"Sayang banget karena kita sudah harus pulang. Saya akan datang lagi bulan depan, rencananya saya akan mengajak karyawan saya untuk ikut mengumpulkan donasi dan barang-barang yang sekiranya masih layak digunakan oleh anak-anak."
Galuh menatap pada Ayu, Mamanya Prasa yang sedang berpamitan pada kepala panti. Ini adalah saatnya mereka untuk kembali pulang menjemput realita.
Bagi Galuh, dia harus meninggalkan khayalan berlebihannya tentang Geo. Dia saja yang kegenitan karena berharap di waktu yang sesingkat ini, Geo bisa tertarik padanya. Padahal jika dibandingkan dengan Prasa yang berkulit putih dan bertubuh tinggi semampai, dia kalah jauh. Galuh hanyalah gadis dengan tinggi 155cm dan kulit yang kuning langsat. Satu-satunya daya tarik yang dia punya adalah lesung pipi yang ada di wajahnya.
"Saya akan sangat berterimakasih jika semakin banyak donatur yang bergabung dengan panti kami. Bagaimana pun, saya ingin anak-anak bisa tumbuh seperti anak pada umumnya. Tahun depan akan ada dua anak yang mulai masih PAUD dan satu anak yang akan melanjutkan ke Sekolah Dasar. Semua berkat bantuan dari semua donatur termasuk Ibu Ayu."
Wah! Galuh berdecak kagum mendengar informasi yang dipaparkan oleh Ibu kepala panti. Ternyata semua anak yang ada disini sangat diusahakan untuk tetap bersekolah seperti anak pada umumnya. Hal yang membuat hati Galuh menghangat dan tergugah untuk ikut serta menjadi donatur di panti ini.
Mungkin yang akan dia berikan memang tidak bisa sebanyak orang lain. Tapi setidaknya akan bisa membantu anak-anak memilih perlengkapan sekolah yang layak dan bagus. Setelah dari sini, dia akan bertanya pada Mamanya Prasa bagaimana cara untuk ikut menyumbangkan sejumlah uang.
"Alhamdulillah, kalau begitu. Saya akan menyampaikan informasi ini ke grup donatur yang saya ketuai. Mereka akan senang mendengar bahwa anak-anak bisa bersekolah tanpa kesulitan."
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Ayu benar-benar berpamitan. Mereka bertiga berjalan keluar dari panti, berpapasan dengan Geo yang entah darimana.
Penampilannya berbeda dari yang tadi. Kini pria itu sudah mengenakan jaket jeans berwarna hitam.
"Tante Ayu, sudah mau pulang?"
Sopan sekali pria itu sampai menyempatkan diri berhenti dan menyapa Ayu yang berpapasan dengannya.
Mama Prasa itu tersenyum sambil mengangguk. "Takut kena macet di jalan," jawabnya. "Geo belum?"
Ditanya balik, Geo sempat melirik ke arah Galuh dan Prasa lalu tersenyum sama sopan nya dengan yang tadi.
"Mungkin agak sorean, Tante. Soalnya ada yang mau saya urus dulu disini."
Ayu mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut. Sama halnya dengan tadi yang ia lakukan dengan kepala panti, Ayu juga berpamitan dan sempat bertukar ucapan terimakasih dengan Geo.
Tiba saatnya Galuh melewati Geo yang masih berdiri di sana, dia mengangguk sebagai tanda sapaan.
"Hati-hati di jalan, Mbak. Terimakasih sudah datang berkunjung. Semoga bulan depan bisa ikut serta lagi."
Agak terkejut saat ternyata Geo mengajaknya bicara. Galuh sempat berpikir bahwa yang diajak bicara adalah Prasa, tapi ternyata memang benar dirinya.
"Ah, Iya. Sama-sama. Semoga ada kesempatan buat saya datang lagi kesini."
Ini bukan sekedar basa-basi. Dalam lubuk hati Galuh yang paling dalam, dia benar-benar berharap memiliki kesempatan lagi untuk bisa bertandang ke panti ini dan bertemu dengan Geo.
Agak gila mungkin jika Galuh menyebut ini sebagai Cinta pada pandangan pertama, dia yakin bahwa yang dia rasakan saat ini hanyalah rada tertarik secara visual karena Geo benar-benar pria yang tampan. Hanya dengan melihatnya saja, Galuh langsung lupa bahwa Geo adalah seorang tuna rungu.
"Cih! Disapa cowok ganteng jadi salting gitu lo!"
Galuh menoleh, berdecih saat mendengar komentar dari Prasa.
"Memangnya kenapa? Wajar dong, kalau gue salting disapa sama cowok seganteng Geo."
"Ya wajar aja. Tapi jangan terlalu berharap, dari penampilan nya aja udah kelihatan kalau dia bukan cowok biasa. Terlebih dia adalah donatur tetap panti asuhan, jadi udah pasti dia dari kalangan atas."
Seperti disiram air saat sedang ngantuk-ngantuknya, Galuh langsung tersadar begitu mendengar ucapan Prasa. Dia melengos, membuang muka ke arah jendela.
"Lagian siapa juga yang berharap? Baru juga ketemu sekali, masa iya gue langsung ngarep sama dia? Yang wajar aja dong, kalau ngomong!"
Ayu yang mendengar perdebatan kecil dari dua gadis yang ikut bersamanya, tertawa kecil. Dia menatap ke atas kaca spion.
"Ya enggak apa-apa lah kalau ngarep. Memangnya kenapa kalau dia dari kalangan atas? Galuh kan enggak kalah keren karena jadi penulis terkenal dan hebat yang tulisannya selalu laris terus jadi best seller. Harusnya justru Geo yang insecure kalau mau deketin Galuh."
Senyum kecil di bibir Galuh langsung terbit mendengar Ayu yang berusaha menghibur hatinya. Dia mendongak, balas menatap ke arah kaca spion yang ada di atas kepala Ayu.
"Enggak juga kok, Tante. Jadi penulis kan upahnya enggak seberapa, enggak sebanding kalau sama orang yang udah kaya dari lahir."
Padahal Galuh sama sekali tidak berniat menyindir Prasa atau merasa tersinggung dengan ucapan Prasa yang memintanya tidak berharap pada Geo yang sepertinya dari kalangan atas, tapi ternyata Prasa malah mengira bahwa Galuh marah padanya.
"Gal, maksud gue bukan begitu kok. Gue bukannya mau rendahin lo. Gue cuma enggak mau lo berharap sama sesuatu yang belum pasti dan nantinya malah bikin lo jadi sakit sendiri. Lo marah ya?"
Galuh menoleh dengan mengangkat sebelah alisnya, bibirnya tertarik di satu sudut membentuk senyum seringai.
"Ya kali gue marah cuma karena gituan doang? Enggak kok! Lagian kan gue udah bilang, gue cuma tertarik karena dia ganteng doang."
Walaupun Prasa pada awalnya tidak percaya, namun Galuh meyakinkan bahwa dirinya memang tidak marah.
Pun dia tidak serius dengan rasa sukanya pada Geo. Lagipula jika dia sudah memulai tulisan barunya, maka harinya akan dia habiskan di depan komputer tanpa sempat memikirkan hal lainnya lagi. Boro-boro untuk jatuh cinta, makan saja kadang harus lebih dulu diingatkan oleh Ayahnya.
*
"Assalamu'alaikum, Ayah!"
Galuh mengangkat sebelah kaki untuk melepaskan sepatu flat yang dia kenakan. Ketika dia mendongak, dia terkejut bahwa yang menghampirinya bukan lah Ayahnya, melainkan sang Kakak yang masih mengenakan setelan kerjanya.
Galih adalah satu-satunya kakak yang Galuh punya. Saat ini Galih bekerja menjadi Sales senior di salah satu showroom mobil paling besar di Jakarta. jabatannya sudah lumayan.
"Waalaikumsalam. Pulang naik apa?" tanya Galih sambil menyodorkan tangannya.
Galuh langsung menyambut tangan itu, menciumnya pelan.
"Diantar sama Tante Ayu tadi. Kan aku udah bilang di telepon." Lalu kepala Galuh celingukan, mencari sosok yang seharusnya ada di rumah ini. Biasanya sosok itu sedang duduk di ruang tamu sambil membaca buku Sejarah favorit nya.
"Mana Ayah, Bang?"
"Lagi ke rumah Pak RT. Sebentar lagi kan Agustus, Pak RT ngadain rapat buat acara tujuh belas Agustus-an."
