21. Teringat Dengan Ibuku

1137 Kata
“Selir, apa kau bisa membantu Nenek?” pintanya. Ia menyunggingkan senyum lembut. Arienne sempat tampak bingung, ia menoleh pada Alistair. Melihat hal itu, Maire mengerti. Ia segera menjelaskannya. “Nenek… lupa mengambil telur di kandang. Jadi, aku butuh bantuanmu, hehe.” Senyum Maire begitu ramah dan lembut. Dengan perlahan, Arienne menyunggingkan senyum lembut. Ia membuka bibirnya, hendak berbicara. “Aku saja yang membantu, Nek,” sela Alistair spontan sambil berdiri. Maire terdiam, kepanikan sedikit terpampang di wajahnya. Dia khawatir Alistair akan kesal pada Arienne. Alistair menatap Arienne. “Sejak tadi, Arienne tampak tak baik-baik saja.” “Jadi… biar aku saja, Nek.” Arienne terkekeh pelan, ia menyentuh lengan atasnya. “Tidak, Pangeran. Aku tidak apa-apa.” “Biar aku saja, Nek,” katanya dengan senyum ramah. Maire mengulurkan tangannya—meraih tangan Arienne. “Mari, Nak. Aku akan mengajarimu cara membuat cookies cokelat kesukaan pangeran,” ujarnya sembari membawa Arienne menuju dapur dengan antusias. Entah mengapa, Alistair merasa ada yang aneh dengan Arienne. Di atas kuda tadi, gadis itu bersikap dingin, dan saat ia menceritakan masa lalu dirinya, kesedihan seketika terlukis di wajah gadis itu. Sebagai seseorang yang pernah mempelajari ilmu firasat di Timur Tengah, Alistair berpikir mungkin perilakunya cukup menyebalkan bagi selirnya yang satu itu, atau mungkin gadis itu hanya iri padanya karena tidak memiliki keluarga yang lengkap. “Atau mungkin… dia belum sarapan,” gumam Alistair dalam hati. Pria itu baru teringat jika Arienne telah menghadiri rapat di Balairung pagi-pagi, sementara sarapan di Bangsal Selir biasanya saat matahari telah bersinar terang. “Oh, aku mengerti sekarang.” Di dapur, Arienne sedang mengocok campuran mentega, gula palem, dan telur. Dengan lihai, tangannya bekerja begitu cepat. Sementara itu, neneknya berada di luar dapur—sibuk mengambil telur-telur di kandang ayam. Rasanya, waktu begitu cepat. Saat ini, umurnya telah menginjak delapan belas tahun. Arienne mengingat beberapa tahun yang lalu, saat ia masih kecil. Saat itu, ia juga berdiri di tempat yang sama dan melakukan hal yang sama. Hanya saja, ia melakukan hal itu bersama dengan ibu tercintanya. Arienne masih mengingat setiap kenangan indah itu—masa ketika ibunya, Revelina Caelum, masih tertawa lebar di sisinya. Saat itu, tubuhnya belum cukup tinggi untuk menjangkau meja dapur, hingga ia harus berdiri di atas kursi kecil hanya untuk mengocok campuran telur dan gula. Wanita cantik itu berkali-kali mengotori wajah Arienne dengan tepung gandum, sehingga membuat Arienne murka dan memarahinya. Saat itu, Revelina selalu tampak bahagia melihat gadis mungilnya marah. Dia selalu tertawa dengan suara yang khas. Bahkan sampai detik ini, Arienne masih mengingat suara tawa ibunya itu. Tak terasa, air mata Arienne menetes. Dadanya mulai sesak, ia tak sanggup lagi untuk berdiri—merosot hingga berlutut di lantai dapur. Ia menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya di balik kedua lengannya yang dilipat di atas meja. Bahunya bergetar hebat saat isak itu akhirnya pecah. Tangisnya tertahan, namun tersedu-sedu. Isaknya yang hampir tak terdengar menandakan jika lukanya sudah begitu dalam. Saat itu, Maire melangkah menuju ke dapur. Di tangannya terdapat keranjang dengan beberapa butir telur segar. Langkahnya seketika terhenti saat melihat Arienne berlutut di lantai, tubuhnya bergetar dalam tangis yang tertahan. Dengan cepat, wanita tua itu menghampirinya. Ia meletakkan keranjangnya itu di atas meja. Tangannya menggenggam bahu Arienne dengan lembut. “Nak…” Perlahan, tangisan Arienne terhenti. Ia mendongak, menatap neneknya itu. “Ada apa denganmu, Nak? Ceritalah pada nenekmu ini. Jangan dipendam sendiri.” Gadis itu segera mengusap air matanya dengan kedua tangan. Perlahan, ia berdiri dan menghadapkan diri ke neneknya. Walau begitu, sorot matanya tak berani menatap—selalu mengalihkan pandangan. “Eh… aku…” Arienne mencoba menghela napas. “Sebenarnya… aku punya sedikit masalah dalam hidupku. Nenek tak akan mengerti.” Dengan lembut, Maire meraih kedua pipi gadis itu—menghadapkan wajahnya pada dirinya, sehingga tatapan mereka akhirnya bertemu. “Apa kau telah melupakanku, Arienne? Aku ini nenekmu, sayang.” Arienne menggeleng, air matanya mulai turun kembali. Seketika, ia memeluk neneknya dengan erat. “Sebenarnya aku…” “Aku teringat dengan ibuku, Nek.” Tangis gadis itu pecah kembali, ia tak bisa menahannya. “Aku ingin dia masih berada di sini… di sampingku. Aku masih ingin mendengar tawanya dan menatap senyumnya yang menawan, Nek.” “Orang-orang kerajaan sangat jahat, Nek.” “Mereka telah membunuh ibuku hanya karena tuduhan palsu.” Maire bisa mengerti perasaannya. Perlahan, air turun dari matanya yang berkaca-kaca. Ia membelai lembut punggung Arienne. “Sayang, bersabarlah. Tuhan pasti memiliki alasan tersendiri mengapa semua ini harus terjadi.” Emosi Arienne perlahan menjadi lebih baik, tangisannya mulai terhenti. Dengan perlahan, Maire melepas pelukan. Tangannya langsung menggenggam kedua tangan Arienne, seakan enggan melepas kehangatan yang ia berikan. “Nak,” Maire tersenyum lembut, tatapannya tampak penuh kasih. “Tolong lanjutkan hidupmu. Ikhlaskan apa pun yang telah terjadi dan fokuslah pada masa depanmu.” Arienne menunduk lesu, rambutnya tampak begitu berantakan. Tangan Maire terangkat, menyibakkan rambut kusutnya itu ke belakang telinga, lalu menyisirnya dengan jemari. “Sebentar lagi, kau akan menjadi permaisuri di Kerajaan Valoria,” katanya dengan tatapan begitu lembut pada Arienne. “Kau akan menjadi salah satu orang terpenting di Valoria.” Arienne menghela napas, merasakan udara mendinginkan pikirannya. Bibirnya terangkat, membentuk senyum tipis. “Baik, Nek,” ia tersenyum dengan lebih lebar. “Aku akan berusaha mengikhlaskan semuanya.” Maire seketika merengkuh Arienne. Ia membelai rambutnya dengan dekapan yang hangat. “Sekarang Nenek hanya punya kamu, sayang.” “Nenek berharap kamu akan hidup lebih bahagia nantinya.” Dalam dekapan itu, Arienne merasakan sesuatu yang perlahan menguat di dalam dirinya—bukan lagi kesedihan, melainkan keberanian untuk melangkah maju. “Terima kasih telah menyemangatiku, Nek.” “Sama-sama.” Maire melepas pelukan itu, senyumnya tetap terukir hangat. “Apa kau merasa lebih baik?” Arienne mengangguk, sudut bibirnya terangkat sempurna. Di sisi lain, Alistair sedang melangkah menuju dapur. Pandangannya tertuju pada halaman buku yang ia baca. Ia mendapatkan buku itu dari rak buku yang terpajang di ruang tamu. Sesampainya di pintu masuk dapur, Alistair menoleh ke arah mereka berdua. Ia memandang Arienne dengan pandangan tak biasa. “Sedang apa kalian berdua?” Seketika, Arienne menurunkan tatapannya. Kepanikan terukir jelas di wajahnya, ia khawatir pangeran akan mengetahui rahasianya. Senyum di wajah Maire mengembang hangat. “Tadi nenek hanya mendengarkan curhatan dari Arienne.” Mata Alistair sedikit membelalak, pupilnya mengecil. Langkahnya perlahan mendekat pada Arienne. Sorot matanya memperhatikan wajah gadis itu. Arienne dengan refleks menggeser rambutnya untuk menutupi wajah, tangan kirinya juga berusaha menghalau pandangan mata pria itu. Arienne enggan memperlihatkan matanya yang memerah karena tangis. “Sayang, kau kenapa?” tanya Alistair bernada lembut. “Ceritakan padaku.” Semakin Alistair berusaha melihatnya, semakin tangan Arienne terus menghalangi wajahnya. “Aku… tidak apa-apa.” Akhirnya, dengan sedikit kasar, Alistair menggenggam tangan Arienne dan menurunkannya dengan paksa. Tangan kanannya menyibak rambut gadis itu. Arienne segera menghempaskan tangan itu dan kembali menjuntaikan rambutnya. Saking enggannya memperlihatkan mata, ia sampai memejam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN