***
Istana dalam memang memiliki banyak sekali rahasia. Aura sadar sejak tadi ada yang diam-diam mengikutinya. Mulai dari dirinya yang mencari Joan ke perpustakaan hingga mereka latihan. Aura yang terbiasa mencurigai siapa-siapa saja menjadi lebih peka sehingga diam-diam pula ia mengetahui ada yang mencoba mengikutinya.
Sesorang mengawasinya. Aura yakin orang itu adalah suruhan perdana mentri Basam. Sudut bibir Aura membentuk senyum sinis. Dirinya semakin menyukai permainan ini. Ia tak sabar melihat siapa yang akan menang nanti. perdana mentri Basam atau dirinya sendiri. Sayang, hingga detik ini Aura masih tidak menumukan bukti bahwa perdana mentri Basam yang telah melakukan percobaan pembunuhan terhadapnya beberapa waktu lalu.
Ingatan sang villain yang direnggut oleh lelaki bernama Rafas telah menghancurkan harapan Aura untuk mengungkap komplotan perdana mentri Basam yang telah mengkhianati kerajaan. Andai semuanya berjalan lancar, mungkin saat ini Aura mampu membuktikan siapa perdana mentri Basam yang sesungguhnya.
Melupakan semua itu sejenak, Aura pun kembali ke kediamannya agar seseorang yang diam-diam mengawasinya itu menjauh. Setelah merasa tak ada lagi yang mengikutinya, Aura mengistirahatkan diri sebentar. Ia memejamkan mata agar kantuknya menyapa. Lelah sekali seharian ini memikirkan banyak hal.
Namun, meski begitu, Aura tak pernah benar-benar bisa beristirahat dengan tenang. Ia merasa sendirian di tempat ini. Tak ada yang bisa diajaknya bicara. Hanya melalui pikirannya saja ia saling bercengkrama. Aura mencoba memecahkan semua masalah yang ada sendirian, tanpa berani mengatakan apa yang ada dalam pikiran.
Kadang hal itu membuat Aura merasa kacau. Namun, tekatnya yang kuat untuk mengungkapkan apa yang menjadi kecurigaannya ini membuatnya tak ingin berhenti. Aura sudah berjanji akan melindungi kerajaan sebisa dirinya.
Perdana mentri atau siapapun itu tak bisa menggulingkan ayahandanya. Kerajaan ini milik mereka. Lagi pula, entah seperti apa Negeri ini bila yang menjadi pemimpin adalah perdana mentri yang jahat.
Mata Aura yang tertutup rapat kini kembali terbuka lebar. Sudah dirinya duga, ia tak akan bisa tertidur. Aura menghela napasnya dengan berat. Entah sampai kapan perbuatan perdana mentri Basam mengganggu pikirannya seperti ini.
Aura ingin sekali mengungkap apa yang sebenarnya terjadi, tetapi harus dari mana dirinya memulai? Haruskah ia diam-diam menyelidiki perdana mentri? Alih-alih menuduhnya tanpa bukti. Namun, bisakah ia melakukan itu sendirian?
Bagaimanapun juga, Aura membutuhkan seseorang yang bisa membantunya. Namun, dia tidak memilikinya. Aura tidak mempunyai seseorang yang bisa dirinya andalkan. Bukan, tetapi dia tidak memiliki seseorang yang bisa dirinya percaya sepenuh hati karena siapapun bisa menjadi musuh bagi kerajaan ini.
Helaan napas kembali terdengar.
“Itulah kenapa aku ingin Joan belajar ilmu pedang. Aku ingin dia menjadi seseorang yang bisa kupercayai di masa depan,” ucapnya.
Tiba-tiba saja Aura memikirkan sesuatu. Namun, ia menggeleng lemah setelah itu. “Rafas tidak bisa dipercaya. Dia seorang villain!” ujarnya. Iya, beberapa detik yang lalu putri Aura sempat berpikir Rafas bisa membantunya. Dirinya bisa memaksa Rafas untuk menyelidiki perdana mentri, tetapi Rafas juga merupakan penjahat di masa lalu. Lagi pula, Rafas masih menjadi buronan hingga saat ini.
Aura tak ingin mengambil resiko. Ia tak ingin semakin mengacaukan semuanya. Rencanya untuk membongkar kebusukan perdana mentri masih menggebu, meskipun belum ada cara yang tepat untuk melakukannya.
***
Sementara itu, Rafas memilih untuk kembali berlatih setelah sempat beristirahat beberapa saat yang lalu. Rafas mengayunkan pedangnya berkali-kali hingga benar-benar terlatih. Semudah itu ia menguasai apa yang Aura ajarkan. Mungkin ini adalah efek dari jiwa sang villain yang bersemanyam di tubuhnya.
Rafas besyukur akan hal itu. Setidaknya ia bisa melindungi diri dengan kekuatan ini. Rafas pun berjanji akan melindungi sang putri sembari ia membuktikan diri bahwa dia bukan sang penjahat. Rafas adalah Rafas, dan sang villain tetaplah penjahat. Mereka bukan Dua orang yang bisa disamakan karena jiwa mereka memiliki banyak perbedaan. Rafas tidak akan pernah membiarkan jiwa sang villain mengusainya dan mencoreng kebaikannya di masa lalu.
Apapun yang terjadi, Rafas akan bertahan di sini sebagai dirinya sendiri. Bukan orang lain yang berakhir menjadi buronan dan mati konyol Dua kali. Cukup sekali dirinya mendapat ketidakadilan ketika di dunia nyata. Di sini, Rafas berjanji akan melindungi dirinya dari orang-orang yang ingin membunuhnya.
Rafas terengah setelah berlatih cukup lama. Mentari yang tadinya terik perlahan menyembunyikan wujudnya di peraduan. Cahaya orange menerpa wajah Rafas hingga ia terpejam. Tubuhnya yang tadi terempas di atas tanah tempatnya berlatih terasa hangat karena debu yang tebal di sana. Rafas tidak peduli meski ia akan kotor.
“Ahh, ini cukup menyenangkan. Dunia ini terasa nyata karena mentari masih bersinar,” ucap Rafas sembari membawa lengannya ke atas keningnya. Sedikit menutupi matanya dari sinar tajam sang surya yang mulai mencari tempat untuk beradu.
Tak lama setelah itu kelam pun menyelimuti. Rafas masih di posisi yang sama. Ia tidur terlentang di atas tanah latihan, tempat sang putri bersembunyi dari banyaknya kerumitan.
“Dan semakin nyata ketika sang surya akhirnya tergantikan oleh kelamnya malam,” Rafas tersenyum sembari kembali memejamkan mata.
Dunianya dan dunia ini berbeda, tetapi siang yang berganti malam membuat Rafas sedikit terhibur. Setidaknya, pergantian yang terjadi memiliki kesamaan dengan dunianya dulu. Rafas merasa sedikit bisa bernapas karena hal itu.
Mata Rafas kembali terbuka. Senyumnya pun menghilang begitu merasakan sesuatu bergerak ke arahnya. Rafas merasa waspada. Pelan, dirinya bangkit dari posisinya semula. Pedang sudah berada di tangannya.
“Di sini kau rupanya. Kupikir kau sudah mati konyol diburu prajurit kerajaan,”
Suara yang semakin hari semakin familiar di telinganya itu membuat Rafas mengendurkan kewaspadaan. Rafas mengembuskan napas dengan lega karena putri Aura yang datang.
“Kenapa kau ada di sini, Tuan Putri?” tanya Rafas sembari membuang pedangnya.
Dalam kegelapan, putri Aura menanggapi pertanyaan Rafas. “Aku terbiasa tidur di tempat ini juga,” katanya.
Memang benar begitu. Selama Rafas bersembunyi di tempat ini, Aura jarang tidur di sini. Namun, mala mini Aura merasa ingin kembali ke sini tak peduli ada Rafas bersamanya. Aura hanya ingin menenangkan pikirannya yang rumit akibat memikirkan banyak hal.
“Tapi … ” Rafas ingin menyanggah, tetapi Aura dengan cepat menghentikannya.
Dia sudah susah payah menyelinap keluar agar tidak ada yang mengikutinya untuk datang ke sini, tapi Rafas ingin dia pergi? Tentu saja tidak bisa! Aura akan tetap di sini terlepas suka atau tidanya Rafas akan kehadirannya.
“Aku akan tidur di sini malam ini. Kau boleh pergi dan diburu oleh prajurit kerajaan atau ikut tidur denganku di tempat ini.”
Tanpa peduli apa yang Rafas pikirkan, putri Aura berkata sesukanya. Sang putri yang lebih mirip lelaki karena mengenakan pakaian yang berbeda dari putri kerajaan itu menjauh dari Rafa. Ia menempati tempat tidurnya yang selama beberapa hari ini menjadi milik Rafas tersebut.
“Kau akan tetap di sana?” tanyanya pada Rafas yang mematung. Tentu saja Rafas tak mungkin tidur di tempat yang sama dengan putri Aura mengingat mereka berbeda jenis kelamin. Rafas seorang lelaki kalau putri Aura lupa.
“Terima kasih, tapi aku akan mandi terlebih dahulu. Tubuhku terlalu bau,” sahut Rafas. Untunglah, tempat ini pun ada pemandiannya. Buru-buru Rafas meninggalkan Aura dan masuk ke area pemandian.
Aura tersenyum melihat itu. Ia tahu Rafas tak mungkin tidur di tempat yang sama dengannya. Syukurlah, Aura tak salah dalam menilai hati Rafas meskipun wajahnya sama persis dengan sang villain yang pernah mencoba untuk membunuhnya dulu.
.
.
To be continued.