Hari libur. Hah! Setelah seminggu penuh Lee Ha Na terus berhadapan dengan sosok Min Yeong Gi, kini akhirnya tiba juga saatnya baginya untuk rehat sejenak dari bayang-bayang pria super menjengkelkan itu. Walau Ha Na masih harus bekerja paruh waktu di kelab nanti malam dan sudah pasti akan ditunggui oleh Yeong Gi lagi, tapi setidaknya untuk hari ini ia masih punya waktu delapan jamnya yang biasa ia gunakan untuk bekerja di hotel dan bertemu dengan pria itu. Ha Na pun jadi sangat bersemangat hari ini.
Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin sambil bersenandung ria. Blouse kuning pudar serta jeans abu gelap yang melekat di tubuhnya terkesan sederhana nan elegan, cocok untuk dipakai jalan-jalan menikmati bunga sakura yang sedang bermekaran di sepanjang jalan. Ha Na memakai liptint berwarna merah cherry di bibirnya, lalu kemudian menyampirkan tas selempangnya di bahu. Ya, hari ini ia berniat akan menghabiskan waktu bersama Han Ye Rim. Entah itu sekedar menonton bioskop, pergi ke kafe, atau makan tteokbokki bersama.
Sebenarnya jika tidak dibujuk keras oleh Ye Rim, seorang Lee Ha Na tentu tidak akan mau membuang-buang waktu dan tenaganya yang sangat berharga hanya untuk sekedar hangout menghabiskan uang. Tapi Ye Rim bilang, katanya ia harus menyenangkan diri sekali-kali supaya tidak stres karena terlalu bekerja keras selama ini. Terlebih seminggu terakhir emosinya terus diuji oleh Min Yeong Gi. Dan gara-gara perkataan Ye Rim yang terakhir itulah akhirnya Ha Na berhasil terbujuk. Ya, ia sendiri juga menyadari kalau perkataan Ye Rim memang benar. Ia butuh penyegaran otak sejenak agar tidak terlalu stres memikirkan pria urakan itu yang tiada hentinya mengganggu dirinya.
Lee Ha Na menatap lamat-lamat pantulan dirinya di cermin sekali lagi, memastikan tidak ada riasan yang masih berantakan. Setelah merasa penampilannya sudah sempurna, Ha Na pun segera beranjak pergi dari kamarnya.
Tapi adiknya Lee Bo Na menghadang di pintu. Ia menatap kakaknya itu dengan mata memicing dan tangan yang terlipat di d**a.
“Apa kau mau pergi berkencan?” tanyanya curiga.
Ha Na hanya menatap malas pada adiknya itu, lalu menabrak tubuhnya dengan kasar dan berlalu begitu saja. Ia juga menjawab acuh, “Bukan urusanmu.”
Tidak terima diacuhkan seperti itu, Bo Na tiba-tiba berteriak kencang, “JADI KAU MAU PERGI BERKENCAN?!”
Mendengar itu, Ha Na sontak langsung berbalik dan membekap mulut adiknya yang kurang ajar itu. “Kenapa kau berteriak seperti itu?! Kalau Bibi sampai dengar dia pasti akan salah paham, dasar bodoh! Aku ini mau keluar bersama Ye Rim! Bukan mau berkencan! Kau jangan membuatku jadi seperti pembohong di mata Bibi!”
Ha Na menjitaki kepala Bo Na dengan brutal. Sementara Bo Na sendiri hanya cekikikan puas.
“Siapa suruh kau mengabaikanku?” Bo Na menjulurkan lidah meledek, lalu kemudian memberontak dan segera berlari menjauh. Ha Na pun yang merasa geram langsung mengejarnya.
Kini keduanya terus berlarian mengitari seluruh bagian rumah yang tidak terlalu besar ini, membuat suara bising dan gaduh di mana-mana. Seorang wanita paruh baya yang tengah membagikan makanan kepada anak-anak di dapur, ia hanya bisa menggeleng pelan mendapati dua keponakannya itu lagi-lagi membuat bangunan ini jadi semakin berumur pendek. Bagaimana tidak, mereka bisa merobohkan bangunan ini jika terus berlarian di sekitar rumah dan membuat gemuruh luar biasa seperti sekarang ini.
Wanita paruh baya itu pun berteriak lantang, “Ha Na-ya! Bo Na-ya! Bisakah kalian tidak membuat gempa rumahku sehari saja?! Berhenti sekarang atau aku akan membuat kalian tidur di luar malam ini!”
Mendengar itu, Ha Na dan Bo Na yang sedang bergulat di lantai atas langsung berhenti seketika. Ya, amarah bibi mereka memang sangat menakutkan. Dia tidak pernah main-main dengan ancaman hukuman yang akan diberikannya jika ada yang berani melanggar aturan di panti asuhan ini, alias Rumah Pelangi. Ha Na dan Bo Na pun buru-buru merapihkan diri masing-masing, membuat seolah tidak terjadi apa-apa. Setelah itu mereka saling menggeram sejenak, lalu segera turun dengan perasaan santai yang dibuat-buat.
“Selamat pagi, bibi Lee Sang Hee yang manis dan baik hati,” sapa Bo Na saat sudah tiba di dapur dan duduk di meja makan.
Tapi bibinya itu malah menggeram marah dipuji seperti itu. “Kau sedang mengejekku?”
“Tentu saja tidak,” bantah Lee Bo Na sambil menampilkan senyum lebar yang dibuat-buat. “Kau 'kan memang manis dan baik hati. Iya 'kan anak-anak?”
Bo Na menatap satu per satu enam orang anak yang duduk melingkari meja makan bersamanya. Ia memberikan kedipan mata pada mereka, isyarat untuk menanggapi ujarannya barusan. Dan untungnya mereka menjawab 'ya' secara serempak, walau ada beberapa di antara mereka yang cekikikan sehabis mengucapkan itu.
Lee Sang Hee yang merasa kegeeran sendiri akibat ulah Bo Na, ia segera melambaikan tangan dan mengisyaratkan semuanya untuk segera makan. “Sudah, sudah, kalian ini! Selalu saja kompak kalau ada yang akan diberi hukuman. Ya sudah, ayo makan saja selagi masih panas.”
Semua pun mengangguk menurut dan makan siang bersama dengan ceria.
Sementara itu, Lee Ha Na menyusul ke dapur setelah merapikan rambutnya yang tadi agak berantakan akibat bergulat dengan Lee Bo Na. Tapi ia tidak ikut makan bersama di sana. Ia hanya berniat untuk berpamitan dengan bibinya.
“Kau sudah mau berangkat? Setelah ini kau akan langsung pergi bekerja atau pulang dulu untuk makan malam?” tanya Lee Sang Hee terdengar begitu lembut dan tulus.
Ha Na tersenyum teduh. “Tentu saja aku akan pulang dulu. Aku tidak mau melewatkan momen makan malam bersama keluargaku yang tercinta.”
Lee Sang Hee mengangguk senang. Namun sorot matanya terlihat sendu, seolah tengah merasa kasihan pada keponakan tertuanya itu.
“Bersenang-senanglah dengan baik hari ini,” ucapnya kemudian. “Kau sudah terlalu bekerja keras selama ini. Kau juga berhak mendapat hiburan. Atau kalau perlu kau sekalian libur saja dari kerja paruh waktumu yang sampai pagi itu. Tubuhmu butuh rehat sejenak, Nak.”
Ha Na menggeleng pelan. “Kalau aku libur, kita akan kekurangan uang, Bi. Kau ‘kan tahu betul kita sedang perlu banyak uang untuk membiayai sekolah Joon Wo dan Hye Jin yang sudah mulai masuk tahun ini.”
Bola mata Lee Sang Hee terlihat sedikit berkaca-kaca mendengar ujaran Ha Na barusan. Yang lain juga ikut tertunduk sedih, seolah mengerti bagaimana keadaan keuangan mereka saat ini. Jika saja tidak ada Ha Na yang rela membanting tulang demi membiayai seluruh kebutuhan anak-anak di Rumah Pelangi, mereka pasti sudah kelaparan. Diam-diam Lee Sang Hee merasa bersalah karena gagal mendirikan panti asuhan yang layak bagi anak-anak ini. Terlebih bagi keponakannya Lee Ha Na, yang telah berjuang keras membantunya selama ini. Padahal itu sama sekali bukan tanggung jawabnya.
Tapi Lee Sang Hee berusaha kuat untuk tidak menangis. Ia bahkan mencoba untuk tersenyum menyemangati. “Kalau begitu aku akan bekerja keras untuk mencari sponsor. Kalian tenang saja, kita pasti akan mendapatkannya sebentar lagi,” ujarnya penuh keyakinan.
Ha Na tersenyum lebar, begitu pun dengan Bo Na yang sedari tadi hanya diam. Sejujurnya ia sedang merasa tidak enak hati pada kakaknya itu. Ia begitu ingin membantu meringankan bebannya, tetapi tidak pernah diizinkan. Dia begitu keras kepala dan sok kuat. Menyebalkan sekali. Bo Na bahkan sampai tidak habis pikir, kenapa Ha Na harus mengambil jam kerja paruh waktu yang sampai pagi seperti itu? Padahal besoknya dia harus bekerja. Memangnya dia pikir dia robot?!
“Eonni!" Lee Bo Na bersuara tiba-tiba. Ha Na menoleh malas padanya.
“Apa lagi?”
Bo Na diam sejenak untuk beberapa detik, lalu kemudian meluncurkan pertanyaan, “Boleh aku tahu tempatmu bekerja paruh waktu?”
Deg! Bola mata Ha Na langsung terbuka lebar mendengar pertanyaan adiknya itu. Sial! Ia selalu saja gugup kalau ada yang menanyakan hal ini padanya. Padahal ia sudah melatih jawabannya berulang-ulang, tapi tetap saja ia sangat gugup. Ia takut sekali keluarganya akan tahu kalau ia bekerja paruh waktu di sebuah kelab malam.
Tapi Ha Na menjawab dengan berusaha terdengar senetral mungkin, “Untuk apa kau mau tahu?”
Bo Na mengangkat bahunya acuh. “Siapa tahu kan, aku bisa kesana kalau-kalau ada barangmu yang tertinggal? Atau kalau kau ingin di antarkan makanan?”
“Apa? I-itu tidak perlu. Aku 'kan sudah bilang kalau aku bekerja di Itaewon. Di sana memang banyak restoran yang buka sampai pagi. Dan pelajar tentu saja di larang masuk karena hampir seluruh restoran di Itaewon adalah area untuk orang dewasa. Ja-jadi percuma saja kalau kau tahu tempatku bekerja. Kau tidak akan bisa masuk kesana,” jelas Ha Na panjang lebar, sambil terus berusaha menetralkan debaran jantungnya.
“Huh! Setidaknya beri tahu saja nama restoran tempatmu bekerja. Atau jangan-jangan kau berbohong?”
“Ap-apa?!” Ha Na semakin gugup. “U-untuk apa aku berbohong?!”
“Oh, ya?” Bo Na memandang Ha Na sambil memicingkan mata. “Lalu kenapa kau terlihat sangat gugup?”
“Gu-gugup?! Tidak tuh! Hah ... baiklah, akan kuberi tahu tempatku bekerja paruh waktu di Itaewon,” jawab Ha Na akhirnya. Kini ekspresinya menampilkan keseriusan bercampur dengan rasa kesal bukan main. Ia lalu melanjutkan, “Aku bekerja di sebuah restoran mewah bernama Glam Lounge. Sekarang kau puas?”
Bo Na tersenyum menang. “Baiklah, akan kuingat-ingat kalau kau terdesak dan membutuhkan kehadiranku di sana.”
Ha Na memutar bola matanya jengkel. “Tidak perlu sama sekali,” katanya sarkas. Habis itu ia berbalik, kemudian melangkah menjauh dari dapur. “Aku pergi dulu.”
•••
Di bawah naungan pohon sakura yang bermekaran indah di sepanjang jalan, Lee Ha Na dan Han Ye Rim berjalan bersama sambil memakan corndog. Sesekali mereka berhenti untuk sekedar bersua foto saat melihat indahnya kelopak-kelopak bunga berwarna merah muda yang berjatuhan tersapu angin.
Tak terasa sudah beberapa jam berlalu sejak mereka jalan-jalan bersama. Tadi mereka bertemu di sebuah kedai dan makan tteokbokki. Lalu mereka pergi ke pusat perbelanjaan Myeongdong untuk sekedar melihat-lihat keramaian dan membeli es krim serta corndog. Ya, ini liburan yang tidak terlalu menghabiskan uang, bukan? Untung saja Ha Na memiliki teman seperti Ye Rim. Dia orang yang sederhana, tidak seperti wanita kebanyakan yang menuntut diri untuk tampil dengan pakaian bermerek dan menghindari jajanan di pinggir jalan agar tidak di ejek oleh orang-orang. Ye Rim tidak pernah memedulikan hal itu. Dia bahkan lebih memilih untuk berbelanja di tempat yang murah. Baginya yang penting itu bukan mereknya, melainkan fungsinya. Tapi walau sederhana pun tetap saja apa pun yang Ye Rim kenakan akan terlihat mewah. Ya, wajahnya sangat mendukung hal itu.
“Jadi bagaimana? Apa kau merasa lebih baik?” tanya Ye Rim antusias.
Ha Na mengangguk. “Ya, ini berkat kau. Ternyata tidak buruk juga membuang sedikit uang demi menyegarkan pikiran. Terima kasih sudah memaksaku untuk melakukan ini.”
Ye Rim tersenyum bangga. “Aku akan sering memaksamu untuk bersenang-senang kalau begitu.”
Ha Na hanya tertawa menanggapi. Ia kemudian mengisyaratkan Ye Rim untuk duduk sejenak di bangku yang ada di tepi jalan. Ya, otot kaki mereka juga membutuhkan istirahat setelah beberapa jam terus bekerja.
Ha Na melihat arloji di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul tiga lewat lima belas sore. Ia pun bertanya pada Ye Rim, “Selanjutnya kita mau kemana lagi?”
Ye Rim menoleh antusias. Ia ingin segera menjawab, tapi terhalang oleh corndog yang tengah memenuhi mulutnya. Ia pun buru-buru mengunyah dan menelannya, lalu kemudian menunjukkan ponselnya pada Ha Na. Di layar tertera dua tiket menonton film romantis untuk pukul empat sore nanti. Bola mata Ha Na pun terbuka lebar, senyumnya mengembang sempurna.
“Wah, kau sudah memesan tiketnya?!” Lee Ha Na berseru senang. Ye Rim menjawab dengan anggukan semangat. “Kalau begitu ayo kita kesana sekarang!”
Baru saja Ye Rim membuka mulutnya hendak menjawab seruan Ha Na, tapi ponselnya tiba-tiba berdering. Keduanya melirik ke layar, tertera nama ‘Boxy’ yang menelepon. Saat itu, bola mata Ye Rim langsung terbelalak, senyumnya mengembang begitu lebar. Ia pun mengangkatnya antusias.
“Boxy!!!” jeritnya penuh semangat. Ye Rim bahkan sampai berdiri dari duduknya. Ha Na yang melihat itu pun sampai terkejut. Ia bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya siapa sosok 'Boxy' yang menelepon Ye Rim saat ini? Kenapa gadis itu tampak begitu gembira?
“Apa?! Kau sudah kembali ke Korea?!” seru Ye Rim lagi bertambah lantang. Bahkan ekspresinya seperti orang yang habis memenangkan lotre. “ ... kau ada di Seoul sekarang?! Wah, kita harus bertemu! Kau ingat, terakhir kita bertatap muka secara langsung itu sudah sekitar tujuh tahun lalu. Aku sangat merindukanmu ... baiklah, akan kutunggu kabar darimu secepatnya ... sampai jumpa, Boxy-ku yang manis.”
Ye Rim terlihat jingkrak-jingkrak senang setelah menutup teleponnya. Ha Na yang menyaksikan itu pun langsung mencibir jijik. Apalagi ia juga sempat mendengar nada bicara Ye Rim yang mendadak jadi terdengar sangat menggelikan ketika dia berbicara pada seseorang yang ia panggil Boxy itu.
“Kau kesurupan setan apa, sih? Menggelikan!” maki Ha Na pada Ye Rim.
Ye Rim menoleh tidak senang pada temannya itu, lalu kembali duduk sambil memeluk ponselnya seperti orang gila.
“Kau tidak pernah bercerita padaku tentang seseorang bernama Boxy itu, padahal aku selalu menceritakan segala hal padamu. Dasar curang!” tukas Ha Na manyun.
Ye Rim pun langsung memeluknya manja. Ia menyengir merasa bersalah.
“Maaf, aku tidak bermaksud begitu,” ujarnya menjelaskan. “Tadinya aku tidak berniat untuk menceritakan tentangnya padamu karena kupikir aku tidak akan pernah bertemu lagi dengannya. Walau dia orang yang sangat spesial bagiku, tapi sudah tujuh tahun berlalu sejak kami terakhir bertemu. Rasanya mustahil untuk saling bertemu lagi. Tapi ternyata takdir berkata lain. Aku senang sekali, Ha Na-ya.”
Ha Na menatap Ye Rim dengan sorot mata dan senyum teduh, seolah ikut merasa bahagia melihat sahabatnya bahagia.
“Apa dia pacarmu?” Ha Na bertanya.
“Eh ... lebih tepatnya mantan pacar. Ya, itulah kenapa tadi kubilang dia sangat spesial bagiku.”
“Kalau begitu ceritakan padaku!” seru Ha Na antusias. “Kenapa kau memanggilnya Boxy? Itu pasti bukan nama aslinya 'kan?”
Ye Rim menyengir lebar. “Hehehe ... kau cukup peka ternyata.”
“Jadi ....” Ye Rim mulai bercerita. “... kau sudah tahu 'kan kalau dulu aku pernah bersekolah di Busan sebelum pindah ke Seoul dan satu sekolah denganmu? Nah, di sanalah kami bertemu dan berpacaran. Ya, walaupun itu tidak berlangsung lama, sih. Ketika kami menjalin hubungan spesial itu, kami memiliki panggilan masing-masing. Aku memanggilnya Boxy, dan dia memanggilku Angel.”
Ha Na langsung mencibir jijik mendengar pengakuan terakhir Ye Rim. “Uh ... sepertinya kalian tipikal pasangan yang menggelikan,” ungkapnya jujur. Ye Rim pun langsung cemberut tidak terima. Lalu Ha Na kembali bertanya, “Apa kedua julukan itu mempunyai sejarah khusus?”
Ye Rim mengangguk. Kini senyumnya kembali mengembang. “Alasanku memanggilnya Boxy, itu karena dia memiliki senyum kotak yang sangat manis. Jarang sekali ada orang yang memiliki senyum sepertinya, mangkanya aku selalu terkagum-kagum dengan senyum kotak itu dan memutuskan untuk memanggilnya dengan sebutan Boxy. Sementara alasan dia memanggilku Angel, itu karena dia pikir aku adalah Angel, atau malaikat baginya di hari pertama masuk sekolah.”
“Sungguh?!” Ha Na terbelalak tidak percaya. “Memangnya kau melakukan apa? Setahuku kau ini bukan tipe murid yang bisa disebut malaikat. Malahan kebalikannya.”
Ye Rim tertawa renyah. “Aku mengakui itu. Ya, aku bahkan tergolong dalam deretan murid nakal di sekolah. Tapi entahlah, baginya aku ini sosok malaikat penolong yang membantunya meloloskan diri dari terkena poin akibat terlambat masuk di hari pertama sekolah. Sesederhana itu! Dan sejak saat itu dia selalu mengekoriku kemana-mana. Dia juga sangat perhatian padaku. Dia membantuku mengerjakan PR, mengambilkan aku makanan kalau istirahat makan siang, jadi aku tidak perlu capek-capek mengantri. Hah ... dia sangat manis.”
“Lalu kenapa kalian putus? Apa kalian bertengkar?”
Kini air muka Ye Rim jadi tampak sendu. Ha Na pun menepuk bahunya menguatkan.
Kemudian Ye Rim mengembuskan napas halus dan menjawab, “Kami tidak pernah bertengkar. Tidak sekalipun. Hanya saja ... aku harus pindah ke Seoul waktu itu. Sejak ayahku meninggal, aku dan ibuku hampir tidak punya apa pun di Busan. Sekolahku jadi berantakan. Mangkanya kami terpaksa harus pindah ke Seoul dan menumpang di rumah nenekku bahkan sampai saat ini. Dan lagi Boxy juga akan bersekolah di luar negeri setelah lulus SMA. Mangkanya kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami pada saat aku akan pindah, dan tetap menjalin persahabatan sampai detik ini.”
Ha Na memeluk Ye Rim penuh haru. Sungguh, manis sekali kisah cinta mereka itu. Ha Na memang tidak terlalu mengerti soal cinta karena ia sendiri belum pernah merasakannya. Tapi walau begitu, ia bisa paham seberapa besar rasa sayang mereka satu sama lain, sampai rela mengorbankan perasaan dan memutuskan hubungan agar tetap bisa menjalin persahabatan. Itu tentu tidak mudah. Mereka pasti merasakan sakit, tapi harus tetap melalukan itu demi menghindari sesuatu yang lebih buruk terjadi.
Dan keputusan mereka memang benar. Lihat saja, jika mereka tetap ngotot menjalani hubungan setelah perpisahan itu, mereka pasti sudah bertengkar satu sama lain. Bagaimana tidak, mereka berpisah sangat lama. Tujuh tahun! Bayangkan, mana ada orang yang kuat menjalin hubungan jarak jauh selam itu? Yang ada mereka malah akan berselingkuh satu sama lain. Sedangkan kalau hanya berteman saja, mereka tidak akan terlalu tertekan dan bisa bebas menjalani hidup masing-masing. Dan kini hal itu terbukti. Hubungan baik itu tetap bertahan bahkan bisa membuat mereka akan kembali bertemu sebentar lagi.
Drrttt ... drrttt ....
Suara getar ponsel yang cukup kuat membangkitkan Lee Ha Na dan Han Ye Rim dari atmosfer sendu mereka. Itu suara dari ponsel Ha Na. Gadis itu pun langsung merogoh tasnya dan mengecek siapa yang menghubunginya. Ternyata nomor tak dikenal. Ha Na mengerutkan keningnya, ia menatap Ye Rim seolah meminta saran darinya untuk mengangkatnya atau tidak.
Ye Rim mengangguk sekali. Ha Na pun menurut dan menjawabnya.
“Halo? Siapa ini?”
Hening untuk beberapa detik. Ha Na menatap Ye Rim sekali lagi, mengisyaratkan padanya apa yang sedang terjadi. Sampai satu menit berlalu, seseorang di seberang sana yang meneleponnya masih belum juga menyahut.
Ha Na pun mendengus tidak sabar. “Baiklah, sepertinya aku sedang berbicara dengan orang bisu. Tidak berguna. Aku akan menutup sambungan ini kalau begitu. Sampai jum—”
“Kau sangat sarkas, seperti biasa.”
Deg! Wajah Ha Na langsung menegang seketika begitu mendengar suara berat yang terdengar sangat familiar baginya. Ia pun langsung menutup teleponnya cepat-cepat.
“Ada apa? Siapa itu?” tanya Ye Rim cemas.
“Dia ...,” jawab Ha Na dengan nada lesu. “... Min Yeong Gi.”
“Apa?!” Ye Rim berseru terkejut. “Dia masih mengganggumu bahkan di hari liburmu?! Dasar psikopat gila!!!”
•••