17. Bolehkah Aku Berbicara Denganmu?

1053 Kata
Setelah semua yang terjadi, akhirnya Arienne bisa bernapas lega. Ia melangkah keluar dari aula balairung. Rasanya masih tak percaya bahwa hari ini ia telah berdiri di Aula Balairung dan menjelaskan ide pertanian yang ia buat satu tahun lalu di hadapan Raja Valoria. Arienne tak menyangka usaha belajarnya selama bertahun-tahun bisa sebermanfaat ini. Tanpa sadar, senyum manis terukir di wajah Arienne. “Sepertinya aku harus belajar lebih giat mulai hari ini.” Karena hari itu, Arienne mengurungkan niatnya untuk kabur dari Kerajaan. Ia memilih mengabdikan diri pada Kerajaan Valoria, melakukan itu agar rakyat jelata Valoria tak lagi kelaparan. Sebuah derap kaki terdengar di belakangnya, seolah seseorang melangkah cepat ke arahnya. Hal itu membuat Arienne mempercepat langkah kakinya. “Arienne,” panggil seseorang dengan suara yang tak asing baginya. Bahkan tanpa menoleh pun, Arienne sudah tahu siapa pemilik suara itu. Langkah Arienne terhenti, membiarkan pria itu lebih mudah mendekat. Parfum tubuh pria itu tercium jelas di hidung Arienne, sebab jarak Pangeran Alistair dengannya begitu dekat. Sejak tadi, Arienne juga tak mengubah sedikit pun posisi kepala dan tatapannya. Hal itu membuat pandangan di hadapannya hanyalah d**a bidang sang pangeran—gadis itu berusaha bersikap dingin. Arienne mendongak pelan ke arah wajah pangeran, menatap pria yang kini berdiri di hadapannya. Raut wajah Arienne tampak datar, dingin—lebih seperti seseorang yang menyimpan luka. Alistair tersenyum kecil, senyum yang tampak canggung, terlebih saat melihat wajah gadis itu yang begitu datar. Hal itu membuatnya sedikit tak nyaman. “Eh… Arienne…” “Bolehkah aku berbicara denganmu?” Arienne akhirnya tersenyum lembut. “Boleh, Yang Mulia.” Tatapan pangeran tampak sendu dan begitu dalam pada Arienne, seakan ia bisa merasakan perasaan gadis itu melalui senyumannya. Setiap gerak-gerik di wajah Arienne bisa ia baca, seolah pikirannya menembus isi kepala gadis itu. Ada sesuatu yang terasa aneh, tetapi Arienne tak tahu apa. Ia pun memalingkan wajah dari pria itu—perasaannya benar-benar tak nyaman. Pangeran akhirnya membuka mulut. “Kau pikir aku bisa tertipu dengan senyum palsumu, hm?” “Sejak tadi, bahasa tubuhmu sudah mengatakan bahwa kau tidak ingin berbicara denganku.” Arienne melirik tajam. Gadis itu tak bisa lagi menyembunyikan suasana hatinya. Ia sangat tak suka pada pembaca pikiran. Menurutnya, itu adalah ilmu yang jahat karena melanggar privasi orang lain. “Tolong jangan datang hanya untuk merendahkanku. Terima kasih.” Tanpa memedulikan apa pun lagi, Arienne melanjutkan langkahnya—melewati taman indah yang dipenuhi bunga-bunga bermekaran. Harum bunga menguar, tetapi tak mampu menenangkan suasana hatinya. Langkah kaki Pangeran Alistair di belakangnya tetap menyusul. “Selir Arienne,” panggilnya walau tak dipedulikan. “Dengarkan aku. Aku masih belum selesai denganmu.” Langkah gadis itu tak mau berhenti, hingga akhirnya langkah pangeran lebih cepat darinya. Alistair segera menggenggam pergelangan tangan Arienne. Dengan begitu, perempuan keras kepala itu terpaksa berhenti, meski pangeran mendapat tatapan sinis darinya. Bukannya gelisah, pangeran justru merasa gemas melihat raut wajah Arienne saat marah. “Aku sungguh tak paham denganmu, Arienne. Kau memanggilku Yang Mulia, tapi perilakumu tak menunjukkan kehormatan sedikit pun padaku!” Sorot mata pangeran mengamati setiap gerak mata Arienne. Ia melihat air mata mulai menggenang di mata biru lautan gadis itu. “Kenapa kau—” “Menurutmu