***
Rafas kembali dari rutinitas mandinya setelah Tiga puluh menit lamanya. Senyum lembutnya terbit begitu melihat sang putri sudah terlelap di atas tempat tidur. Perlahan, Rafas mengambil pakaian bau untunya berganti. Maksud hati ingin masuk kembali ke pemandian, tetapi Rafas mengurungkan.
Melihat putri Aura sudah tertidur, Rafas pun melepas kain yang melilit tubuhnya di sana. Ia berganti pakaian di tempat yang sama tanpa perlu khawatir putri Aura melihat ulahnya karena Rafas merasa sang putri sudah tertidur lelap.
Setelah selesai dengan urusannya itu, Rafas pun menyimpan pakaian kotornya di pojokan untuk besok dirinya cuci. Rafas mendekati Aura setelah menyalakan lilin-lilin kecil yang tersedia di sana.
“Cantik sekali,” puji Rafas begitu cahaya itu ia sinari ke arah wajah putri Aura.
Alis, mata hidung dan bibir putri Aura telah lama mencuri perhatian Rafas. Putri Aura perpaduan dari kata sempurna meskipun kecantikan itu tertutup sikap kerasnya. Rafas mengagumi sang putri mahkota.
Buru-buru Rafas menjauhkan cahaya tersebut ketika putri Aura menggerakan kelopak matanya. Rafas menahan napas, takut Aura membuka mata. Pria itu mengembuskan napas lega ketika sang putri kembali tenang. Perlahan, Rafas pun menjauh. Ia duduk sedikit jauh dari sang putri. Syukurlah, ada jerami di tempat ini. Rafas akhirnya memilih tidur di sana, alih-alih di samping putri Aura.
Rafas merebahkan diri. Menatap langit malam penuh bintang. Matanya menerawang pada masa lalu. Hidupnya penuh dengan tantangan ketika masih hidup di dunia. Dan, sekarang hidupnya semakin memiliki banyak tantangan juga rintangan. Entah kenapa Sang Kuasa melakukan ini padanya. Namun, Rafas akan tetap menjalaninya dengan ikhlas. Ia tak ingin mengeluh karena selalu ada alasan kenapa dia terlahir kembali di tempat asing ini.
Perlahan tetapi pasti, Rafas pun memejamkan matanya. Mencoba untuk menemukan kantuknya karena jujur saja, hari ini dia sangat lelah. Dia terlalu memaksakan diri untuk cepat menguasai ilmu bela diri. Sudah saatnya dirinya istirahat agar besok bisa lebih berani menghadapi hari.
Sementara itu, tanpa Rafas sadari, putri Aura tak pernah benar-benar tidur sejak tadi. Kini, matanya terbuka. Masih dapat Aura rasakan debar di jantungnya karena tidak sengaja melihat Rafas tanpa sehelai benang pun. Aura menyentuh dadanya, merasakan debaran itu semakin mengusik ketenangannya.
“Bagaimana mungkin kau melepas kain itu secara sembarangan,” gerutunya sembari menatap ke arah Rafas yang sudah Aura yakini tertidur lelap.
Mulut Aura manyun lantaran sebal akibat ulah Rafas. Asal Rafas tahu saja, itu pertama kalinya ia melihat seseorang tanpa busana. Aura sampai memerah sendiri karena terlalu malu. Beruntung Rafas tidak menyadarinya.
Tck!
Duduk Aura dari tidurnya. Matanya tak juga bisa menemukan kantuk usai kejadian tidak masuk akal itu. Dilipatnya kakinya agar lututnya bisa ia gunakan untuk menopang dagu. Matanya masih menatap pada arah yang sama, yaitu Rafas.
“Kau membuatku merasa tidak nyaman,” bisiknya dari kejauhan. “Apa yang harus aku lakukan padamu? Bisakah kita berteman? Bisakah kita saling mempercayai? Sejujurnya aku masih ragu,”
Putri Aura adalah putri kerajaan yang penuh perhitungan. Ia tak pernah sembarangan. Instingnya kuat soal musuh. Namun, hatinya sesungguhnya meyakini kejujuran Rafas meskipun logikanya masih saja menolak hal itu.
Apa kata Rafas? Dunia lain? Tidak masuk akal! Begitu yang selalu tertanam dalam benak Aura hingga ia masih bersikap waspada pada Rafas. Aura menghela napasnya dengan berat. Jika dirinya tidak bisa mempercayai Rafas sepenuhnya dan mengikuti kata hatinya, maka sebaiknya Rafas ia bunuh saja.
Namun, membayangkan pedangnya menebas leher Rafas, kenapa Aura menjadi tidak tega? Aura ingin memberi Rafas kesempatan untuk membuktikan diri, tetapi keadaan ini belum tepat. Rafas masih menjadi buronan kerajaan, dan ini mungkin akan berlangsung lama bila dirinya tak juga bisa mengungkap kejahatan perdana mentri Basam.
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Aura berulang.
“Kau hanya perlu mempercayaiku, Aura. Aku sudah janji akan menjagamu dan membuktikan bahwa aku bukan seorang penjahat!”
Sahutan yang terdengar secara tiba-tiba itu membuat Aura terkejut. Ia yang tadinya menatap lurus ke arah Rafas, kini membolakan matanya.
“Kau belum tidur?” tanya Aura panik. Pasalnya, bukan hanya soal kepercayaan saja yang membuatnya kahwatir, tapi soal ia yang melihat bayangan tubuh Rafas tanpa busana beberapa saat yang lalu.
Putri Aura takut Rafas menyadari itu.
“Se … sejak kapan kau mendengar ucapanku?” tanya Aura terbata.
Rafas menampakan senyum miringnya. Ia ikut terduduk seperti putri Aura. Matanya sama menatap lurus sang putri. “Sejak kauk menggerutu soal ketelanjanganku,” jawabnya benar-benar tanpa beban.
Putri Aura mendadak berdiri usai mendengar itu. Wajahnya merona bak tomat masak. Untung saja cahaya yang temaram menyamarkan itu.
“Apa kau gila?” bentaknya.
Rafas mengedikan bahunya. Tampak tidak peduli sama sekali. Ia tahu putri Aura sedang malu, makanya membentaknya. “Aku tidak gila, tapi kau yang sembarangan membuka mata,” balasnya.
Aura tidak tahu kenapa mulutnya kelu. Ia salah tingkah sekarang. Ternyata lebih mudah menghadapi sang villain daripada menghadapi Rafas yang mengaku pernah menjadi pengacara di masa lalu.
Astaga!
Daripada semakin malu, Aura akhirnya memilih untuk lari dari hadapan Rafas sekarang juga. Namun, dengan sigap Rafas menahan tangannya. “Mau ke mana? Bukankah kau menawarkan diri untuk tidur bersamamu tadi?” goda Rafas. Ia yakin dengan interaksi seperti ini, dirinya dan Aura akan semakin dekat. Rafas akan melakukan apa saja agar Aura mempercayainya karena Rafas pun akan mempercayai Aura sepenuhnya.
Wajah Aura semakin memerah malu. Bukan itu maksudnya. Mendadak dia menyesal pernah mengatakan itu pada Rafas. Aura tidak tahu Rafas berani menggodanya seperti ini.
“Lepaskan aku! Kau mengganggu tuan putrimu, Rafas!” ujar Aura mulai kesal. Namun, seorang Rafas Raymound Yuro, yang selama hidup di dunia selalu bisa memenangkan pertarungan di pengadilan itu tak mungkin dengan mudah melepaskan mangsanya. Alih-alih melepaskan tangan Aura, Rafas justru dengan berani menarik Aura lebih mendekat kepadanya. “Apa kau takut padaku?” tanyanya sembari menatap mata Aura dengan dalam dan tajam.
Aura semakin salah tingkah, tetapi sikap keras kepala yang dirinya miliki mampu membuatnya membalas tatapan tajam Rafas. “Kenapa aku harus takut? Kau bukan apa-apa bagiku!” ujarnya.
“Bagus kalau begitu. Jangan pernah merasa takut padaku, Aura, karena aku akan melindungimu. Percayalah padaku. Jangan ragu lagi. Tolong ikuti kata hatimu,” pinta Rafas. Entah sudah untuk yang keberapa kali ia memohon hal ini pada Aura, tetapi Rafas tak akan bosan sampai Aura benar-benar percaya padanya.
Aura tahu, ia sudah lama luluh oleh ketulusan yang Rafas tunjukkan dari kedua matanya. Namun, dengan bodohnya ia masih saja menoalk untuk percaya. Kini, Aura benar-benar telah memutuskan untuk percaya pada Rafas sepenuhnya. Ia tersenyum lembut pada Rafas hingga Rafas pun tahu bahwa Aura sudah melabuhkan kepercayaan itu sepenuhnya kepadanya.
“Baiklah, mulai sekarang kita berteman. Jangan pernah mengkhianti diriku, Rafas!” ujar putri Aura. Dengan penuh semangat Rafas menganggukkan kepala. Ia juga tak segan membalas senyum lembut yang putri Aura tampakkan padanya.
“Aku bersumpah akan menjagamu, menjaga kepercayaanmu, dan yang terpenting … ” ucap Rafas menggantung ucapannya.
Aura menunggu. Ia mengerutkan dahi karena penasaran terhadap apa yang akan Rafas katakan.
Melihat itu, Rafas pun tak bisa menyembunyikan rasa gembiranya. Ia menatap penuh keyakinan ke dalam mata Aura yang cantik. “Aku akan menjaga senyum lembutmu ini selamanya,” ucapnya.
Detik itu juga Aura merasa wajahnya kembali memerah. Entah apa maskud Rafas mengatakan itu, tetapi sedekat ini dengan lawan jenis, dan mendapat perlakuan yang sedikit berbeda dari yang selama ini pernah Aura dapatkan, membuat Aura merasakan sesuatu yang tidak semestinya di hati kecilnya.
Buru-buru Aura menjauh. Ia mendelik pada Rafas. “Aku pergi dulu!” ujarnya. Namun, sekali lagi Rafas menahan tangannya.
“Tidurlah di sini seperti yang kau inginkan, tuan putri. Aku janji tidak akan melakukan apapun yang bisa merugikanmu, kecuali … ” Lagi-lagi Rafas menggantung ucapannya.
Pria itu terlalu sering melakukannya hingga membuat Aura sebal sendiri. “Apa?” teriaknya karena Rafas terlalu lama menggantung ucapannya itu.
“Kecuali kau sendiri yang memintaku untuk melakukan sesuatu yang … ”
“Diam kau! Aku tidak mungkin merendahkan diriku kepadamu!” potong Aura dengan cepat. Ia marah karena Rafas seolah sengaja menggodanya dan merendahkannya. Namun, Rafas justru tertawa.
“Apa yang sedang kau lakukan?” geram Aura. Ia memberi Rafas peringatan agar tidak melewati batas. Namun, seorang Rafas tidak akan menahan dirinya lagi. Ia akan melakukan pendekatan dengan caranya sendiri terhadap putri Aura.
“Tuan putriku yang cantik, ada apa dengan isi pikiranmu itu? Apa kau sedang memikirkan hal-hal kotor?” tanya Rafas sembari menggelengkan kepala. “Padahal yang kumaksud bukan b******a denganmu, tapi bermain pedang di malam hari misalnya,” Rafas mengedikan bahunya acuh.
Demi apa, Aura baru saja mengangakan mulutnya mendengar Rafas menyebutkan kata v****r itu. Sudah tentu wajah Aura memerah karena malu karena jujur saja, memang itu yang tadi sempat ia pikirkan.
Astaga! Aura juga tidak tahu kenapa otaknya justru berpikir ke arah sana? Ayolah, Rafas bukan pria yang tepat untuk memiliki tubuhnya pertama kali. Ada banyak pangeran di luar sana yang berebut untuk mempersuntingnya.
“Kau gila!” ujar Aura berusaha untuk menutupi kesalahtingkahannya. Aura jadi bertanya-tanya, seperti inikah cara Rafas bicara di dunia asalnya? Sembarangan dan tidak punya rasa hormat!
“Maafkan aku tuan putri, tetapi aku suka apa yang kau pikirkan itu. Hanya saja, kita tidak bisa melakukannya sekarang karena tidak ada cinta di antara kita,” Berani sekali Rafas mengatakan itu di depan putri kerajaan seperti Auraleia. Demi apa, andai Aura tak ingat janjinya untuk mempercayai Rafas, mungkin detik ini juga Aura sudah menebas leher pria kurang ajar itu.
“Kau pria m***m! Tidak tahu diri. Berhenti menggodaku atau kau akan kubunuh!” ancam Aura. Dia tidak marah, hanya kesal karena Rafas tidak tahu malu. Dan sialnya, ia juga sama tidak tahu malunya seperti Rafas. Sebab, apa yang Rafas katakan benar-benar pernah dirinya pikirkan.
Astaga!
Kembali putri Aura ingin pergi dari sana. Kali ini, Rafas tidak menghalangi. Rafas membiarkan sang putri yang baru saja ia goda itu pergi. Rafas tidak khawatir karena ia yakin putri Aura sanggup menjaga diri.
“Terima kasih Aura, karena kamu bersedia memberiku kesempatan. Aku tahu kau tak memerlukan pengawal pribadi karena kau kuat, tapi kau melakukan itu untukku. Sekali lagi terima kasih,” ucap Rafas sungguh-sungguh meski Aura tak lagi mendengar itu.
Sekali lagi Rafas berjanji pada dirinya sendiri. Ia akan menjaga putri Aura dengan sepenuh hati. Juga, akan menjaga senyum lembut Aura selamanya karena entah kenapa Rafas merasakan sesuatu yang berbeda setelah melihat garis-garis itu terbentuk di wajah sang putri.
.
.
To be continued.
Makasih yang udah baca. Jangan lupa TAP LOVE ya