Kamar Selir Helena dipenuhi harum lembut bunga kamelia ketika ia berdiri di depan cermin besar berhias ukiran emas. Dua pelayannya sibuk menata rambut hitam panjangnya menjadi sanggul anggun, memperlihatkan leher jenjang yang selalu membuat banyak wanita iri.
Helena memasang anting giok di telinganya—hadiah dari ibunya, sang permaisuri Kerajaan Thaleon. Gaun sutra hijau gelap membalut tubuhnya dengan sempurna, membuat kulitnya tampak seputih gading.
Malam ini adalah jadwalnya untuk bermalam bersama Pangeran Alistair.
Sebenarnya, itu lebih mirip kewajiban istana daripada hubungan romantis. Meski begitu, ia tetap merapikan setiap helai rambut, seolah ingin memastikan pandangan pangeran hanya jatuh padanya.
Pelayannya mengoleskan wewangian tipis di leher dan pergelangan tangannya. Helena menggosokkan kedua pergelangan itu, membuat aroma lembut menyebar ke seluruh tangannya.
Ia berdiri. Dua pelayannya mengikutinya dari belakang saat ia melangkah keluar dari kamar menuju bangunan utama tempat Pangeran Alistair tinggal.
Pintu kayu besar terbuka pelan ketika dua pengawal memberi izin masuk. Helena melangkah anggun ke dalam, matanya langsung menangkap sosok lelaki itu.
Pangeran duduk di meja belajarnya, membaca sebuah halaman buku tebal. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan cahaya lilin di atas meja membuat wajah tampannya terlihat lebih dewasa dari usianya.
Helena mendekat pelan.
“Pangeran… apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya lembut.
“Belajar,” jawab pangeran tanpa mengalihkan fokus dari bukunya.
Helena semakin mendekat. Ia menyentuh lembut bahu pangeran, lalu berdiri di sampingnya. “Kau selalu belajar setiap saat. Apa kau tidak lelah, Pangeran?”
Pangeran meluruskan pandangannya. “Tidak.”
Ia menutup bukunya. “Tinggal beberapa bulan lagi aku akan dinobatkan sebagai raja, dan aku butuh mempelajari lebih banyak hal.”
Pangeran menghela napas, lalu menoleh pada Helena. “Kuharap kau bersedia mengajariku tentang taktik dan strategi perang.”
Helena tersenyum samar. “Tentu saja, Yang Mulia. Tapi… ada satu hal yang ingin kutanyakan.”
“Apa?” tanyanya tanpa menoleh. Pangeran tampak sedang melamun.
Helena menatap lengan pangeran. “Bolehkah kusentuh tanganmu, Pangeran?”
Pangeran tak langsung menjawab, tetapi akhirnya ia berkata, “Boleh.”
Tanpa ragu, Helena menggenggam tangan pangeran dan membawanya ke ranjang.
“Duduklah dengan tenang, Pangeran. Sebenarnya aku hanya ingin bertanya tentang perempuan yang kemarin bersamamu.”
Alistair terdiam. Ia teringat gadis itu—gadis yang tampak gelisah saat berada di dekatnya.
Pangeran menoleh padanya. “Arienne?”
Raut wajah Helena mulai gelisah. Tatapan matanya merunduk, layaknya bunga yang layu. “Kudengar ia datang padamu semalam dengan pakaian menerawang. Apa kau yang memintanya mengenakan itu?”
Mendengar hal itu, pangeran sedikit tersentak. Ia tersenyum kecil—senyum yang membuat jantung Helena menegang.
“Iya,” jawabnya santai. “Saat itu aku sedang lelah. Aku butuh sedikit hiburan, jadi aku memanggilnya untuk kumainkan emosinya.”
Helena teringat sesuatu. Bukankah kemarin adalah jadwal selir lain?
“Bagaimana dengan Selir Mirella? Apa kau tidak menyukainya?”
Pangeran tampak panik mendengar pertanyaan itu. Ia menjadi sedikit gelagapan.
“Eh… aku mengurungkan jadwalnya bukan karena aku tidak suka padanya, tapi… aku—”
“Aku hanya ingin melampiaskan emosi. Kau tahu? Arienne sangat mudah menangis dan wajahnya selalu tampak gelisah. Gadis seperti itu sangat cocok dijadikan pelampiasan emosi.”
Raut wajah Helena sedikit berubah. Ia tampak lebih bersemangat, meski entah mengapa pangeran tidak begitu senang melihatnya.
“Kau benar, Pangeran. Arienne hanyalah gadis lemah yang bodoh.”
“Menurutku dia tidak pantas menjadi selir. Dia lebih pantas menjadi b***k di istana ini.”
Mata sendu pangeran memerhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah Helena. Tiba-tiba ia membalas, “Tapi menurutku dia cocok menjadi selir. Aku menyukai tubuhnya dan juga apa yang ia lakukan padaku kemarin.”
Raut wajah Helena seketika berubah, seperti bunga yang mendadak layu. Namun setelah itu, ia menatap pangeran dan tersenyum manis—walau tampak dipaksakan.
Pangeran membalas senyumannya. Kini Alistair merasa lebih senang. Ia ingin tahu apa yang akan terjadi pada Arienne setelah ini. Kegaduhan kecil akan mengisi Bangsal Selir; itu akan menjadi pelajaran bagi Arienne agar tidak terlalu lemah.
“Jadi… apa kau menyentuh gadis itu, Pangeran? Apa kau tidak merasa jijik padanya?”
Mata sendu pangeran menatap Helena semakin dalam, seolah membaca pikirannya.
“Mau aku menyentuh gadis itu atau tidak, itu bukan urusanmu, Helena.”
Helena menahan getar di bibirnya. “Iya, Yang Mulia. Maafkan aku, aku terlalu lancang menanyakan hal itu.”
Pangeran mendekat dan mengangkat dagu Helena. “Tapi… mengapa bertanya seperti itu, hm? Apa kau cemburu?”
Helena memalingkan wajah. “Eh… aku—”
“Aku tidak bisa cemburu pada gadis seperti itu. Dia hanyalah gadis malang yang bermodalkan cantik. Tidak sepertiku yang cerdas dan berbakat!”
Pangeran mengelus lembut rambut Helena, menatapnya dengan mata berbinar. Di posisi itu, jantung Helena berdetak kencang; tubuhnya terasa panas dan dingin bersamaan. Ia merasa pangeran telah berubah—menjadi pria dewasa yang memiliki hasrat pada wanita.
Di sisi lain, Helena merasa lebih tenang karena Arienne tampaknya bukan penyihir wanita yang hendak membunuh pangeran seperti yang selama ini ia takutkan. Trauma itu masih membekas sejak kemunculan penyihir wanita di kerajaannya dahulu—penyihir yang membunuh adiknya dengan boneka dan racun.
Tiba-tiba, pangeran menggenggam tangannya. Helena tersentak kaget. Itu adalah pertama kalinya—pangeran tak pernah bersikap seperti itu sebelumnya.
“Apa kau cemburu dengannya, hm?” Pangeran mengecup punggung tangannya.
Mata Helena membelalak. Ia merasa sangat dicintai. Napasnya semakin cepat, dan tubuhnya kembali terasa panas dingin.
“Aku… aku—” Suaranya tercekat, bingung harus mengatakan apa.
“Mendekatlah padaku, Putri. Duduklah di sampingku. Aku akan menjelaskan semuanya.”
Helena mengangguk. Ia perlahan mendekat, meski tampak gugup, lalu bersandar pada sandaran ranjang. Tiba-tiba tangan pangeran merangkulnya. Helena tersentak kecil ketika ia ditarik lebih dekat ke d**a sang pangeran.
Mata mereka bertemu. Pangeran menatapnya dengan senyum tipis yang membuat jantung Helena berdetak tak karuan.
“Jadi pertanyaannya… apakah kau cemburu pada Arienne?”
“Eh… tidak,” jawab Helena tanpa ragu.
Pangeran terkekeh kecil. “Tepat sekali.”
“Untuk apa cemburu pada gadis yang tidak berpendidikan? Menurutku, perempuan berpendidikan adalah segalanya.”
Pipi Helena memerah. Ia tersenyum salah tingkah.
“Pangeran… aku memang dua tahun lebih tua darimu. Tapi kau selalu bilang aku berbeda—lebih baik dari selir yang lain…”
Alistair menatapnya tanpa berkedip.
“…jadi… apakah suatu hari kau bersedia memiliki anak denganku?” tanya Helena, senyum dan tatapannya menyiratkan harapan besar.
Alistair tertawa kecil dan mengecup dahinya. “Helena, kau memang berbeda dari selir yang lain.”
“Kau satu-satunya putri kerajaan yang menjadi selirku. Kau lebih cerdas dan berbakat. Jangankan memiliki anak…”
Ia menyentuh dagu Helena, mengangkat wajah wanita itu ke arahnya.
“…suatu hari nanti, aku akan menjadikanmu permaisuriku.”
Pangeran memiringkan wajah dan mendekat perlahan, seolah memberi Helena waktu untuk menolak—namun Helena hanya memejamkan mata. Bibir mereka bersentuhan lembut, sekilas seperti sentuhan angin, sebelum pangeran menggigit manis bibir bawahnya.
Tangan pangeran menyentuh sisi wajah Helena, jemarinya hangat dan mantap. Dengan gerakan tenang, ia membiarkan tubuh kekarnya menindih tubuh kurus Helena, hingga akhirnya perempuan itu terbaring di ranjang—menikmati setiap sentuhan indah yang terjadi padanya malam itu.