Lee Ha Na bergerak lihai meracik setiap minuman pesanan pelanggan yang tengah duduk mengelilingi bar. Jika biasanya pikirannya tenang-tenang saja ketika tengah bekerja di dalam sini, kali ini tidak. Wajahnya tampak terus cemberut suram sepanjang ia berjaga selama dua jam terakhir. Han Ye Rim yang melihatnya seperti itu bahkan sampai tidak berani menegurnya sama sekali. Gelagat Ha Na yang agak kasar saat menyajikan minuman seperti siap akan menerkam siapa saja yang berani mengganggunya.
Tapi walau begitu, Ye Rim paham betul mengapa mood sahabatnya itu terlihat sangat buruk malam ini. Itu karena lagi-lagi Min Yeong Gi mengganggunya selagi bekerja. Ya, pria itu tengah duduk dengan santai di sisi kanan bar, matanya terus memerhatikan Ha Na dengan pandangan yang seperti orang m***m. Ye Rim saja sampai gerah melihat keberadaannya yang terus-terusan menguntit Ha Na, apalagi dengan gadis itu coba? Ah, dia pasti sangat tertekan.
Sementara itu Yeong Gi, ia tak ada bosannya menatap wajah Ha Na yang terus menampilkan ekspresi cemberut serta kesal sejak ia hadir di hadapannya. Entah kenapa wajahnya yang seperti itu malah terlihat semakin menarik bagi Yeong Gi. Apalagi tubuh gadis itu kini tengah dibalut seragam super ketat, membuatnya jadi terlihat sangat seksi di mata Yeong Gi. Pria itu pun semakin tidak bisa berhenti menatap gadis di hadapannya ini.
Tapi kemudian dua orang wanita yang mengenakan pakaian seksi dan riasan menor tiba-tiba datang merangkul Yeong Gi. Pria itu mendadak jadi agak kesal karena merasa fantasinya terganggu. Ia menoleh pada dua wanita di kanan dan kirinya, mereka tampak familiar di matanya. Ya, mereka adalah wanita yang sudah langganan di sewa oleh Yeong Gi untuk sekedar minum bersama dan bermain-main sedikit.
“Kau tidak menyapa kami, Tuan? Tumben sekali,” ucap salah satu wanita, dia mengenakan gaun berwarna merah.
“Ya, padahal kami sudah menunggumu di tempat biasa,” sambung wanita yang satu lagi, yang mengenakan gaun hitam kerlap-kerlip.
Lee Ha Na yang diam-diam menyaksikan pemandangan itu mencibir jijik. “Cih, ternyata dia memang p****************g. Dasar menjijikkan!”
Yeong Gi yang menyadari kalau Ha Na tengah menatapnya penuh kebencian saat kedua w*************a ini merangkulnya, ia langsung melepaskan diri dari mereka.
“Pergilah!” serunya pelan pada mereka. “Aku sedang ingin sendiri saat ini.”
“Oh, begitu? Tapi bukannya katamu kau tidak bisa sendirian di malam hari?” tanya wanita bergaun hitam.
Yeong Gi mendelik padanya memperingati. Ia takut sekali Ha Na akan berpikir macam-macam tentangnya. Sebenarnya itu agak tidak wajar sih. Memangnya kenapa kalau gadis itu mengetahui kebusukannya? Toh dia juga sudah membencinya sejak awal. Tapi ah, sungguh, Yeong Gi ingin selalu menyembunyikan segala aibnya jika di hadapan Lee Ha Na, entah kenapa. Padahal biasanya ia selalu bertindak seenaknya demi mencari perhatian.
“Ayolah, Tuan ... aku sudah tidak sabar ingin segera bermain-main denganmu,” ucap wanita bergaun merah dengan nada manja. Ia bahkan sampai memeluk tubuh Yeong Gi dengan sangat menggoda. Yeong Gi pun sontak langsung mendorongnya agak kasar.
“Kubilang aku sedang ingin sendiri!” serunya ketus pada kedua wanita pengganggu itu. “Tolong pergilah! Jangan ganggu aku!”
Kedua wanita itu saling pandang bingung sekaligus agak kecewa, lalu pergi dari hadapan Yeong Gi. Pria itu pun mendengus lega, ia kemudian meminum gelas bir-nya dengan sekali tenggak.
“Permisi Nona, apa aku boleh minta segelas bir lagi?” pancing Yeong Gi pada Ha Na. Gadis itu pun hanya bisa mendengus kasar seraya menuruti permintaannya.
“Hei,” bisik Ye Rim saat Ha Na tengah menuang segelas penuh bir pesanan Min Yeong Gi. “Sepertinya kau sedang berhadapan dengan orang berbahaya. Hati-hati, kau bisa diterkam olehnya.”
Ha Na menatap Ye Rim tidak senang. “Tanpa kau peringati seperti itu pun aku tahu kalau dia bukan pria baik-baik. Dari pada kau terus mengoceh, bagaimana kalau kau jadi lebih berguna sedikit, bantu aku memikirkan cara untuk mengusir dia.”
Han Ye Rim menyengir malu seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Eh, sepertinya itu bukan tanggung jawabku,” ucapnya tanpa merasa bersalah.
Lee Ha Na pun mencibir pada sahabatnya itu. Hah, jika saja Ye Rim bukan teman yang disayanginya, Ha Na pasti sudah meninjunya sesaat setelah dia mengucapkan perkataan menyebalkan tadi. Dasar teman tidak berguna! Rutuk Ha Na dalam hati.
Ha Na kembali beralih pada gelas bir pesanan pria yang paling tidak ingin ia ajak bicara, lalu kemudian menyodorkannya padanya. Tapi sialnya, Yeong Gi malah menahan tangannya. Pria itu menatap Ha Na dengan sorot mata yang begitu mengintimidasi.
“Aku ingin kau menemaniku minum malam ini,” katanya kemudian.
Bola mata Ha Na langsung mendelik marah. “Apa kau gila?! Aku tidak mau jadi mainanmu!”
“Aku tidak bilang kau akan menjadi mainanku, Lee Ha Na ssi. Aku hanya ingin kau menemaniku minum, itu saja. Aku berani membayar mahal untuk itu.”
Ha Na memberontak kasar, melepaskan diri dari cengkeraman Yeong Gi. Ia melotot marah pada pria itu.
“Ya! Kau pikir aku sama seperti dua wanita tadi yang bisa kau bayar seenaknya?!” seru Ha Na pelan nan menusuk. “Aku bukan wanita seperti itu!”
“Kau jangan salah paham dulu, aku bicara begitu bukan karena aku menganggapmu rendahan. Hanya saja aku benar-benar ingin ditemani minum olehmu malam ini. Aku benar-benar sangat membutuhkan kehadiranmu,” ucap Yeong Gi serius.
Deg! Entah kenapa jantung Ha Na tiba-tiba berdesir hebat mendengar perkataan Yeong Gi barusan. Di tambah lagi saat menatap matanya yang terlihat begitu serius, Ha Na jadi bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya ada apa dengan Yeong Gi? Kenapa dia mendadak jadi seperti ini padanya? Kini Ha Na jadi teringat kembali dengan percakapan pria itu dengan penyanyi Min Yeong Nam tadi siang, apa sikap arogannya tiba-tiba berubah drastis seperti ini karena ada hubungannya dengan penyakit entah apa itu yang mereka bahas? Ah, memusingkan! Tapi kenapa juga Ha Na jadi repot-repot memikirkannya sih?! Apa yang terjadi pada dirinya sebenarnya? Jangan sampai ia luluh pada pria semacam Yeong Gi! Tidak boleh!
“Kau tidak mau?” tanya Yeong Gi lagi setelah beberapa saat menunggu Ha Na yang tidak meresponnya.
Ha Na mendengus kasar. Ia menatap Yeong Gi berani. “Kalau aku tidak mau, kau mau apa?!”
Yeong Gi tersenyum miring sambil melipat tangan di d**a. “Sayang sekali, kalau begitu aku akan meminta langsung pada manajermu.”
Deg! Wajah Ha Na menegang seketika. Kalau sudah begini, ia pasti sudah tidak bisa menghindar lagi. Manajernya yang rakus uang itu pasti akan langsung mengirimnya pada Yeong Gi apalagi kalau pria itu berani membayar mahal. Sial! Sekarang Ha Na harus bagaimana?
Dan belum saja Lee Ha Na terpikirkan cara untuk menghindari Min Yeong Gi, sosok paruh baya yang mengenakan setelan jas rapih tiba-tiba datang masuk ke dalam bar. Ya, itu manajer di kelab ini. Habis sudah nasib Ha Na malam ini.
Sang manajer kemudian menatap Ha Na dan Ye Rim bergantian. Mimik wajahnya tampak tidak senang.
“Kalian ini! Kenapa selalu bekerja berduaan padahal sendiri saja sudah cukup?!” rutuknya tidak senang. Ia kemudian menatap ke arah Ye Rim. “Han Ye Rim ssi, sebaiknya kau berkeliling, biarkan Lee Ha Na ssi tetap berjaga di sini.”
Ye Rim hanya bisa mengangguk menurut lalu kemudian mulai berjalan ke luar bar. Tapi kemudian ....
“Tunggu!” sela Min Yeong Gi tiba-tiba. Ye Rim pun terpaksa berhenti sambil merengut merasa bersalah. Sementara Ha Na tampak tegang saat ini. Diam-diam Yeong Gi merasa puas melihat ekspresi gadis itu.
“Oh, bukankah anda Tuan Min, customer langganan kami? Ah, ada yang bisa kubantu?” tanya sang manajer dengan ramah dan antusias.
Yeong Gi memasang ekspresi kecewa yang dibuat-buat. Ia menatap ke arah Ha Na, sang manajer pun jadi ikut melirik tajam ke arah gadis itu. Sementara Ha Na hanya bisa mengutuk Yeong Gi dalam hati. Sungguh, jika ia diberkati kemampuan untuk membunuh tanpa menyentuh, pria itu pasti sudah mati saat ini.
“Eh, apa dia membuat kesalahan?” tanya sang manajer dengan hati-hati.
Yeong Gi menatapnya, kemudian menjawab dengan berlagak sombong. “Ya, sedikit. Dia sangat tidak ramah padaku.”
Lee Ha Na menunduk pias. Ah, habis sudah ia malam ini. Manajernya bisa-bisa akan langsung memecatnya. Masalahnya ini bukan kali pertama Ha Na mendapat teguran dari manajernya soal ketidak ramahannya pada pelanggan.
“Lagi?” Sang Manajer menggeram tertahan sambil mendelik ke arah Lee Ha Na.
Ha Na pun terpaksa membungkuk. “Maafkan aku, aku tidak akan melakukannya lagi.”
“Rasanya sudah lebih dari lima kali aku mendengarmu bicara begitu, tapi tetap saja kau melakukan kesalahan yang sama. Apa kau sudah bosan bekerja di sini, Lee Ha Na ssi?”
Ha Na mendelik panik. “Ti-tidak! A-aku sangat membutuhkan pekerjaan ini, tolong maafkan aku.”
Sang manajer mendengus menahan amarah. “Aku tidak butuh kata maafmu, Lee Ha Na ssi. Kau tahu, Tuan Min adalah pelanggan VIP-ku. Tapi kau dengan lancangnya membuatnya marah. Aku tidak bisa mempertahankan orang sepertimu lagi untuk bekerja di sini. Kau bisa mengusir semua pelangganku secara perlahan.”
“Maafkan aku, aku bersumpah tidak akan melakukan kesalahan lagi. Tolong beri aku satu kesempatan lagi,” mohon Ha Na sambil terus membungkukkan tubuhnya.
Min Yeong Gi diam-diam merasa puas melihat gadis itu tampak tak berdaya. Kini ia bisa menjadi sosok penolong baginya. Ah, walau ia membenci statusnya serta uang yang berasal dari keluarganya, tapi menyenangkan sekali rasanya bisa menggunakan uang itu untuk sedikit mempermainkan Lee Ha Na.
“Pak Manajer, sepertinya kau terlalu kasar dengan pegawaimu,” kata Yeong Gi kemudian.
“Apa?” Sang manajer agak terkejut. “T-tapi dia memang sudah sering melakukan kesalahan yang sama. Aku sudah seharusnya memecatnya sedari kemarin.”
“Sayang sekali, padahal aku menyukainya,” sahut Yeong Gi penuh maksud. Sementara Ha Na tampak menatapnya penuh kebencian.
“Ma-maksudmu?” tanya sang manajer agak terkejut.
Yeong Gi berdiri dari duduknya, kemudian menatap sang manajer. “Tadinya aku ingin dia menemaniku malam ini, dengan harga dua kali lipat dari biasanya. Tapi sayang sekali, kau sudah memecatnya.”
“Ap-apa? T-tapi dia bukan pekerja seperti itu. Aku tidak bisa—”
“Aku tahu,” potong Yeong Gi. “Jangan salah paham dulu, aku hanya ingin ditemani minum olehnya. Tidak lebih dari itu.”
Bola mata sang manajer tampak terbelalak tergiur. “Ka-kau ... mau membayar dua kali lipat hanya untuk itu?!”
Yeong Gi mengangguk. “Ya. Hanya untuk itu.”
Sang manajer tampak senang bukan main. Ia pun menatap ke arah Ha Na dan tersenyum sumringah padanya.
“Kau tidak jadi kupecat,” katanya kemudian. “Sebagai gantinya kau temani dia."
Ha Na tampak tidak terima. “Ta-tapi ....”
“Sudahlah menurut saja. Aku akan memberimu bonus nanti.”
Sang manajer pun melangkah pergi. Ia menepuk bahu Ye Rim yang masih berdiri di pintu bar seraya berkata, “Kau jaga di sini, Han Ye Rim ssi.”
Ha Na pun menunduk pasrah. Ye Rim juga ikut menyesal atas nasib yang menimpa sahabatnya. Sementara Yeong Gi, pria itu terlihat tersenyum puas karena berhasil membuat Ha Na jadi tak berkutik. Hah ... sungguh, menyenangkan sekali rasanya bisa mempermainkan gadis yang tak bisa menurut ini.
•••
Dan di sinilah Lee Ha Na berakhir. Di sudut ruangan kecil yang biasa di sewa oleh para pengunjung kelab kalau mereka ingin duduk-duduk bersantai ria.
Sebenarnya Ha Na agak sedikit takjub dengan pria di hadapannya ini. Ternyata dia benar-benar menepati janjinya untuk tidak berbuat macam-macam padanya. Dia benar-benar hanya ingin ditemani minum olehnya, meskipun Ha Na tidak ikut minum. Yeong Gi juga tidak banyak mengoceh padanya padahal sudah satu jam berlalu sejak mereka duduk bersama di sini.
Tapi yang Ha Na tidak suka, Yeong Gi terus-terusan menatap ke arahnya dengan sorot mata yang mengerikan. Itu membuat Ha Na merasa sangat tidak nyaman apalagi ia tengah mengenakan pakaian super ketat dan mini. Alhasil ia jadi terus-terusan menarik turun roknya, untuk menutupi pahanya yang terekspos bebas sedari tadi.
Yeong Gi yang menyaksikan Ha Na sudah beberapa kali melakukan itu, ia tertawa mengejek. Ha Na pun memutuskan untuk tak menggubrisnya. Ia bahkan memalingkan wajah darinya agar tidak terlalu merasa tertekan dengan tatapan mengintimidasi itu.
Yeong Gi menenggak gelas minumannya sedikit, kemudian mengibas-ngibas wajahnya.
“Panas,” gumamnya sambil melepas jaketnya. “Bir macam apa yang membuat tubuhku seperti terbakar begini?”
Ha Na melirik bingung ke arahnya. “Itu bir dengan alkohol sebanyak lima puluh satu persen. Kupikir kau sudah tahu. Aku ingat betul kau memesan lima botol bir itu kemarin malam.”
“Oh ya? Wah, kau diam-diam memperhatikanku ternyata,” tukas Yeong Gi merasa bangga.
Ha Na yang menyadari perkataannya barusan, ia langsung membungkam mulutnya sambil berdeham merasa malu. Ia juga masih terus berusaha menahan rok-nya agar tidak melorot ke atas.
Tapi tiba-tiba, Yeong Gi melemparkan jaketnya ke atas paha Ha Na. Gadis itu pun mendelik tidak terima.
“Ya! Apa-apaan kau ini?!” seru Lee Ha Na marah.
“Gunakan itu untuk menutupi paha seksimu itu,” ucap Yeong Gi dengan santainya sambil menuang minuman ke gelasnya. Ia kemudian melirik ke arah sana dengan sorot mata jahil. “Sebelum aku kehilangan kesadaranku dan menerkamnya.”
Mendengar itu, Ha Na langsung buru-buru menutupi pahanya dengan jaket milik Yeong Gi. Ada aroma lembut parfum milik pria itu yang menguar ketika Ha Na mengibaskan jaketnya. Tanpa sadar, gadis itu merasa nyaman dengan aroma itu. Sungguh, baunya sangat lembut dan menenangkan. Kalau saja ini bukan milik Yeong Gi, Ha Na pasti sudah menghirupi aroma ini sepuasnya.
“Kau benar-benar tidak mau minum?” tanya Yeong Gi kemudian, sambil menawarkan gelasnya pada Ha Na.
Gadis itu menggeleng sambil mencibir. “Aku tidak akan membunuh diriku sendiri dengan meminum alkohol semacam itu.”
Yeong Gi mengangguk-angguk. “Ah, benar. Seandainya alkohol dapat membunuhku, semua pasti akan jauh lebih mudah.”
“Maksudmu?” tanya Ha Na sambil mengerutkan dahi bingung.
“Tidak, tidak apa.” Yeong Gi kembali menenggak minumannya dengan santai.
Sementara Ha Na, ia memperhatikan pria itu lekat-lekat, entah kenapa ia merasa seperti ada sesuatu yang mengganggu pikiran Yeong Gi. Benar. Lagi pula mana ada orang yang setiap hari meminum alkohol sekeras ini kalau bukan karena dia sedang tertekan? Sebenarnya dia kenapa?
Ah, tapi tunggu dulu. Kenapa juga Ha Na jadi repot-repot memikirkan orang menyebalkan seperti Yeong Gi? Tidak ada gunanya sama sekali. Tapi biar bagaimanapun ia tetap merasa sedikit khawatir pada pria di hadapannya ini. Entah kenapa Ha Na merasa dia seperti memiliki suatu beban yang berusaha ditutupinya dengan tingkah kurang ajarnya. Apa itu karena keluarganya yang tidak mengakuinya? Entahlah, Ha Na tidak berani menebak-nebak kebenaran berita yang belum jelas itu. Lagi pula itu bukan urusannya juga.
Pandangan Ha Na kemudian beralih pada meja yang menjajarkan tiga botol kosong, wah benar-benar! Masa Yeong Gi menghabiskan semua ini seorang diri?! Sebenarnya dia makhluk macam apa?! Tubuhnya bisa hancur kalau terus-terusan mengonsumsi banyak alkohol seperti ini. Matanya bahkan sudah terlihat sayu. Ya, dia pasti sudah mabuk sekarang.
“Kau ... sudah harus berhenti minum,” ucap Ha Na khawatir.
“Tidak bisa. Bayangan menakutkan itu masih ada dalam kepalaku,” jawab Yeong Gi tanpa sadar.
Lee Ha Na tidak mengerti apa yang Yeong Gi maksud barusan. Tapi ia lebih tidak mengerti lagi dengan dirinya sendiri. Entah kenapa tubuhnya bergerak duduk ke samping pria itu, kemudian menghentikan gerakan tangannya yang hendak minum lagi.
“Sudah cukup,” gumam Ha Na pelan sambil menatap Yeong Gi tajam.
Yeong Gi tersenyum sambil menatap Ha Na dengan mata sayunya. “Kau tampak sangat manis kalau dilihat dari dekat seperti ini, Lee Ha Na.”
Ha Na mendadak memundurkan wajahnya dari wajah Yeong Gi setelah mendengar perkataan pria itu.
“Ka-kau bicara apa?” tukas Ha Na tergugup. “Da-dan lagi kenapa kau jadi bicara informal denganku?! A-aku tidak terima!”
“Kau tidak terima? Kalau begitu mulai sekarang aku akan berbicara informal denganmu. Kau tahu, kau tampak sangat menarik saat sedang marah-marah. Maka jangan terkejut kalau aku akan selalu membuatmu marah dan kesal.”
“Ap-apa?! Dasar tidak tahu diri!” maki Ha Na seraya bangkit berdiri, hendak menjauh dari Yeong Gi. Tapi tangannya di tahan oleh pria itu. Ia pun mau tidak mau jadi duduk kembali.
“Temani aku sebentar lagi,” ucap Yeong Gi dengan sorot mata teduh. “Kumohon.”
Ha Na menatapnya dalam. Sial, perasaan tidak tega yang sangat tidak perlu itu kembali merasuki dirinya, entah kenapa. Tapi ia tetap berusaha keras untuk menolak perasaan itu. Ha Na pun menghela napas pelan, kemudian melirik jam di tangannya. Ah, ternyata sudah waktunya kelab tutup.
Ha Na kembali melirik ke arah Yeong Gi seraya berkata, “Ini sudah pukul tiga pagi, aku sudah harus pulang. Dan kau juga.”
“Benarkah? Cepat sekali waktu berlalu. Padahal aku masih ingin melihat wajahmu.”
Yeong Gi menyandarkan kepalanya di sofa sejenak. Sepertinya dia sedang berusaha menahan pusing akibat mabuk berat. Setelah beberapa saat, ia akhirnya menegakkan tubuhnya dan mencoba bangkit berdiri. Tapi baru saja ia hendak melangkahkan kakinya sambil menyeret tangan Ha Na, tubuhnya langsung oleng dan terjatuh kembali ke sofa.
Ha Na menatapnya khawatir. “Kau tidak akan bisa pulang seorang diri dengan kondisi seperti ini.”
Yeong Gi menatap Ha Na penuh maksud. “Lalu kau mau mengantarku pulang dan menginap di tempatku?”
“Jangan harap!” seru Ha Na ketus.
“Sudah kuduga. Kau bukan tipe wanita yang akan datang ke tempat pria semudah itu. Itulah yang kusuka darimu.”
Ha Na hanya mencibir tidak senang mendengar racauannya. Tapi diam-diam ia berpikir, bagaimana caranya mengirim Yeong Gi pulang dengan selamat? Kalau menghubungi sopir bayaran, Ha Na tidak punya uang untuk itu. Dan ia juga tidak mau lancang merogoh dompet pria itu.
Ha Na pun terus berpikir, sementara Yeong Gi tampak sudah tertidur di sofa. Benar-benar merepotkan! Sampai kemudian, suara dering ponsel di saku pria itu berhasil mengejutkan Ha Na. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengambil ponsel Yeong Gi dan melihat siapa yang menghubunginya. Di layar tertera tulisan ’Hyung’.
Ha Na berpikir sejenak, siapa kira-kira si hyung ini? Lalu ingatannya kembali pada sosok Min Yeong Nam yang Yeong Gi panggil dengan sebutan hyung tadi siang, Ha Na pun segera mengangkatnya.
“Ya! Min Yeong Gi!” cecar seseorang di seberang sana dengan suara keras. Ha Na bahkan sampai menjauhkan ponsel dari telinganya. “Kenapa kau tidak ada di rumah?! Apa kau pergi ke kelab lagi?! Sampai kapan kau akan begini?! Sudah kubilang berkali-kali, alkohol tidak akan bisa mengobati rasa traumamu! Kalau kau ingin tenang, minumlah obatmu dengan rutin! Kenapa kau tidak mengerti juga sih?!”
Ha Na menyengir merasa bersalah karena telah mendengar pernyataan yang seharusnya tidak boleh ia dengar. Ia pun berdeham memperingati sosok yang menelepon, agar dia sadar kalau yang menjawab panggilan bukanlah si pemilik ponsel.
“Ehem! Maaf, aku hanya ingin memberi tahu kalau pemilik ponsel ini tengah mabuk berat dan tertidur di kelab. Bisakah kau kesini menjemputnya? Kami sudah harus tutup.”
Yeong Nam yang berada di seberang sana merasa terkejut. “O-oh, begitu? Ba-baiklah, aku akan segera kesana. Terima kasih sudah memberi tahu.”
Tut! Sambungan pun dimatikan. Ha Na meletakkan ponsel Yeong Gi di atas meja, ia juga mengembalikan jaket pria itu yang semula ia pinjam untuk menutupi pahanya yang terekspos bebas. Ha Na menyelimuti tubuhnya yang tampak menggigil kedinginan dengan jaket itu.
Diam-diam ia tersenyum seraya menggumam, “Kau tidak sedang kepanasan rupanya. Dasar pembohong.”
Setelah itu, Ha Na segera pergi dari hadapan Yeong Gi, dengan pikiran yang campur aduk memikirkan sisi lain dari seorang Min Yeong Gi yang baru saja diketahuinya.
•••