***
Sudah berhari-hari Rafas tidak melihat putri Aura sejak malam di mana ia menggodanya. Rafas mulai khawatir. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada putri Aura. Dirinya pun takut Aura marah padanya karena malam itu. Rafas merasa ingin menyusul putri Aura ke istana, tetapi bagaimana jika dia tertangkap dan kembali di hukum mati? Mambayangkannya saja sudah membuat Rafas gemetar. Ia tidak bisa mempertaruhkan nyawanya sekarang juga.
Namun, menunggu Aura di tempat ini tanpa persediaan makanan dan minuman lagi, sama saja bunuh diri. Makanan yang Aura siapkan sudah habis sejak kemarin. Rafas hanya mengisi perutnya dengan air sejak tadi pagi. Itupun air dari tempat pemandian.
Jika terus begini, Rafas yakin ia akan mati juga. Mati kelaparan lebih tepatnya.
“Aku harus mencari putri Aura!”
Rafas pikir yang terbaik adalah mencari Aura. Tidak mungkin dia berdiam diri di tempat ini tanpa makan dan minuman yang menyehatkan. Lagi pula Rafas juga mengkhawatirkan perempuan yang pernah menyelamatkannya itu.
Berbekal ingatannya ketika putri Aura menyusupkannya ke tempat ini, Rafas pun nekat mengendap untuk menuju kediaman tuan putri Auraleia. Banyaknya prajurit kerajaan yang berlalu lalang membuat Rafas sedikit kesulitan. Namun, dirinya tidak bisa menyerah dan berbalik arah. Lagi pula ia akan tetap tertangkap bila nasibnya memang harus tertangkap.
Dengan sangat hati-hati, Rafas melangkahkan kakinya, mencoba bersembunyi dari prajurit-prajurit kerajaan yang kata Aura masih saja memburu keberadaannya.
Dalam perjalanannya menuju kediaman tuan putri, Rafas tiba-tiba saja bertemu dengan beberapa orang yang sedang menganakan pakaian yang jauh lebih bagus dari prajurit istana. Rafas yang penasaran pun mengikuti orang-orang itu. Ia yakin tidak ada raja di antara mereka karena Rafas masih mengingat seperti apa raja Ziurif yang pernah ikut hadir dalam eksekusinya waktu itu.
“Aku yakin putri Aura sedang merencanakan sesuatu di belakang kita, Perdana mentri,”
Itu lah kenapa Rafas nekat mengikuti orang-orang berbaju merah itu. Mereka sedang membicarakan Aura. Rafas menebak, perdana mentri Basam berada di sana. Mungkin orang yang sedang diajak bicara itu adalah perdana mentri Basam. Rafas ingin tahu dengan jelas seperti apa wajah musuh majikannya.
“Aku juga berpikir demikian. Aku sudah meminta seseorang untuk menyelidikinya. Namun, sejauh ini putri Aura masih tidak terbaca pergerakannya,” sahut seseorang yang Rafas pikir perdana mentri Basam.
“Kalau begitu kita harus berhati-hati. Sebaiknya apa yang harus kita lakukan pada putri Aura, perdana mentri Basam? Putri Aura terlalu licik, dia sulit dihadapi,”
Sudah Rafas katakan bahwa yang sedang orang-orang itu ajak bicara adalah perdana mentri Basam. Dapat Rafas simpulkan bahwa yang sedang berkumpul itu adalah musuh Aura. Rafas mengepalkan tangannya, mereka juga berarti yang telah mengutus jiwa penjahat yang ada di dalam dirinya saat ini.
Kurang ajar! Seumur-umur Rafas tak pernah menggunakan tubuhnya untuk melakukan perbuatan jahat. Namun, di tempat ini ia benar-benar telah menjadi penjahat dan hampir saja menjadi pembunuh seorang putri kerajaan. Dan, semua itu disebabkan oleh orang-orang yang sedang berkumpul di sana. Andai tidak mengingat di mana dirinya sedang berada, sudah Rafas hampiri orang-orang itu dan menghajarnya satu persatu.
Rafas menahan diri. Ia tidak bisa bertindak sembarangan hingga membahayakan nyawanya. Putri Aura sudah mengingatkannya berkali-kali untuk berhati-hati di tempat ini jika tidak ingin mati konyol sebanyak Dua kali. Terhitung dengan kematiannya di dunia nyata, dunia selain tempat baru ini.
