PENANTIAN SELAMA 17 TAHUN ( TAMAT)

546 Kata
Waktu berjalan tanpa ampun, dan Sri merasa seolah dunia telah berhenti sejenak setelah membaca pesan terakhir Ar. Pesan itu, yang penuh dengan kelembutan dan pengorbanan, membuatnya terduduk di tepi tempat tidur, menatap layar ponselnya dengan mata berkaca-kaca. "Bebek Kejepitku," kata-kata itu terngiang-ngiang di telinganya, mengingatkan pada masa sekolah dulu, saat Ar selalu memanggilnya begitu dalam hati—sebuah panggilan sayang yang lucu dan penuh arti, meski tak pernah diungkapkan secara langsung. Anak-anaknya, dua laki-laki yang lucu dan aktif itu, melihat ibunya yang tiba-tiba murung. "Ibu, kenapa kamu nangis?" tanya yang sulung, yang kini sudah berusia 12 tahun, sambil memeluknya. Sri hanya bisa tersenyum lemah, menyeka air mata, dan berkata, "Ibu sedang ingat teman lama, Nak. Seseorang yang baik hati tapi sudah pergi." Penyesalan Sri semakin dalam seiring hari berganti. Ia mulai mengumpulkan kenangan tentang Ar dari media sosial, melihat foto-foto lama yang pernah dibagikan, dan bahkan mencari tahu lebih banyak tentang kehidupannya yang terlewatkan. Ternyata, Ar bukan hanya si biang kerok sekolah yang nakal; ia telah menjadi seorang pria yang sukses di bidangnya, seorang yang diam-diam membantu banyak orang di sekitarnya. Tapi di balik semua itu, hati Ar tetap setia pada Sri, sebuah kesetiaan yang tak pernah ia sadari. Suatu hari, Sri memutuskan untuk mengunjungi kota tempat Ar pernah tinggal. Ia berpura-pura pergi untuk urusan keluarga, tapi sebenarnya, ia ingin mencari kuburan Ar. Dengan bantuan teman-teman lama, ia akhirnya menemukan lokasi itu—a sebuah peristirahatan abadi yang sederhana, dikelilingi pohon-pohon rindang dan bunga-bunga liar. Sri berdiri di depan nisan, membawa seikat bunga mawar putih yang mewakili kebersihan hati Ar. "Aku datang terlambat, Ar," bisiknya pelan, suaranya bergetar. "Aku tidak tahu kalau cintamu itu sebesar ini. Selama ini, aku terlalu sibuk dengan hidupku sendiri, dengan David dulu, dan dengan pria lain yang kuyakini bisa bahagiakan aku. Tapi kau... kau selalu ada, bahkan dalam diam." Air mata Sri jatuh ke tanah, membasahi dedaunan kering di sekitar kuburan. Ia ingat betapa Ar selalu membuatnya tersenyum di sekolah, dengan kenakalannya yang sebenarnya adalah cara untuk dekat dengannya. "Bebek Kejepit," kata itu kembali muncul di bibirnya, membuatnya tersenyum getir. Ia menyadari bahwa panggilan itu bukan sekadar lelucon; itu adalah simbol dari rasa kagum dan cinta yang tulus. Dari kunjungan itu, Sri mulai mengubah hidupnya. Ia lebih sering menghabiskan waktu dengan anak-anaknya, mengajarkan mereka tentang pentingnya menghargai orang lain, bahkan jika cintanya tidak terbalas. Ia juga mulai aktif di komunitas, membantu orang-orang yang kesulitan, sebagai cara untuk menghormati semangat Ar. "Hidup ini singkat, Nak," katanya pada anak-anaknya suatu malam. "Jangan pernah abaikan orang yang mencintaimu dengan tulus, karena mungkin kau tidak akan punya kesempatan kedua." Waktu pun berlalu, dan Sri menemukan kedamaian dalam penyesalannya. Ia tidak menikah lagi, memilih untuk fokus pada keluarganya dan kenangan-kenangan indah. Setiap tahun, pada tanggal kematian Ar, ia mengunjungi kuburan itu lagi, membawa cerita baru dan doa-doa yang tulus. "Aku harap kau bahagia di sana, Ar. Cintamu mungkin tak sampai, tapi ia telah mengajarkan aku banyak hal." Dan begitulah, cerita tentang Ar dan Sri menjadi pelajaran abadi tentang cinta yang tak terucapkan. Cinta yang, meskipun berakhir tragis, tetap menyala sebagai cahaya yang menerangi hati mereka yang pernah saling menyimpan rahasia. Di akhir hidupnya, Sri tahu, bahwa "Bebek Kejepit" itu bukan hanya panggilan sayang, tapi juga simbol dari cinta sejati yang abadi, meski tak pernah benar-benar dimiliki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN