Dunia Ini Begitu Sempit

2205 Kata
“Hah! Siapa yang sombong, siapa yang kalah sekarang.” Lee Ha Na mencibir puas, matanya menatap penuh kemenangan pada pria di hadapannya yang wajahnya tampak begitu suram saat ini. “Diam kau.” Yeong Gi bergumam malas, masih tidak terima dengan dirinya yang kalah telak dari Ha Na. Ia bahkan sudah tak sanggup menatap gadis itu lagi. Rasanya sungguh memalukan. Baiklah, kalian pasti bertanya-tanya bukan, mengapa situasinya jadi seperti ini? Kalau begitu mari kita putar mundur waktunya kembali pada saat Yeong Gi dan Ha Na baru saja menaiki wahana Roller Coaster mengerikan bernama Atlantis itu. Dari awal naik, sebenarnya Yeong Gi sudah merasa pede kalau dirinya akan baik-baik saja. Karena ia pikir, ia sudah terbiasa setelah dibuat pusing di wahana sebelumnya. Tapi begitu kereta mulai meluncur, detik itu juga ia langsung kalah. Ya, ia sudah berteriak bahkan sejak kereta baru saja diluncurkan. Dan itu sukses membuat Lee Ha Na bukannya menikmati pemandangan ala Jurassic Park di wahana ini, tetapi malah sibuk menertawainya sepanjang kurang dari tiga menit selama kereta meluncur. Benar-benar memalukan. Tapi kalian jangan salahkan Yeong Gi jika dia jadi seperti lelaki pengecut. Salahkanlah para arsitek yang merancang wahana ini, sepertinya mereka sudah gila. Baru saja kereta meluncur, bukannya jalan perlahan terlebih dahulu, alih-alih langsung di lempar begitu saja. Orang waras mana yang tidak berteriak heboh jika baru awal meluncur saja sudah sangat ekstrem seperti itu? Belum lagi kereta akan naik memasuki gua gelap nan menyeramkan, lalu meluncur turun dengan semakin cepat sementara pemandangan di bawahnya adalah permukaan Danau Seokchon. Itu adalah serangan tripple combo mengerikan bagi seorang Min Yeong Gi yang kebetulan benci dengan ruangan menyeramkan seperti Gua, ketinggian, juga air. Apalagi hal itu terus berulang, naik, turun, masuk ke Gua lagi, bahkan menukik curam sampai jantungnya mau copot rasanya. Kalau saja tidak ada pengaman yang melindungi tubuh Yeong Gi, dia pasti sudah tercebur ke danau ketika kereta melintas miring tepat di atas permukaan air. Sekarang jika kau tanya apa saja yang keluar dari mulut Yeong Gi selama menaiki wahana Atlantis, tentu saja ada bermacam-macam. Mulai dari teriakan yang umum terjadi pada semua penumpang—termasuk Lee Ha Na sendiri—lalu sumpah serapah, Yeong Gi bahkan juga sampai merengek memohon untuk cepat-cepat keluar dari wahana. Mangkanya sekarang Ha Na jadi dengan pedenya menolak pinggang di hadapannya, tertawa-tawa sambil terus menatapnya penuh ejekan. Dan payahnya Yeong Gi terlalu malu untuk menghentikan gadis itu terus mencemoohnya. Lihat saja sekarang. Padahal sudah hampir dua puluh menit berlalu sejak mereka turun dari wahana, tetapi Ha Na tak ada bosannya menertawai Yeong Gi. Kini pria itu jadi geram sendiri. “Bisakah kau berhenti tertawa? Aku sudah mengakui kekalahanku, kenapa kau masih belum puas juga, heh?!” Yeong Gi mencibir kesal. Tapi dasar Lee Ha Na, dia malah semakin tertawa melihat Yeong Gi tampak tidak berdaya seperti sekarang ini. “Maaf deh kalau kau tersinggung,” sahutnya tanpa merasa bersalah. “Tapi asal kau tahu saja, ini momen langka yang harus kuingat sepanjang hidupku. Lihat sekarang. Seorang Tuan Min Yeong Gi yang selalu berbuat seenaknya padaku, sekarang telah berhasil kuserang balik. Ini sungguh menyenangkan bukan? Kau harusnya ikut tertawa juga.” Yeong Gi melipat tangan di d**a seraya memberi tatapan tajamnya pada Ha Na. “Oh, begitu? Sepertinya kau mau membuatku jadi benar-benar jatuh cinta padamu dengan menunjukkan senyum secerah itu. Baiklah, akan kuperhatikan terus senyum indahmu itu.” Mendengar perkataan Yeong Gi begitu, Ha Na sontak berhenti tertawa. Ia mendelik kesal pada pria di hadapannya ini, kenapa sih ia seperti tidak bisa bersenang-senang sedikit saja mempermalukannya? Kenapa Yeong Gi selalu punya cara untuk membuatnya jadi tak berkutik? Itu menyebalkan! Ha Na jadi benci pada dirinya sendiri yang seperti gadis lemah. Kini Yeong Gi tersenyum miring melihat Ha Na kembali tak berkutik. “Sudah kubilang 'kan, pada akhirnya hanya akulah yang akan menang,” katanya. “Cih!” Ha Na membuang muka. Padahal ingin sekali ia menendang Yeong Gi kalau saja ia tidak teringat pada kejadian kemarin-kemarin yang membuatnya jadi berhutang pada pria gila ini. “Sekarang kita sudahi saja tur di tempat ini,” kata Yeong Gi lagi, ia mengisyaratkan Ha Na untuk segera keluar dari arena taman hiburan ini. “Aku tidak mau lagi mengikuti permainan bodohmu yang bisa mengancam nyawaku.” “Oh ya? Padahal subuh tadi saat di kelab kau bilang padaku, kalau mati mungkin akan mempermudah hidupmu.” Deg! Yeong Gi seketika menghentikan langkahnya mendengar Ha Na bicara begitu. Sementara gadis itu yang kebetulan berjalan di belakangnya pun jadi terantuk hidungnya. Dan rasanya cukup nyeri sampai ia ingin memaki saja rasanya. Tapi ia tahan ketika ia menyadari apa yang dikatakannya barusan. Ha Na pun menatap Yeong Gi gugup. “Eh, aku tidak bermaksud ....” “Apa aku sungguh bicara begitu di hadapanmu?” potong Yeong Gi serius. “Eh ... ya, kau bicara begitu.” Ha Na semakin bertambah gugup. Masalahnya sorot mata Yeong Gi yang biasanya begitu mengintimidasi, saat ini justru terasa begitu memilukan. Membuat siapa saja yang menatapnya seakan ikut merasakan apa yang tengah di rasakannya, entah kenapa. “Fuh!” Yeong Gi menghela napas malas beberapa detik berikutnya. Ia kini kembali melangkah keluar gedung. Ha Na pun mengikutinya dari belakang. “Apa yang kau pikirkan ketika mendengarku mengatakan hal seperti itu?” tanya Yeong Gi tiba-tiba. “Apa?” Ha Na agak terkejut. Tetapi ia buru-buru mencairkan suasana. “Ah, tentu saja aku langsung berpikir bagaimana kalau aku saja yang membunuhmu. Sepertinya akan sangat menyenangkan.” Untungnya, Yeong Gi langsung tertawa kecil mendengar perkataan Ha Na barusan. Gadis itu pun menghela napas lega. Diam-diam ia tersenyum di belakang, batinnya berkata, ‘Syukurlah ... dia kembali seperti semula.’ Tapi sesaat berikutnya, Ha Na langsung menampar pelan pipinya begitu menyadari apa yang dipikirkannya barusan. ‘Kenapa aku harus bersyukur? Lagi pula sejak kapan aku jadi peduli padanya?! Hah ... aku pasti sudah gila!’ “Terima kasih,” ucap Yeong Gi tiba-tiba. Kini ia sudah berdiri menghadap Ha Na di pintu keluar Lotte World. Bahkan jarak berdiri mereka jadi begitu dekat, entah sejak kapan. Ha Na pun lagi-lagi mengutuk dirinya sendiri, karena ia malah jadi seperti orang linglung di hadapan Min Yeong Gi. “Untuk ... apa?” Ha Na bertanya tanpa sadar. Tuh kan benar saja, ia pasti sudah ketularan penyakit gilanya Min Yeong Gi. Yeong Gi tersenyum lembut seraya menatap Ha Na teduh. Tetapi tetap saja itu terasa mengerikan di mata Ha Na. “Untuk segalanya.” Yeong Gi menjawab pertanyaan Ha Na. “Terima kasih telah menghiburku hari ini, Ha Na-ya. Maka dari itu sebagai imbalan, aku akan membiarkanmu pulang lebih awal dari yang sesuai dengan perjanjian. Kau boleh pulang sekarang.” “Sungguh?!” Ha Na berbinar senang. “Baiklah kalau begitu aku pergi dulu. Selamat ting—” Yeong Gi langsung menahan tangan Ha Na ketika gadis itu sudah berbalik hendak pergi terburu-buru. Ia kemudian menariknya, hingga membuat tubuh gadis itu merengkuh di dadanya. Kini jarak pandang mereka jadi sangat, sangat dekat. Ha Na bahkan sampai tak bisa menutup mulutnya lantaran terlalu tegang bertatapan dengan mata tajam Yeong Gi dari jarak yang sedekat ini. Jantungnya juga sudah berdebar bukan main. Dan sialnya tubuhnya terlalu tak berdaya untuk memberontak dari rengkuhan pria ini. “Ingat,” kata Yeong Gi, “kau masih harus menepati janjimu yang sebelumnya, kalau kau akan menemaniku menikmati pemandangan dari ketinggian. Suasana malam puncak musim semi seperti hari ini pasti akan menjadi momen yang sangat romantis. Benar bukan?” Mendengar itu, kekuatan Ha Na yang sebelumnya sempat menghilang karena begitu terkejut, sekarang mendadak kembali lagi. Ia memberontak dari Yeong Gi, lalu melepas genggaman pria itu dengan kasar. Ha Na mendengus pasrah. “Ya. Aku akan menepati janjiku. Tetapi kau harus ingat, ini bukan karena aku ingin beromantis ria denganmu. Camkan itu!” Setelah mengucapkan itu, Ha Na segera pergi dari hadapan Yeong Gi, meninggalkan pria itu yang tiada hentinya menatap punggung tubuhnya. “Lee Ha Na,” gumam Yeong Gi. “Bibirmu begitu menggiurkan jika dilihat dari dekat seperti tadi. Ah, gawat, sekarang aku jadi ingin mencicipinya.” ••• Di sisi lain, tepatnya di sebuah mall di area bioskop, Han Ye Rim tengah tersenyum-senyum sendiri sambil memeluk kotak popcorn berukuran besar. Matanya menyorot sembarang, pikirannya melayang jauh entah kemana. Ya, ia sudah janjian akan bertemu di sini dengan mantan kekasihnya, yang biasa ia panggil Boxy. Sungguh, rasanya mendebarkan sekali. Sudah tujuh tahun mereka tak saling bertemu, kira-kira sudah seperti apa ya Boxy? Itulah yang terus Ye Rim pikirkan sedari tadi. Dan sesaat berikutnya, ketika mata Ye Rim tengah menelusuri area lobi, saat itu juga ia langsung terpaku begitu melihat sosok pria tinggi di ujung sana yang tengah menatapnya balik. Mata lebarnya, senyum manisnya, hidung bangirnya, alis tebalnya, serta rambutnya yang agak ikal, Ye Rim hafal betul siapa pemilik semua itu. Ya, itu Boxy—alias Kim Jae Young, cinta pertama sekaligus pacar pertama Ye Rim sewaktu SMA. Ye Rim menaruh kotak popcorn-nya di kursi, kemudian perlahan berjalan menghampiri sosok itu. Jae Young pun sama, walau sudah lama tak bertemu dengan Ye Rim, ia masih ingat betul dengan wajah kecil gadis itu, juga model rambutnya yang selalu sama—rambut pendek dengan poni—itu pasti Han Ye Rim, tidak salah lagi. Perlahan demi perlahan, mereka sama-sama berjalan saling mendekat. Air mata sudah menumpuk di mata keduanya sejak pertama kali mata mereka bertemu pandang. Dan ketika keduanya sudah berhadapan, mereka pun berpelukan. Begitu erat, sangat erat, seolah sedang melampiaskan segala kerinduan yang selama ini sudah menumpuk sampai setinggi gunung. “Boxy-ya ....” “Angel-ah ....” Keduanya saling menggumamkan panggilan sayang mereka sedari dulu. Rasanya memang agak aneh jika disebutkan oleh lidah mereka yang sudah sedewasa ini. Tapi masa bodo, lah. Mereka hanya merindukan masa-masa indah dulu ketika mereka masih menjalin hubungan. “Aku merindukanmu, Jae Young-ah. Sangat, sangat merindukanmu,” gumam Ye Rim, masih menangis dalam pelukan Jae Young. “Aku juga merindukanmu, Ye Rim-ah. Aku selalu mengingatmu, selalu ingin bertemu denganmu.” Jae Young begitu dalam dan tulus mengucapkannya. “Dan setelah tujuh tahun berlalu, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi. Ini ... ini benar-benar terasa seperti mimpi.” Ye Rim mendongakkan kepalanya menatap Jae Young. Melihat ada air mata di pipi gadis itu, Jae Young pun menghapusnya lembut dengan ibu jarinya. “Sudah, sekarang bukan waktunya untuk kita menangis,” kata Jae Young dengan senyum lembutnya yang terasa begitu menyejukkan hati. “Bukankah kita akan bersenang-senang hari ini? Besok aku sudah mulai bekerja di kejaksaan, maka dari itu aku tidak mau membuang-buang waktu dengan hanya menangis seperti ini.” Ye Rim mengangguk semangat. Ia sudah melepas pelukan Jae Young saat ini. Ia berlari kecil ke arah kursi tempatnya tadi duduk untuk mengambil kotak popcorn-nya, lalu kembali berlari ke arah Jae Young dan menuntunnya untuk segera masuk ke dalam bioskop. “Jadi ...,” kata Jae Young saat di perjalanan. Wajahnya tampak jauh lebih cerah dari yang sebelumnya, senyum kotak khas-nya juga terhias di wajah tampannya itu. Membuatnya jadi terlihat semakin menggemaskan di mata Ye Rim. “... kau ini sedih atau bahagia tidak jadi bersenang-senang dengan temanmu, tetapi malah berkencan denganku?” Ye Rim tertawa renyah. “Jadi menurutmu ini kencan? Kalau begitu aku pasti sedang bahagia saat ini. Tapi aku juga turut sedih dengan nasib temanku. Ah, Ha Na yang malang ....” “Ha Na?” Jae Young menggumam seraya mengerutkan dahinya. Sorot matanya juga menerawang entah kemana, seperti sedang mengingat sesuatu. Ye Rim yang tidak menyadari ada kegundahan dalam diri Jae Young ketika mendengar nama Ha Na disebut, ia malah menunjukkan foto selfie-nya dengan Ha Na yang tadi di ambil di bawah pohon sakura. “Ya, dia temanku, teman yang sangat dekat denganku, Lee Ha Na.” Melihat foto yang Ye Rim tunjukkan padanya, Jae Young seketika membeku. Tiba-tiba saja tatapan cerianya berubah jadi sendu, ia mendadak kembali teringat pada kenangan manisnya bersama seorang gadis bernama Lee Ha Na. Jae Young terus memerhatikan baik-baik foto Ha Na. Walaupun sudah sangat lama ia tak bertemu dengannya, tapi ia masih hafal betul dengan garis wajah itu. Ya, itu memang Lee Ha Na yang Jae Young kenal. Dia adalah cinta pertamanya sewaktu kecil. Dan kini ia harus mendapat fakta kalau ternyata Ha Na berteman baik dengan Ye Rim?! Sesempit itukah dunia ini? “Ada apa? Kau kenal dengan temanku?” tanya Ye Rim yang kebingungan melihat Jae Young mendadak berubah ekspesi ketika melihat foto Ha Na. Jae Young pun terkesiap. Lalu kepalanya bergerak refleks menggeleng. “Tidak, aku tidak mengenalnya,” jawabnya. Ye Rim hanya tersenyum menanggapi. Ia sama sekali tidak tahu, kalau Ha Na juga ternyata merupakan salah satu bagian dari masa lalu terindah Jae Young. Biarlah dia tetap tidak tahu, pikir Jae Young. Karena bagaimanapun, walau seberapa berartinya Lee Ha Na baginya, Han Ye Rim tetaplah tujuan utamanya saat ini. Dan semoga saja hatinya akan terus menegaskan itu, tidak berpindah haluan yang nantinya malah akan menyakiti Ye Rim lagi. Tidak, sudah cukup Jae Young menyakiti Ye Rim selama ini dengan memberinya harapan yang begitu besar. Apa pun yang terjadi nanti, kalaupun takdir mempertemukannya dengan teman masa kecilnya itu, Jae Young akan memilih untuk tidak mengenal Ha Na lagi. Ya, begitu lebih baik, dari pada nantinya ia malah menghancurkan persahabatan kedua gadis yang pernah menjadi orang paling berarti dalam hidupnya. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN