa orangtua kita untuk menikahkan kita. Setelah itu orangtuaku pindah, dan terpaksa aku untuk ikut. Aku awalnya menangis, dan mengatakan tidak mau meninggalkanmu. Kalau aku meninggalkanmu, berarti kita sudah bercerai," ucap Kellan tersenyum mengingat masa lalunya.
"Dan orangtuaku membujukku mengatakan aku dan kamu tidak bercerai. Kita masih suami istri, hanya tidak boleh bersama dulu. Setelah kita dewasa baru boleh bersama," ucap Kellan memegang tangan Febi dan mencium pungung tangan wanita itu.
Febi yang mendengarnya mengerjapkan matanya beberapa kali. "Aku tidak menolak pernikahan itu?" Tanya Febi. Memang ingatan Febi tentang masa lalu sangat minim sekali.
Akibat dirinya lebih banyak belajar dan mengejar apa yang diimpikan olehnya.
"Kau tidak menolak. Kau malah senang menikah denganku. Dan kau mengatakan saat aku pergi dulu, kalau kau akan menungguku kembali dan kita akan hidup bersama. Lucu sekali ya, anak kecil bisa mengatakan itu," kata Kellan terkekeh pelan membayangkan semuanya.
Febi berdecak. "Untung saja jarak umur kita hanya tiga tahun! Bukan sepuluh tahun! Kalau kau menikahiku saat jarak umur kita sepuluh tahun, kau p*****l sangat m***m!" Kata Febi mencubit lengan Kellan, membuat Kellan meringis merasakan cubitan Febi di lengannya.
"Aku tidak akan menjadi p*****l. Kalau kamu juga mau padaku!" Kata Kellan tidak terima dirinya dikatakan p*****l m***m.
Padahal Kellan itu adalah pria sangat baik dan tidak neko-neko. Hanya ingin menikah dengan Febi saja dulu. Itukan hal wajar dan tidak ada salahnya sama sekali.
Apa masalahnya dia ingin menikah dengan Febi? Bukan perbuatan kriminal. Malahan itu perbuatan yang mulia sekali. Dirinya masih memikirkan kata nikah bukan mengajak Febi pacaran yang statusnya tak jelas.
"Mungkin waktu kecil aku menjadi gadis kecil yang bodoh. Mau saja menikah dan setelahnya ditinggal. Ck! Kalau kau melakukan itu sekarang, aku akan membunuhmu!" Ucap Febi mengancam Kellan.
Kellan yang mendengarnya mengedik ngeri. Ya Tuhan ... ini sungguh istrinya? Ini sungguh Febi yang waktu kecil lemah lembut dan tidak tega membunuh semut? Sekarang saat besar, malah ingin membunuh Kellan.
"Febi... kau jangan bicara seperti itu. Aku menjadi takut," ucap Kellan takut dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.
Febi mengangkat sebelah alisnya. "Kau takut?" Tanya Febi diangguki oleh Kellan.
Febi merekahkan senyumannya. "Kalau kau takut, kau jangan macam-macam. Awas saja setelah kau menikahiku secara sah nanti, kau pergi meninggalkanku lagi! Aku tidak akan segan memotong tititmu itu!" Ancam Febi membuat Kellan menutup benda pusaka kebangaan dirinya.
Kellan tak bisa membayangkan benda pusaka ini dipotong. Bagaimana dirinya menikmati hidup yang penuh dengan surgawi dunia? Kellan dan bendanya ini adalah perpaduan sempurna untuk membuat Febi nantinya mendesah sepanjang malam, dan membuat Febi kesusahan berjalan nantinya.
"Jangan memotongnya! Kau ada-ada saja!" Ucap Kellan cemberut.
Febi yang mendengar itu tertawa pelan. "Aku hanya bercanda saja, kau tidak perlu takut seperti itu," kata Febi menepuk paha Kellan beberapa kali.
Kellan yang melihat tawa Febu tertegun. Tawa Febi sangat merdu terdengar di telinganya. Ya Tuhan ... dirinya sangat mencintai Febi. Dan melihatnya tertawa seperti ini semakin membuat Kellan mencintainya. Kellan tak akan menyakiti Febi.