Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Aleta. dia berdiri dari sofa empuk di ruang tengah untuk membuka satu daun pintu di ujung ruangan. ‘Ckliiik’ Pintu terbuka. Tubuh Aleta limbung ke belakang karena sebuah dorongan ke tubuhnya. Dia tetap di posisi tegak dengan sapuan hangat di pinggangnya. “Akhirnya kau datang…”, sapa Aleta. Jonael yang kini memeluk tubuhnya hanya mengangguk dalam diam. Jonael masih menahan kepalanya bertengger di ceruk leher Aleta. Ada sedikit isakan, Aleta segera mengurai pelukan mereka. “Kau oke?”, tanyanya. Jonael memberanikan diri menatap Aleta. Wajah pucat dan basah, mata merah, cukup membuat Aleta penasaran. Jadi, sebelum ini, Jonael mengambil satu langkah lebih cepat dari Marvel. Ketika tadi di rumah sakit Marvel dan Zia pergi, Jonael bergegas mene

