
Ar, si biang kerok sekolah, selalu punya tempat khusus di hatinya untuk Sri, adik kelas yang manis dan pintar. Di balik kenakalannya, tersembunyi rasa kagum yang mendalam pada Sri. Namun, keberaniannya selalu ciut setiap kali ia mencoba mengungkapkan perasaannya. Ia tahu, Sri diam-diam menaruh hati pada David, teman sekelasnya yang tampan dan populer.
Bertahun-tahun berlalu, Ar menjalani hidup dengan berbagai lika-likunya. Namun, bayangan Sri tak pernah benar-benar hilang. Setelah 17 tahun, rasa penasaran dan kerinduan membuatnya memberanikan diri untuk mencari Sri di media sosial.
Hatinya berdesir ketika akhirnya menemukan akun Sri. Foto-foto yang diunggah menampilkan Sri yang semakin dewasa, namun matanya tetap sama seperti yang ia ingat. Ia juga melihat foto-foto dua anak laki-laki yang lucu dan menggemaskan. Dari informasi yang ia dapatkan, Sri sudah bercerai dengan suaminya.
Ar merasa ada secercah harapan. Ia memberanikan diri mengirim pesan kepada Sri. Awalnya hanya sapaan basa-basi, menanyakan kabar dan mengenang masa lalu. Lalu, dengan sedikit keberanian, ia menyelipkan panggilan sayang yang dulu sering ia gunakan saat memanggil Sri dalam hati: "Bebek Kejepit."
Panggilan itu, entah kenapa, membuat Sri membalas dengan lebih hangat. Mereka mulai sering bertukar pesan, saling bercerita tentang kehidupan masing-masing. Ar merasa inilah saatnya. Ia mengumpulkan seluruh keberanian yang ia punya dan mengungkapkan perasaannya selama ini terpendam. Ia jujur tentang perasaannya pada Sri, tentang kekagumannya sejak dulu, dan tentang betapa ia ingin membahagiakan Sri.
Harapannya melambung. Namun, kenyataan menghantamnya dengan keras. Sri dengan lembut menolak cintanya. Ia mengatakan bahwa ia sangat menghargai persahabatan mereka dan ia sudah menganggap Ar sebagai teman baik. Namun, jantungnya sudah terpaut pada pria lain.
Hancur. Cintanya yang selama ini ia simpan rapat, ditolak mentah-mentah. Ia mencoba menerima kenyataan, meski hatinya terasa seperti diremas. Ia berusaha tetap menjalin persahabatan dengan Sri, meski setiap kali melihatnya, ia merasa luka itu kembali menganga.
Waktu terus berjalan. Saya menyadari bahwa saya menderita penyakit serius. Ia berusaha menyembunyikannya dari Sri, tidak ingin bersantai wanita itu. Ia terus memendam rasa sakitnya, baik fisik maupun batin.
Suatu malam, Ar merasa sangat lemah. Ia tahu ajalnya sudah dekat. Dengan sisa tenaganya, ia meraih ponselnya dan mengetik pesan terakhir untuk Sri.
"Aku berharap kamu bahagia dengan laki-laki pilihanmu sekarang dan aku tidak akan pernah mengganggumu lagi, Sri. Doa ku selalu yang terbaik untukmu. Bebek Kejepitku."
Ia mengirim pesan itu, lalu memejamkan mata. Ar meninggal dunia, cintanya pada Sri tak pernah terbalas.
Sri, yang membaca pesan terakhir Keesokan harinya, terpukul. Ia baru menyadari betapa besarnya cinta Ar padanya selama ini. Air mata mengalir deras di pipinya. Ia menyesal, bukan karena tidak membalas cinta Ar, tapi karena ia tidak pernah benar-benar menghargai ketulusan hati laki-laki itu. Ia tahu, selamanya, ia akan mengingat Ar, si biang kerok sekolah yang selalu menemukan "Bebek Kejepit" dan cintanya yang abadi. Kini, hanya doa dan penyesalan yang bisa ia kirimkan untuk Ar, cintanya yang tak pernah sampai.

