Taman Hiburan

2220 Kata
“Jadi ... ini tempat yang kau maksud akan membuatku merasakan sensasi mendebarkan yang mengesankan?” Yeong Gi menatap tak percaya pemandangan di hadapannya. Mulutnya terbuka sambil matanya terus menelusuri setiap inci dari gedung besar yang tengah di pijaknya saat ini. Bagaimana tidak terkejut, Yeong Gi pikir ia akan dibawa ke suatu tempat yang akan membuat tubuhnya terbakar oleh sensasi menggairahkan. Masalahnya Ha Na menyebut soal 'berdebar'. Sungguh, ekspetasinya sudah membawa pikirannya melayang-layang sampai ke awan, tapi di jatuhkan seketika begitu tahu kalau tempat semacam inilah yang gadis itu maksud. Memang sih jantungnya pasti akan berdebar jika ia menikmati setiap hal yang ada di gedung ini. Tapi itu bukanlah sensasi debaran yang Yeong Gi inginkan. Tidak sedikit pun. Taman hiburan Lotte World. Ya, di sinilah Yeong Gi berdiri saat ini, tepatnya di tengah-tengah megahnya aneka wahana bermain yang baginya terlihat mengerikan. Dasar Lee Ha Na, pantas saja dia menolak saat di tawari pergi ke tempat tujuan menggunakan mobil alih-alih berjalan kaki. Ternyata tempat ini tujuannya. Ya, ini kan memang tempat wisata yang paling dekat dari tempat mereka berada sebelumnya, Danau Seokchon. Bodoh sekali, kenapa Yeong Gi tidak sadar dan langsung memercayai gadis itu? Sial, ia terlalu termakan dengan iming-iming kalimat 'sensasi mendebarkan yang mengesankan'. “Kenapa?” tanya Ha Na terdengar mengejek. “Tadi kau sangat bersemangat. Kenapa sekarang tidak?” Yeong Gi menatap gadis di sampingnya ini datar. Ia lalu menjawab dengan tenang, “Aku benci tempat ramai. Ayo pergi saja.” Yeong Gi meraih tangan Ha Na, hendak menariknya menuju pintu keluar. Tetapi gadis itu memberontak kasar melepaskan tangannya dari genggamannya. Yeong Gi menatapnya sekilas, ia hanya bisa mendesah pelan menghadapi gadis keras kepala semacam Lee Ha Na. Sementara Ha Na sendiri, kini ia menatap Yeong Gi dengan ekspresi sebal. Mulutnya sibuk mencibir tidak senang, kedua tangannya ia lipat di d**a. “Kau ini sebenarnya menyukai tempat yang seperti apa, sih?!” rutuk gadis itu jengkel. “Tadi kau bilang kau benci tempat yang tenang. Dan sekarang kau bilang kau juga benci tempat ramai?! Cih, jangan bilang kau berkata begitu hanya alasan saja. Kau takut, eh?” “Ap-apa?!” Yeong Gi berseru gugup. “Aku tidak takut, tuh. Aku hanya menghindari sesuatu yang tidak berguna.” Ha Na hanya menanggapinya dengan berdecih seraya memalingkan wajah mengejek. “Kenapa kau memasang ekspresi seperti itu?” kata Yeong Gi lagi. “Aku benar-benar benci melakukan sesuatu yang tidak berguna. Coba kau pikir. Untuk apa orang-orang membahayakan jantung mereka sendiri dengan menaiki wahana ekstrem yang ada di sini? Kalau alasannya untuk menghibur diri, itu sama sekali tidak menghibur, tuh.” Ha Na memutar bola matanya jengah mendengar pria itu berusaha menjelaskan. Apa pun yang di katakannya, bagi Ha Na kesimpulannya hanya satu. Pria arogan yang hobinya mengintimidasi ini ternyata takut dengan wahana ekstrem di taman hiburan ini. Dan hal itu cukup lucu baginya. Ah, omong-omong soal lucu, Ha Na jadi terpikirkan sesuatu yang menyenangkan. Bagaimana kalau kesempatan ini ia jadikan ajang pembalasan dendam? Kelihatannya Yeong Gi cukup frustasi berusaha menghindari tempat ini. Kalau Ha Na bisa membuatnya menjerit ketakutan saat pria itu menaiki wahana-wahana ekstrem di sini, itu pasti akan menjadi pembalasan dendam yang sepadan atas perlakuan Yeong Gi terhadapnya selama ini, yang selalu membuatnya merasa risih dan ketakutan. Hah! Itu pasti akan sangat menyenangkan. Ha Na pun diam-diam tersenyum memikirkan rencana jahil itu. Ia kemudian menghela napas panjang, matanya menatap mengejek pada Yeong Gi. “Hah ... ya sudahlah kalau begitu. Karena kau ‘tuan’-nya di sini, maka aku tidak akan membiarkan ‘tuan’-ku ketakutan,” ujar Ha Na penuh penekanan pada kata 'tuan', nada bicaranya terdengar menjengkelkan bagi siapa saja yang mendengarnya. “Ya! Apa-apaan maksud ucapanmu barusan?!” seru Yeong Gi pelan, tetapi cukup jelas kalau ia sedang kesal. “Sudah kubilang aku tidak takut. Apa kau meremehkanku?” “Tidak, aku hanya berusaha menuruti keinginanmu, Tuan. Aku 'kan pemandumu. Jadi aku tak akan memaksamu menikmati wahana yang tidak kau sukai. Kalau begitu nanti kau akan memberikan rating buruk padaku.” Yeong Gi mendengus kasar menahan kekesalan yang sudah hampir memuncak akibat menerima cibiran demi cibiran yang Ha Na lontarkan padanya. Alhasil, hal itu memicu nalurinya untuk menantang balik gadis di hadapannya ini. Ia berpikir, hanya ia yang boleh mendominasi di sini. Hanya ia yang boleh mencibir pada Ha Na. Gadis itu tidak memiliki hak untuk merendahkannya. “Kau sedang mengujiku sepertinya,” cibir Yeong Gi dengan senyum miring khas-nya yang selalu berhasil membuat Ha Na merinding. “Baiklah, Nona Pemandu. Sekarang aku memerintahkanmu untuk menemaniku menaiki semua wahana ekstrem di tempat ini.” Ha Na pun tersenyum puas mendengar itu. “Sepakat,” sahutnya antusias. Yeong Gi kembali tersenyum miring melihat antusiasme Ha Na. “Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menjerit lebih dulu,” katanya lagi seraya mulai berjalan menuju sebuah wahana bernama Giant Loop. “Jika itu kau, maka kau harus siap menerima hukuman dariku.” Ha Na melotot mendengar itu. “Y-ya! Kau tidak bisa begitu. Bagaimana kalau aku yang menang?” “Kau tidak akan mendapat apa pun, tentu saja. Kau yang memancingku melakukan ini, maka terima sendiri akibatnya.” Ha Na ingin protes dengan ketidak adilan taruhan yang Yeong Gi buat barusan. Tapi apa daya, pria itu sudah mengeluarkan jurus tatapan mata setajam pisau khas-nya yang tentu saja itu berarti kalau dia tidak ingin menerima penolakan. ‘Hah ... dasar pria kejam!’ Ha Na merutuk dalam hati. ‘Tapi tidak apa, toh aku yakin kau pasti akan kalah dariku. Lihat saja nanti.’ ••• Yeong Gi meneguk salivanya tegang menatap wahana yang terbentang di hadapannya. Sebuah kereta luncur terlihat sudah dipadati oleh para menumpang yang sudah tak sabar ingin segera berselancar mengitari rel biru raksasa berbentuk lingkaran. Termasuk Ha Na, dia sudah siap di atas sana, duduk manis dengan pengaman sudah mengunci tubuhnya. Wajahnya tampak begitu antusias, seperti tak ada kecemasan sama sekali. Dia bahkan sangat bersemangat menepuk-nepuk kursi di sebelahnya, mengisyaratkan Yeong Gi untuk segera menyusulnya. Dengan malas, Yeong Gi terpaksa mengikuti kemauan gadis itu dan segera duduk di kursi yang sedari tadi telah di siapkan khusus untuknya oleh Ha Na. Kalau saja bukan karena ia tidak terima gadis itu merendahkan harga dirinya sebagai seorang pria, Yeong Gi tentu tidak mau membuang-buang tenaga untuk melakukan hal konyol ini. Baginya ini tidak berguna sama sekali, malahan hanya akan memperpendek umurnya karena jantungnya pasti akan tersiksa. Setelah Yeong Gi duduk dan pengaman sudah terpasang kuat di tubuhnya, kereta pun perlahan meluncur maju melawan arus lingkaran rel. Begitu pelan, lalu tersendat di tengah-tengah ketinggian, dan kembali meluncur mundur ke arah sebaliknya. Hal itu terus berulang beberapa kali, memberi efek mual di perutnya. Tapi yang terjadi berikutnya, rasa mual yang Yeong Gi rasakan mendadak berubah menjadi ketegangan. Kereta mulai meluncur cepat ke sisi depan dan belakang, hingga akhirnya sanggup melaju pada rel melengkung bagian atas. Itu masih belum seberapa mengerikan. Karena detik berikutnya kereta terjun jatuh ke bawah, lalu kemudian meluncur begitu cepat dan membuat semua penumpangnya di putar-putar 360 derajat. Rasa mual dan pusing pun kembali Yeong Gi rasakan. Tapi sejujurnya yang lebih mendominasi dirinya adalah rasa ngeri yang bahkan sampai membuat mulutnya terkatup rapat, tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Yeong Gi melirik ke sisi kanannya di mana sang penantang berada. Ha Na terlihat memejamkan matanya ketika laju kereta menelan pada saat posisi mereka tengah menggantung di atas. Diam-diam Yeong Gi merasa lega karena setidaknya ia belum kalah darinya. Gadis itu memang tidak berteriak seperti kebanyakan penumpang lainnya, tapi dia memejamkan mata demi menahan rasa mual akibat berputar-putar tadi. Yeong Gi pun tersenyum puas, walaupun sejujurnya itu sulit sih. Tapi ia tetap merasa menang, karena ia tidak berteriak, dan lagi rasa mual dan pusing bukanlah hal yang buruk baginya. Ia sudah biasa merasakan itu ketika sedang mabuk berat. Akhirnya, wahana pun berhenti. Semua turun dari kereta luncur dengan agak terhuyung pusing. Termasuk Lee Ha Na. Gadis itu bahkan sampai menepi ke tong sampah terdekat hanya untuk menadah rasa mualnya, takut-takut isi perutnya keluar. “Wah, siapa yang menantang, siapa yang kalah,” ledek Yeong Gi merasa menang. “Diam kau!” balas Ha Na sambil masih menadah mulutnya pada tong sampah, syukurlah isi perutnya tidak benar-benar keluar. Kalau itu sampai terjadi Yeong Gi pasti akan semakin mengejeknya. “Permainan berikutnya harus aku yang menentukan!” tukas Ha Na begitu ingin membalas dendam. “Kau urusi dulu rasa mual di perutmu itu. Jangan sampai muntahanmu terciprat ke wajah indahku saat sedang menaiki wahana selanjutnya.” “Cih, lihat saja nanti!” Setelah mengatakan itu, Ha Na berjalan lebih dulu mengitari area Lotte World. Tapi setelah melihat segala macam wahana yang ada di area indoor alias yang biasa disebut Lotte World Adventure, rasanya semua itu terlihat biasa saja, tak ada yang benar-benar memacu adrenalin. Ha Na pun berjalan ke area outdoor, menuju area Magic Island di mana aneka permainan menegangkan berada. Dan mata Ha Na langsung tertarik pada sebuah wahana dengan tiang besar berwarna putih yang tinggi menjulang sampai 70 meter. Ya, itu Gyro Drop. (*Notes : Gyro Drop sama seperti Histeria yang ada di Dufan) Lagi-lagi, Yeong Gi meneguk salivanya menahan rasa tegang yang sudah lebih dulu menjalar ke sekujur tubuhnya bahkan sebelum ia mengantri untuk menaiki wahana yang diminati Ha Na ini. “Kau ...,” gumamnya berusaha terdengar biasa saja. “... yakin mau menaiki wahana ini?” “Kenapa? Kau takut?” Ha Na mengejek seraya melipat tangan di d**a. “Ti-tidak!” sergah Yeong Gi cepat. “Aku hanya tidak suka di lempar jatuh dari atas sana. Rasanya seperti dibuang dan diinjak-injak bahkan ketika kau sudah berada puncak. Aku benci perasaan seperti itu.” “Wow! Filosofimu dalam sekali.” Ha Na bergumam takjub. “Tapi kau beruntung, berkat itu aku sadar kalau dibuang jauh-jauh ketika kita berada di puncak memang menyakitkan. Jadi, ayo pergi ke wahana lain saja.” “Eh?” Yeong Gi mengernyit heran menatap Ha Na. Kenapa gadis itu tiba-tiba mengiyakan ucapan