kenapa, hm?” sela Arienne seketika. Pangeran terdiam tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Ia tak mengerti kesalahannya pada gadis itu. Alisnya berkerut tipis saat menatap Arienne dengan dingin dan tajam. “Kuharap kau tidak lupa dengan posisimu yang sesungguhnya di Kerajaan ini, Arienne.” Kata-kata itu seakan mengiris hati Arienne. Air mata mulai membasahi kulit putihnya. “Apa kau tahu, Pangeran? Kau sudah menginjak harga diriku di bangsal selir.” “Karena kau… semua orang di bangsal selir membicarakanku dengan konotasi yang rendah,” lirih Arienne dengan suara gundah. “Kau pikir aku tidak gelisah tinggal di tempat itu? Tidak ada seorang pun yang mau berteman denganku!” Alih-alih merasa bersalah, pangeran justru tak kuasa menahan tawa. Suara itu membuat Arienne semakin murka. Gadis itu menatapnya dengan sinis, matanya menyipit. “Jadi… kau pikir mereka berada di sini untuk mencari teman?” Pangeran tertawa kecil. “Tidak, sayang. Mereka berada di sini untuk mendapatkan perhatianku.” “Mereka semua bersaing demi jabatan, bukan untuk mencari teman. Kuharap kau mengerti.” Arienne sebenarnya mengerti, tetapi ia tak pernah tahan merasa sendirian dan dikucilkan seperti sekarang. Di desanya, ia selalu memiliki banyak teman. Hidupnya dipenuhi kebahagiaan, bukan persaingan. “Mungkin aku mengerti, tapi aku tidak mau meniru mereka. Maaf.” Gadis itu berusaha menarik pergelangan tangannya dari cengkeraman Alistair. Namun, genggaman itu lebih kuat daripada seluruh tenaga Arienne. “Apa yang kau lakukan, gadis?” “Kau masih berusaha kabur dariku?” “Mungkin menangkap kucing kecil sepertimu sangatlah mudah bagiku, tapi sayangnya aku sedang tidak ingin berlari-larian.” Arienne menghela napas berat. Ia menatap pangeran dengan pandangan malas. “Oke, sekarang apa yang kau inginkan, Yang Mulia? Aku akan melakukan semua keinginanmu.” Kalimat itu terdengar tak bersungguh-sungguh, tetapi cukup membuat pangeran tersenyum. Pria itu memerhatikan sekelilingnya. Sejak tadi, ia merasa sedang diperhatikan oleh orang-orang kerajaan. “Bisakah kita mencari tempat lain yang lebih sepi?” Tubuh pangeran mendekat. Ia berbisik di telinga Arienne. “Aku ingin berbicara berdua denganmu.” “Memangnya kenapa kalau di—” Tanpa mau mendengar apa pun, pangeran menarik Arienne menuju tempat lain. Arienne tak mampu menolak tarikan itu sedikit pun; tangan kekar pangeran seolah memborgol sebelah tangannya. “Pangeran, tolong… tanganku sakit. Kenapa kau begitu tega menyakitiku seperti ini?” tanya Arienne dengan risau. “Karena di mataku, kau itu seperti monyet penipu, Arienne. Lebih baik kau diam dan bertanggung jawab atas apa yang kau katakan tadi.” Entah apa yang ingin pangeran lakukan padanya, Arienne tak sepenuhnya merasa takut. Namun, di sisi lain, ia tetap berdoa agar pria itu tidak berniat membunuhnya. Dengan genggaman tangan yang menuntunnya, mau tak mau Arienne terus mengikuti langkah pria itu. Laki-laki itu telah membawanya jauh dari keramaian istana. Melewati deretan pilar batu hingga memasuki lorong istana yang jarang dilalui orang. Cahaya obor di dinding menerangi lorong itu dengan temaram, bayangan mereka memanjang di lantai batu yang dingin. "Sebenarnya pangeran ingin membawaku ke mana?" tanya Arienne penasaran. Perasaannya mulai tidak enak. "Aku ingin membawamu ke tempat yang bisa memanjakan nafsumu," balas pangeran dengan senyum tipis yang penuh arti. "Kenapa kau tidak membawaku ke kamarmu saja?" celetuk Arienne spontan. Ia menutup mulut saat menyadari apa yang katakannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN