***
Senyum sinis putri Aura membuat Basam sedikit waspada. Hal itu sungguh menyenyangkan bagi Aura. Dirinya suka melihat wajah Perdana Mentri kerajaan ini khawatir.
“Jangan tegang begitu, Perdana Mentri. Aku hanya ingin bertanya tentang perayaan hari ulang tahun Ratu. Apakah semuanya sudah dipersiapkan dengan baik?”
Begitu pertanyaan yang ingin putri Aura ajukan terdengar, Basam pun ikut menyinggungkan senyumnya. Sempat beberapa detik yang lalu Basa merasa Aura mengetahui sesuatu tentang rencana busuknya.
Memang, tanpa Basam ketahui, Aura ingin mengintimidasi Basam dengan pertanyaannya mengenai sang villain. Namun, setelah berpikir serius, Aura merasa ini belum waktunya. Ia harus menunggu beberapa waktu lagi untuk membuktikan secara langsung apa yang sebenarnya Basam lakukan.
“Ulang tahun Ratu sudah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, Putri. Anda tak perlu khawatir. Di sana nanti akan ada tarian pedang. Mungkinkah Anda ingin berpartisipasi?” tanya Basam setelah berhasil meniadakan keterkejutannya.
Putri Aura kembali tersenyum. Kali ini bibirnya tampak miring dan tipis. “Tentu. Aku sangat menyukai pedang, maka diriku pun harus ikut dalam tarian itu,” katanya.
Basam mengangguk setuju. Musuh besar di depannya ini memang sangat tertarik pada pedang. Keperempuan dan wajah cantiknya sama sekali bukan halangan bagi putri Aura untuk menggenggam pedangnya. Itulah kenapa sang villain utusannya terkalahkan.
“Hamba akan mengatur hal itu,” ucap Basam.
“Terima kasih,” ucap sang putri.
Setelah itu, putri Aura meninggalkan Basam begitu saja. Sudah cukup hari ini dirinya membuat Basam terintimidasi. Sekarang masih ada yang harus Aura lakukan. Aura ingin menemui Putra Mahkota. Adiknya yang masih berumur Sepuluh tahun itu juga harus tetap dijaga. Bisa saja sesorang membunuhnya.
Aura akan tetap meminta sang putra mahkota untuk berlatih pedang. Aura tidak akan membiarkan adiknya terluka akibat tak bisa melindungi diri dari serangan-serangan sang pengkhianat kerajaan.
Namun, belum sempat dirinya sampai di kediaman putra mahkota, dia bertemu dengan salah satu selir kesayangan ayahnya, yaitu selir Yohana. “Halo tuan putri, sedang apa dirimu di sini?” tanyanya lembut.
Putri Aura pun membalas dengan senyuman. Sikap selir Yohana ini berbeda menurut Aura. Dia bijaksana dan baik hatinya. Begitu yang Aura lihat dari selir ayahandanya ini.
“Aku hanya ingin menemui putra mahkota. Anda sendiri sedang apa di sini?” Aura ikut menyuarakan tanyanya.
Selir Yoana lagi-lagi tersenyum lembut. “Aku juga ingin bertemu dengan putra mahkota. Pangeran Yoan menitipkan salam kepadanya,” jawabnya.
Putri mengangguk singkat. “Kalau begitu mari masuk bersama-sama,” ajak Aura.
Keduanya akhirnya masuk secara bersamaan ke dalam kediaman putra mahkota yang tak lain dan tak bukan adalah pangeran Joan, anak dari Ratu Ellena bersama Raja.
“Ngomong-ngomong apa yang ingin kau bicarakan pada putra mahkota, putri Aura?” tanya selir Yohana penasaran.
Aura menarik sudut bibirnya. “Hanya ingin bilang kalau aku merindukannya,” kekehnya.
“Wahh, kamu memang kakak yang baik, Putri,”
“Terima kasih, selir Yohana,” balas Aura. “Titip salam rinduku untuk pangeran Yoan juga,” lanjutnya.
Selir Yohana mengangguk singkat. Bibirnya tak pernah terlepas dari senyum manisnya yang tampak sangat tulus itu. “Tentu, Putri,” ucapnya.
Sesampainya di kediaman putra mahkota, selir Yohana dan putri Aura tidak bisa menemukan putra mahkota di mana pun. Ketika Aura bertanya pada pelayan putra mahkota, ternyata adiknya itu tengah membaca buku di perpustakaan. Putri Aura pun memutuskan untuk menyusulnya. Sementara selir Yohana akhirnya undur diri.
“Aku harus pergi, Putri. Ada urusan yang harus aku selesaikan di kediamanku,” ucap selir Yohana. Sang putri pun hanya mengangguk singkat untuk mengiyakan itu. Selir Yohana dan putri Aura tak perlu saling memberi hormat. Keduanya berpisah di persimpangan jalan. Putri Aura menuju perpustakaan untuk menemui adiknya.
Ketika sampai di sana, putri Aura akhirnya bisa menemukan putra mahkota Joan. “Di sini kamu rupanya,” Sang putri menghampiri putra mahkota Joan.
Seperti biasa, Joan akan berdecak sebal begitu melihat kakak semata wayangnya yang lebih mirip pengawal pribadinya ini mendatanginya. Bagaimana tidak? Selama ini yang kakaknya lakukan hanya lah melindungi saja.
Memang, putri Aura melakukan itu karena sangat mengkhawatirkan nyawa adik semata wayangnya. Putri Aura tak ingin putra mahkota Joan menjadi korban. Namun, hal itu justru membebankan Joan karena dirinya pun sangat mengkhawatirkan Aura. Seperti kejadian beberapa waktu lalu, saat putri Aura hampir saja kehilangan nyawanya akibat diburu oleh sang villain. Joan sangat khawatir. Ia kesal karena Aura hampir saja mati konyol.
“Ada apa?”
Putri Aura terkekeh mendengar pertanyaan adiknya yang terdengar dingin di telinganya. Aura tidak heran karena selama ini pun Joan bersikap sama terhadapnya. Tampak kasar, tetapi sebenarnya dia sangat peduli. Itu lah kenapa Aura semakin berani mendekatinya, melindunginya.
“Biarkan aku mengajarimu ilmu pedang, Putra Mahkota,” ucap Aura menunduk hormat.
Joan melambaikan tangannya dengan sebal. Ia paling tidak suka bilang kakaknya sudah menyebutnya dengan panggilan seperti itu. Joan merasa jarak di antara mereka semakin nyata. Joan tidak suka terlihat seperti putra mahkota Negeri ini bagi Aura. Ia hanya ingin dianggap sebagai seorang adik saja.
Putri Aura tertawa menyadari ketidaksukaan yang adiknya tunjukkan. Ia tahu Joan tak pernah suka dipanggil putra mahkota olehnya. “Baiklah, Joan biarkan kakakmu ini mengajari dirimu ilmu pedang!” ujarnya.
Panggilan ini jauh lebih enak didengar bagi Joan, tetapi gagasan tentang dirinya yang harus belajar ilmu pedang dari kakaknya belum termasuk prioritas Joan sekarang. Bukankah ia masih terlalu muda? Sepuluh tahun untuk belajar pedang? Joan tidak mau! Hanya saja, ia seorang putra mahkota, calon raja masa depan Negeri ini.
Joan menghela napasnya dengan berat. Ingin menolak pun percuma. Kakaknya akan memintanya setiap waktu hingga ia setuju. Dari pada diburu secara terus menerus, lebih baik Joan anggukan saja dulu kepalanya pertanda setuju. Lalu, setelah itu, ia akan selalu memberikan alasan untuk kakaknya setiap kali mengajaknya latihan ilmu pedang.
“Baiklah, kita bisa mulai hari ini juga!” Joan membolakan matanya begitu mendengar ucapan kakaknya.
“Tidak! Aku sedang membaca. Kita harus merencanakannya terlebih dahulu.” Joan menolak.
Namun, Aura bukan seorang yang bisa menerima penolakan itu begitu saja. Aura memiliki cara sendiri agar Joan tak bisa menolaknya.
“Bersiap sekarang juga, Joan. Kita harus latihan sesegera mungkin agar bisa melawan kejahatan yang kapan saja bisa menyerang kita! Kau ingat apa yang terjadi kepadaku, bukan? Aku hampir mati andai ilmu pedangku tidak seperti sekarang,”
Aura tahu Joan akan termenung begitu ia mengingatkan kejadian yang hampir saja menghabisi nyawanya itu. Ia yakin beberapa menit lagi Joan akan mengikuti kemauannya. Bukan karena Aura egois dan bermaksud mengatur putra mahkota, tetapi ilmu pedang perlu dipelajari lebih dini agar kelak bisa menjadi bekal untuk Joan.
“Baiklah. Aku sungguh terpaksa melakukan ini sekarang juga. Selamat tinggal buku-bukuku, sampai bertemu lagi di lain waktu,” ucap Joan yang akhirnya membuat putri Aura tertawa.
“Kau tak pantas melakukan itu, Joan. Kau akan menjadi seorang raja di masa depan!” ujar Aura masih dalam keadaan kesulitan mengendalikan tawanya.
Pangeran Joan memutar bola matanya. Jengah terhadap kakaknya yang selalu mengejeknya. Namun, Aura tidak merasa tersinggung sama sekali. Ia bersikap layaknya kakak yang menyayangi adiknya.
“Ayo cepat! Kita harus latihan.” Aura pun menarik Joan bersamanya. Meninggalkan perpustakaan yang kembali sepi.
Keduanya menuju tempat latihan. Bukan yang biasa Aura datangi bersama Rafas, tetapi tempat latihan yang terletak di dalam istana, yang diketahui oleh banyak orang.
Aura sendiri yang akan turun tangan mengajarkan Joan. Ilmu pedangnya cukup hebat untuk mengajari sang adik.
“Ganti pakaianmu terlebih dahulu, Joan. Kita akan memulai sesi yang paling mudah yaitu pemanasan,” ucap Aura. Tak lama setelah itu, beberapa pelayan datang menghampiri, mereka membantu putra mahkota Joan untuk berganti pakaian.
Setelah dirasa cukup, Aura pun kembali membawa Joan ke tengah-tengah lapangan. “Kau harus serius jika tak ingin terluka!” ujarnya.
Joan hanya menganggukkan kepalanya singkat. Malas-malasan ia menghadapi putri Aura yang tampak siap mengajarinya ilmu pedang.
“Kau siap, Joan?” tanya Aura merujuk pada pemanasan yang tadi dirinya sebutkan.
Lagi-lagi Joan menganggukkan kepalanya. Sejujurnya, ia sama sekali tidak siap. Inginnya saat ini adalah membaca buku di perpustakaan dengan tenang.
Namun, Aura justru menariknya ke tempat ini. Di mana, banyak sekali suara bentakan sebagai aba-aba dalam latihan. Joan sampai terkejut mendengarnya.
Cukup lama waktu membawa Joan pada pemanasan yang Aura maksud. Hingga akhirnya, pemanasan pun selesai.
“Pegang pedang kayu ini. Kita akan mulai sesi selanjutnya!” ujar Aura secara tiba-tiba melemparkan pedang kayu pada Joan.
“Astaga!” balas Joan terkejut. Ia memegang pedang kayu tersebut. “Ini sangat berat!” ujarnya.
“Tidak bagiku,” balas putri Auraleia.
“Dasar sombong!” Joan mencebikkan bibirnya.
“Aku layak melakukan itu karena aku sudah lama berlatih pedang,”
“Ya, ya, terserah saja. Sekarang apa yang akan kita lakukan?” tanya Joan sembari mengangkat pedang kayu itu dengan menggunakan kedua tangannya. Putri Aura menggeleng melihat itu. Calon raja masa depan mereka sama sekali tak mengerti peperangan. Pedang dan panah adalah kekuatan yang bisa mematikan lawan. Namun, lihat apa yang Joan bisa? Bahkan memegang pedang kayu saja dia tidak kuat. Itulah kenapa Aura ingin Joan belajar pedang sejak dini. Semua demi melindungi diri sendiri dan kerajaan ini.
“Kita istirahat dulu!” ujar Aura. Hal itu berhasil membuat Joan tercengang. Ia pikir kakak semata wayangnya itu akan membuatnya mati lemas karena memegang pedang kayu ini. Namun, ternyata justru mengajaknya istirahat setelah tadi sempat melakukan pemanasan hinggu berhasil membuatnya berkeringat.
“Benarkah itu, Kakak?” tanya Joan penasaran. Ia bahkan memanggil putri Aura dengan sebutan kakak.
Putri Aura mengedikan bahunya. Lalu berjalan lebih dulu, meninggalkan pangeran Joan yang menghela napasnya dengan lega. Akhirnya, dia tak harus panas-panasan di lapangan karena latihan. Joan menyusul Aura yang sudah berteduh terlebih dahulu. Ia menerima botol minuman yang terbuat dari kayu itu dari kakaknya. Lalu segera meminumnya.
.
.
To be continued.
Hai dear... cerita ini akan ikut daily update ya. Jangan lupa TAP LOVE untuk menambahkan cerita :-)