Pukul 03.10 pagi. Kelab sudah tutup, semua pelayan bar sudah pulang sedari tadi. Paling hanya tinggal petugas kebersihan saja yang masih ada di gedung ini, di tambah dengan Lee Ha Na dan Han Ye Rim.
Ye Rim melipat kedua tangan di d**a, mulutnya merengut manyun melihat keanehan yang tengah dilakukan sahabatnya itu. Lihat saja, Ha Na terus membentur-benturkan kepalanya di dinding, tapi tidak mau mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi padanya. Masalahnya dia sudah terlihat tidak karuan seperti itu setelah berhadapan dengan customer yang sempat menggoda Ye Rim sebelumnya. Ia pun jadi curiga, jangan-jangan pria itu melalukan sesuatu yang buruk pada Ha Na.
Waktu terus berjalan, lima menit lagi pun telah berlalu. Tapi Ha Na masih belum juga berhenti membentur-benturkan kepalanya di dinding. Ye Rim jadi semakin khawatir padanya, keningnya sudah sangat merah seperti tomat. Kalau dia terus-terusan melakukan itu, bisa-bisa keningnya akan membenjol seperti ikan lohan.
“Ha Na-ya!” Ye Rim akhirnya menghentikan Ha Na dengan paksa. “Sudah cukup! Kau ini sebenarnya kenapa? Ceritakan padaku!”
Ha Na hanya menatap Ye Rim sesaat dengan tampang frustasi, lalu kemudian kembali melanjutkan aksi membentur-benturkan kepalanya ke tembok.
“Aku bodoh! Bodoh sekali!” racau gadis itu.
“Ck!” Ye Rim kembali menghentikan Ha Na dengan melindungi keningnya menggunakan tangannya. Ia menangkup pundak gadis itu, lalu membalikkan tubuhnya berlawanan dengan tembok.
“Apa kau sudah gila?!” seru Ye Rim kesal. “Lihat keningmu! Kau harus bekerja besok. Apa kau tidak malu kalau keningmu jadi terlihat seperti ikan lohan begitu?!”
Ha Na tertawa paksa. Sejujurnya itu malah jadi terlihat menyeramkan bagi Ye Rim. Apa lagi sorot matanya tampak menerawang entah kemana, dengan riasan yang sudah meluntur, menampilkan kantung matanya yang kehitaman.
“Kau benar. Aku memang sudah gila,” jawab Ha Na asal.
“Kau sebenarnya kenapa sih?! Apa dia melakukan sesuatu padamu? Cepat ceritakan padaku!” desak Ye Rim sambil mengguncang-guncang tubuh Ha Na. “Oh! Apa jangan-jangan dia melecehkanmu?! Kalau begitu ayo kita lapor polisi.”
Ye Rim segera menarik tangan Ha Na dengan paksa keluar gedung kelab. Tapi Ha Na langsung menghentikannya setelah mereka tiba di pinggir jalan, hendak menyetop taksi.
“Ye Rim-ah, jangan membuatku melakukan hal bodoh lagi,” keluh Ha Na dengan ekspresi yang memprihatinkan.
Ye Rim mengerutkan kening bingung. “Melakukan hal bodoh? Memangnya kau habis berbuat apa?”
Ha Na mendongak menatap langit malam sambil merengek frustasi. Ia bahkan mengentak-entakkan kakinya seperti anak kecil yang merajuk saat tidak diizinkan bermain. Ye Rim semakin dibuat bingung oleh tingkahnya itu.
“Dasar gila!” makinya.
Setelah dibilang begitu, Ha Na berhenti merengek. Ia menatap Ye Rim datar. Tapi tetap saja, sorot matanya masih memancarkan aura frustasi yang tidak ada habisnya.
“Ye Rim-ah,” katanya kemudian. “Kau tahu hal bodoh apa yang telah kukatakan pada pria sialan itu?”
“Pria sialan? Siapa yang kau maksud? Ck, apa kau mabuk?” Ye Rim semakin khawatir melihat sahabatnya yang semakin terlihat seperti orang gila.
Ha Na menggeleng pelan.
“Aku sadar. Sangat, sangat sadar,” racaunya lagi. “Tapi dengan bodohnya aku malah menantangnya untuk memecatku. Bagaimana ini, Ye Rim-ah ... bagaimana kalau dia benar-benar akan memecatku? Padahal aku sangat suka bekerja disana, aku juga sangat membutuhkan pekerjaan itu! Haaah ... bodoh! Bodoh! Bodoh!”
Ye Rim agak terkejut mendengar racauan Ha Na barusan. “Ya! Si-siapa sebenarnya yang kau bicarakan? Bukannya kita sedang membahas customer yang tadi sempat menggodaku itu? Masa dia ....”
Kini, mata sipit Ye Rim seketika membulat sempurna. Ya, ia sudah mengerti arah pembicaraan Ha Na.
“Ap-apa ... customer yang tadi itu ... di-dia ...,” ucap Ye Rim tercekat.
Ha Na menatapnya masih dengan ekspresi frustasinya. Ia kemudian menjawab, “Benar. Dia orang itu, calon penerus direktur Hotel Sky.”
“Ap-pa ....” Kini Ye Rim benar-benar tercekat bukan main. Ia tidak menyangka kalau lagi-lagi sahabatnya itu berhadapan dengan pria yang mati-matian berusaha dihindarinya. Ia jadi berpikir, apakah dunia memang sesempit ini? Atau pria itu memang penguntit gila dan m***m yang sedang mengincar Ha Na untuk menjadi mangsanya?
“Ya! Han Ye Rim! Kenapa kau malah diam saja? Bantu aku berpikir! Aku harus bagaimana sekarang?” Kini giliran Ha Na yang mengguncang-guncang tubuh Ye Rim. Gadis itu pun segera tersadar dari imajinasi liarnya.
“Ka-kau tenang dulu, oke?” ucap Ye Rim berusaha menenangkan Ha Na. Ia kemudian menggiring Ha Na duduk di bangku yang ada di pinggir jalan.
“Sekarang ceritakan padaku detailnya. Kau mengatakan apa saja padanya?” Ye Rim bertanya setelah mereka sudah duduk.
Ha Na menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. Ia pun mulai bercerita.
“Awalnya dia menggodaku. Sepertinya dia sangat senang mempermainkan emosiku, entah kenapa. Aku berusaha mati-matian untuk tetap sabar. Sampai kemudian, dia menuntutku untuk membayar perbuatanku padanya yang tadi sore itu. Dan kau tahu apa yang dia pinta? Dia memintaku untuk menciumnya! Dan tidak hanya itu saja, dia bahkan menyinggung soal tidur dengannya di Hotel Sky. Tentu saja aku sangat marah!”
Ye Rim tampak terkejut. Ia menangkup mulutnya yang ternganga dengan kedua tangannya.
“Lalu apa yang kau katakan?” tanya Ye Rim penasaran sekaligus prihatin.
“Tentu saja aku menamparnya! Lalu habis itu aku menantangnya untuk memecatku,” jawab Ha Na ketus.
Sekali lagi Ye Rim terkejut. Bahkan yang kali ini dia sampai berdiri dari duduknya, bola mata kecilnya menatap Ha Na tidak menyangka.
“Ha Na-ya ...,” gumamnya tidak percaya. “Kau gila atau apa?”
Mendengar itu, Ha Na langsung merengut sebal. Ia menatap Ye Rim tidak terima.
“Sebenarnya kau ada di pihak siapa?!”
Ye Rim mendengus halus. “Ya! Ini bukan soal mendukung siapa atau siapa. Ini soal kau! Bagaimana bisa kau dengan lancangnya menampar calon penerus direktur Hotel Sky yang sangat terkenal itu? Kau tahu, kau bukan hanya akan dipecat, tapi kau juga bisa dituntut! Kau ini bodoh atau apa?!”
Mendengar ucapan Ye Rim barusan, Ha Na merasa benar-benar tertampar. Ya, Ye Rim memang benar, tidak seharusnya ia menampar orang yang akan menjadi atasannya. Itu sama saja bunuh diri namanya. Ditambah lagi ia juga sudah menendang kemaluan pria itu tadi sore ketika di hotel. Satu hal itu saja sudah lebih dari cukup untuk bisa menuntutnya. Ha Na pun melempar tubuhnya ke sandaran kursi, merasa semakin frustasi.
“Lalu sekarang aku harus bagaimana?” racaunya sambil menangkup wajah dengan kedua telapak tangan.
“Minta maaf,” jawab Ye Rim cepat. “Bilang kalau kau sangat menyesal melakukan itu padanya. Bila perlu kau harus bersujud di kakinya.”
“Apa?!” Ha Na mendadak berdiri dari duduknya. Ia menatap Ye Rim kesal.
“Te-tenang dulu, oke?” Ye Rim memegang bahu Ha Na sambil menuntunnya untuk kembali duduk.
“Dengarkan aku baik-baik,” kata Ye Rim lagi. Sorot matanya terlihat begitu serius. “Saat ini kau sangat membutuhkan uang untuk menghidupi anak-anak di Rumah Pelangi. Kalau kau sampai di pecat, bukan hanya kau saja yang akan kena imbasnya, tapi keluargamu di Rumah Pelangi juga. Apa lagi kau telah melakukan dua kesalahan besar yang sudah bisa dia gunakan untuk menunutmu, posisimu sudah benar-benar tidak tertolong. Mangkanya, lebih baik kau memohon maaf saja padanya.”
Ha Na berpikir sejenak. Sialnya, walau pikirannya terus menuntut untuk mencari solusi lain, tapi tetap saja ia tak kunjung menemukannya. Sepertinya benar kata Ye Rim. Jalan satu-satunya untuk mengamankan posisinya saat ini adalah meminta maaf dengan pria itu. Ha Na pun hanya bisa mendengus pasrah, sambil terus memaki dirinya dalam hati karena telah berurusan dengan pria macam Min Yeong Gi. Benar-benar menyusahkan.
•••
Dan disinilah Lee Ha Na berakhir setelah pagi menjelang. Di salah satu kamar hotel dengan dua ruangan di dalamnya. Yang satu tentunya untuk kamar tidur sang pemilik, sementara yang satu lagi adalah kantor beserta ruang pertemuan—tempat Ha Na tengah berlutut di hadapan seorang pria yang dengan santainya duduk menyilangkan kaki di sofa tepat di hadapan wajahnya.
Jika boleh jujur, ingin sekali rasanya Ha Na menendang kakinya yang sangat tidak sopan itu. Atau bila perlu ia gigiti saja sampai bentol-bentol. Argh, sungguh rasanya mengesalkan sekali harus merendahkan diri seperti ini di hadapannya. Tapi apa boleh buat, Ha Na harus melakukan ini demi kesejahteraan hidupnya kedepannya nanti.
“Wah, wah. Kau memang gadis yang sangat mengejutkan, Lee Ha Na ssi,” ucap Min Yeong Gi dengan seringai mengejek.
Ha Na mengembuskan napas halus, berusaha tetap sabar.
“Maafkan aku,” jawabnya terpaksa. “Aku tidak seharusnya menendang dan menamparmu kemarin. Dan soal ucapanku yang tadi malam itu ... eh, aku hanya emosi. Jadi kumohon jangan di ambil hati. Aku sangat suka bekerja di sini, dan aku juga sangat membutuhkan pekerjaan ini. Kuharap kau mau memaafkanku dan tidak memecatku.”
“Begitu?” sahut Yeong Gi menggoda. “Tapi kau masih berhutang dua kesalahan besar padaku. Bagaimana kau akan membayarnya?”
Ha Na terpaku. Ia bingung harus menjawab apa. Kalau ia menawarkan biaya ganti rugi, ia tentu tidak punya cukup uang. Untuk biaya hidup sehari-hari saja sudah sangat pas-pasan. Ha Na pun menghela napas sekali lagi, kemudian menjawab tanpa ragu. “Kau boleh meminta dua hal padaku, aku akan mengabulkannya.”
Bola mata Yeong Gi sedikit terbuka mendengar jawaban Ha Na barusan. “Sungguh? Bagaimana kalau aku meminta sesuatu yang agak kurang ajar? Apa kau akan tetap mengabulkannya?”
Deg! Ha Na benar-benar lupa kalau ia tengah berhadapan dengan pria m***m. Gawat, ia harus menjawab apa sekarang? Masa mau menarik kembali perkataannya yang tadi itu? Bisa-bisa Yeong Gi malah akan semakin tidak mau memaafkannya.
“Sudah kuduga. Kau pasti tidak akan mau,” kata Yeong Gi lagi. “Kalau begitu apa yang bisa kuminta darimu? Rasanya tidak ada yang menarik dalam hidupmu.”
Huft! Rasanya emosi Ha Na jadi kembali meningkat mendengar ejekannya barusan. Sampai tak sadar mulutnya mengatakan sesuatu yang harusnya tak boleh ia ucapkan jika sedang berlutut memohon ampun seperti sekarang ini.
“Hah, apa tidak ada hal lain yang lebih menarik bagimu selain sesuatu yang berbau m***m? Dasar menjijikkan!”
Yeong Gi terbelalak kesal. Ia bahkan sampai berdiri dari duduknya. Sementara Ha Na yang baru menyadari perkataan lancangnya barusan, ia hanya bisa memukul-mukul pelan bibirnya sambil merutuk dalam hati, betapa bodohnya dirinya ini.
“Kau tahu, hutangmu padaku telah bertambah satu lagi setelah kau mengucapkan kalimat itu.” Yeong Gi berkata sinis pada Ha Na. Sorot matanya terlihat begitu tajam nan menusuk.
“Ke-kenapa begitu?” Ha Na berusaha mengelak. “A-aku mengucapkan kata-kata itu 'kan karena kau sendiri yang memancing amarahku. K-kau sudah merendahkanku! Tidak ada wanita yang akan diam saja ketika diperlakukan seperti itu.”
“Cih, aku tidak mau tahu. Pokoknya sekarang hutangmu jadi ada tiga. Kau harus tetap membayarnya sesuai dengan perkataanmu sebelumnya.”
“Apa? Kau jangan—”
“Yeong Gi-ya, kau ....” Sura seseorang yang tiba-tiba membuka pintu memutus perkataan Ha Na. Keduanya pun menoleh, dan mendapati seorang pria berpakaian serba tertutup tengah berdiri di sana. Ia juga tampak terkejut melihat keberadaan Lee Ha Na yang tengah berlutut di hadapan Yeong Gi.
“Ada apa ini?” Ia bertanya dengan tatapan penuh selidik.
“Hyung, kenapa kau kesini?!” Yeong Gi terdengar protes.
Ha Na menatap keduanya bergantian dengan mata menyipit. ‘Dia memanggilnya hyung?’ batinnya bertanya-tanya. Ha Na pun kemudian menatap sosok asing yang dipanggil ‘hyung’ oleh Min Young Gi itu, wajah dan suaranya agak familiar baginya. Sepertinya ia cukup sering melihat dan mendengar suara ini. Tapi dimana?
Ha Na terus menatap pria itu sambil bertanya-tanya dalam hati, siapa dia. Hingga kemudian dia membuka masker dan topi yang semula menutupi wajahnya, barulah Ha Na ingat siapa pria itu. Ia pun langsung terbelalak terkejut. Ya, itu Min Yeong Nam. Penyanyi solo yang terkenal itu! Ye Rim bahkan sangat mengidolakannya. Tapi kenapa Yeong Gi memanggilnya ‘hyung’? Sebenarnya Yeong Gi ini siapanya Yeong Nam?
‘Min Yeong Gi, Min Yeong Nam, nama mereka ‘kok agak ....' batin Ha Na menerka-nerka. Dan detik berikutnya, bola matanya pun mendelik sempurna. ‘Gosip itu! Penyanyi Min Yeong Nam 'kan memang anak dari Direktur Min dan aktris Nam Chun Ae. Berarti memang benar kalau pria m***m itu juga anak Direktur Min dari hasil perselingkuhannya dengan salah satu staf hotel?! Dan lagi, dia memanggil Yeong Nam-oppa dengan sebutan hyung?! Wah ... aku ini beruntung atau sial menyaksikan sendiri kebenaran dari gosip itu?’
Yeong Nam tampak memandang Ha Na bingung untuk sesaat, tapi kemudian kembali fokus pada Yeong Gi.
“Apa aku mengganggumu?” tanyanya pada Yeong Gi. “Aku perlu bicara sebentar denganmu.”
“Bicara saja di sini,” sahut Yeong Gi terdengar tidak senang.
Yeong Nam menatap ke arah Lee Ha Na sekali lagi. Raut wajahnya terlihat ragu.
“Tapi nanti dia akan mendengarnya,” ucap Yeong Nam memperingati. “Dan lagi sebenarnya kau sedang apa sih? Jangan bilang dia ....”
“Bukan!” sasar Yeong Gi cepat. “Dia hanya staf hotel yang agak kurang ajar denganku. Mangkanya dia berlutut seperti itu. Abaikan saja.”
Yeong Nam mendengus pasrah. Ia pun langsung mengatakan tujuannya kemari. “Baiklah, aku kesini hanya untuk mengingatkanmu kalau kau ada janji kontrol dengan Dokter Kang jam empat sore nanti. Kau jangan sampai lupa atau sengaja tidak datang lagi. Ah, Dokter Kang juga memperingatiku di telepon, katanya kalau kau terus-terusan tidak meminum obatmu, dia akan menambah dosis—”
“Hyung!” Yeong Gi tiba-tiba berseru memperingati Yeong Nam yang bicara terlalu cepat. Masalahnya ada Lee Ha Na di ruangan ini. Gadis itu pasti sudah mendengarnya. Yeong Nam pun segera sadar dan menutup mulutnya.
“Ah, maaf, sepertinya aku bicara terlalu cepat,” sesalnya. “Tapi jangan salahkan aku. Kau yang memintaku untuk mengabaikannya.”
“Ck!” Yeong Gi merengut sebal. Ia kemudian menatap ke arah Lee Ha Na dan berkata padanya, “Kau boleh pergi.”
“Apa kau memaafkanku?”
“Ya, ya, ya,” jawab Yeong Gi sambil menggiring tubuh Ha Na keluar dari ruangannya. “Tapi ingat, kau tetap berhutang tiga hal padaku yang akan kau bayar dengan mengabulkan permintaanku. Aku akan menggunakannya nanti. Sekarang kau pergi saja.”
Ha Na mendelik protes. “Tapi aku tidak mau kau—”
“Tenang saja,” potong Yeong Gi yang sudah mengerti arah pembicaraan Ha Na. “Aku tidak akan meminta yang aneh-aneh darimu. Sekarang kumohon kau pergilah.”
Brak! Yeong Gi menutup pintu dengan kasar setelah Ha Na benar-benar sudah keluar dari ruangannya. Gadis itu pun memaki kesal.
Tapi disisi lain, Lee Ha Na jadi bertanya-tanya, apa sebenarnya yang tengah mereka bicarakan tadi? Yeong Nam menyebut kata ‘dokter’, ‘kontrol’ dan 'obat', apa Yeong Gi sakit? Kalau benar, dia sakit apa?
“Ah, kenapa aku jadi sibuk memikirkannya?!” seru Ha Na memperingati dirinya sendiri setelah sadar kalau ia tengah memikirkan hal yang sangat tidak perlu. “Mau dia sakit atau tidak, itu sama sekali bukan urusanku!”
Ia pun berjalan menjauh dari ruangan Yeong Gi, bersiap untuk kembali bekerja.
•••