I’m (Not) A Villain | 8

1114 Kata
*** Perdana mentri Basam baru saja keluar dari kediamannya setelah memikirkan sikap putri Aura yang menurutnya tampak aneh. Perdana mentri merasa Aura diam-diam telah merencanakan sesuatu di belakangnya. Namun, hingga detik ini perdana mentri Basam tidak tahu rencana apa itu, sehingga ia bermaksud meminta seseorang untuk membantunya. “Aston, cepat pimpin jalan untuk bertemu wanita licik itu!” perintah perdana mentri Basam kepada pengawal andalannya, Aston sang ahli pedang. Dia tak kalah hebat dari sang penjahat yang Basam utus untuk menghabisi putri Aura, yang berakhir menghilang entah ke mana. Aston mengerti maksud perdana mentri Basam. Segera ia menganggukkan kepala, lalu menuntun jalan perdana mentri Basam untuk menuju seseorang yang dia panggil sebagai wanita licik itu. Tidak ada yang tahu bahwa Basam memiliki seseorang yang bisa dirinya minta untuk menyelidiki istana secara diam-diam. Basam memiliki seseorang yang bisa dirinya suruh setiap waktu. Namun, Basam selalu saja berhati-hati menghadapi wanita licik itu karena menurutnya, si wanita licik bisa saja mengkhianatinya suatu hari nanti. Basam memang merasa beruntung memiliki wanita licik itu di sisinya. Dia cukup hebat dan licin, juga tidak ceroboh seperti penjahat suruhannya karena hingga detik ini si mata-mata tak juga ketahuan oleh istana. Tak perlu waktu lama, Aston berhasil membawa perdana mentri Basam dengan aman menemui wanita licik yang saat ini tersenyum sinis pada mereka. Wanita licik itu seolah telah lama menunggu kedatangan perdana mentri dan Aston. “Apa yang bisa kubantu, Perdana mentri?” tanya si wanita pada perdana mentri Basam. “Kau harus mencari tahu apa yang sedang putri Aura lakukan saat ini!” perintah Basam begitu ia bersitatap dengan pengkhianat lainnya di istana itu. Sang pengkhianat pun menganggukkan kepalanya dengan patuh. “Baiklah, aku akan mengurusnya dengan baik, Perdana mentri. Namun, kau harus berjanji memberiku imbalan sesuai dengan yang aku mau,” ucapnya. Basam berdecih mendengar itu. Basam enggan menyebut nama wanita licik yang diam-diam mengkhianati raja itu. Jika bukan karena Basam masih memerlukan wanita ini, mungkin Basam sudah menyingkirkannya lebih dulu. “Apapun yang kau inginkan akan segera kau dapatkan setelah aku membunuh tuan putrid an menempati tahta di seluruh istana!” ujar perdana mentri Basam dengan sangat percaya diri. Kekehan wanita licik di depannya pun terdengar setelah itu. “Kau yang terbaik, Perdana mentri. Serahkan padaku tuan putri tak tahu diri itu! Aku akan segera memberimu informasi mengenai apa yang diam-diam dirinya lakukan.” Basam percaya bila si pengkhianat ini bisa mendapatkan informasi mengenai putri Aura. Keberadaannya di istana dalam tentu saja bukan perkara mudah bagi seseorang. Menguntungkan bagi Basam karena wanita licik ini akhirnya bergabung bersamanya untuk menggulingkan raja. Namun, Basam juga tak akan mempertahankannya terlalu lama karena wanita licik ini bisa saja menjadi ancaman menurutnya. Basam bersumpah akan membunuh wanita ini bila waktunya sudah tiba. Sekarang si wanita istana dalam bisa tenang, sebab Basam masih membutuhkannya. “Aku akan pergi sekarang. Sebaiknya kau cepat menemukan informasi mengenai apa yang sedang putri Aura lakukan!” ujar Basam penuh peringatan. Dengan anggun sang pengkhianat kerajaan menganggukkan kepalanya. Lalu setelah itu, perdana mentri Basam meninggalkan tempat itu dengan segera. Tentu saja perdana mentri takut putri Aura melihat keberadaannya dan berujung curiga. Bisa-bisa seluruh rencana yang dirinya lakukan akan menjadi berantakan. Usai menemui pengkhianat kerajaan itu, Basam pun tak langsung kembali ke kediamannya. Basam memilih untuk memeriksa keadaan di istana. Ia juga melakukan pertemuan dengan beberapa pejabat tinggu yang menjadi pengikutnya. Perdana mentri Basam menceritakan kecurigaannya kepada para pengikutnya mengenai tuan putri Auraleia yang selalu saja menjadi ancaman akan rencana liciknya. “Jadi, apa yang harus kita lakukan, Perdana Mentri?” tanya salah satu pejabat tinggi yang menjadi pengikut setia perdana mentri Basam. “Kalian semua tidak perlu khawatir karena wanita licik itu akan segera mengetahui apa yang sebenarnya tuan putri Aura lakukan. Kita hanya perlu menunggu beberapa waktu lagi,” ucap Basam mencoba menenangkan orang-orangnya. “Apa kau yakin, Perdana mentri? Kau tahu sendiri siapa wanita licik itu bagi sang Raja,” Para pengkhianat kerajaan itu menyahut lagi. Kali ini dari orang yang berbeda. Perdana mentri Basam tersenyum sinis. Dirinya tentu tahu siapa wanita licik itu bagi raja negeri ini. Namun, karena alasan itu lah yang membuat sang wanita tampak aman selama ini. Semua orang tidak bisa mencurigainya karena dia salah satu kesayangan raja. Bahkan, putri Aura pun tak akan menyangka wanita itu salah satu pengkhianat istana. “Kalian tidak perlu khawatir. Aku tahu betul siapa wanita licik itu,” sahut Basam sembari terus tersenyum sinis. Wajah tuanya tak menyurutkan tatapan tajam penuh rencana jahat itu meredup. Basam masih terlihat baik-baik saja meskipun umurnya tak lagi muda. Basam masih mendapatkan kehormatan dan kepercayaan dari orang-orang yang mengikutinya. “Tugas kalian hanya satu yaitu membantuku menyiapkan pengkhianatan besar-besaran,” ucap Basam tanpa perasaan. Ia selalu menghasut orang-orangnya dengan iming-iming yang lebih baik dari apa yang raja berikan saat ini. Mereka yang bodoh benar-benar terhasut dan tunduk di bawah perdana mentri Basam yang penuh tipu muslihat. “Baiklah, Perdana mentri. Kami semua mempercayai dirimu sepenuh hati,” ucap salah satu dari pejabat itu. Ia mewakili semua orang yang ada di sana sebagai pembicara. Terbukti, hanya kelang beberapa detik, orang-orang di sana ikut menganggukkan kepala. Tanda setuju dengan ucapan itu. Sekali lagi Basam menyunggingkan senyum sinisnya. Ia suka kelompok ini karena mereka sangat penurut. Perdana mentri Basam merasa ia bisa mengatur orang-orang bodoh ini dengan mudah. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Basam pun pergi meninggalkan semua orang. Hanya Aston yang mengikutinya. Aston bertugas untuk melindungi perdana mentri dari ancaman apapun. Sungguh, Basam menyukai Aston, sebab pria itu tak hanya setia kepadanya, tapi juga setia pada rencana jahatnya. Sekalipun Aston tak pernah mengeluh karena Basam memerintahnya ini dan itu. Dibandingkan dengan wanita licik itu, perdana mentri Basam jauh lebih percaya pada Aston. Perdana mentri yakin sekali bahwa Aston akan menjadi orangnya selamanya. Aston tidak akan pernah melakukan pengkhianatan terhadapnya. Saat dalam perjalanan menuju kediamannya, Basam bertemu dengan tuan putri Aura yang memang sedang mencari keberadaannya. “Di sini kau rupanya, Perdana mentri,” tegur Aura sembari menyunggingkan senyum sinisnya. “Ada apa kau mencariku, tuan putri?” tanya Basam. Senyumnya juga tak kalah sinis dari Aura. Sudah Basam katakan bukan? Bahwa Aura adalah lawan yang tak bisa dirinya remehkan. Sebagaimana dia membenci putri Aura, seperti itu pula sang putri terhadapnya. Mereka benar-benar telah menjadi musuh abadi yang sama-sama berusaha untuk menggulingkan satu sama lainnya. Entah siapa yang akan menang, tetapi putri Aura tidak akan membiarkan perdana mentri Basam dengan mudah meluncurkan rencana liciknya. “Aku hanya ingin kau mengakui sesuatu,” Putri Aura kembali menunjukkan senyum sinisnya. Perdana mentri merasa penasaran pada apa yang akan Aura katakan. Perdana mentri juga bertanya-tanya, apa yang membuat putri Aura berkata seperti itu. Seolah sang putri tahu betul seperti apa rencana jahatnya selama ini. . . To be continued. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN