Hari demi hari terlewati. Tidak banyak perubahan dari hubungan Aleta dan Jonael akibat pembicaraan tentang komitmen tempo hari. Kondisi Jonael sendiri belum bisa menerka apakah dia bisa? Apakah dia percaya? Sementara Aleta hampir menyerah karena tidak memiliki harapan lebih. Dia cukup sadar bahwa dia harus mundur suatu hari nanti dengan hati yang bahkan sudah mulai terpatri untuk lelaki itu. “Hai, Ale. Tumben kau kesini sendirian?”, sapa seseorang saat Aleta memesan minuman dingin di sebuah café tak jauh dari kantor. “Ohh… Halo Nadine. Kau juga sendirian? Bagaimana kalau kita bergabung? Aku memiliki hari berat akhir-akhir ini.” “Oke, sure. Pesankan aku red velvet dan akan kucari meja untuk kita.” Aleta setuju. Satu meja di dekat jendela menjadi tempat mereka bersantai di waktu istirah

