1. Malam Penculikan
Malam itu, desa kecil Windmer ditutupi kabut tipis yang turun lebih cepat dari biasanya. Kabut itu merayap di antara pepohonan, menembus celah-celah kayu rumah penduduk. Angin berhembus rendah, membawa aroma tanah basah. Udara malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.
Di dalam rumah sederhana yang berada tepat di tepi hutan, Arienne Vale sedang memadamkan minyak lampu. Ia baru saja selesai membersihkan meja kayu yang usianya sama tua dengan dirinya. Rambut cokelatnya yang panjang dibiarkan terurai, membuat wajahnya tampak semakin lembut dalam cahaya remang.
“Besok aku akan mengambil ramuan dari Marthos lebih pagi,” batinnya.
Angin dingin terasa di kulitnya, Arienne menatap ke arah jendela itu. Entah kenapa itu membuatnya gelisah. Langkahnya mendekati jendela, ia melihat ke luar rumah. Menatap rembulan yang bersinar terang, terkadang ia adalah satu-satunya teman curhat Arienne ketika ia merasa sendiri.
Ia tidak tahu mengapa hatinya seakan gelisah. Ia pun menutup jendela tersebut dan memastikan palangnya terpasang.
Arienne berbalik, hendak menuju kamar, namun langkahnya terhenti ketika ia melihat ayahnya, Rowan Vale, tertidur kelelahan di kursi dekat perapian. Tubuh lelaki itu kini jauh lebih kurus, janggut serta kumisnya dibiarkan memanjang, rambutnya dipenuhi uban, dan garis kecemasan mengisi wajahnya sejak istrinya—ibu Arienne—meninggal tujuh tahun lalu.
Arienne meraih selimut dan menutupkannya pada sang ayah. Senyum lembut muncul di bibirnya.
“Sekarang aku tidak memiliki siapa pun kecuali ayah.”
Ia membungkuk, mencium kening ayahnya, lalu kembali berdiri.
Dan saat ia berbalik menuju kamar, dia mendengar suara yang membuat jantungnya berdetak kencang.
Suara derap kaki kuda para prajurit terdengar dari kejauhan seperti badai yang merayap dari ujung desa. Arienne cukup penasaran, walau jantungnya berdebar begitu kencang. Ia mendekat ke jendela, membuka palangnya sedikit, mengintip ke luar.
Mungkin ada belasan prajurit mendekat—membawa obor.
Kabut malam memantulkan cahaya oranye, menciptakan siluet-siluet yang bergerak cepat.
Arienne menutup mulutnya. “Tidak... itu pasukan kerajaan... Kenapa mereka ke sini?”
Pasukan kerajaan biasanya tidak pernah datang ke wilayah terpencil seperti rumah milik Arienne. Mereka hanya turun jika ada masalah besar atau jika mereka mencari seseorang.
Ketukan keras menghentak pintu.
DOK! DOK! DOK!
“Buka pintu! Atas nama Kerajaan Valoria!”
Ayah Arienne terbangun dengan terkejut. Dia menoleh pada anak gadisnya. “Arienne?”
Wajah Arienne memucat, dia begitu ketakutan. “Ayah... sungguh aku tidak melakukan kesalahan apa pun.”
Karena tak ada jawaban dari dalam, kesabaran prajurit itu pun habis. Ia mencoba mendobrak pintu kayu yang terkunci.
Rowan mulai merasakan ada yang tidak beres. Ia segera bangkit dari ranjang, melangkah cepat menuju pintu.
“Sebentar! Aku sedang membukanya!” bentaknya—suara itu cukup untuk membuat prajurit di luar berhenti mendobrak.
Saat pintu rumah itu terbuka lebar. Udara dingin dari luar menerobos masuk bersama belasan prajurit berzirah hitam dengan lambang burung baja Valoria di d**a mereka.
Rowan berusaha menghadang beberapa di antara mereka.
“Tunggu sebentar, saya ingin bertanya dulu!”
Namun, tak seorang pun memedulikannya. Pria tua itu mereka perlakukan seolah hanya bagian dari dinding rumahnya.
Di tengah mereka berdiri seorang pria bertubuh besar berbalut jubah gelap—komandan pasukan. Tatapannya tajam, langsung mengarah pada Arienne.
“Apa kau yang bernama Arienne Vale?”
Ayahnya mendekat, menghalangi mereka dari putrinya. “Tunggu! Memangnya apa perintah kerajaan untuk putriku?”
“Permaisuri Aurelia memerintahkan untuk membawa Arienne ke istana sebagai selir baru Putra Mahkota.”
Dadanya terasa sesak saat mendengar kata selir. Selir dari Kerajaan Valoria itulah yang membuat ibunya meninggal. Seketika dia teringat dengan apa yang terjadi pada ibunya beberapa tahun lalu, sesuatu yang membuat dia cukup trauma.
Arienne mundur satu langkah. “Selir? Tapi kenapa harus aku?”
Jawabannya adalah genggaman kasar prajurit yang maju ke arahnya. Ayahnya berusaha menarik Arienne ke belakang, namun dua prajurit lain menahan Rowan dengan mudah. Ia diseret ke dinding dan ditekan hingga tak berdaya.
“Lepaskan dia!” Arienne berteriak, suaranya pecah.
Prajurit yang menggenggam lengannya mendesis, “Berhenti melawan. Kau hanya akan memperburuk keadaan ayahmu.”
Komandan mendekatkan wajahnya, menatap Arienne seolah menilai barang dagangan. “Kau ternyata sangat cantik. pantas saja permaisuri memilihmu."
Arienne menggeleng cepat, air mata mulai mengalir. “Tidak… aku tidak ingin… aku tidak—”
“Tidak ada waktu untuk menolak lagi.” Komandan memberi isyarat kepada bawahannya.
Dua prajurit lain menyambar Arienne dan memaksanya keluar rumah. Ayahnya berjuang dan memohon, namun pukulan gagang pedang membuatnya roboh.
“Ayah!” Arienne berteriak histeris, mencoba meraih tangan ayahnya, namun genggaman baja menariknya lebih kuat.
“Arienne!” Rowan berusaha bangkit, namun tubuhnya sudah terlalu lemah. “Lepaskan anakku! Dia tidak pantas—dia hanya gadis desa!”
Tidak ada yang mendengarkan jeritan itu.
Arienne diseret melewati jalan tanah, melewati rumah-rumah tetangga yang mengintip ketakutan dari balik jendela. Tidak ada yang berani keluar. Tidak ada yang berani menolong.
Pasukan kerajaan seperti badai hitam di tengah malam—tak tersentuh, tak terbantahkan.
Di ujung desa, sebuah kereta besar dengan lambang kerajaan menunggu. Roda-rodanya dilapisi besi, pintunya terkunci dari luar, jendelanya ditutup kisi besi tebal. Kereta itu lebih mirip kurungan bergerak daripada kendaraan bangsawan.
“Masukkan dia,” perintah komandan.
Arienne menahan pintu kereta dengan lututnya. “Tidak! Tolong! Aku mohon—aku tidak ingin pergi! Ayahku sendirian! Tolong—”
Prajurit mendorongnya lebih keras hingga ia terjatuh ke lantai kayu kereta. Pintu ditutup dan terkunci dengan suara logam yang dingin.
Arienne tersungkur. Bahunya bergetar, tangan gemetar.
Gadis itu memeluk lututnya, berusaha bernapas, namun dadanya terasa seperti diremas. Ia mengusap air matanya dengan tangan yang dingin.
Arienne hanya bisa terdiam, menghela nafas dan menerima takdirnya. Rasanya tak ada gunanya lagi memberontak, mereka tak akan pernah mengerti.