“Aku sudah memiliki rencana, yang harus kita lakukan adalah menculik putra mahkota Joan,” ucap perdana mentri Basam sembari tersenyum sinis. “Karena yang paling putri Aura takuti adalah adiknya itu terluka,” lanjutnya.
Rafas mengeratkan genggaman tangannya. Dia tidak mengenal siapa Joan, tetapi jika itu bisa melukai putri Aura, Rafas tidak akan tinggal diam. Secepatnya ia harus melaporkan ini pada Aura agar sang putri berhati-hati. Tidak akan Rafas biarkan rencana busuk orang-orang itu menyakiti penyelamat hidupnya.
“Kau benar perdana mentri. Putri Aura paling takut putra mahkota terluka, tetapi bagaimana mungkin kita menculik putra mahkota negeri ini? Kau sedang tidak bercanda, bukan? Kita semua akan mati bila sampai ketahuan!” protes salah satu dari mereka.
Lalu, Rafas dapat melihat yang lainnya mengangguk setuju kecuali perdana mentri Basam. Pria yang sudah berusia lebih dari Lima Puluh tahun itu terkekeh sinis. “Aku sudah memikirkan semua itu,” katanya.
“Kalau perlu kita bunuh putra mahkota Joan!” ujarnya sama sekali tidak memiliki perasaan. Rafas sampai memundurkan langkahnya karena mendengar itu. Perbuatannnya ternyata berakibat membahayakan nyawanya sendiri.
Tanpa sengaja Rafas menginjak batu hingga keseimbangan tubuhnya terganggu. Ujung jarinya menyentuh pajangan yang ada di tempat itu hingga jatuh dan menimbulkan suara.
“Siapa itu?”
Perdana mentri yang sedang berkumpul bersama orang-orangnya terkejut bukan main.
“Kau bilang tempat ini tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang, Perdana mentri!” ujar salah satu dari mereka.
Perdana mentri merasa waspada. Matanya mencari sumber suara. Untunglah, Rafas dengan sigap menyembunyikan dirinya. Ia menghela napas lega meskipun kekhawatiran masih menghantuinya.
“Cari siapapun yang telah menguping pembicaraan kami!” perintah perdana mentri kepada Aston yang sejak tadi berjaga-jaga di sekitar mereka. Aston mengiyakan itu dengan anggukkan kepala. Ia berlari mencari keberadaan Rafas.
Degup jantung Rafas berpacu cepat. Ia berlari meninggalkan tempat itu. Dia mencari tempat untuk bersembunyi. Napasnya terengah. Benaknya memerintahkan untuk tidak ketahuan sekarang juga. Rafas tak bisa membiarkan dirinya tertangkap.
Sementara itu, Aston terus mencari hingga ia menemukan dari mana suara tersebut berasal. Dengan cepat ia melaporkan apa yang dia temukan, tetapi Aston justru mendapatkan tamparan dari perdana mentri Basam karena tidak bisa menemukan sang penguping.
“Maafkan saya tuan, saya akan segera menemukan siapa yang telah menguping pembicaraan tuan,” Aston memohon. Ia berlutut sembari menggenggam pedangnya.
Perdana mentri Basam mendengus sebal. “Cepat kau temukan! Jangan membuatku menunggumu terlalu lama!” ujarnya.
Dengan cepat Asto menyanggupi. Siapapun yang telah mengganggu tuannya, Aston akan menghabisinya.
“Sialan! Tuanku sampai menamparku gara-gara orang itu. Siapa dia sebenarnya?” Aston terus menggerutu.
Ia menoleh cepat karena menemukan jejak langkah. Benar dugaannya, orang itu adalah lelaki. Sial! Melihat dari jejak sepatunya, Aston yakin pria yang menguping pembicaraan perdana mentri adalah pria yang memiliki tubuh tinggi sama sepertinya.
Buru-buru Aston mengejarnya. Kelopak matanya melebar ketika melihat bayangan yang jauh darinya itu. Lari Aston semakin kencang saat menyadari orang itu lah yang telah menguping pembicaraan perdana mentri.
“Lancang!” ujar Aston kesal.
Langkah Rafas dalam berlari tak kalah kencang dari Aston. Sebisa mungkin Rafas menghindari Aston. Ia tak ingin wajahnya yang mirip dengan sang villain diketahui oleh orang-orang jahat itu. Rafas bersumpah, ia tak sudi menjadi bagian dari mereka. Tiba-tiba saja, seseorang menarik Rafas dari samping setelah menabur kabut begitu saja.
“Kabut ilusi!” Masih dapat Rafas dengar Aston berteriak tentang kabut ilusi. Ingatan Rafas sempat-sempatnya kembali pada hari di mana ia diselamatkan oleh tuan putri Aura. Mungkinkah sekarang sang putri juga yang telah menyelamatkannya?
Mata Rafas yang tadi terpejam ngeri pun perlahan membuka lebar. Putri Aura lagi-lagi berada di depan mata. Sang putri telah membawanya pergi, menjauh dari Aston yang terjebak oleh kabut ilusi.
“Sial!” Aston yang sudah berhasil mengendalikan diri juga ikut beranjak pergi dari tempat itu. Segera ia menemui perdana mentri yang pasti akan melampiaskan kekesalannya lagi padanya. Siap tak siap, Aston harus menerima itu. Ia harus melaporkan apa yang baru saja terjadi.
Kabut ilusi pernah terjadi saat eksekusi sang villain. Aston menabak yang melakukannya adalah orang yang sama. Orang mereka cari selama ini. Jelas semua menegaskan bahwa sang villain masih hidup karena penyelamatnya ada di sekitar istana.
“Tuan!” sapa Aston sembari memberi hormat seperti biasa.
Wajah perdana mentri sudah masam lantaran tak melihat Aston membawa seseorang bersamanya. Seseorang yang menguping pembicaraannya bersama orang-orangnya setengah jam yang lalu.
Lalu, tangannya terayun untuk memukul wajah Aston. Tanpa berniat menghindar, Aston pun membiarkan tuannya melampiaskan amarahnya itu.
“Apa yang kau dapat?” tanya perdana mentri Basam secara langsung. Ia malas berbasa-basi karena pikirannya sedang kusut.
Bagaimanapun juga, Perdana mentri mengkhawatirkan pembicaraan mereka sampai ke telinga putri Aura. Sudah pasti rencananya akan berantakan.
“Ampun tuan, saya melihat seseorang menyelamatkan penguping itu. Dia adalah orang yang sama yang telah menyelamatkan sang villain!” terang Aston kepada perdana mentri Basam.
Wajah perdana mentri Basam yang tadinya tampak masam kini terkejut heran. “Maksudmu dia berhubungan dengan hilangnya sang villain?” tanyanya meminta penjelasan lebih.
Aston menganggukkan kepalanya, tertanda bahwa dugaan Perdana Mentri kemungkinan benar. “Kupikir dia berhubungan erat dengan sang villain, Tuanku. Dan kemungkinan besar penguping yang sedang saya buru adalah orang kita sendiri, yaitu sang villain,” jelasnya.
Perdana Mentri mengeratkan genggamannya. Sampai detik ini, seseorang yang telah melayangkan kabut ilusi itu belum diketahui siapa. Perdana Mentri sempat curiga dia adalah orangnya, tetapi setelah diselidiki, orang-orangnya tidak ada yang tahu ilmu itu. Perdana mentri Basam juga sempat mencurigai Aura, tetapi putri Aura tak pernah ia lihat menggunakan ilmu itu. Tidak ada orang istana yang bisa menguasainya. Ilmu itu cukup langka.
“Siapa sebenarnya dia? Apa mungkin yang menguping pembicaraan kita adalah sang villain? tapi kenapa dia lari? Seharusnya dia menemuiku dengan segera setelah selamat dari kematiannya!” Basam tampak bingung sendiri dengan semua ini.
Dia sungguh penasaran dengan seseorang yang telah menyelamatkan orang suruhannya untuk membunuh Aura. Rasa penasarannya pun bertambah setelah kejadian hari ini.
“Tuan, apakah Anda berpikir ini ada hubungannya dengan tuan putri Auraleia?” tanya Aston. Kepalanya juga berpikir demikian. Entah kenapa Aston menduga yang telah menyelamatkan sang villain dan orang yang tadi dirinya kejar adalah putri Aura.
Perdana Mentri mengerutkan dahinya. Ia tidak tahu harus menjawab apa, tetapi dirinya pun curiga ke arah yang sama. Mungkinkah kecurigaannya ini benar? Bahwa yang telah menggunakan kabut ilusi itu adalah putri Aura? Namun, untuk apa sang putri menyelamatkan villain itu?
“Untuk mengungkapkan identitasku,” Suara perdana mentri Basam terdengar rendah. Ia baru saja menjawab pertanyaannya sendiri. Jika memang itu tujuan putri Aura, maka masuk akal bila ia menyelamatkan sang villain.
Perdana Mentri mulai gelisah.
“Tenanglah, Tuan, aku tahu bagaimana mengungkapkan kecurigaan kita ini,” ucap Aston mencoba menenangkan Perdana Mentri.
“Apa maksudmu?” tanya Perdana Mentri.
Aston mendekat. Ia pun memberitahu perdana mentri Basam mengenai rencananya. “Seseorang yang menguping pembicaraan tuan dan yang lainnya pasti akan memberitahu orang itu. Jika benar dia adalah tuan putri Aura, maka rencana kita untuk menculik bahkan membunuh putra mahkota pasti gagal,” terangnya.
“Tuan putri Aura tidak akan membiarkan kita mendekati Putra Mahkota sedikitpun. Penjagaan juga akan diperketat. Saat itu terjadi, dapat dipastikan bahwa pemilik kabut ilusi itu adalah tuan putri Auraleia,” jelas Aston melanjutkan.
Perdana Mentri memicingkan mata. Kepalanya terangguk mengiyakan. “Kau benar, Aston! Kita akan tahu yang sebenarnya jika sampai putri Aura menghalangi rencana kita!” ujarnya.
“Kita juga akan tahu sang villain masih hidup dan bersama tuan putri. Dengan begitu aku juga bisa memanfaatkan situasi ini untuk memfitnah putri Aura!” ujar perdana mentri Basam setuju. Ia tidak menyangka akan mendapatkan kesempatan emas ini untuk menghancurkan putri Aura.
“Kali ini kau tidak akan lolos, putri Aura!” Perdana Mentri menyunggingkan senyum sinisnya. Perdana mentri Basam yakin soal ini. Putri Aura pasti akan memperketat penjagaan untuk Putra Mahkota karena takut adik kesayangannya itu kenapa-napa.
Setelah itu, dengan mudah dia akan menggulingkan putri Aura. Basam akan memfitnahnya dan menggeledah kediamannya.
“Sempurna!” ujar Basam kesenangan.
Aston pun ikut menyunggingkan senyumnya, ikut senang melihat tuannya bahagia. Tidak sia-sia dirinya berpikir keras sepanjang menemui perdana mentri Basam tadi hingga akhirnya ia menemukan sebuah ide untuk menyenangkan tuannya. Ide ini juga sungguh bermanfaat. Jika memang putri Aura bukan pemilik kabut ilusi itu, maka nyawa pangeran Joan juga berada di tangan mereka.
Benar-benar rencana yang sempurna. Kali ini tidak akan ada kegagalan lagi menurut Aston.
Namun, Basam dan Aston tak seharusnya merasa senang terlebih dahulu. Entah apa yang akan terjadi. Semua akan berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan perdana mentri Basam atau hanya akan dalam angan-angannya saja. Mungkin saja putri Aura juga menyiapkan perangkapnya sendiri.
Perdana Mentri dan Aston tidak tahu bahwa sang villain terkubur dalam diri seorang Rafas yang pintar dan baik hati. Bisa saja Rafas memiliki rencana lain yang lebih licik tanpa harus melukai siapapun seperti yang perdana mentri dan Aston lakukan.
Seharusnya, kedua orang itu tak perlu tertawa dulu. Mereka bukan hanya menghadapi putri Aura yang cerdik saja, tetapi juga menghadapi Rafas, si pengacara pembela umum yang memiliki banyak taktik untuk mengungkapkan kebenaran dan menjatuhkan lawan.
“Kau benar-benar hebat, Aston! Aku bangga padamu,” puji perdana mentri Basam. Padahal ia belum tahu persentase keberhasilan dari rencana mereka.
“Terima kasih, Tuan,” kekeh Aston. Percaya dirinya meningkat begitu mendapatkan tepukan punggung dari perdana mentri Basam. Tck! Kedua memang cocok untuk bekerjasama. Selain sama-sama licik dan jahat, mereka juga sama-sama memiliki kepercayaan diri yang terlampau tinggi sebelum berperang.
.
.
To be continued.
Yuk lanjutttt