Kereta itu berhenti mendadak, membuat tubuh Arienne terhempas sedikit ke depan. Ia memegang dinding agar tidak jatuh, napasnya terengah. Malam telah berganti menjadi dini hari yang pucat. Udara dingin merembes masuk melalui celah-celah kisi, menusuk kulitnya.
Suara terompet pendek terdengar dari luar.
“Kita sudah berada di dekat gerbang luar,” ujar salah satu prajurit.
Kata itu saja sudah membuat perut Arienne menyusut. Ia menelan ludah yang terasa pahit. Tangannya meremas rok lusuhnya yang sudah kusut karena ia genggam berkali-kali sepanjang perjalanan.
Lalu, suara berat pintu besi dibuka dari luar. Sinar obor langsung menusuk masuk ke dalam kereta.
Dua prajurit berdiri di ambang pintu. Wajah mereka datar, tanpa emosi.
“Turun,” perintah salah satu dari mereka.
Arienne tidak tahan dengan udara di luar. Namun prajurit itu mendekat, dan ia tahu menolak hanya akan membuat keadaan lebih buruk.
Perlahan, ia melangkah turun.
Begitu kakinya menyentuh tanah, rasa dingin menggigit kulitnya. Ia mengangkat wajah—dan napasnya tertahan oleh pemandangan yang menjulang di depannya.
Gerbang luar Istana Valoria.
Tingginya seperti menara batu raksasa. Terbuat dari besi hitam berornamen burung baja bersayap terbentang—lambang Kerajaan Valoria. Obor-obor besar di kedua sisi gerbang menyala terang.
Prajurit berbaris rapi, tombak terangkat, wajah mereka tak tersentuh emosi.
Arienne menyilangkan kedua tangannya, meski itu tidak memberi banyak kehangatan. Badannya gemetar karena kedinginan.
“Bawa dia,” perintah komandan.
Arienne dipandu, atau lebih tepatnya didorong, berjalan menuju gerbang.
Ketika gerbang besi itu terbuka, suara gesekannya begitu nyaring, mencakar telinga. Suara itu seperti memberi peringatan: begitu kau masuk, tak ada kebebasan lagi.
Jalan batu menuju istana terbentang panjang. Ratusan lampu siaga menerangi jalur itu, menciptakan cahaya pucat yang seolah memakan warna kehidupan.
Arienne merasa tubuhnya mengecil di antara kemegahan yang mencekik.
Namun ia melangkah. Karena ia tidak punya pilihan.
Dari kejauhan, bangunan utama istana terlihat seperti istana dalam dongeng—indah, megah, tetapi memancarkan aura dingin yang mencekam. Menara-menara tinggi menjulang, jendela-jendela kaca memantulkan cahaya rembulan, dan tirai-tirai besar berkibar seperti sayap makhluk raksasa.
Pintu utama dibuka oleh empat penjaga.
Di dalamnya, aula besar menyambut mereka. Lantainya dari marmer putih yang memantulkan bayangan setiap orang yang masuk. Tiang-tiang besar menjulang, dihiasi ukiran emas yang menggambarkan sejarah para raja terdahulu.
Arienne menelan ludah. Ia belum pernah melihat kemewahan seperti ini.
Semua terasa seperti dunia lain yang bukan miliknya.
Langkahnya terhenti ketika seseorang muncul dari balik tiang besar. Seorang wanita dengan gaun satin biru tua, rambut pirang keperakan disanggul sempurna, dan perhiasan safir menghiasi lehernya.
Permaisuri Aurelia.
Arienne langsung menunduk spontan. Ia melihat sang Permaisuri lagi setelah bertahun-tahun lamanya. Ia masih ingat betapa arogannya Permaisuri Aurelia saat ikut mencaci ibunya dahulu. Hal itu masih membekaskan rasa sakit di hatinya. Sayangnya kini Arienne kembali ke kerajaan yang penuh intrik.
Sepasang sepatu hak berderap pelan mendekat.
“Ini gadis itu?” suara permaisuri terdengar halus, tetapi dingin, seperti pisau yang dilapisi satin.
Komandan menunduk. “Ya, Yang Mulia. Arienne Vale.”
Permaisuri Aurelia berhenti tepat di depan Arienne. Hening beberapa detik. Lalu tangan ratu terangkat, mencengkeram dagu Arienne secara tiba-tiba, memaksa wajahnya menengadah.
Arienne terkejut.
Tatapan mata biru tajam itu mengamati setiap detail wajahnya—seperti menilai barang dagangan.
“Cantik,” gumam sang permaisuri, suaranya tanpa perasaan. “Aku mengerti sekarang.”
Arienne cukup heran, sang permaisuri tampak tidak tidak mengenali dirinya. Hal itu cukup baik untuk, walau sebenarnya ayah hanya mengubah nama belakangnya saja.
Permaisuri melepaskan dagunya.
“Bawa dia ke bangsal selir,” perintahnya datar sebelum berbalik.
Arienne terpaku.
Bangsal selir.