Galuh mengangguk paham. Berjalan masuk, dia langsung menuju ke meja makan.
"Wah! Ini Abang yang masak?"
Sayur lodeh dan juga ayam goreng terlihat masih mengepul kan asap di atas meja. Menggugah selera makan Galuh yang sempat tenang beberapa saat lalu saat dia makan bersama anak panti.
"Iya. Bahannya sudah disiapkan sama Ayah, tapi Ayah keburu dipanggil sama Pak RT jadi Abang yang lanjut masak."
Lekas Galuh duduk di meja makan, membalikkan piring dan mengisinya dengan nasi hangat dari penanak nasi.
"Abang sudah makan?" tanyanya pada Galih yang ikut duduk.
"Ini baru mau makan. Tadinya mau makan bareng Ayah, tapi kayaknya bakalan lama jadi makan bareng kamu saja deh."
Galuh menyengir, mengambil kan nasi untuk Abangnya. Sebenarnya ini adalah kegiatan yang sudah berlangsung lama. Galuh merasa prihatin dengan Abangnya yang sejak SMA sudah sibuk mengurusnya dan pekerjaan rumah tangga sehingga jarang memiliki waktu bermain di luar bersama dengan teman-temannya.
Maka dari itu, sebagai apresiasi, Galuh selalu mengambilkan makanan untuk Abangnya sekalipun Galih sering kali menolak.
"Lapar banget kayaknya. Kamu enggak di kasih makan sama Tante Ayu?"
Mendongak, Galuh menyengir lebar.
"Dikasih makan kok tadi di panti, tapi lihat masakan Abang, aku jadi lapar lagi."
Galih menggelengkan kepalanya takjub. Adik wanitanya ini memang memiliki nafsu makan yang lumayan.
"Kok tiba-tiba kepikiran ikut ke Panti sih? Biasanya juga kamu lebih suka rebahan di kamar atau nulis?"
Galih sangat tahu kebiasaan adiknya. Setiap diajak oleh Prasasti, Galuh selalu saja menolak untuk ikut dengan alasan sibuk mengerjakan tulisannya. Maka dari itu Galih sempat heran saat mengetahui Galuh ikut ke Panti bersama dengan Prasa dan Mamanya.
"Lagi enggak ada kerjaan aja. Sekaligus aku mau cari inspirasi buat tulisan baru yang akan aku kerjakan."
Kening Abangnya itu langsung berkerut.
"Bukannya kamu bilang mau cuti? Memangnya enggak jadi?"
Diingatkan tentang acara liburannya yang gagal, wajah Galuh menjadi cemberut. Dia masih kesal dengan Kalira yang seenaknya membujuk dia untuk melakukan tugas penting ini.
"Ada misi penting, Bang. Jadi mau enggak mau, aku harus nunda jadwal cuti ku sementara waktu. Tapi habis tulisan yang satu ini selesai, aku pasti bakalan liburan. Aku enggak akan mau kalau sampai ada yang ganggu."
Galih mengangguk. "Abang juga rencana mau ambil cuti. Mungkin sebulan atau dua bulan lagi. Udah ngajuin cutinya, tinggal nunggu approve atasan."
Galuh berpikir sejenak. Rasanya akan menyenangkan juga kalau berlibur bersama dengan Abang dan Ayahnya. Selama ini Ayah terlalu sibuk mengurusi Galuh dan juga Abang hingga tidak memikirkan kepentingannya sendiri.
"Bang, gimana kalau Abang liburannya dua bulan lagi? Aku bakal usaha buat nyelesaiin tulisan aku dalam dua bulan, setelah itu kita bisa liburan bareng. Sama Ayah juga."
Sama seperti diri Galuh, Galih juga memiliki pemikiran yang sama. Tanpa berpikir panjang, dia langsung mengangguk tanpa keberatan.
"Boleh deh. Kasihan juga kalau Ayah di rumah terus. Nanti kita bisa rundingan dulu sama Ayah, bisa enggak nanti kalau Ayah minta cuti sama sekolahnya."
Maka dengan itu, mereka sepakat akan mengajak sang Ayah untuk ikut berlibur bersama dengan mereka. Itu pun kalau Ayah mereka bisa mengambil cuti dalam dua bulan nanti.
**