Sebuah sedan mewah berwarna hitam dari salah satu produsen mobil premium, yaitu Maserati Ghibli, berjalan perlahan menyusuri sepanjang jalan Yeouido Road. Sang pengemudi di dalamnya dengan teliti menyamakan posisinya dengan GPS yang tertera, serta sesekali menoleh ke sepanjang trotoar yang kini tengah dipadati orang-orang yang sedang menikmati mekarnya pepohonan sakura. Setelah yakin posisinya sudah sama persis seperti yang ditunjukkan GPS, sang pengemudi yang tak lain adalah Min Yeong Gi, ia memarkirkan mobilnya di tepi jalan dan fokus untuk mencari sosok wanita yang tak sabar ingin segera ditemuinya. Dan tak butuh waktu lama, mata tajamnya sudah berhasil menemukan sosok itu.
Kira-kira tujuh meter di depan mobil Yeong Gi terparkir, ada seorang gadis berbaju kuning pudar tengah duduk di bangku tepi trotoar dengan ekspresi yang begitu suram. Bahkan orang-orang yang melewatinya sampai menjauh karena takut akan di sembur olehnya jika tidak sengaja menyenggol. Yeong Gi pun tertawa kecil melihat itu. ‘Dasar Lee Ha Na, apa dia tidak bisa tersenyum sedikit saja?’ batinnya.
Yeong Gi kemudian mengambil ponselnya dan menatap nomor kontak Ha Na. Dalam hatinya tiba-tiba terbersit suatu kejahilan yang mungkin akan sangat menyenangkan untuk dilakukan. Ia pun mengirim pesan singkat pada gadis itu.
[Kau di mana?]
Mata Yeong Gi kembali menatap pada Lee Ha Na di luar sana yang tengah mengecek ponselnya. Kini gadis itu seperti sedang membalas pesannya sambil memaki. Itu terlihat dari gerakan bibirnya yang seperti orang mencibir. Lagi-lagi Yeong Gi tersenyum melihat gadis itu emosi.
Sesaat berikutnya, terdengar nada pesan masuk di ponsel Yeong Gi. Benar saja, itu balasan dari Lee Ha Na.
[Aku 'kan sudah kirimkan lokasinya padamu! Apa kau tidak tahu caranya menggunakan GPS, huh? i***t!]
“Wah ... kasar sekali,” gumam Yeong Gi setelah membaca pesan Ha Na. Tapi kemudian ia tersenyum miring, seperti sedang merencanakan sesuatu. “Kalau begitu kau harus membayarnya, Lee Ha Na.”
Yeong Gi kembali mengetikkan pesan balasan, lalu mengirimkannya pada gadis itu.
[Aku sudah berada di titik lokasi. Tapi aku tidak bisa menemukanmu. Bisakah kau kirimkan aku foto yang bisa menjadi patokan untuk aku mencari?]
Di kejauhan, Ha Na tampak tertunduk sambil mengembuskan napas kasar menahan emosi. Tapi walau begitu ia tetap melakukan apa yang Yeong Gi pinta. Ia memotret dirinya dengan pemandangan di belakang yang memperlihatkan tiang lampu jalan sebagai patokan.
Yeong Gi memerhatikan baik-baik apa yang gadis itu lakukan. Awalnya dia berselfie dengan tersenyum. Tapi kemudian dia menghapusnya dan menggantinya dengan foto tanpa ekspresi. Foto terakhir itulah yang dikirimkannya pada Yeong Gi. Yang akhirnya berujung membuat pria itu sekali lagi tertawa kecil dibuatnya.
“Dasar bodoh, dia mau menunjukkan apa sebenarnya,” cibir Yeong Gi puas. “Sepertinya aku sudah harus menunjukkan padanya keberadaanku. Aku penasaran, akan seperti apa ya reaksinya?”
Yeong Gi pun sekali lagi mengirim pesan pada Lee Ha Na.
[Aku lebih suka fotomu yang sebelumnya. Senyummu begitu menawan dilihat dari belakang sini.]
Ketika membaca pesan itu, Lee Ha Na di depan sana langsung panik menatap sekeliling. Dan akhirnya matanya berhasil menemukan keberadaan Yeong Gi yang tengah duduk tenang di dalam mobil. Yeong Gi pun melambai mengejek padanya, dan saat itu juga air muka Lee Ha Na seketika berubah jadi dua kali lipat lebih suram dari yang sebelumnya.
Karena keberadaannya sudah diketahui, Yeong Gi segera turun dari mobil dan menghampirinya. Ha Na terus menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam nan menusuk sepanjang pria itu melangkah mendekatinya. Yeong Gi sampai merasa ia bisa terbunuh jika terus-terusan menatap mata gadis itu.
“Kau sengaja mempermainkanku, eh?” tanya Ha Na ketus.
“Tidak tuh,” jawab Yeong Gi enteng. “Tadi aku memang belum melihatmu. Tapi ternyata kau berada tepat di depanku.”
Ha Na mendengus pelan seraya memutar bola matanya. Ya, kali ini ia memutuskan untuk mengalah saja ketimbang terus meladeni pria tidak waras seperti Min Yeong Gi. Yang ada ia malah akan ikutan tidak waras nantinya.
Setelah beberapa detik berusaha merelakskan diri, Ha Na kemudian berkata, “Kalau begitu sekarang kau mau apa?”
“Kau harus menemaniku keliling kota Seoul. Kita akan berkencan menikmati musim semi.”
Mendengar itu, Ha Na sontak terbelalak tak terima. “Apa?! Kau jangan mimpi! Sudah kubilang ini bukan kencan!”
Yeong Gi hanya mengedikkan bahu acuh. “Terserah. Yang penting bagiku ini kencan. Sekarang kau ikut aku!”
Yeong Gi menarik tangan Ha Na dengan agak memaksa menuju mobilnya. Ia membukakan pintu sebelah kanan untuk dinaiki gadis itu. Ha Na sebenarnya ingin protes. Tapi ia tahu ia sedang tidak berdaya saat ini. Alhasil ia hanya bisa menurut saja walau hatinya menolak keras di perlakukan seperti ini oleh seorang Min Yeong Gi. Bahkan kepalanya seperti mau meledak karena terus berusaha menahan emosi.
“Kau mau membawaku kemana?” tanya Ha Na setelah Yeong Gi duduk di kursi kemudi dan mulai menjalankan mobilnya.
Yeong Gi menoleh sekilas padanya lalu menjawab, “Kemana saja. Asalkan bersamamu, itu pasti akan membuatku lupa akan segala keegoisan dunia.”
Ha Na mengerutkan keningnya bingung mendengar itu. Tapi sesaat berikutnya ia mendadak terdiam, emosinya juga seketika meredup begitu saja. Ha Na menatap pria di sebelahnya ini dalam dan penuh selidik. Pikirannya mulai berkelana kemana-mana ketika memikirkan ucapannya barusan.
‘Lagi-lagi dia mengatakan hal yang terdengar ambigu,’ batinnya sambil terus menatap Yeong Gi. ‘Sebenarnya dia kenapa? Apa dia begini karena penyakitnya yang sempat kudengar kemarin? Memangnya dia sakit apa sebenarnya? Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang tidak baik dalam dirinya.’
“Apa wajahku begitu menarik, sampai kau terus menatapku tanpa berkedip?” celetuk Yeong Gi tiba-tiba yang memergoki Ha Na terus menatapnya selama satu menit terakhir. Gadis itu pun terkesiap dari lamunannya, dan segera memalingkan wajah salah tingkah.
“Ap-apa?! Cih, jangan kepedean.”
Yeong Gi hanya tersenyum miring menanggapi sangkalan Ha Na. Sementara Ha Na sendiri, ia tengah sibuk memaki dirinya dalam hati, kenapa bisa-bisanya ia melakukan itu terlebih pada pria super menyebalkan seperti Yeong Gi.
‘Hah ... kau pasti sudah gila, Lee Ha Na!’ rutuknya dalam hati. ‘Untuk apa aku repot-repot memikirkan pria kurang ajar sepertinya? Meskipun dia punya penyakit mematikan atau gangguan jiwa sekalipun itu bukan urusanku!’
•••
Pukul empat sore. Lagi-lagi Lee Ha Na hanya bisa mengelus d**a menghadapi segala cobaan yang ia terima sejak ia berdampingan dengan Min Yeong Gi. Sejujurnya, tadinya ia sudah mulai menerima jika Yeong Gi akan mengajaknya keliling kota Seoul untuk menikmati musim semi. Ia berpikir, walau ini agak menyebalkan karena ia pergi bersama pria gila itu, tapi tidak ada salahnya juga karena ini gratis. Kapan lagi 'kan seorang Lee Ha Na yang hampir tidak punya waktu dan uang untuk sekedar jalan-jalan, kini bisa jalan-jalan keliling kota Seoul. Ini adalah kesempatan bagus untuk merelakskan pikirannya sejenak dari segala beban pekerjaan yang selama ini terus menghantuinya.
Tapi ternyata, yang disebut oleh Yeong Gi keliling kota Seoul menikmati musim semi tidaklah sesuai dengan ekspetasi Ha Na. Lihat saja, dia hanya membawa Ha Na ke Danau Seokchon untuk menemaninya sekedar berbaring di atas kursi kayu, menikmati hembusan angin dan cahaya mentari sore yang hangat. Itu sangat membosankan! Apalagi sudah hampir satu jam Ha Na hanya duduk di sampingnya, tak melakukan apa pun. Bahkan diberi snack pun tidak sama sekali.
“Cih, yang seperti ini dia sebut berkencan?” gerutu Ha Na tanpa sadar.
Yeong Gi yang tadinya tengah memejamkan mata, kini jadi membuka sebelah matanya melirik pada gadis itu. Ia tak langsung menjawab, hanya tersenyum tipis, sangat tipis. Masalahnya ia sedang tidak mood untuk berbicara. Ia sedang sibuk menikmati ketenangan yang jarang dirasakannya apalagi ketika ia berada di tempat semacam ini. Biasanya Yeong Gi selalu menghindari melakukan hal tidak berguna semacam ini karena itu hanya akan membuatnya kembali teringat pada segala hal yang dibencinya, segala hal yang membuatnya tertekan selama ini.
Tapi dengan adanya Lee Ha Na disisinya, entah kenapa pikiran tidak tenang itu seakan sirna begitu saja. Karena itulah Yeong Gi jadi begitu tertarik padanya. Dan semakin lama sepertinya rasa tertarik yang tadinya biasa saja kini perlahan-lahan mulai jadi tidak biasa. Sejujurnya ia jadi agak takut, bagaimana jika Lee Ha Na akan menjadi candu baginya? Dia bukanlah alkohol yang bisa di dapatkan dengan mudah. Selain itu Yeong Gi juga takut, bagaimana kalau nanti Ha Na akan pergi darinya, dan setelah itu ia tidak punya alasan lagi untuk hidup di dunia penuh sesak ini? Tidak, kalau begitu ia tidak boleh sampai ketergantungan dengan kehadirannya.
Tapi semenjak Yeong Gi bertemu dengan Ha Na, rasanya sulit sekali baginya untuk menghindari gadis itu. Ia bahkan terus-terusan mengganggunya hanya demi mendapat perhatiannya. Kalau sudah begini, apakah ia bisa melepasnya? Entahlah ...
Sementara Yeong Gi sibuk dengan pikirannya, Ha Na diam-diam sesekali melirik padanya yang sedari tadi masih terus memejamkan mata. Melihat air mukanya yang tampak tenang seperti itu, entah kenapa timbul sedikit rasa iba dalam hati Ha Na. Walau garis wajah pria itu tampak tajam dan membuatnya jadi terkesan seperti tokoh antagonis dalam sebuah drama, tapi tetap saja ada semburat kesedihan yang tersembunyi dengan baik di balik raut mengintimidasinya. Dan sialnya hal itu telah membuat Ha Na tanpa sadar seperti meluluhkan diri di hadapannya.
“Kau ...,” ucap gadis itu setelah beberapa menit hening. “... menyukai tempat seperti ini?”
“Tidak,” jawab Yeong Gi pelan. “Aku membencinya.”
“Kalau begitu kenapa kau mengajakku kesini?”
“Karena kupikir kau akan menyukainya.” Kali ini Yeong Gi membuka mata dan mendudukkan tubuhnya seraya menatap Ha Na seperti meminta persetujuan.
Menyadari tatapan itu, Ha Na buru-buru menggeleng.
“Tidak! Aku tidak menyukainya!” tukasnya tegas. “Ini sangat membosankan dan membuang-buang waktu, dasar bodoh! Kalau aku benar-benar menganggap ini kencan, aku pasti tak akan mau berkencan denganmu lagi!”
Yeong Gi tersenyum miring. Sorot matanya menatap Ha Na penuh maksud. Ah, lagi-lagi tatapan mengintimidasi itu. Biasanya dia akan mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak Ha Na sukai jika sudah mengeluarkan tatapan itu.
“Apakah itu kode kalau kau memang menganggap ini kencan?”
Tuh 'kan, benar saja Yeong Gi mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal!
Ha Na pun sekali lagi menggeleng tegas, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Ia ingin menegaskan padanya kalau perkataannya salah besar.
“Harus berapa kali kubilang padamu kalau ini bukanlah kencan!” seru Ha Na tak terima. “Aku pun terpaksa mau pergi denganmu karena aku ingin cepat-cepat melunaskan hutangku padamu, agar kau tidak bisa menggangguku lagi!”
“Oh, tapi kau masih punya dua lagi setelah ini. Sepetinya hubungan kita tidak akan berakhir secepat yang kau mau.”
Ha Na ingin menjawab, tapi buru-buru ia urungkan. Ia mulai menyadari sesuatu saat ini. Sepertinya Yeong Gi memang sengaja membuatnya emosi. Dia akan puas kalau melihat Ha Na meledak-ledak, itu adalah suatu kesenangan tersendiri baginya. Kalau begitu Ha Na tidak boleh terpancing. Ia harus bersabar, mungkin dengan begitu pria itu tidak akan tertarik lagi untuk menggangunya. Hah ... tapi sulit sekali untuk bersabar ketika menghadapi orang tidak waras seperti pria di hadapannya ini.
“Fuh ... kau harus tenang, Lee Ha Na," gumam Ha Na pelan sambil mengatur napas beberapa kali, berharap itu dapat meredakan emosinya. Syukurlah itu bekerja, yah, walau hanya sedikit sih.
“Baiklah, Tuan Min yang terhormat,” kata Ha Na lagi setelah merasa jauh lebih tenang. “Kalau kau memang begitu bodoh dalam menentukan tempat yang kau anggap sebagai tempat untuk 'berkencan', maka izinkan aku saja yang memandumu mengunjungi tempat yang menakjubkan di kota Seoul. Kau tahu, aku sudah sangat bosan berada di sini hanya untuk berdebat denganmu.”
“Benarkah? Apa kau baru saja mengajukan diri secara sukarela?!” seru Yeong Gi dengan menampilkan ekspresi senang yang dibuat-buat. “Wah, ajaib sekali.”
“Jangan buru-buru menyimpulkan,” balas Ha Na tak mau kalah. Ia bahkan ikut memberikan senyum paksa yang terkesan mengejek. “Karena aku baru saja akan meminta bayaran untuk jasaku. Apa kau tertarik, Tuan?”
“Wah, tadi kau bilang kau melakukan ini untuk membayar hutangmu padaku. Tapi kau malah meminta bayaran dariku? Kau ini tidak tahu malu, ya.”
“Ya, memang. Tapi setidaknya tidak tahu malu jauh lebih baik dari pada tidak tahu sopan santun terhadap wanita!”
Yeong Gi tertawa kecil mendengar sendirian itu. Tapi akhirnya ia mengangguk-angguk pelan, menyetujui gagasan gadis itu.
“Baiklah, aku akan membayarmu untuk jasa tur keliling kota Seoul hari ini. Berapa yang kau minta?” tanya Yeong Gi.
“Aku tidak meminta uangmu, kok. Aku hanya ingin kau meringankan hutangku hari ini.” Ha Na menjawab sambil melipat tangan di d**a. Ia lalu melanjutkan, “Sebelumnya di telepon kau memintaku untuk menemanimu sampai pagi. Tapi aku tidak bisa, aku sudah berjanji akan makan malam dengan keluargaku malam ini. Bisa tidak kau izinkan aku pulang pukul delapan nanti?”
Yeong Gi berpikir sejenak. Sejujurnya ia ingin menjawab tidak, tapi itu pasti akan terdengar sangat egois. Walau ia tidak pernah menganggap makan malam keluarga adalah suatu hal yang menyenangkan, tetapi sepertinya itu sangat berarti bagi Lee Ha Na. Namun ia juga tidak rela membiarkan gadis ini lepas secepat itu. Ia harus memikirkan alternatif lain agar ia tidak dirugikan.
Setelah beberapa detik terus berpikir, akhirnya Yeong Gi terpikirkan sesuatu yang cukup menyenangkan baginya. Ia pun kembali mengangguk setuju seraya menjawab, “Baiklah, tapi jika begitu perjanjian libur kerja paruh waktumu akan kubatalkan.”
“Cih, dasar perhitungan. Tapi tidak apa, itu memang kewajibanku.”
Sekali lagi, Yeong Gi memberikan senyum miring serta tatapan penuh maksudnya pada Ha Na.
“Kalau begitu aku akan mengganggumu lagi di kelab,” ujarnya merasa puas.
Ha Na seketika melotot tak terima. Lagi-lagi dia berbuat seenaknya padanya. Sungguh, bekerja di kelab saja sudah merupakan suatu beban bagi Ha Na. Kalau di tambah dengan keberadaan pria ini yang lagi-lagi akan mengganggunya, bisa-bisa ia mati berdiri akibat terlalu stres. Tidak, tidak boleh! Ia masih muda, ia tidak mau masa mudanya kacau hanya gara-gara pria gila ini.
“Sepertinya kau terlihat sangat frustasi, Ha Na-ya,” kata Yeong Gi lagi, seraya menampilkan ekspresi tidak tega yang dibuat-buat. “Bagaimana kalau kuberi pilihan lain?”
Ha Na semakin menatapnya tidak senang mendengar itu. Tapi ia juga penasaran.
“Apa itu?!” Ia bertanya hati-hati.
“Setelah makan malam dengan keluargamu, kita lanjutkan lagi turnya. Aku ingin kau membawaku ke tempat yang tenang seperti tempat ini, tapi tak membuat kepalaku sakit.”
“Maksudmu ... ah, baiklah. Aku setuju,” jawab Ha Na tanpa ragu, entah kenapa. Sial, sial, sial!!! Lagi-lagi dengan bodohnya ia langsung terperdaya dengan sorot sendu dibalik ucapan ambigu Yeong Gi barusan. Kenapa sih ia selalu tidak tega jika melihatnya tampak kacau seperti itu?! Merepotkan saja!
Sementara Yeong Gi, kini dia tampak tersenyum puas setelah berhasil memperdaya Ha Na. ‘Dasar menyebalkan!’ rutuk gadis itu dalam hati.
“Baiklah, Nona Pemandu, kita akan kemana sekarang?” Yeong Gi bertanya dengan nada menggoda.
Ha Na hanya mendengus pasrah menerima nasibnya. Ia kemudian memberi isyarat untuk mulai melangkah.
“Jangan banyak tanya!” tukasnya judes. “Kau ikuti saja arah kakiku melangkah, kujamin tempat tujuan kita kali ini akan menggantikan rasa sakitmu menjadi sensasi mendebarkan yang mengesankan!”
“Wow ... terdengar menggiurkan,” sahut Yeong Gi bersemangat. Dia tidak tahu saja, kalau hal yang Ha Na sebut sensasi mendebarkan benar-benar jauh berbeda dari apa yang ada dalam pikiran kotornya saat ini.
•••