“Jangan mendekat. Sudah cukup dengan semua ini. Jika kau tidak menginginkan aku, maka stop. Tidak perlu mencari alasan lagi. Urus masalah kita masing-masing. Peranjian kita harus berakhir……” Aleta berjalan menuju tas besar di depan kamar. Tas dari apartemen itu membawa berkas penting yang di dalamnya terdapat kontrak perjanjian mutualism mereka. “Ini kan? Ini yang selalu menjadi alasanmu untuk mempermainkan aku? Dengar, kita itu sama-sama pengecut. Aku jahat? Iya ku akui, tapi kau juga sama.” ‘Sraaats….’ Dengan cepat Aleta merobek perjanjian itu menjadi beberapa bagian. “Jika kau tidak ingin ada kerumitan, maka kita selesai disini.”, pungkas Aleta dengan membuang kertas itu ke lantai. Jonael memandang Aleta dengan sedih. Hatinya ikut sakit. “Kau tidak tahu apa yang kurasakan, Ale.”,

