Galang menuruni anak tangga rumahnya di Bandung. Pagi itu ia akan kembali ke Jakarta bersama sopirnya. “Lang,” panggil Galih ketika Galang tiba di lantai dasar rumah itu. “Ya?” Galih mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompetnya lalu menyerahkannya pada Galang. “Ini alamat kantor Papa. Kalau ada apa-apa kamu bisa ke kantor Papa atau telpon Papa.” Galang hanya menganggukkan kepalanya saat ia menerima kartu nama itu. Ia berpamitan hanya pada kakeknya, Giandra, karena Andrew telah kembali pulang ke Jakarta kemarin. Dan tanpa berpamitan pada Galih, Galang keluar dari rumahnya. “Hati-hati, Nak,” ujar Galih yang tak dibalas oleh Galang. Setelah mobil yang membawa Galang keluar dari rumah mewah itu, Galih melangkahkan kakinya juga untuk kembali ke Jakarta. Namun, langkahnya ditahan ol

