Si Arogan yang Optimis

2374 Kata
Di Hotel Sky, Min Seung Ho tengah di buat kelimpungan lantaran Min Yeong Gi yang diberi wewenang sebagai wakil direktur malah menghilang di jam-jam penting. Masalahnya dia tidak bilang kepada siapa pun akan pergi kemana. Padahal dia tahu kalau sore ini Min Seung Ho akan mengadakan acara makan malam bersama para pemilik saham tertinggi Hotel Sky. Rencananya Seung Ho ingin memperkenalkan Yeong Gi secara pribadi kepada mereka, sebagai calon penerus direktur Hotel Sky. Tapi kini dia malah menghilang, ponselnya pun tidak bisa di hubungi. Sebenarnya Seung Ho tidak terlalu mempermasalahkan jika Yeong Gi ingin keluar sebentar. Toh pekerjaannya di sini tidak terlalu mengikatnya untuk selalu stay di hotel. Masih ada manajer hotel yang bisa mengurusi segala urusan hotel. Tapi karena hari ini ada pertemuan penting, dan lagi waktunya juga sudah mepet, Seung Ho takut para pemegang saham malah akan meremehkan kemampuan Yeong Gi jika di pertemuan pertama saja dia sudah terlambat datang atau bahkan tidak hadir. Padahal jika bicara soal kemampuan, Seung Ho tahu betul kalau Yeong Gi cukup kompeten dalam bidang perhotelan. Dia selalu mendapat nilai bagus saat masa pendidikannya selama enam tahun lamanya, padahal ini bukanlah bidang yang dia minati. Satu-satunya kekurangan Yeong Gi adalah, mood-nya tidak selalu bagus dalam menjalani bidang ini. Padahal kalau dia serius menekuninya, dia bisa menghasilkan ide-ide cemerlang yang nantinya akan sangat berperan bagi perkembangan Hotel Sky. Karena itulah Seung Ho menunjuknya sebagai calon penerusnya, walau risikonya agak berbahaya jika orang-orang tahu latar belakang Yeong Gi yang sebenarnya. Untuk kesekian kalinya, Seung Ho kembali mencoba menghubungi Yeong Gi. Syukurlah kali ini ponselnya sudah aktif. Tetapi dia tak kunjung menjawab panggilannya. Ah, ia lupa, putranya yang satu itu kan memang tidak pernah mau menjawab panggilannya. Satu-satunya orang yang bisa dimintai pertolongan adalah putra sulungnya, Min Yeong Nam. Dan seolah Dewi Fortuna sedang memberkatinya, baru saja Seung Ho memikirkan Yeong Nam tiba-tiba saja dia masuk ke kantornya. Seperti biasa, dia selalu mengenakan pakaian tertutup kalau datang kesini. Hah ... syukurlah, kini Seung Ho bisa meminta Yeong Nam untuk menyuruh Yeong Gi supaya cepat kembali ke hotel. “Yeong Nam-ah, syukurlah kau datang tepat waktu. Ayah benar-benar membutuhkan bantuanmu saat ini,” ujar Seung Ho. Dia menampilkan ekspresi penuh syukur di wajahnya. Yeong Nam hanya memutar bola matanya seraya mendengus halus. Ya, ia sudah bisa menebak apa yang akan ayahnya pinta. Ia pun melempar tubuhnya ke sofa, kemudian merogoh ponselnya dari saku. “Anak itu berulah lagi? Hah ... kali ini dia kabur kemana kira-kira,” ucap Yeong Nam seraya menggulir-gulir layar ponselnya, mencari nomor kontak adiknya, Min Yeong Gi. “Lagi pula kenapa dia selalu kabur seperti ini sih? Dasar tidak dewasa!” Tut ... tut ... suara nada tunggu menghantui telinga Yeong Nam ketika dia sudah menemukan kontak Yeong Gi dan meneleponnya. Untungnya, tak perlu menunggu lama adik kecilnya yang terkadang sangat menyusahkannya itu sudah menjawab panggilannya. “Ya! Min Yeong Gi!” Yeong Nam langsung memarahinya begitu sambungan terhubung. “Apa kau berusaha kabur lagi? Sampai kapan kau akan terus seperti ini? Dewasalah! Usiamu sudah bukan usia yang pantas untuk merajuk!” “Aku tidak merajuk tuh,” jawab Yeong Gi enteng, seolah tidak merasa bersalah sama sekali. “Kau bilang saja pada 'orang itu', aku tidak melupakan pertemuan tidak berguna itu. Sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju hotel. Kalian jangan rewel, atau aku tidak akan datang sama sekali.” Pip! Yeong Gi langsung mematikan teleponnya setelah mengatakan pernyataan tidak sopan itu. Membuat Yeong Nam jadi geram dan ingin memaki saja rasanya. “Ah, benar-benar!” rutuknya kesal sambil memandangi ponselnya yang sudah tak terhubung lagi dengan Yeong Gi. “Apa dia tidak bisa berhenti bersikap seenaknya seperti ini?! Lama-lama aku bisa gila menghadapinya. Kalau saja kau bukan adikku, aku pasti sudah menendangmu sampai mental ke Amerika.” Diam-diam, Seung Ho menahan tawa mendengar makian putra sulungnya itu. Ya, ia merasa beruntung memiliki putra seperti Yeong Nam dalam keluarga yang telah gagal dibangunnya ini. Walau dia tahu Yeong Gi bukanlah anak ibunya, tetapi dia begitu tulus menyayanginya. Dia juga selalu bisa menghibur di tengah ketegangan yang selalu meliputi Seung Ho dengan Yeong Gi. Kalau saja tidak ada Yeong Nam yang selalu ada untuk Yeong Gi, Seung Ho tentu tidak tahu bagaimana nasib putra bungsunya itu. Dia pasti sudah jauh lebih menderita dari apa yang sedang dialaminya saat ini. “Kau selalu datang kesini,” kata Seung Ho kemudian. “Memangnya agensimu tidak melarang?” Yeong Nam yang semula berbaring di sofa, ia mendudukkan tubuhnya. “Tentu saja mereka melarang,” jawabnya terdengar tidak senang. “Tapi aku tidak peduli. Mereka meraup banyak keuntungan dari lagu-laguku, maka mereka harus memberiku sedikit kebebasan. Itulah harga yang harus mereka bayar untuk merekrut idol tampan dan berbakat sepertiku.” “Cih, kau percaya diri sekali.” Seung Ho mencibir bercanda. Jangan heran, walau dia seorang direktur, tetapi bukan berarti itu menghilangkan sifat kebapakannya terhadap putra-putranya. Bahkan bisa dibilang, sifat Yeong Nam yang seperti itu memang meniru dirinya ketika masih muda dulu. “Omong-omong,” kata Seung Ho lagi, kali ini terdengar serius. “Apa adikmu akan kembali ke hotel?” Yeong Nam mengangguk. “Ayah tenang saja, dia sedang dalam perjalanan kemari. Dia bilang dia tidak melupakan 'pertemuan tidak berguna itu'.” “Begitu katanya? Hah ... syukurlah.” Seung Ho menyadarkan tubuhnya merasa lega. Tetapi Yeong Nam, dia malah mengangkat sebelah alisnya bingung melihat ayahnya yang merasa lega ketika disindir seperti itu. “Ayah masih bisa bersyukur ketika dia jelas-jelas menghinamu seperti itu? Kau ini terlalu baik atau apa?” Yeong Nam mencibir. “Tegaslah sedikit, terkadang anak itu perlu ditegasi supaya dia tidak terus-terusan berbuat seenaknya.” “Tidak apa, toh perkataannya memang benar.” “Maksudmu?” Seung Ho menegakkan kembali posisi duduknya, ia memangku tangan di meja kerjanya seraya menatap putranya yang tengah duduk di sofa. “Sebenarnya pertemuan dengan para pemegang saham memanglah tidak berguna jika dipikir secara rasional.” Seung Ho menjelaskan. “Itu hanya dilakukan sebagai pencitraan saja, untuk memberi kesan kepedulian juga kepercayaan kita terhadap mereka.” “Bukannya itu juga penting? Contohnya aku, seorang idol sepertiku bahkan sangat membutuhkan pencitraan, alias wajah kedua untuk menarik perhatian para penggemar.” “Ya, itu juga penting. Tapi adikmu tahu kalau yang jauh lebih penting adalah meningkatkan kualitas diri dengan mengembangkan ide-ide baru yang nantinya akan menarik sendiri para konsumen ke dalam genggaman. Ya, dia cukup rasional dalam berpikir, mangkanya Ayah begitu ingin dia menjadi direktur selanjutnya bagi Hotel Sky.” Yeong Nam melirik pada ayahnya penuh ejekan. “Wah, sepertinya Ayah diam-diam lebih memperhatikannya dari pada aku.” Seung Ho tersenyum begitu tulus. “Tentu saja, karena biar bagaimanapun dia adalah putraku, sama sepertimu. Ya ... walaupun hubungan kami tak kunjung membaik sampai detik ini.” Yeong Nam ikut tersenyum, senyum yang begitu pilu. Ia juga turut sedih atas ketidak akuran yang menimpa kedua orang tuanya dengan adiknya. Jujur saja, sebenarnya ia begitu ingin mereka melupakan kesalahan di masa lalu dan berdamai. Tapi apa boleh buat, ibunya serta Yeong Gi terlalu keras untuk saling menerima satu sama lain, membuat ayahnya jadi harus mengikuti jejak ibunya dan mengucilkan Yeong Gi demi kelangsungan karir mereka. Dan lagi, walau seberapa besar pun mereka ingin kondisi keluarga mereka kembali utuh, publik tetap akan bertindak kejam tanpa berusaha mencari tahu dan mencoba mengerti bagaimana beratnya hidup seperti ini. Mangkanya, satu-satunya jalan yang bisa mereka ambil sejauh ini hanyalah dengan mengorbankan Yeong Gi, walau sebenarnya Yeong Nam dan Seung Ho tidak tega melihatnya terus terkucilkan seperti itu. ••• Di sebuah ruangan besar yang ada di salah satu sudut megahnya gedung Hotel Sky, sebuah meja makan panjang yang sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan terbentang di bawah cantiknya pendar chandelier. Disisi-sisinya, empat orang bergaya elegan nan mewah tengah duduk menunggu sang empu acara. Ya, mereka adalah para investor yang paling berpengaruh dalam sejarah pembangunan gedung Hotel Sky. Saham mereka di Hotel Sky ada sekitar tiga sampai delapan persen. Tak lama, Seung Ho akhirnya masuk ke dalam ruangan, diikuti oleh Yeong Gi yang berjalan malas di belakangnya. Yeong Gi tampak merapikan sedikit tuksedonya yang belum begitu rapih akibat terburu-buru saat mengenakannya tadi. Ya, dia tiba di hotel benar-benar mepet dengan waktu janji makan malam. Hampir saja Seung Ho dibuat serangan jantung mendadak saat Yeong Gi ingin langsung kesini tanpa berganti pakaian formal terlebih dahulu. Sekali lagi ia beruntung ada Yeong Nam di sini yang begitu membantunya dalam memaksa Yeong Gi untuk berganti pakaian. Keempat investor yang terdiri dari tiga pria dan seorang wanita, mereka berdiri lalu membungkuk menyambut kedatangan sang direktur beserta pemuda yang katanya adalah calon penerusnya. Seung Ho pun tersenyum ramah, ia ikut membungkuk hormat lalu duduk di kursi kosong. Sementara Yeong Gi, dia hanya menunduk singkat, lalu duduk malas di kursi sebelah ayahnya. “Selamat malam semuanya.” Seung Ho mulai berbicara. “Aku sangat berterima kasih karena kalian sudah mau meluangkan waktu untuk makan malam ini. Padahal kalian pasti sangat sibuk.” “Santai saja ....” Sang wanita—Jung Song Hye—menimpali. “... kami justru merasa sangat terhormat atas undangan makan malam ini. Betul bukan teman-teman?” Ketiga investor pria, yaitu Choi Bong Hwa, Shim Jang Won dan Hwang Jin Sang mengangguk mengiyakan. Mereka juga tersenyum ramah, tetapi tentu saja di mata Yeong Gi kentara sekali kalau senyum itu hanyalah pencitraan. ‘Dasar orang-orang munafik, sok berkelas!’ cibirnya dalam hati. ‘Padahal jelas sekali mata mereka menunjukkan kesan tidak senang saat melihatku.’ “Jadi ...,” kata pria paruh baya bertubuh agak gempal, Shim Jang Won. “... apa anak muda tampan ini yang akan menjadi direktur penerus Hotel Sky di masa mendatang nanti?” “Ah, ya! Aku hampir saja lupa memperkenalkan.” Min Seung Ho tertawa ringan. Ia kemudian mengisyaratkan Yeong Gi untuk berdiri memperkenalkan diri. Tapi dasar Yeong Gi, mana bisa dia diperintah seperti itu? Alih-alih dia malah membuang muka dari wajah Ayahnya. Membuat beliau jadi harus menanggung malu akan sikap arogan putranya itu. “Eh, kau pasti habis menghadapi customer yang menjengkelkan. Mangkanya mood-mu jadi tidak bagus,” timpal Choi Bong Hwa—pria tua dengan rambut yang sudah memutih—mencairkan suasana. “Tidak juga,” jawab Yeong Gi enteng. “Aku bahkan hampir tidak melakukan apa pun seharian ini. Aku sibuk bersenang-senang dengan seorang wanita yang sangat menarik.” “O-oh? Begitu?” Choi Bong Hwa jadi kebingungan sendiri meladeni anak muda di hadapannya ini. Dia mulai merasa agak jengkel, sepertinya Yeong Gi sengaja mempermainkannya beserta orang-orang penting yang ada di ruangan ini. Benar-benar tidak sopan! Seung Ho yang melihat keadaan jadi agak kacau gara-gara Yeong Gi pun jadi mulai gugup. Sungguh, ia malu sekali saat ini. Ia merasa tidak enak karena menghadirkan Yeong Gi di acara formal ini yang malah membuat suasana jadi tidak mengenakan. “Ah, hahaha lucu sekali.” Seung Ho mencoba mencairkan suasana dengan berpura-pura tertawa. “Dia memang sering membual untuk bergurau. Jangan diambil serius. Mari kita sambil menikmati hidangannya saja, agar suasana jadi lebih ringan.” Semua ikut tertawa singkat, kecuali Yeong Gi tentunya. Mereka pun mulai menikmati hidangan mewah yang sudah tersaji di atas meja. “Omong-omong, dia Min Yeong Gi,” kata Seung Ho lagi di sela-sela makannya. “Kinerjanya memang belum maksimal untuk saat ini. Tapi aku sangat yakin dia pasti akan mampu meningkatkan citra Hotel Sky menjadi lebih termasyhur.” Para investor mencoba tersenyum, tapi kentara sekali kalau mereka seperti tidak yakin dengan perkataan Seung Ho. Hal itu tentu membuat Yeong Gi jadi agak tersinggung. Ia merasa diremehkan hanya karena ketidak sopanannya terhadap mereka. Sebetulnya ia bukannya bertindak tidak sopan sih. Lebih tepatnya bertindak jujur. Ya, ia berusaha bersikap sejujur-jujurnya di hadapan orang-orang elit ini, ia ingin menunjukkan pada mereka kalau beginilah seorang Min Yeong Gi. Dan lagi ia sangat benci dengan sesuatu berbau 'pencitraan'. Yeong Gi yang tadinya sudah memegang garpu dan pisau di tangannya menyantap kudapan yang tersaji di piringnya, kini ia meletakkannya kembali. Ia kemudian dengan berani membuka lebar-lebar matanya, menatap satu per satu dari keempat investor di hadapannya. “Kalian tahu,” katanya seraya tersenyum sinis, “aku ini tipe orang yang tidak suka banyak omong. Aku juga tidak pandai menunjukkan norma kesopanan, karena sejujurnya bagiku itu tidak penting. Bukan kesopanan yang akan membawa kita pada keberhasilan, melainkan otak.” Semua saling tatap, merasa tidak mengerti kenapa Yeong Gi tiba-tiba bicara begitu. “Tidak usah sok bingung begitu,” kata Yeong Gi lagi seraya melambaikan tangan mengejek. “Aku cukup sadar kalau kalian meragukanku, bukan begitu? Ah, sayang sekali aku ini orang yang mudah tersinggung. Sekarang aku jadi kerepotan sendiri. Sepertinya aku harus membuktikan kecerdasan otakku pada kalian. Lihat saja nanti, strategiku pasti akan mampu menaikkan penghasilan Hotel Sky sebesar dua puluh persen hanya dalam kurun waktu dua trimester.” Semua terbelalak mendengar itu. Bahkan sang investor pria berparas setengah Chinese, Hwang Jin Sang, ia sampai memekik. “Dua puluh persen?! Itu angka yang tidak main-main. Direktur Min yang sudah berpengalaman saja belum tentu bisa menaikkan performa sebanyak itu dalam kurun waktu satu tahun. Sekarang kau dengan sombongnya berkata akan menaikkan penghasilan sebanyak dua puluh persen hanya dalam waktu enam bulan? Cih, maaf saja, aku tidak akan luluh dengan omong kosong seperti itu.” Yeong Gi tersenyum penuh maksud menatap Hwang Jin Sang. “Wah ... kau tipe orang yang kusuka, Tuan Hwang. Sama sepertimu, aku juga benci dengan omong kosong. Maka dari itu kau lihat saja sendiri enam bulan ke depan. Aku berani jamin lidahku ini pasti akan membawa keberuntungan.” Hwang Jin Sang hanya berdecih sinis menanggapi. Habis itu mereka kembali melanjutkan acara makan malam hanya dengan berbicara yang ringan-ringan saja Ya, ini kan pertemuan makan malam sekaligus acara perkenalan. Tidak seharusnya mereka mencampuri urusan bisnis di sini. Suasananya tentu akan menjadi tidak nyaman nantinya. Sementara itu Seung Ho, diam-diam ia tersenyum haru. Ia begitu bersyukur, setelah sekian lama membujuk Yeong Gi untuk menekuni bidang ini, kini akhirnya dia mulai serius menjalaninya. Dia bahkan terdengar penuh tekad hanya karena diremehkan seperti tadi. Seung Ho berharap, semoga saja kedepannya Yeong Gi akan terus berkembang. Barangkali dengan begitu Nam Chun Ae istrinya akan tersentuh hatinya dan pada akhirnya mau menerima Yeong Gi sebagai putranya, sama seperti Yeong Nam. Sungguh, Seung Ho benar-benar ingin keluarganya kembali utuh. Setidaknya sebelum ia mati termakan usia. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN