Wanita yang Menarik

2309 Kata
Malam hari adalah waktu terburuk bagi Yeong Gi. Rasa cemas dalam dirinya mulai meningkat pesat, membuatnya merasa tidak karuan dan serba salah. Jika kebanyakan orang ingin tidur di malam hari, Yeong Gi tidak. Ia malah selalu berusaha keras untuk tetap terjaga. Bagi Yeong Gi, tidur adalah hal yang sangat mengerikan. Bayangan mimpi buruk yang selalu hadir di setiap malamnya benar-benar membuatnya takut untuk tertidur. Orang-orang itu ... keluarganya yang bahkan tidak bisa disebut sebagai keluarga, entah kenapa bayang-bayang mereka selalu berputar-putar di kepalanya ketika malam mulai menyingsing. Padahal mereka bukanlah orang-orang yang pantas untuk ia pikirkan. Merekalah yang telah membuatnya jadi seperti ini. Karena itulah Yeong Gi selalu pergi ke tempat ini hampir setiap malam, berharap agar suasana yang dipenuhi dengan aura kesenangan ini dapat merambat ke dalam dirinya, menghilangkan segala beban rasa cemas berlebihan yang menghantui dirinya. Ya, kelab malam. Dari pada harus meminum obat secara rutin sesuai arahan dokternya, menurut Yeong Gi pergi ke kelab terasa jauh lebih ampuh untuk mengobati dirinya. Apa lagi dengan ditemani beberapa botol alkohol yang membuat bebannya seakan melayang entah kemana, kemudian membuatnya bisa tertidur pulas tanpa harus bermimpi. Ini sempurna. Yeong Gi duduk termenung di pojok ruangan yang sudah ia sewa. Pandangannya menyorot ke arah lantai dansa yang sudah dipenuhi dengan orang-orang yang tengah bergembira ria. Tangannya mengangkat gelas bir-nya, kemudian meminumnya. Ah, rasanya menenangkan sekali. Padahal ia selalu melakukan ini hampir tiap malam, tapi rasanya masih belum membosankan juga. Mungkin karena hal ini sudah terlanjur menjadi candu untuk mengobati beban mentalnya. Tapi biarlah, ia tidak peduli. Yang penting dirinya merasa tenang. Sekali lagi Yeong Gi menenggak gelas bir-nya, kali ini sampai tak bersisa setetes pun. ‘Ah, benar-benar nikmat,’ batinnya merasa puas. Dituangkannya lagi isi dari botol bir yang berdiri di atas meja kaca di hadapannya, tapi ternyata sudah kosong. Yeong Gi pun memeriksa empat botol lain, tapi sama saja, semuanya juga sudah kosong. ‘Cepat sekali habisnya,' batinnya lagi agak terkejut. Ia pun celingak-celinguk ke sekitarnya, dan langsung melambaikan tangan ketika seorang pelayan wanita berseragam hitam putih super ketat tengah melintas di hadapannya. “Tolong berikan tiga botol bir lagi,” katanya pada pelayan itu. Sang pelayan mencatat pesanannya dengan memberikan senyum manis di bibirnya. “Kau mau tambah snack, Tuan?” Yeong Gi tersenyum miring mendengar itu. Matanya menatap nanar wanita di hadapannya, lidahnya terjulur ke samping, membuat pipinya mengembung sebelah. “Bagaimana kalau kau saja yang menjadi snack-ku?” godanya sambil memegang tangan sang pelayan dan menciumnya lembut. Pelayan wanita itu segera menarik tangannya sehalus mungkin. Ia kemudian menjawab, “Jika itu yang kau inginkan, kau selalu bisa memesan menu spesial di tempat kami, Tuan. Kau tahu maksudku, bukan?” Setelah mengatakan itu, sang pelayan wanita pun segera pergi dari hadapan Yeong Gi. Sementara Yeong Gi sendiri, ia tertawa kecil seraya bergumam, “Wanita yang ramah. Tidak menarik.” Yeong Gi kembali menyandarkan tubuhnya pada sofa. Kakinya ia naikkan ke atas meja, matanya terpejam. Gara-gara kejadian tadi, ia jadi teringat kembali pada peristiwa saat ia mabuk berat di toilet gedung ini kemarin malam. Wajah panik sang pelayan wanita yang tidak sengaja hampir menjadi korbannya itu terus terbayang-bayang dalam ingatannya. Yeong Gi bahkan masih ingat betul bagaimana wanita itu mendorongnya hingga jatuh ke lantai, tidak menolongnya sama sekali. “Wanita yang kejam,” gumamnya sambil tersenyum, sementara matanya masih tetap terpejam. “Sangat menarik.” ••• Lee Ha Na berdiri gusar di dalam bar tempatnya berjaga. Sambil membuat minuman pesanan orang-orang yang tengah duduk melingkari meja bar, matanya terus melirik kesana kemari, takut kalau seseorang yang sangat tidak ingin ditemuinya tiba-tiba datang dan mengganggunya yang sedang bekerja saat ini. Jam sudah menunjukkan pukul dua malam. Syukurlah apa yang Ha Na khawatirkan tak kunjung terjadi. Baguslah, pikir Ha Na, cukup di hotel saja orang itu mengganggunya, jangan di sini juga. Setidaknya Ha Na ingin tenang dari bayang-bayang pria itu ketika sedang bekerja, walau sebenarnya ia juga tidak akan bisa tenang jika bekerja di tempat yang dipenuhi dengan orang-orang mabuk seperti di tempat ini. “Hah! Menjijikkan!” seru seseorang tiba-tiba. Ha Na pun terkesiap dan langsung menoleh ke arahnya yang baru saja masuk ke dalam bar. Ternyata itu Han Ye Rim. “Kau kenapa?” tanya Ha Na setelah ia memberikan pesanan minuman kepada pelanggan. Ye Rim memperlihatkan sebuah kertas catatan pesanan pada Ha Na. Gadis itu pun segera menyiapkannya di atas nampan, kemudian memberikannya pada Ye Rim. “Huh! Malas sekali rasanya menemui pria b******k itu lagi,” geram Ye Rim ketika menerima nampan berisi tiga botol bir pesanan seorang pria yang menyewa table di pojok sana, Yeong Gi. “Dia melakukan sesuatu padamu?” tanya Ha Na cemas. “Ya, dia mengatakan sesuatu yang menjijikkan padaku. Dia bahkan mencium tanganku! Benar-benar lancang!” rutuk Ye Rim lagi. “Biar kutebak, kau pasti tidak melawan. Iya 'kan?” Ha Na menyindir. “Mana bisa aku melawan? Aku tidak mau dipecat dari pekerjaan ini walau sebenarnya aku tidak menyukainya. Kalau aku punya pekerjaan tetap sepertimu sih tidak apa!” Ha Na hanya tertawa kecil mendengar rutukan temannya itu. Ia kemudian mengambil nampan yang sedari tadi hanya di genggam Ye Rim tanpa di antar. “Biar aku saja yang mengantar,” ucapnya menawarkan diri. “Eh, tapi ....” Ye Rim merasa tidak enak. “Tidak apa, sebenarnya aku juga sedang ingin cepat-cepat pergi dari sini.” “Kenapa?” Ha Na menoleh ke sekelilingnya dengan raut wajah yang tampak gusar. Ye Rim pun menatapnya bingung. “Eh, sebenarnya kemarin aku mengalami kejadian tidak mengenakkan ketika pergi ke toilet,” jawab Ha Na menjelaskan. “Aku bertemu dengan seorang pria mabuk yang hampir menciumiku! Dan kau tahu siapa dia? Ternyata dia adalah calon direktur penerus hotel tempatku bekerja.” Ye Rim langsung melotot terkejut sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. “Sungguh?! Kebetulan macam apa itu?!” pekiknya. “Ya, aku saja sampai tidak habis pikir. Dan kau tahu apa yang membuatku gusar saat ini?” “Apa?” “Aku takut sekali dia datang lagi ke tempat ini untuk mencariku,” sambung Ha Na. “Karena hal terakhir yang kulakukan padanya benar-benar buruk.” “Apa itu?” Ye Rim semakin penasaran. “Aku menendang kemaluannya.” Sekali lagi Ye Rim melotot terkejut. Bahkan yang kali ini lebih lebar dari sebelumnya. “Apa kau gila?!” serunya cukup keras. “Sssttt!!!” Ha Na langsung memperingatinya untuk tidak berisik seperti itu. Ye Rim pun langsung menutup mulutnya merasa bersalah. Ye Rim memandang orang-orang yang tengah duduk di meja bar, mereka tampak memperhatikannya dengan ekspresi mengejek. Ia pun langsung tertunduk malu. “Mulutmu ini, kenapa berisik sekali, sih?!” protes Ha Na. Sementara Ye Rim hanya menyengir padanya sambil meminta maaf. “Ya sudah, aku antar ini dulu,” kata Ha Na lagi. “Kau ingat ya, kalau ada orang yang menanyakan aku, kau jangan katakan aku ada di mana. Oke?” “Siap, Bos!” seru Ye Rim mengerti seraya berlagak hormat. Ha Na pun bergerak meluncur mengantar pesanan, tanpa tahu siapa orang yang akan ia hadapi sebenarnya. ••• Sepuluh menit telah berlalu. Pesanan bir yang Yeong Gi minta belum juga diantar oleh sang pelayan. Tapi walau begitu ia tetap menunggunya dengan sabar, masih dengan posisi bersandar pada sofa dengan mata terpejam dan kaki yang menangkring di atas meja. Lima menit lagi kembali berlalu, kini suara derap langkah sepatu khas kepunyaan para pelayan mendarat di telinganya. Sepertinya pesanannya sudah datang. Namun Yeong Gi tetap tidak bergeming dari posisinya, ia menunggu sampai terdengar suara gemerincing botol yang beradu dengan meja kaca yang ada di hadapannya. Ya, ia memutuskan untuk tidak mengganggu pelayan itu lagi. Toh dia sama sekali tidak menarik bagi Yeong Gi. Namun anehnya, setelah beberapa detik berlalu sejak suara langkah sepatu sang pelayan sudah tak terdengar lagi, pesanannya tak kunjung ditaruh di atas meja. Yeong Gi pun membuka matanya penasaran. Dan saat itu juga, seulas senyum merekah di bibirnya. Ya, hal pertama yang dilihat Yeong Gi ketika ia membuka matanya adalah ekspresi keterkejutan seorang pelayan wanita yang sudah sangat familiar baginya. Tubuhnya yang dibalut seragam hitam putih super ketat tampak mematung di hadapannya. Ah, sungguh, ia benar-benar lupa kalau wanita ini juga sedang bekerja di tempat ini saat ini. Bodoh sekali. Kalau ia ingat 'kan ia bisa membalaskan dendamnya sedari tadi. “Panjang umur,” katanya. “Aku baru saja memikirkanmu.” Wanita itu, yang tidak lain adalah Lee Ha Na, ia segera menetralkan diri lalu kemudian meletakan nampan pesanan Yeong Gi di atas meja. Namun kaki pria itu yang sedari tadi menangkring di atas sana malah menendang botol-botol yang ada di dekatnya, membuat suara gemerincing yang berisik saat berjatuhan. “Oops, maaf,” ucapnya pura-pura merasa bersalah. Ha Na berdecak kesal. Mau tidak mau ia terpaksa mendudukkan tubuhnya, meletakkan botol-botol kosong yang ada di sana ke atas nampan yang semula digunakan untuk membawa pesanan pria di hadapannya ini. “Pelayan yang sebelumnya selalu tersenyum padaku,” ucap Yeong Gi lagi mencoba berbicara pada Ha Na. Namun sayangnya gadis itu tetap tidak menggubrisnya sama sekali. Yeong Gi yang merasa sedikit tertantang dengan ketidak pedulian gadis di hadapannya ini, tangannya terangkat dan segera melepas gelungan rambut panjangnya. Ha Na pun refleks meraih tangan Yeong Gi, lalu melemparnya dengan kasar. “Jangan coba-coba menyentuhku!” serunya tegas sambil menatap tajam pria di hadapannya. Yeong Gi tersenyum miring. “Kau harus sopan pada pelanggan ... Lee HaNa.” Ha Na melirik Yeong Gi sesaat, lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Setelah selesai berkutat dengan botol-botol bir yang berserakan itu, ia segera berdiri dan buru-buru berbalik menjauh. Tapi terlambat. Yeong Gi sudah lebih dulu menghentikannya dengan cara menarik rok pendeknya. Hal itu membuat Ha Na terpaksa menghentikan langkahnya. Ya, ia tidak mau rok pendeknya sampai terangkat dan mempertontonkan apa yang ada di baliknya, terlebih kepada pria semacam Yeong-Gi. Dan lagi, sialnya ia juga tidak bisa mengelak atau melawan karena kedua tangannya sedang sibuk membawa nampan berisi lima botol kosong yang cukup berat jika hanya dibawa dengan satu tangan. Ia tidak mau menjatuhkannya dan menimbulkan keributan yang nantinya akan menyita perhatian banyak orang. Ha Na pun menggeram pelan. “Lepaskan!” Tapi dasar Yeong Gi, bukannya buru-buru melepaskan rok Ha Na, ia malah mengancam balik gadis itu dengan mengisyaratkan padanya untuk duduk di sampingnya jika ia ingin roknya di segera di lepaskan. Ha Na menghela napas kasar. “Tidak bisa. Aku sedang bekerja,” ucapnya berusaha sesabar mungkin. Tapi Yeong Gi tidak menyerah. Ia terus menatapnya tajam sambil mengencangkan cengkeramannya pada rok Ha Na. Hal itu tentu saja membuat gadis itu mau tidak mau menuruti permintaannya jika tidak ingin pria itu melakukan tindakan yang lebih parah lagi. Ha Na meletakkan nampan bawaannya di meja setelah ia duduk di sebelah kiri Yeong-Gi. Pria itu terlihat tersenyum puas saat ini. “Kau mau apa, sih?!” tanya Ha Na kesal. “Kenapa kau selalu menggangguku?!” “Sudah kubilang aku tertarik padamu. Kenapa kau belum mengerti juga?” Ha Na mendengus kesal. Ia tidak habis pikir dengan pria satu ini, memangnya apa yang membuatnya tertarik dengan gadis yang biasa-biasa saja sepertinya? Banyak wanita di luar sana yang jauh lebih cantik darinya, tapi kenapa pria ini selalu mengusiknya? Ha Na benar-benar ingin membunuhnya saja rasanya. Sementara Ha Na hanya terdiam, Yeong Gi membuka botol bir dan menuangkannya ke gelas, lalu meminumnya perlahan. Ha Na menatapnya tajam. “Kau mau?” tanya Yeong Gi menawarkan. Ha Na tersenyum miring. “Kau menjijikkan!” “Aku hanya minum. Hampir semua orang dewasa di negara ini terbiasa dengan minuman beralkohol,” jawab Yeong Gi santai. Gadis itu semakin menatapnya dengan pandangan jijik. Yeong Gi pun tidak terima. “Bisakah kau berhenti menatapku seperti itu?” “Kau mau apa dariku?” Ha Na balik bertanya tanpa menggubris perkataan Yeong Gi. Pria itu menatapnya dalam dengan senyum miring yang tak pernah luput terhias di wajahnya. “Aku ingin kau membayar perbuatanmu padaku yang tadi sore itu,” jawab Yeong Gi penuh maksud. Deg! Jantung Ha Na mulai berdebar tidak karuan ketika Yeong Gi menyindir kejadian saat ia hampir menghancurkan masa depannya. Ha Na pun mulai gugup, ia benar-benar takut pria di hadapannya ini akan menuntutnya atau memanfaatkan situasi ini untuk melecehkannya. Tak sadar, gadis itu pun mulai menggigiti kuku jarinya gelisah. “A-aku ... harus bagaimana membayarnya?” tanya Ha Na gugup, tapi tetap berusaha terdengar setegas mungkin. “K-kau ingin aku mengganti rugi? Ka-katakan saja, a-aku akan membayar berapa pun juga agar kau tidak menggangguku lagi!” “Cih, memangnya kau punya uang berapa banyak?” sindir Yeong Gi sambil tertawa mengejek. “Kau hanya seorang staf hotel dan pelayan bar. Uangmu tidak berguna untukku.” Mendengar itu, Ha Na memandangnya sebal. “Lalu aku harus bagaimana? Cepat katakan! Aku tidak ingin lebih lama lagi berurusan dengan orang sombong dan tidak tahu diri sepertimu.” “Ugh, kasar sekali,” sindir Yeong Gi lagi. Sementara Ha Na hanya terus menatapnya tajam tanpa menggubrisnya. Yeong Gi pun kembali berkata, “Jika kau tidak ingin aku menuntutmu ....” Yeong Gi menggantungkan kalimatnya. Ia menatap Ha Na sambil tersenyum penuh maksud. Ia pun melanjutkan, “... kau harus menciumiku.” Mendengar itu, Ha Na langsung berdiri dari duduknya. Ia menatap Yeong Gi dengan tatapan penuh amarah. “Apa kau gila?!” Ia berseru marah. “Ada apa? Itu hanya sebuah ciuman,” ucap Yeong Gi santai. “Aku bahkan biasa melakukan hal yang lebih jauh lagi. Atau kau mau membayarnya dengan itu? Ah, bagaimana kalau kita melakukannya di Hotel Sky?” Plak! Ha Na menampar Yeong Gi dengan kerasnya begitu pria itu selesai mengucapkan kata-kata yang terasa begitu merendahkannya. Yeong Gi pun terkejut untuk sesaat, tapi kemudian kembali tersenyum dan menatap Ha Na nanar. “Kau berhutang satu lagi padaku, Lee Ha Na ssi. Kini kau benar-benar harus membayarnya atau aku akan—” “Atau kau akan menuntutku?! Silahkan saja, aku sudah tidak peduli lagi! Kau mau pecat aku dari hotel sialan itu pun aku tidak akan keberatan!” Ha Na berseru ketus. “Mungkin aku memang harus keluar dari pekerjaan itu agar tidak bertemu lagi dengan pria menjijikkan sepertimu.” Setelah mengucapkan itu, Ha Na segera pergi dari hadapan Yeong Gi. Sementara Yeong Gi sendiri, ia terlihat tertawa puas setelah berhasil memancing emosi gadis itu. “Kau memang wanita yang sangat menarik, Lee Ha Na ssi,” gumamnya. Yeong Gi pun kembali beralih pada gelas minumannya dan menenggaknya habis. 'Ah, suasana hatiku jadi terasa jauh lebih baik berkat kau,' batinnya sambil tersenyum tulus. ‘Sepertinya aku bisa tidur dengan tenang malam ini, karena kepalaku sudah terisi penuh oleh bayang-bayangmu.’ “Terima kasih, Lee Ha Na,” gumamnya lagi tanpa sadar. “Untuk sejenak kau telah menjadi obat terampuh dalam mengobati rasa sakitku.” •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN