Di sebuah ruangan kecil bercat putih, Min Yeong Gi tengah duduk di sofa tunggal sambil menyilangkan kaki dan melipat tangan di d**a. Sesekali ia menggigiti kuku jarinya dengan santai, tanpa memedulikan seseorang berseragam dokter yang tengah duduk di meja kerjanya sambil terus memandanginya dengan raut wajah dongkol.
Dia adalah Kang Il Shik, pria berumur empat puluh lima tahun yang sudah menjadi psikiater Yeong Gi selama lima tahun terakhir. Sebenarnya Yeong Gi tidak terlalu menyukainya. Alasan pertamanya karena dia adalah kiriman ayahnya, dan alasan yang kedua, itu karena menurutnya Dokter Kang terlalu sok akrab dengannya. Yeong Gi tidak menyukai orang seperti itu meskipun dia terpaksa begitu karena tuntutan pekerjaan.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara helaan napas dari Dokter Kang. Yeong Gi hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus menggigiti kuku jarinya.
“Baiklah, ini sudah setengah jam berlalu sejak kau tiba di sini,” kata Dokter Kang kemudian. “Kau tidak ingin mengatakan apa-apa padaku?”
Yeong Gi masih diam. Ia tidak peduli dengan ocehannya. Bahkan ia berharap untuk segera di usir. Tapi ia tahu itu tak akan terjadi. Dokter Kang adalah orang yang tidak mudah menyerah untuk meladeni pasien menyebalkan seperti Yeong Gi.
“Kudengar dari hyung-mu, katanya kau tidak meminum obat yang kuberikan saat terakhir kontrol kemarin?” ucap Dokter Kang lagi terus mencoba memancing Yeong Gi untuk berbicara.
Tapi tentu saja seorang Min Yeong Gi tak akan terpancing semudah itu.
Dokter Kang menghela napas sekali lagi. Ia mati-matian mencoba bersabar menghadapi pasiennya yang satu ini. Sebenarnya ia ingin memaki, waktunya 'kan bukan hanya untuk meladeninya saja. Harusnya Yeong Gi menghargainya. Tapi tentu saja Dokter Kang tidak akan mengatakan keluh kesahnya terhadap pasiennya sendiri. Inilah resiko menjadi seorang psikiater. Harus tetap terlihat ramah walau segondok apa pun hatinya menerima perlakuan tidak sopan dari setiap pasiennya.
“Kau benar-benar tidak mau mengatakan apa pun?” tanya Dokter Kang lagi. Tapi Yeong Gi masih tetap diam. Dokter Kang pun kembali berkata, “Baiklah, kalau begitu biar aku saja yang bicara. Tugasmu hanya cukup mendengarkan.”
Sudah bisa di tebak, tentu saja Yeong Gi tak akan menggubris perkataannya. Anak itu malah meraih ponselnya, kemudian memainkan sebuah game. Benar-benar pasien yang membuat naik darah.
Dokter Kang menggeleng pelan, kemudian beralih pandang menatap catatannya.
“Kalau dilihat dari sisa obatmu yang kuberikan dua minggu lalu, kau tidak meminumnya sekitar delapan hari,” tutur Dokter Kang. “Biar kutebak, gangguan cemasmu pasti telah meningkat drastis beberapa hari terakhir ini. Bahkan rasanya lebih mengganggu dan menyakitkan. Benar bukan?”
“Sok tahu,” sahut Yeong Gi singkat.
Dokter Kang diam-diam tersenyum mendengar respon kecil barusan. Setidaknya ia tahu kalau anak itu mendengarkannya.
“Hmm ... mungkin kau boleh mengataiku sok tahu. Dan aku akan mengataimu sok kuat,” ucap Dokter Kang lagi. Yeong Gi pun langsung menoleh tidak senang padanya.
“Kenapa? Kau tersinggung? Tapi memang begitu kenyataannya.” Dokter Kang semakin memancing. “Kau adalah penderita Anxiety Disorder tingkat lanjut. Hidupmu akan terus bergantungan dengan obat penenang sampai kau benar-benar bisa mengobati luka hati yang menjadi pemicu datangnya gangguan cemas berlebihan itu. Tapi bukannya membaginya denganku untuk meringankan beban itu, kau malah terus menguburnya dalam-dalam dan menutupinya dari semua orang. Apa kau pikir itu bagus? Tidak sama sekali. Bertindak sok kuat hanya akan menjadikanmu lebih tertekan lagi.”
“Cih, aku tahu apa yang terbaik untuk diriku sendiri dasar dokter sok tahu,” cibir Yeong Gi.
“Tidak ada dokter yang sok tahu di dunia ini. Mereka memang tahu. Pasiennya saja yang rada bebal dan pembangkang.”
“Apa kau bilang?! Dokter macam apa yang mengejek pasiennya sendiri?!” rutuk Yeong Gi kesal.
“Dan pasien macam apa yang mengatai dokter sok tahu?” balas Dokter Kang tidak mau kalah. Ia menatap Yeong Gi sambil tersenyum penuh kemenangan. “Harusnya kau berterima kasih padaku. Dari sekian banyak psikiater yang berusaha mengobatimu, hanya aku yang bisa bertahan menghadapi pasien sepertimu selama lima tahun lamanya.”
“Kau—”
“Sudahlah berhenti terus merutuk seperti itu, kau tidak akan berhasil mendebatku,” potong Dokter Kang. “Sekarang coba katakan padaku, memangnya hal apa yang lebih hebat dari obat yang kuberikan padamu, sehingga kau bisa bertahan walau tak meminum obat dariku?”
Yeong Gi terlihat tersenyum miring. Matanya menatap penuh ejekan pada Dokter Kang. Sementara Dokter Kang, ia diam-diam merasa senang karena berhasil memancing Yeong Gi untuk mengungkapkan isi hatinya.
“Kau tahu, alkohol adalah obat yang jauh lebih ampuh dari obat-obatanmu!” jawab Yeong Gi sarkas.
“Oh, begitu? Sayang sekali. Padahal alkohol adalah musuh dalam selimut bagi para penderita gangguan mental. Mengobati sejenak, membuat nyaman, padahal diam-diam malah semakin memperburuk keadaan. Membuat orang jadi kecanduan, dan pada akhirnya si penderita hanya akan terus berputar-putar di dunianya, tanpa bisa melepaskan diri dari jeratan pengaruh alkohol. Malahan itu akan semakin menambah runyam keadaan. Kau akan terserang penyakit lain jika terus mengonsumsinya.”
Yeong Gi menggeram sebal mendengar itu. Dan sialnya ia tidak bisa menyangkal, ia akui perkataan Dokter Kang memang benar. Terlalu banyak mengonsumsi alkohol untuk menenangkan diri hanya akan membuat organ dalam tubuhnya semakin rusak.
Tapi dasar Yeong Gi, ia masih belum menyerah untuk menyudutkan Dokter Kang.
“Bagaimana dengan wanita?” katanya sambil tersenyum mengejek. “Mereka juga cukup ampuh dalam mengobati rasa cemasku. Ketika aku menghabiskan waktu bersama mereka di ranjang, bebanku terasa menghilang seketika, tergantikan dengan sensasi nikmat luar biasa.”
“Ew ... apa kau bermain dengan sembarang wanita? Menjijikkan!” Dokter Kang berlagak jijik. “Mereka bahkan lebih buruk dari alkohol. Kau bisa terkena HIV. Itu mematikan, loh.”
“Ap-apa?! A-aku tidak bermain sampai sejauh itu, tahu! Aku juga tahu batasan!” rutuk Yeong Gi kesal sekaligus malu.
“Syukurlah kalau kau mengerti.”
“Tapi omong-omong soal wanita ....” Yeong Gi berucap serius tiba-tiba. Dokter Kang pun menegakkan tubuhnya antusias. “... aku bertemu dengan seorang wanita yang entah kenapa membuatku selalu penasaran dengannya.”
“Oh, ya? Memang dia seperti apa?”
Yeong Gi menatap kosong entah kemana. Tapi tanpa ia sadari, senyumnya mengembang tipis, membuat Dokter Kang jadi ikut tersenyum puas karena pasien bebalnya ini akhirnya mau menceritakan sesuatu padanya.
“Entahlah, menurutku dia tidak terlalu cantik, dia bahkan sangat pemarah dan sensitif,” jawab Yeong Gi. “Tapi itulah yang menarik perhatianku. Menurutku dia terlihat sangat menggoda ketika sedang marah. Bahkan dia sanggup membuatku tidur nyenyak dua hari terakhir ini, karena aku terus memikirkannya.”
Dokter Kang agak terbelalak. Menurutnya, ini adalah perubahan yang cukup signifikan. Ini akan sangat bermanfaat bagi kesembuhan Yeong Gi kedepannya.
“Kau sudah berkenalan dengannya?” tanya Dokter Kang antusias.
Yeong Gi mengangguk. “Ya, namanya Lee Ha Na. Kau tahu, dua hari ini kami terus bertemu secara tidak sengaja. Pertama saat aku mabuk di toilet kelab malam, dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata dia adalah salah satu staf di Hotel Sky. Mangkanya sekarang aku sangat bersemangat datang ke hotel, padahal tadinya tidak.”
“Wow ... sepertinya dia gadis yang menarik. Kau harus mendapatkan nomor ponselnya.”
“Untuk apa?” Yeong Gi bertanya bingung.
“Kau harus mendekatinya. Bisa jadi dia akan menjadi penyembuh luka hatimu.”
Yeong Gi menatap dokter Kang serius. “Benarkah bisa begitu?”
“Ya, bisa jadi,” jawab Dokter Kang sambil menyiapkan beberapa obat untuk dibawa Yeong Gi.
“Ambil ini, aku sudah menggantinya dengan dosis yang satu tingkat lebih tinggi dari obat sebelumnya,” kata Dokter Kang lagi sambil memaksa tangan Yeong Gi untuk mengambil obat-obatan yang harus dia minum. “Dan soal wanita itu, saat ini dia memang cukup berpengaruh besar untuk menjadi obat penyembuh bagimu. Tapi jika dilihat dari rekam medis selama kau tidak meminum obat sebelumnya, gejalamu jadi lebih sering muncul bahkan di siang hari. Itu bisa berbahaya. Kau tidak mau 'kan, kalau kau itu tiba-tiba kambuh, dan wanita bernama Lee Ha Na itu melihat keadaan burukmu? Mangkanya kali ini kau harus rajin meminum obat yang kuberikan. Setuju?”
“Bailah, baiklah,” sahut Yeong Gi terpaksa. “Aku pergi sekarang. Dah.”
Dokter Kang melambaikan tangan sambil tersenyum senang. “Kapan-kapan bawalah dia kesini.”
Yeong Gi menoleh tidak senang ketika sudah tiba di pintu. “Apa kau gila? Dia bisa tahu semuanya nanti. Aku tidak mau!”
“Kalau begitu pergilah jalan-jalan sesekali dengannya. Apa kau bisa membujuknya?”
Yeong Gi berpikir sejenak, rasanya pasti sulit sekali mengajak Ha Na jalan berdua. Wanita itu bisa-bisa akan langsung memakinya. Tapi kemudian Yeong Gi teringat sesuatu. Ia pun melirik Dokter Kang penuh maksud.
“Sepertinya aku bisa,” jawabnya singkat sambil tersenyum miring, lalu kemudian segera menutup pintu dan pergi dari ruangan Dokter Kang.
•••
Di sebuah rumah mewah dengan banyak kaca jendela besar hampir di setiap sisi, seorang wanita paruh baya dengan pakaian elegan tengah duduk termenung sambil menyeruput secangkir teh. Pandangannya menatap keluar jendela, wajahnya menampilkan ekspresi yang terkesan tidak ramah.
Tok, tok, tok, suara ketukan pintu membuatnya bangkit dari lamunannya. Ia pun berseru pelan, “Masuk!”
Seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan tuxedo hitam rapih datang menghampirinya. Di tangannya tergenggam selembar amplop coklat, ia segera memberikannya pada wanita itu.
Wanita itu, alias Nam Chun Ae, ia menerimanya dengan bibir yang tersungging sedikit. Ia kemudian membukanya, dan melihat lembar demi lembar foto yang di antaranya adalah foto seorang pria muda berkulit pucat yang tak lain adalah Min Yeong Gi.
Nam Chun Ae mencibir tidak senang ketika melihat foto-foto itu. Mulai dari foto Yeong Gi ketika keluar dari kediamannya, ketika mengendarai mobilnya, ketika mobilnya terparkir di sebuah kelab, ketika Min Yeong Gi ada di hotel bersama Min Seung Ho, dadanya seperti bergemuruh melihat foto-foto anak yang selalu ia sebut dengan sebutan anak haram itu. Apalagi ketika melihat foto-fotonya yang tampak senang berada di hotel, Nam Chun Ae sangat jengkel melihat itu.
“Cih, bisa-bisanya dia berani menginjak Hotel Sky,” rutuknya. “Tidak tahu diri. Padahal dia sadar betul kalau keberadaannya di sana bisa menimbulkan gosip hebat yang akan membuat saham hotel jadi turun drastis, juga menghancurkan karirku.”
Nam Chun Ae terus menggulir foto-foto yang lain. Yang kali ini menunjukkan kalau Yeong Gi tengah berada di sebuah kelab malam. Dan beberapa foto terakhir, itu cukup mengejutkan Nam Chun Ae karena ia melihat ada sosok wanita yang selalu terlihat disisi Yeong Gi. Bahkan salah satunya ada yang di hotel. Gadis itu terlihat mengenakan seragam staf Hotel Sky.
“Ini ....” gumam Chun Ae sambil terus menatap foto Yeong Gi bersama seorang wanita staf hotel itu. Ia kemudian menatap pria di hadapannya yang tadi memberikan foto-foto ini padanya. “Siapa gadis ini?”
“Namanya Lee Ha Na. Mereka tidak sengaja bertemu di sebuah kelab malam, dia pekerja paruh waktu di sana. Selain itu, dia juga merupakan salah satu staf room service di Hotel Sky,” jawab pria itu.
“Kenapa mereka terlihat dekat? Apa dia salah satu wanita yang suka dijadikan mainan oleh anak haram itu?”
“Tidak, Nyonya. Wanita itu bahkan selalu berusaha keras untuk menghindari Tuan Muda Min Yeong Gi. Tapi sepertinya dia cukup menarik perhatiannya. Bahkan Tuan Muda semangat pergi ke hotel karena keberadaan wanita itu.”
Dada Chun Ae naik turun mendengar laporan pengawalnya. Tak sadar, ia meremuk foto Yeong Gi dan Ha Na sampai tak berbentuk lagi.
“Kalau begitu,” kata Nam Chun Ae. “Cari tahu informasi apa pun tentang gadis bernama Lee Ha Na ini.”
Sang pengawal menunduk hormat, lalu kemudian segera pergi menjalankan perintah sang nyonya. Meninggalkannya sendirian dengan emosinya yang tengah membuncah.
“Jadi kau punya mainan baru yang cukup kuat, ya?” gumam Chun Ae pada dirinya sendiri. “Baiklah kalau begitu, kita lihat nanti seberapa kuat dia akan bertahan disisimu.”
•••