***
Aura tahu Joan kepanasan dan enggan melanjutkan latihan setelah mereka melakukan pemanasan. Itu lah kenapa ia membawa adiknya itu berteduh. Namun, Sepuluh menit kemudian, putri Aura yang tegas kembali membawa Joan ke lapangan. Hal itu membuat Joan mengeluh.
“Bisakah kita melakukannya lain kali? Setidaknya saat matahari tidak seterik ini,” ucap Joan mencoba berunding dengan Kakak semata wayangnya itu.
Namun, Aura bukan perempuan yang mudah untuk dibujuk. Baginya, sudah cukup memberikan waktu istirahat untuk Joan. Sudah saatnya sang putra mahkota melanjutkan latihannya.
“Maafkan hamba yang mulia putra mahkota, tetapi kita harus segera berlatih pedang. Lagi pula matahari tak begitu terik,”
Joan memutar bola matanya dengan jengah. “Tidak terik bagimu, tetapi terik sekali bagiku, putri Auraleia!” ujarnya meniru cara Aura berbicara.
Tck.
Mereka memang sedarah, itulah kenapa keduanya sama-sama keras kepala.
“Cepat latihan!” ujar Aura tak ingin dibantah.
Dengan sangat terpaksa Joan kembali mengikuti kakaknya. Lapangan yang luas mananti dirinya sekarang juga. Pedang kayu yang tadi ia lempar secara sembarangan, kini dirinya pungut lagi. “Ini sungguh menyebalkan!” ujarnya.
“Ayolah, pedang ini terlalu berat untukku!”
Putri Aura menggelengkan kepalanya berkali-kali. Ia menghampiri Joan dan menatapnya dengan serius. “Tolong jangan bermain-main dan mengeluh terus, adikku. Ingatlah, musuh selalu mengintai kita di mana,” ucapnya dengan tegas.
“Termasuk di istana ayahanda ini?” pancing Joan. Sudah lama dirinya diam-diam memperhatikan keadaan istana yang menurutnya kacau. Namun, Joan tidak berani mengatakan apa-apa sebab ia masih terlalu kecil untuk mengajukan pendapatnya. Title putra mahkota tidak membuatnya bebas mengatakan apa yang sedang dirinya pikirkan. Justru ia harus berhati-hati agar tidak digulingkan oleh orang-orang yang kakaknya anggap musuh itu.
Putri Aura menghela napasnya dengan berat. Sungguh, belum saatnya Joan merasakan keresahan yang sama seperti apa yang dia rasakan. Namun, menyembunyikan semuanya lebih lama lagi dari Joan hanya akan membuat adiknya itu tidak serius dalam latihan. Aura berharap apa yang akan dirinya katakan bisa memicu semangat Joan untuk belajar ilmu pedang agar bisa melindungi dirinya sendiri di kemudian hari.
“Kau benar. Kita tidak pernah tahu seperti apa istana ayahanda sebenarnya. Bisa saja seseorang menginginkan nyawa kita berdua, adikku. Itu lah kenapa aku ingin dirimu serius dalam berlatih,” ucap Aura sungguh-sungguh.
Joan menyunggingkan senyumnya. Sudah dirinya duga, kakanya tak mungkin menyebutkan sebuah nama. Namun, Joan yakin sekali kakaknya sedang mencurigai seseorang dari dalam istana.
“Baiklah, mulai sekarang aku akan berusaha menguasai ilmu pedang yang kakak ajarkan!” ujar Joan serius. Ia tidak main-main meskipun keringatnya kini telah bercucuran.
Aura mengangguk senang. Ia menepuk bau adiknya dengan penuh semangat. “Kalau begitu mari kita mulai,” katanya. Lalu, dalam beberapa menit, Joan sudah disibukan menangkis pedang kayu milik Aura yang secara terus menerus menyerangnya.
Joan merasa bahunya akan lepas akibat mencoba menahan serangan-serangan itu. Hingga akhirnya, Joan terjatuh ke tanah latihan yang gersang. Ia mengaduh kesakitan karena telapak tangannya bersentuhan langsung dengan tanah yang keras.
Putri Aura menghela napasnya dengan berat melihat itu. Ia membantu Joan untuk bangun. “Seperti inilah yang terjadi bila kau tidak berolahraga, Joan!” ujarnya.
Memang betul, yang putra mahkota Joan lakukan hanyalah membaca buku di perpustakaan. Dirinya tidak pandai memegang pedang seperti yang kakaknya lakukan. Tidak juga seperti pangeran Yoan yang sedari kecil sudah menyukai panah. Padahal, umur mereka tidak jauh berbeda. Joan dan Yoan hanya beda beberapa bulan saja. Yoan lebih mudah dari Joan.
Sebagai informasi, pangeran Yoan adalah putra dari selir Yohana dan baginda Raja. Yoan dan Joan sesungguhnya dekat, hanya saja mereka jarang bertemu karena Yoan selalu sibuk melatih keahlian memenahnya. Entah untuk apa, tetapi Joan tidak terlalu peduli pada hal itu.
“Aku memang tidak suka berolahraga Kakak. Bagiku, membaca buku adalah sesuatu yang lebih berguna,” kata Joan.
Aura mengangguk setuju. Buku dan segala pengetahuan di dalamnya memang sesuatu yang berguna. Namun, ilmu pedang, memanah dan ilusi pun tak kalah penting karena semua itu yang akan digunakan ketika berperang. Buku yang Joan baca betul penting untuk mengetahui dan memahami permasalahan dalam Negeri ini, tetapi pengetahuan itu tidak sempurna tanpa dibersamai dengan kekuatan dalam diri. Seperti pandai menggunakan pedang dan memanah, misalnya.
“Namun, buku tidak bisa melindungimu dari peperangan, adikku. Kau juga harus pandai mengayunkan pedangmu ketika ada yang menyerangmu,” ucap Aura.
Joan terdiam. Benar apa yang kakaknya katakan, hanya saja Joan tak dengan mudah menggunakan pedang seperti ia yang mudah memahami maksud dari tulisan yang telah dirinya baca dari banyaknya buku di perpustakaan.
Mereka berbeda. Dan, sepertinya Joan harus berusaha lebih keras lagi untuk bisa menggunakan ilmu pedang.
“Aku mengerti. Beri aku waktu, Kak!” ujarnya.
Senyum putri Aura terbit di kedua sedut bibirnya. Aura mengangguk singkat. Tentu saja semua butuh proses. Bukan sesuatu yang mudah untuk bisa menguasai ilmu pedang ataupun bela diri. Hanya satu orang yang dengan cepat menguasai itu sepanjang Aura mengenal pedang, yaitu Rafas Raymound Yuro, lelaki yang saat ini masih tak terlalu jelas asal usulnya menurut Aura. Hanya dia yang tiba-tiba saja dengan mudah menggunakan pedang.
“Mungkin karena jiwanya ada dua,” bisik Aura tanpa sengaja. Hal itu dapat didengar oleh Joan hingga sang adik yang mudah sekali penasaran bertanya.
“Siapa yang memiliki dua jiwa?”
Putri Aura pun terkejut mendengarnya. Sang putri terkekeh untuk mengalihkan pembicaraan. “Jiwa peliharaanku,” jawab Aura sembari mengedipkan matanya. Melihat itu, Joan pun teralihkan. Ia tak lagi penasaran karena merasa kakaknya menjadi aneh dan mengerikan.
“Baiklah, Joan. Sekarang kamu boleh pergi. Besok persiapkan dirimu untuk latihan lagi,” ucap Aura.
Joan pun menganggukkan kepalanya. Kali ini, sang putra mahkota tak lagi merasa terpaksa. Ucapan kakaknya tentang harus melindungi diri menyadarkannya. Bahwa, memang penting untuk mempelajari ilmu bela diri karena Joan tahu, suatu hari nanti tak hanya pengetahuan dari buku yang dia baca yang diperlukan, tetapi juga ilmu bela diri ketika menghadapi peperangan.
“Kalau begitu, selamat beristirahat yang mulia Putra Mahkota, Joan,” ucap putri Aura memberi hormat. Bagaimanapun juga adiknya adalah calon raja masa depan negeri ini. Dia harus memberikan contoh yang baik untuk orang-orang di seluruh istana.
Joan pun melakukan hal yang sama. Ia hanya mengangguk untuk membalas ucapan kakaknya. Ada saatnya mereka seperti kakak dan adik, kadang mereka terpaksa memberi jarak agar saling menyadari batasan.
Aura tidak tersinggung akan hal itu. Dirinya bersikap dengan semestinya. Dia tersenyum lega setelah melihat punggung Joan menjauh dan semakin mengecil. Lalu setelah itu, Aura pun meninggalkan lapangan. Hari ini, dirinya merasa sangat lelah karena tak hanya membantu Joan, dirinya pun membantu Rafas sebelum kembali ke istana.
.
.
To be continued.