yang bahkan ia ucapkan asal saja demi menghindari wahana ini? “Kenapa lagi? Aku sudah berbaik hati menuruti permintaanmu, sekarang kau mau protes lagi?” keluh Ha Na sambil mendengus menahan kekesalannya. “Sudahlah, ayo kita ke wahana lain saja, sebelum malam. Ingat, aku harus pulang jam delapan nanti.” Mendengar itu, ekspresi heran Yeong Gi seketika berubah jadi tatapan jahil. “Dasar. Kau takut juga rupanya,” ungkapnya balas mengejek Ha Na. “Ti-tidak tuh! A-aku hanya berbaik hati menuruti permintaanmu! Kalau kau mau tetap naik ya sudah ayo!” “A—ah, tidak! Sudah kubilang aku tidak suka di lempar dari atas sana. Baiklah, ayo kita pergi ke wahana yang lain.” Diam-diam, Ha Na menghela napas lega mendengar keputusan Yeong Gi. Bodoh sekali, ia hampir saja menjerumuskan diri pada kekalahan dengan menaiki wahana Gyro Drop. Sungguh, benar kata Yeong Gi, di lempar dari atas sana terlihat sangat mengerikan. Walau Ha Na belum pernah mencobanya, tapi dari suara teriakan orang-orang yang sedang menaiki wahana itu saja ia sudah dapat membayangkan bagaimana mengerikannya. Jantungnya pasti akan seperti tertinggal di atas sana. Tidak, itu sama sekali tidak menyenangkan. Ha Na pun kembali memimpin langkah mengitari area Magic Island, dan setelah beberapa menit, pandangannya terpaku pada sebuah wahana yang terlihat menakjubkan baginya. Itu adalah Atlantis, wahana yang katanya paling populer di seluruh arena Lotte World. Bagaimana tidak populer, itu adalah Roller Coaster dengan kecepatan 72 kilometer per jam, dengan ketinggian mencapai 20 meter dan akan menukik curam 72 derajat. Benar-benar mencekam. Kalau yang semacam ini Ha Na tidak takut. Setidaknya wahana ini masih memiliki rute santai untuk merelakskan diri. Tidak seperti wahana sebelumnya yang benar-benar di buat melayang tinggi ke atas, tapi kemudian di jatuhkan begitu kencangnya. Ha Na pun menatap Yeong Gi, pria itu terlihat gundah menatap Roller Coaster di hadapan mereka ini. ‘Bagus. Kali ini kau pasti akan kalah, Tuan menyebalkan!’ batin Ha Na merasa menang. “Kau memilih wahana ini?” tanya Yeong Gi kemudian. “Apa kau juga tidak menyukai ini? Ini terlihat menyenangkan di mataku.” Ha Na menyindir puas. “Eh ... aku biasa saja tuh,” jawab Yeong Gi sambil menggaruk tengkuknya gugup. “Tapi tidak bisakah kita menaiki wahana yang santai dulu? Seperti wahana balon udara yang ada di area sebelumnya tadi. Apa itu namanya? Eh ... The Aeronaut Balloon? Ya, itu. Itu pasti akan terasa romantis bagi kita berdua, Ha Na-ya.” Mendengar itu, Ha Na langsung menginjak kaki Yeong Gi kencang. “Dasar tidak tahu diri! Kau pikir aku mau menaiki wahana itu untuk beromantis ria denganmu?! Jangan harap!” serunya ketus seraya membuang muka. “Hah ... dasar! Setidaknya turuti saja satu keinginanku itu. Toh kau tidak akan pernah bisa menikmati permainan di sini jika bukan pakai uangku.” Ha Na tersindir telak dengan kalimat itu. Sial, ia tidak suka merasa berhutang seperti ini. “Baiklah, baiklah,” sahut Ha Na akhirnya. “Karena aku tidak mau berhutang padamu, aku akan menemanimu menikmati pemandangan dari ketinggian. Tapi bukan sekarang. Karena sekarang waktunya kau menuruti permintaanku menaiki wahana keinginanku. Kau tidak menolak tadi, maka kuanggap itu adalah perjanjian. Jika kau menolak sekarang, berarti kau sudah kalah sebelum berperang!” “Enak saja! Baiklah, aku akan mengikuti permainanmu kali iini! Ayo kita naik wahana ini, dan buktikan siapa yang akan berteriak lebih dulu!” “Oke!” •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN