Lee Ha Na membasuh wajah dengan air segar di wastafel. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, hah ... tampak kacau. Riasan wajahnya sudah meluntur, anak rambut di sekitar pangkal dahi dan cuping telinganya juga tampak kusut akibat terkena air. Dadanya naik turun, sorot matanya terlihat jelas dipenuhi dengan beban yang ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menjabarkannya.
Gadis itu menghela napas lelah, pikirannya melayang-layang mengingat kembali pertemuan beberapa menit lalu di lobi hotel. Sungguh, ia benar-benar tidak menyangka akan bertemu lagi dengan pria m***m yang pernah ditemuinya di toilet kelab malam tempatnya bekerja paruh waktu. Parahnya lagi, pria itu adalah calon direktur pimpinan di hotel ini?! Yang benar saja! Kenapa dunia sempit sekali?!
“Apa kabar, semuanya ....” Ha Na masih ingat betul saat Direktur Min tersenyum menyapa para staf hotel yang menyambutnya dengan hangat. Itu adalah kali pertama Ha Na melihat sosok sang direktur pemilik Hotel Sky setelah dua tahun ia menjadi pegawai tetap di hotel ini. Kesan pertama yang ia lihat darinya adalah, dia orang baik. Nada suaranya begitu lembut dan menenangkan, berbeda sekali dengan sosok pria urakan di samping Direktur Min yang malah sibuk cengengesan sendiri. Benar-benar tidak sopan.
“Terima kasih kuucapkan pada kalian semua yang telah bekerja keras memajukan nama Hotel Sky, membuatnya menjadi besar seperti sekarang ini.” Direktur Min berpidato tanpa melunturkan senyum di wajahnya. “Di usiaku yang sudah setua ini, tentu saja aku harus memperkenalkan calon pimpinan baru kalian yang nantinya akan menggantikanku membangun kemajuan Hotel Sky.”
Direktur Min menoleh pada pria muda yang sedari tadi tengah sibuk menatap Ha Na tanpa berkedip, sambil memberikan seulas senyum miring yang terkesan penuh maksud.
Sorot matanya ... Ha Na masih ingat betul dengan sorot mata pria itu ketika menatapnya. Begitu mengintimidasi, seakan-akan dia telah menemukan mangsanya dan siap menerkam kapan saja. Benar-benar mengerikan. Ha Na bahkan sampai dibuat tertunduk olehnya, karena tidak sanggup bertatapan dengan mata itu.
“Ehm!” Direktur Min berdeham mengisyaratkan pria itu untuk fokus. Ia kemudian kembali tersenyum ramah pada para staf yang tengah berbaris di hadapannya.
“Perkenalkan calon penerus hotel Sky, Min Yeong Gi,” katanya lagi. Semua menunduk khidmat pada pria urakan itu. Bahkan termasuk Ha Na. Ya, habis mau bagaimana lagi, ia terpaksa melakukan itu walau sejujurnya hatinya menolak keras untuk menghormati pria semacam dia.
“Halo semuanya,” ucap pria itu dengan nada datar, memberi sambutan. “Kalian pasti bertanya-tanya siapa aku, bukan? Sayangnya aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu untuk saat ini.”
“Ehm!” Direktur Min kembali berdeham memperingati.
Yeong Gi hanya menatapnya acuh sejenak, lalu kemudian kembali melanjutkan bicaranya. “Ah, asal kalian tahu, tadinya aku malas sekali datang kesini. Tapi setelah melihat para staf yang cantik-cantik dan tampan-tampan seperti kalian, tiba-tiba aku merasa jadi lebih bersemangat.”
Yeong Gi menatap ke arah Ha Na penuh maksud, gadis itu pun lagi-lagi hanya bisa tertunduk dalam. Padahal sebenarnya dalam hatinya ia menjerit, ingin sekali rasanya meninju wajah menyebalkan itu. Lihat saja, apa dia sengaja melakukan ini padanya untuk memperingatinya? Sebenarnya apa yang Yeong Gi inginkan darinya?
“Kalau begitu ...,” sambung Yeong Gi lagi. “... bagaimana kalau mulai sekarang aku datang setiap hari kesini? Wah ... aku jadi sangat tidak sabar untuk bekerja sama dengan kalian.”
Semua staf tampak tersenyum sambil bertepuk tangan kecil. Sementara Ha Na, untuk ke sekian kalinya ia terpaksa melakukan suatu hal yang benar-benar tidak ingin dilakukannya. Ya, ia harus melakukan itu jika tidak ingin orang-orang curiga padanya karena pria sialan itu terus menatapnya tiada henti.
Ha Na mengerjapkan matanya, kemudian mendesah lelah. Ya, ia telah kembali pada dirinya yang tengah berada di toilet saat ini, menatap pantulan wajahnya yang tampak memancarkan aura kemarahan. Tak sadar tangannya terkepal rapat, matanya melotot marah pada dirinya sendiri di cermin.
“Min Yeong Gi!” gumamnya menggeram pelan tanpa sadar. “Aku akan membunuhmu!”
Tapi tiba-tiba ...
“Wow! Aku akan dengan senang hati menunggu itu ....” Seorang pria yang tampak tidak asing tengah berdiri di depan pintu masuk toilet sambil menyembunyikan tangan di saku. Ia kemudian melanjutkan dengan sarkas, “... kalau kau bisa.”
Ha Na menoleh dan bergerak mundur ketika menyadari siapa yang menjawabnya. Ya, itu Min Yeong Gi. Ha Na mengutuk diri dalam hati, kenapa lagi-lagi ia harus dipertemukan dengannya? Kenapa dia seperti hantu yang terus menerornya? Ha Na mulai merasa muak dengan pria itu.
“Kau ...,” ucap Ha Na sambil menatap Yeong Gi penuh amarah. “Kenapa kau selalu muncul di hadapanku? Kau mau apa dariku?”
Yeong Gi terlihat tertawa miring. Ia kemudian mengedikkan bahunya.
“Entahlah,” jawabnya santai. “Hanya saja ... kau tampak menarik di mataku.”
Yeong Gi mulai berjalan masuk ke dalam toilet, mendekati Ha Na. Gadis itu pun terus bergerak mundur waspada. Dadanya terlihat naik turun, jantungnya sudah berpacu cepat bukan main.
“Ma-mau apa kau? I-ini toilet wanita! Pergi!” Ha Na berusaha terdengar tegas. Tapi sayangnya itu malah membuat Yeong Gi semakin tertantang untuk mendekat padanya.
“Siapa peduli?” jawabnya. “Bukankah kau sudah dengar siapa aku? Memangnya siapa yang akan berani mencegatku masuk ke dalam toilet wanita?”
Ha Na terpaku. Ya, dia benar. Tidak ada seorang pun yang berani mencegat seorang penerus direktur untuk melakukan perbuatan apa pun yang dia mau di hotel ini. Sialan! Ha Na benar-benar dibuat tak bisa berkutik oleh pria bernama Min Yeong Gi itu. Dan lagi kini jarak pria itu hanya tinggal dua langkah saja darinya, Ha Na pun sudah tidak bisa mundur lagi. Tubuhnya sudah mentok di dinding.
Mata Yeong Gi bergulir ke bawah, menatap pin nama yang ada di sebelah kanan seragam Ha Na, lalu kemudian kembali tersenyum miring. 'Lagi-lagi senyum itu,' batin Ha Na semakin resah. 'Kenapa dia selalu tersenyum mengerikan seperti itu? Apa yang dia inginkan dariku?'
“Lee Ha Na.” Yeong-Gi bergumam membaca nama Ha Na. Gadis itu pun sontak menyilangkan tangan di d**a.
“Jangan melihat dadaku!” serunya tegas.
Mendengar itu, Yeong Gi tertawa pelan sambil menatap Ha Na tajam. Ia kemudian memajukan kepalanya sampai wajahnya hanya tinggal berjarak lima senti saja dari wajah gadis itu.
“Menurutmu aku sedang memandangi dadamu?” gumamnya pelan, lebih seperti mengejek. “Wah, kau m***m sekali.”
Ha Na langsung melotot padanya ketika dikatai seperti itu. Ia mencibir tidak senang.
“Ya! Kau pikir kau siapa, mengataiku begitu?!” Ha Na berseru pelan nan menusuk. “Kau lupa dengan apa yang telah kau perbuat padaku tadi malam? Sekarang gara-gara siapa aku jadi berpikiran negatif tentangmu?”
“Oh, kau dendam rupanya.” Yeong Gi mengejek.
Ha Na mengepalkan tangannya erat melihat Yeong Gi terus berbuat seenaknya padanya. Karena tak kuasa menahan kesal, ia pun menendang kemaluan pria itu dengan lututnya, lalu bergegas pergi meninggalkannya.
Sementara Yeong Gi, pria itu meringis kesakitan, tak sempat mengejar Ha Na karena terlalu sibuk menahan rasa ngilu yang berpusat di bagian organ intimnya. Ia menggeram marah, tapi langkahnya masih terasa begitu berat lantaran menahan rasa sakit yang tiada tara di bagian tengah sana.
Tapi kemudian ia tersenyum miring. Pandangannya menatap lurus ke arah pintu yang dilewati Ha Na barusan.
“Lee Ha Na ...,” gumamnya. “... kau benar-benar gadis yang menarik. Lihat saja nanti, kupastikan aku akan membalas perbuatanmu yang barusan.”
•••
Di sebuah ruangan bernuansa cream dengan cahaya kekuningan, seorang pria paruh baya tengah duduk menyilangkan kaki di sofa merah yang ada di tengah ruangan. Tak lama kemudian, seorang pria muda masuk ke dalam, dengan menampilkan ekspresi yang sulit di artikan. Sang pria paruh baya itu, alias Min Seung Ho, ia menatapnya dalam dan teduh.
“Kau akhirnya mau datang kesini. Terima kasih,” ucapnya tulus.
Sang pria muda, yang tak lain adalah Min Yeong Gi, ia hanya menatap ayahnya malas, tak menjawab sama sekali. Ia bahkan tidak ikut duduk di sofa, malahan hanya berdiri bersandar di dinding sambil menggigiti kuku jarinya.
Seung Ho menunduk mengerti. Walau hatinya terasa sakit diacuhkan seperti itu oleh darah dagingnya sendiri, tapi ia tetap berusaha tegar. Ia cukup sadar, Yeong Gi bertingkah seperti itu padanya karena kesalahannya sendiri. Ia yang sejak awal mengasingkan Yeong Gi, menjadikannya orang lain, bahkan tidak memasukkan namanya ke dalam daftar kartu keluarga. Wajar jika putranya itu sangat membencinya saat ini.
Seung Ho menatap Yeong Gi lagi. “Apa kau serius dengan perkataanmu saat di lobi tadi?” tanyanya antusias. “Ayah akan benar-benar berterima kasih padamu jika kau memang akan serius menjadi penerus Ayah dalam menjalankan hotel ini.”
Yeong Gi berhenti menggigiti kuku jarinya. Ia menatap ayahnya tajam.
“Jangan terlalu percaya diri dulu,” jawabnya sarkas. “Aku mau kesini karena diminta oleh Hyung. Dan aku mengatakan yang tadi itu hanya main-main saja. Kau tahu, aku sedang menggoda seorang gadis yang menarik perhatianku.”
Seung Ho menatapnya sedih. Ia sadar betul kalau yang diucapkan putranya ini bukanlah kebohongan. Ia menyaksikannya sendiri tadi, ketika Yeong Gi hanya terus fokus memandang seorang staf wanita. Sebenarnya ia ingin protes dan memarahinya, tapi ia urungkan karena ia benar-benar tak ingin bertengkar dengan putranya yang satu ini untuk yang kesekian kalinya.
“Kenapa kau masih belum berubah juga?” tegur Seung Ho berusaha sehalus mungkin. “Berhentilah mempermainkan wanita, terlebih jika dia adalah salah satu staf Hotel Sky. Ayah tidak mau kau—”
“Kenapa?” Yeong Gi memotong perkataan ayahnya. “Ayah takut aku akan membuat skandal di hotel ini persis seperti skandal Ayah dengan Ibu dulu?”
Seung Ho terdiam membeku. Perkataan Yeong Gi benar-benar menohok dadanya tepat sasaran. Ya, dulu ia sempat jatuh cinta dengan seorang staf bernama Do Kyung Mi, padahal ia sudah menikah dengan istrinya Nam Chun Ae, dan Yeong Nam putra pertamanya masih berumur satu tahun pada saat itu. Tapi ia malah membuat skandal dengan Kyung Mi yang akhirnya melahirkan Yeong Gi dan membuatnya terpaksa harus menyembunyikan anak itu dari media karena tidak ingin kariernya hancur.
“Ayah diam? Cih, mangkanya tidak usah menceramahiku,” sindir Yeong Gi tajam. “Lagi pula Ayah harusnya sadar kalau buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Aku begini 'kan karena keturunan darimu.”
Deg! d**a Seung Ho mendadak naik turun ketika mendengar perkataan Yeong Gi barusan. Amarahnya mulai membuncah, tangannya terkepal rapat. Ia lalu menatap putranya itu tajam.
“Kau!” geramnya. “Ayah sudah berusaha halus padamu, tapi kau dengan lancangnya mengatakan hal seperti itu pada Ayah. Apa kau ingin mengujiku? Kau tahu 'kan, apa yang bisa kulakukan untuk menghentikanmu berbuat bodoh seperti ini?”
Mendengar itu, raut wajah mengejek yang tadinya terhias di wajah Yeong Gi mendadak luntur seketika. Ia memandang ayahnya penuh kebencian.
“Ayah mengancamku?” tanyanya dengan gigi yang terkatup rapat menahan emosi. “Kuperingatkan padamu, jangan sekalipun mengusiknya. Atau kau akan melihat namamu dan nenek sihir itu terpampang di halaman depan majalah gosip.”
Setelah mengucapkan itu, Yeong Gi bergegas pergi dari ruangan ayahnya, ia bahkan membanting pintunya cukup keras. Sementara Seung Ho, ia hanya bisa menatap kepergian putranya itu tanpa bisa berbuat apa-apa.
•••