Menagih Hutang

1555 Kata
Di sebuah kamar yang sekaligus menjadi kantor, Min Yeong Gi tengah duduk bersantai sambil memainkan kursi. Di tangannya tergenggam ponsel yang layarnya menampilkan sebuah nama dan nomor telepon seseorang. Bibirnya tersungging, matanya menatap penuh maksud pada data kontak itu. Ya, itu adalah nomor telepon Lee Ha Na yang baru saja ia dapatkan dari data para staf. Dalam hati Yeong Gi berpikir, ternyata tidak buruk juga mengambil posisi penerus direktur di hotel ini. Ia jadi bisa dengan mudah mendapatkan kontak gadis yang begitu menarik perhatiannya. Padahal kalau meminta langsung dari gadis itu, Yeong Gi yakin sekali Ha Na tidak akan mau memberikan kontaknya padanya. Yang ada dia malah akan menghujatnya habis-habisan. Sayangnya hari ini Lee Ha Na sedang libur bekerja. Yeong Gi jadi merasa kesepian karena tidak ada yang bisa ia permainkan. Padahal ia mau repot-repot datang setiap hari ke tempat terkutuk ini hanya demi gadis itu. Kurang ajar sekali dia. Berani-beraninya dia liburan tanpa mengajak-ajak, pikir Yeong Gi. Pria itu pun menegakkan posisi duduknya, jarinya mulai menimbang-nimbang untuk menghubungi Ha Na. Dan pada akhirnya, ia benar-benar menekan tombol hijau dan menelepon gadis itu. Selama beberapa saat, yang terdengar hanyalah nada tunggu. Yeong Gi hampir saja membanting ponselnya karena kesal dengan gadis itu yang tak kunjung menjawab panggilannya. Sampai akhirnya, rasa kesalnya itu mendadak luntur seketika begitu mendengar suara Lee Ha Na di seberang telepon. “Halo? Siapa ini?” Min Yeong Gi tersenyum mendengar suara itu. Sungguh, padahal belum sehari ia tidak mendengar suara ini, tapi rasanya ia sudah sangat merindukannya. Ia sampai bingung terhadap dirinya sendiri, sebenarnya dia ini kenapa? Kenapa Lee Ha Na sangat mempengaruhinya sampai segini besarnya? Setelah satu menit Yeong Gi hanya diam menikmati sensasi terbayarnya rasa rindunya akan suara gadis itu, terdengar suara helaan napas di seberang sana. “Baiklah, sepertinya aku sedang berbicara dengan orang bisu, tidak berguna,” ucap Ha Na di seberang sana dengan nada yang terdengar sarkas. Yeong Gi pun semakin menyunggingkan bibirnya mendengar nada khas yang ia rindukan itu. “Aku akan menutup sambungan ini kalau begitu. Sampai jum—” “Kau sangat sarkas, seperti biasa,” potong Yeong Gi seraya tersenyum puas. Tapi sialnya, Lee Ha Na langsung mematikan sambungan begitu tahu kalau yang meneleponnya adalah Min Yeong Gi. Pria itu pun mencibir jengkel. “Berani sekali dia mematikan teleponku. Lihat saja, kau harus membayarnya, Ha Na-ya.” Sekali lagi, Yeong Gi kembali menghubungi Ha Na. Namun sampai nada tunggu berakhir, gadis itu tak kunjung menjawab teleponnya. Merasa frustasi, Yeong Gi menghubunginya sekali lagi. Tetapi sama saja, dia bukannya mengangkatnya malahan mematikannya. “Hah ... dasar gadis keras kepala,” rutuk Yeong Gi sambil menatap ponselnya geram. “Kalau begitu biar kutunjukkan padamu kalau aku jauh lebih keras kepala darimu!” Dua kali, tiga kali, Yeong Gi terus menelepon Ha Na, tidak menyerah sama sekali walau gadis itu terus-terusan mematikan teleponnya. Dan berkat kegigihannya itu, akhirnya Lee Ha Na menyerah dan mengangkat telepon Yeong Gi. “Kau mau apa, sih?!” makinya sesaat setelah sambungan mereka terhubung. “Apa masih belum puas kau menggangguku di tempat bekerja?! Aku hanya ingin liburan dengan tenang, Min Yeong Gi ssi. Kumohon jangan ganggu aku sehari saja, apa tidak bisa?!” “Wow! Apa ini pertama kalinya kau menyebut namaku? Kau harus bertanggung jawab, Ha Na-ya. Sekarang jantungku jadi berdebar-debar,” sahut Yeong Gi enteng. Sekali lagi, terdengar Lee Ha Na mendengus di seberang sana. Lalu dia berkata, “Kalau kau menghubungiku hanya untuk mengatakan hal bodoh itu, maka jangan harap aku akan mengangkatnya lagi!” “Tunggu dulu,” sergah Yeong Gi buru-buru sebelum Ha Na menutup sambungannya. “Aku  menelepon untuk menagih hutangmu padaku. Kau harus membayar salah satunya hari ini.” “Apa?! Hutang—ah, sial! Baiklah, kau mau aku membayar dengan cara apa?!” Bagus, pikir Yeong Gi. Sepertinya Ha Na tidak lupa akan tiga hutang yang harus di bayarnya atas perbuatan tidak pantasnya yang hampir mengancam masa depan Yeong Gi. Gadis itu juga cukup bodoh karena menganggap Yeong Gi akan benar-benar menggugatnya kalau dia tidak mau membayarnya. Itu benar-benar bagus, karena Yeong Gi bisa memanfaatkan kebodohannya untuk melakukan sesuatu yang ia inginkan bersama gadis itu. Yeong Gi pun menjawab, “Aku ingin kau berkencan denganku hari ini. Sampai pagi.” “Apa?! Dasar sinting!” Lee Ha Na memekik keras di seberang sana. Yeong Gi sampai harus menjauhkan ponselnya dari telinganya karena merasa sakit mendengar pekikan itu. “Kau pikir waktuku tidak seberharga itu?! Apa kau lupa aku harus bekerja paruh waktu nanti malam?!” “Soal itu kau tenang saja. Aku akan menghubungi manajermu dan bilang padanya kalau aku akan menyewa jasamu lagi seperti tadi malam.” “Apa? ... aku bukan barang yang seenaknya bisa kau sewa begitu saja, dasar pria gila! Dan lagi memangnya aku mau berkencan denganmu?! Cih! Jangan harap, itu tak akan pernah terjadi!” “Begitu?” Yeong Gi terdengar puas karena berhasil memancing emosi Ha Na. Ya, untuk ke sekian kalinya ia menyukai hal itu, entah kenapa. Hanya saja gadis ini benar-benar semakin menarik kalau dia mulai berapi-api. “Sepertinya kau lebih senang masuk penjara ketimbang menemaniku jalan-jalan,” kata Yeong Gi lagi. “Baiklah kalau itu maumu, akan kukabulkan. Hah ... berapa pengacara yang sebaiknya kuhubungi, ya? Tiga kah? Atau lebih?” Hening. Yeong Gi tidak mendengar apa pun dari seberang sana. Ia jadi penasaran, kira-kira bagaimana ya ekspresi Lee Ha Na saat ini? Sayang sekali ia tidak bisa melihatnya langsung. Padahal itu pasti akan sangat menyenangkan. ••• Di sisi lain, Lee Ha Na tengah menegang pias begitu Min Yeong Gi berkata kalau dia akan menyewa tiga pengacara atau lebih untuk menggugatnya. Ia benar-benar takut saat ini. Pria yang banyak uang seperti Yeong Gi tidak mungkin main-main dengan perkataannya. Dia bisa saja melakukan itu jika dia mau. Sekarang Ha Na harus bagaimana? Masa ia harus menuruti pria sinting itu?! Tidak! Ha Na tidak mau berkencan dengannya! Bisa ikutan gila ia nanti. Tapi kalau tidak, Yeong Gi akan menggugatnya. Kalau ia sampai di penjara, nanti siapa yang akan menghidupi anak-anak panti? Hah ... benar-benar pria itu! Rasanya ingin sekali Ha Na membunuhnya kalau saja tidak ada hukum di negara ini. Ha Na mengembuskan napas pelan, lalu menatap pada Ye Rim yang sedari tadi ikutan cemas sambil terus berbisik bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Lalu dengan sekali hembusan napas berat, Ha Na akhirnya terpaksa mengiyakan permintaan Yeong Gi. “Baiklah, aku akan mengikuti maumu untuk menemanimu ‘jalan-jalan’ hari ini,” tukas Ha Na dengan menekan kata 'jalan-jalan'. Tentu saja ia harus mengganti sebutan 'berkencan' yang Yeong Gi katakan sebelumnya. Ia tidak sudi dibilang mau berkencan dengan pria sinting itu. Kini, Ye Rim tampak melotot, ekspresinya kentara sekali kalau dia sedang protes pada keputusan Ha Na. Habis mau bagaimana lagi, Ha Na tidak mau di penjara, ia tidak mau meninggalkan keluarga yang sangat membutuhkannya. “Keputusan tepat. Kau gadis yang cerdas rupanya,” sahut Yeong Gi di seberang telepon. “Tutup mulutmu dan cepat katakan kita akan bertemu di mana!” “Tidak sabaran. Biar aku saja yang mendatangimu. Kau ada di mana?” Ha Na menoleh ke sekitar untuk melihat ia ada di mana. Ia lalu menjawab, “Aku ada di Yeouido Road. Akan kukirimkan lokasinya padamu. Kau santai saja, jangan terlalu terburu-buru datang ke sini. Aku akan setia menunggu kedatanganmu di sini. Sampai jumpa!” Pip! Lee Ha Na mematikan sambungannya dengan kesal. Ia membanting tubuhnya ke kursi jalan, lalu memegang kepalanya frustasi. “Ha Na-ya ....” gumam Ye Rim masih tidak menyangka. “Kau akan benar-benar pergi dengan pria psikopat itu?! Apa kau gila?!” “Ya, kurasa aku memang sudah gila!” sahut Ha Na frustasi. “Bisa-bisanya aku bertemu dan berurusan dengan orang semacam Min Yeong Gi! Bodoh, bodoh, bodoh!!! Harusnya aku tidak usah meladeninya sedari awal!” “Berarti kita tidak jadi menonton bioskop bersama?” tanya Ye Rim prihatin. Ha Na hanya menjawabnya dengan anggukan singkat. Tapi dengan polosnya Ye Rim malah bertanya lagi, “Kalau begitu aku boleh memberikan tiketnya pada Boxy? Sepertinya aku akan mengajaknya untuk menggantikanmu.” Mendengar itu, Ha Na langsung memberi tatapan mematikan pada Han Ye Rim. Benar-benar sahabatnya ini! Tidak tahu apa temannya sedang frustasi, dia malah dengan entengnya mengatakan hal itu. “Ye Rim-ah, kau sangat kejam,” gumam Ha Na pelan, tetapi terdengar begitu suram sampai membuat Ye Rim bergidik ngeri. Ye Rim tersenyum merasa bersalah. “Habis 'kan sayang kalau tiket ini terbuang percuma. Kau jangan marah.” Ha Na mendengus pasrah. “Terserah kau saja, dasar jahat. Pergi sana! Biarkan aku sendiri di sini menunggu ajalku tiba di tangan Min Yeong Gi.” “Kau jangan berkata begitu. Kalian 'kan hanya akan berkencan. Seperti Boxy yang akan berkencan denganku menggantikanmu.” “Ya! Apa kau mau mati?!” Lee Ha Na berseru tidak terima. Melihat amarahnya sudah meledak seperti itu, Ye Rim pun hanya bisa cekikikan lalu segera pergi dari hadapan sahabatnya yang sedang frustasi itu. Tapi walau begitu, dalam hati Ye Rim berdoa, semoga saja Yeong Gi tidak akan berbuat semena-mena terhadap Lee Ha Na. Entahlah apa yang membuat pria itu tertarik dengan sahabatnya, tapi Ye Rim merasa sepertinya Yeong Gi menyukai Ha Na. Tidak mungkin 'kan dia akan menyakitinya? Ya, semoga saja tidak. Syukur-syukur dia malah akan membuat Ha Na tersenyum nanti, siapa tahu 'kan? •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN