Angin malam berhembus lembut melalui jendela besar kamar Putra Mahkota, menggoyangkan tirai tipis yang menjuntai hingga menyentuh lantai marmer. Lilin-lilin yang berjejer di atas meja panjang berkelip pelan, memantulkan cahaya keperakan yang menari di permukaan buku-buku tebal yang terbuka. Di ruangan itu hanya ada suara gesekan pena dan lembaran kertas yang dibalik.
Putra Mahkota Alistair Caelum duduk di balik meja, tubuh tegapnya condong sedikit ke depan. Di hadapannya berjejer laporan demi laporan—catatan politik, strategi militer, dan dokumen perdagangan yang membutuhkan tanda tangannya. Malam baru saja turun, namun ia sudah berada di ruangan itu selama berjam-jam, menenggelamkan diri dalam pekerjaan seperti biasa.
Kerajaan Valoria tidak pernah memberi ruang bagi seorang putra mahkota untuk memikirkan hal-hal kecil, apalagi hal yang menyangkut perasaan. Ia dibesarkan untuk menjadi Raja yang akan memajukan negerinya.
Namun malam itu… pikirannya tidak setegas biasanya.
Tangannya berhenti menulis. Pena diletakkannya perlahan. Sorot matanya tetap menatap dokumen, tetapi pikirannya melayang entah ke mana.
Bukan ke perdagangan.
Bukan ke strategi kerajaan.
Bukan ke persoalan para bangsawan.
Melainkan… ke seorang gadis.
Arienne Vale.
Gadis itu, dengan mata besar yang gelisah. Dengan wajah polos yang jelas tidak siap menghadapi kerasnya istana. Dengan suara bergetar ketika menjawab pertanyaannya tadi pagi.
Tanpa ia sadari, Alistair bersandar di kursinya. Pikirannya memutar ulang adegan ketika gadis itu berdiri di hadapannya dengan gaun putih pucat. Ia ingat bagaimana Arienne menunduk begitu dalam, seolah takut bernapas, seolah tiap gerakannya bisa menimbulkan kesalahan.
Ia ingat tatapan gadis itu—mata yang jujur, terlalu jujur.
Tatapan yang menunjukkan ketakutan…
Bibir Alistair terangkat sangat tipis—bukan senyum, lebih seperti ekspresi iba yang enggan ia akui.
“Gadis yang malang,” gumamnya pelan.
Ia memijat batang hidungnya dengan dua jari. Ia tidak pernah memikirkan selir mana pun—bahkan tidak mengingat nama mereka. Selir hanyalah bagian dari permainan politik istana, wujud tuntutan garis keturunan.
Namun gadis itu… terlalu berbeda.
Arienne bukan selir yang datang dengan ambisi kekuasaan. Bukan pula selir yang datang untuk memikat atau hidup mewah di istana.
Ia lebih seperti… korban. Korban yang dilempar masuk ke dunia istana yang penuh intrik.
Belum pernah ada selir yang menatapnya dengan rasa takut seperti itu, padahal pangeran hanya berbicara padanya. Biasanya para selir tersenyum manis, merayu halus, atau berusaha menarik perhatiannya. Namun Arienne… seperti b***k tahanan perang yang akan ia hukum.
“Gadis bodoh,” gumamnya, bukan dengan nada marah, melainkan… heran.
Namun justru karena itulah yang membuatnya memikirkan gadis itu sekarang.
Alistair berdiri dari kursi, berjalan menuju jendela besar. Langit di luar gelap pekat, hanya diterangi bulan setengah yang menggantung rendah. Dari sana ia bisa melihat sebagian taman istana, tampak seperti bayang-bayang rumit yang saling bertumpuk.
Ia menyandarkan telapak tangannya pada bingkai jendela. Udara dingin malam menyentuh kulitnya, memberikan kejernihan sesaat.
Arienne Vale.
Seorang gadis desa biasa yang tidak seharusnya berada di sini.
“Kupikir dia bakalan senang berada di sini.” Alistair menghela napas, memejamkan mata, merasakan angin dingin menembus paru-parunya.
Senyumnya tiba-tiba mengembang—menahan tawa. “Tak kusangka, dia tampak tersiksa.”
“Gadis yang lugu. Apa dia pikir aku adalah pria berhati batu sehingga dia gemetar saat bertemu denganku? Aku tidak pernah melihat gadis yang menatapku dengan ketakutan."
"Tapi aku penasaran dengan gadis itu."
Pangeran mengangkat wajahnya perlahan, membiarkan pandangannya menelusuri langit malam. Bulan tampak pucat namun anggun, sementara bintang-bintang berkelip tenang. Ia menarik napas kecil, mencoba membiarkan keheningan itu menenangkan pikirannya.
Namun tetap saja—bayangan Arienne muncul lagi.
“Gadis sialan…” Suaranya nyaris hanya hembusan. “Dia telah merenggut fokus kerjaku.”
Tiba-tiba perhatiannya tertuju pada hal lain. Pangeran Alistair memandangi pedesaan yang jauh di sana.
Apakah hidup sederhana dan bebas semenyenangkan itu hingga Arienne tampak menderita saat berada di istana? Rasanya ingin sekali sesekali ia meluapkan emosinya.
Ia terdiam sejenak. Ada sebuah ide yang menggeliat di otaknya. Senyum mengembang tipis di bibirnya.
“Aku akan mengubah mentalmu mulai malam ini.”
Alistair berbalik badan, lalu melangkah menuju pintu.
Begitu ia membukanya, dua pengawal yang berjaga langsung berdiri tegap.
“Panggil Nathan,” perintahnya tanpa menoleh.
Salah satu pengawal bergegas. Tak sampai semenit, Nathan—pelayan kepercayaannya—datang dengan napas yang teratur, meski jelas ia berlari.
“Yang Mulia.” Nathan menunduk hormat.
“Pergi ke kediaman selir baru,” ujar Alistair pelan. “Katakan pada para pelayan perempuan di sana untuk mempersiapkan Selir Arienne. Mandikan dia. Rias dia. Buat dia tampak seperti putri kerajaan.”
Nathan mengangguk cepat. “Apakah ada instruksi khusus?”
Alistair menatap Nathan sejenak, lalu berkata, “Beri dia wewangian di seluruh tubuhnya tanpa terkecuali dan pakaikan dia dengan gaun putih yang menerawang."
Nathan tampak terkejut, Ia ingin memprotes karena itu tidak sesuai dengan aturan kesopanan istana. Tapi suaranya seakan tersekat.
“Dan jangan lupa berikan dia dalaman yang membuatnya masih berpakaian sopan di hadapanku dan pakaikan kain penutup untuk menutup tubuhnya saat melangkah ke mari agar dia menjadi topik hangat di bangsal selir."
Nathan menunduk. “Saya mengerti.”
Pangeran Alistair tak mengatakan apa pun lagi, ia melangkah pergi melalui lorong istana yang sunyi.
Di bangsal para selir, suasana sudah mulai merayap sepi ketika Nathan tiba. Para pelayan perempuan yang berjaga tampak kaget melihatnya datang terburu-buru.
“Tolong siapkan Selir Arienne,” ucap Nathan langsung.
Salah satu pelayan seketika bertanya karena tak percaya. “Selir Arienne?”
“Putra Mahkota menginginkan dia untuk malam ini.”
“Pangeran meminta kalian untuk memberi dia wewangian dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu pakaikan dia dengan gaun putih yang menerawang dan gaun dalaman yang membuatnya masih berpakaian sopan di hadapan pangeran, lalu pakaikan kain penutup untuk menutupi tubuhnya saat melangkah ke kamar pangeran."
Para pelayan perempuan saling pandang. “Baik, Tuan. Akan kami laksanakan.”
“Tapi di mana kami akan mendapatkan gaun menerawang itu?” tanya salah satu dari mereka.
Dengan tatapan datarnya, Nathan berkata, “Ikuti aku.”
Pria itu berbalik badan, mulai melangkah menelusuri lorong istana. Pelayan yang bertanya itu mengikuti di belakangnya.
Sementara itu, dua di antaranya segera berjalan cepat menuju kamar Arienne.
Arienne sejak tadi duduk di sudut ranjang, memeluk dirinya sendiri. Pikirannya begitu ramai, memikirkan keadaan ayahnya yang sedang sakit di rumah. Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka karena didorong dari luar, membuat Arienne sontak kaget.
“Selir Arienne, salam.” Kedua pelayan itu membungkuk. “Kami mendapat perintah dari Putra Mahkota.”
Arienne berdiri spontan. “Perintah?” Jantungnya langsung berdebar keras. “Perintah apa?”
“Anda diminta bersiap untuk menemani Yang Mulia malam ini.”
Arienne terdiam.
Ia memandangi wajah-wajah para pelayan itu dengan tak percaya, seolah mereka sedang membohonginya. “Tapi…” Bibirnya bergetar. “Tadi pagi beliau membatalkan selir yang terjadwal. Aku mendengarnya sendiri dari para selir yang bergosip.”
Kedua pelayan itu saling menatap. “Betul, Selir. Tapi… Yang Mulia mungkin sedang menginginkan Anda,” kata salah satu dari mereka bernada bercanda.
Arienne merasakan seluruh tubuhnya menegang. Ia tampak masih tak percaya. “Tapi…”
“Tidak ada tapi-tapian, Nona. Biar kami membantumu bersiap-siap.”
Tanpa sempat berkata apa pun, para pelayan sudah memegang lengannya dan menggiringnya menuju ruang mandi kecil di belakang kamar.
Salah satu pelayan melepaskan ikatan pakaiannya, sementara yang lain menyiapkan ember di sudut ruangan. Kain yang ia kenakan ditarik perlahan, jatuh tanpa suara ke lantai.
Siraman pertama dituangkan ke bahunya. Para pelayan bekerja tanpa banyak bicara, hanya memastikan ia bersih.
Begitu siraman terakhir selesai, para pelayan segera mengulurkan handuk dan menepuk-nepuk tubuh Arienne hingga kering. Tak lama kemudian, sebotol kecil minyak dibuka—aroma melati langsung menguar, ringan dan manis.
Jemari para pelayan mulai bekerja. Minyak itu dioleskan di telapak tangan mereka, lalu diratakan perlahan di sepanjang lengan Arienne, menyusuri bahunya, punggungnya, hingga betisnya. Ujung rambutnya pun disentuh wangi yang sama, membuat seluruh tubuhnya dipenuhi keharuman lembut melati.
“Kenapa… seluruh tubuhku diberi wewangian?” Arienne bertanya lirih, pipinya memanas oleh malu.
“Karena itu permintaan dari Putra Mahkota,” jawab pelayan yang memoleskan minyak wangi ke tengkuknya. Ia mengatakannya sambil menahan tawa.
Hati Arienne berdegup tak karuan.
Wajahnya kemudian dirias tipis dengan warna alami dari buah bit. Mereka mengoleskannya di bibir Arienne, pipi, dan juga kelopak mata.
Salah satu pelayan lain datang membawa sesuatu dari kotak panjang berbalut kain sutra.
“Ini gaun Anda.”
Arienne menatap gaun itu… dan darahnya langsung turun dari wajah.
“Ini… menerawang,” suaranya pecah. Ia meraba kain tipis itu dengan jari bergetar. “D–dan ini… sangat terbuka. Apakah tidak ada… dalamannya?”
Pelayan yang membawakannya itu tersenyum. “Ada, Selir. Tenang saja, Putra Mahkota tidak akan meminta Anda melangkah di istana secara tidak sopan.”
“Aku juga membawakanmu kain untuk menutupi tubuhmu saat menuju ke kamar Putra Mahkota.”
Arienne sangat heran. Dia merasakan ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang tidak seharusnya pangeran lakukan padanya.