Kata itu menghantam keras, membuatnya ingin berlari kembali ke desa, memeluk ayahnya. Namun dunia yang ia kenal telah menghilang di balik kabut malam.
Dua pelayan istana wanita menghampirinya.
“Silakan ikut kami,” ujar salah satunya dengan nada sopan, tetapi kosong.
Arienne mengikuti.
Bangsal selir terletak di sisi timur istana, jauh dari aula utama. Ruangan itu bukan penjara, tetapi juga bukan tempat yang benar-benar bebas. Dindingnya dihiasi lukisan bunga dan tirai sutra.
Pelayan berhenti di depan sebuah kamar dengan pintu ukiran mawar.
“Ini kamarmu,” kata pelayan itu. “Mulai hari ini, kau tinggal di sini.”
Pintu dibuka.
Di dalamnya ada ranjang besar berkelambu putih, meja rias dari kayu gelap, dan sebuah cermin tinggi. Semua tampak indah. Namun bagi Arienne, kamar itu terasa seperti kandang.
Arienne melangkah masuk perlahan. Tangannya menyentuh permukaan ranjang—dingin.
“Apakah… aku akan bertemu Putra Mahkota?” ia bertanya pelan.
Pelayan menatapnya sejenak. “Tidak hari ini. Permaisuri yang menentukan kapan kau akan diperkenalkan.”
“Kenapa aku dipilih…? Aku hanya gadis desa.”
Pelayan kedua tersenyum miring, senyum yang tidak benar-benar ramah. “Kerajaan biasanya punya alasan sendiri. Kami jelas tidak tahu.”
Setelah itu, mereka menutup pintu, meninggalkan Arienne sendirian.
Keheningan menyergapnya.
Arienne menatap cermin tinggi di pojok kamar. Bayangannya sendiri tampak asing—mata bengkak, pipi lembap, dan rambut kusut. Ia mengusap wajahnya, mencoba menghapus jejak menangis.
Namun ketika menyentuh kulitnya sendiri, ia merasakan kenyataan yang dingin, ia bukan lagi gadis Windmere yang bebas.
Ia sekarang seorang selir.
Gelarnya mungkin terdengar indah bagi sebagian orang, tetapi Arienne tahu artinya, ia akan menjadi milik sang pangeran. Tidak akan bisa kabur. Hidupnya sepenuhnya berada di tangan keluarga kerajaan.
Lututnya lemas. Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam kelambu putih itu erat-erat.
*
Suara pintu diketuk pelan. Arienne yang hampir tertidur mengangkat wajahnya, mengusap sisa air mata dengan cepat.
Pintu terbuka. Arienne seketika bangkit berdiri.
Seorang wanita muda dengan gaun merah anggun melangkah masuk. Rambut hitamnya panjang dan berkilau, wajahnya cantik, namun dingin. Senyumnya manis—tetapi matanya penuh perhitungan.
Selir Helena.
Wanita yang kabarnya paling disukai permaisuri. Juga paling berambisi untuk menjadi selir utama Putra Mahkota.
“Ah… jadi ini gadis desa itu,” ucap Helena ringan, matanya menyapu Arienne dari kepala hingga kaki. “Arienne Vale.”
Arienne mencoba bersikap sopan. “Salam.”
Helena melengkungkan bibirnya, tidak benar-benar tersenyum. Ia berjalan mengitari Arienne, memeriksa tubuh gadis itu seolah sedang menilai pesaing di pasar b***k.
“Kau cantik,” katanya. “Cukup cantik untuk membuat Permaisuri Aurelia memilihmu sebagai selir. Bahkan cukup cantik untuk membuat Putra Mahkota mungkin menoleh.”
Nada suaranya perlahan berubah menjadi dingin.
“Itu masalahnya.”
Arienne menegang.
Helena berhenti tepat di depannya. “Dengarkan baik-baik, gadis desa. Di bangsal ini, ada aturan yang tidak tertulis. Para selir memiliki hierarki. Dan aku berada di atas.”
Arienne mengepal tangannya, menahan gugup.
“Kau baru. Kau tidak mengerti apa-apa. Dan jika kau cerdas, kau tidak akan mencoba mencuri perhatian pangeran.” Helena mendekatkan wajahnya, suaranya mengecil menjadi bisikan. “Karena di istana ini, selir yang tidak tahu tempatnya… bisa menghilang tanpa jejak.”
Arienne merasakan bulu kuduknya berdiri. Ucapan itu bukan ancaman—itu peringatan yang nyata. Ibunya adalah salah satu korban mereka.
Helena tersenyum manis, lalu berbalik anggun menuju pintu. “Selamat datang di istana, Arienne. Semoga kau tahu bagaimana bertahan hidup.”
Pintu tertutup.
Keheningan kembali menyelimuti kamar.
Arienne perlahan merosot ke lantai, punggungnya bersandar pada tepi ranjang. Air matanya jatuh satu per satu, tanpa suara.
“Ya Tuhan... Aku lebih baik hidup miskin di pedesaan,” batinnya lirih.
Dalam keheningan itu, ia memeluk dirinya sendiri erat-erat.
Seolah itu satu-satunya pelindung yang tersisa.