***
Rafas masih berada dalam keterkejutannya setelah beberapa menit yang lalu seseorang menarik tangannya dengan cukup kuat. Namun, dirinya bersyukur karena orang itu menyelamatkannya dari kejaran pria besar yang hampir saja menangkapnya. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah putri Aura.
“Apa yang sedang kau lakukan?” geram Aura dengan wajah yang memerah marah. Jujur saja, ia tak menyangka akan menemukan Rafas di tempat ini sembari dikejar oleh Aston, pengawal pribadi perdana mentri Basam.
Rafas semakin terkejut melihat putri Aura memarahinya. “Maafkan aku, tetapi aku memiliki sesuatu untukmu,” katanya.
“Apa yang sedang kau lakukan di tempat ini?” ulang Aura dengan nada yang tertekan dalam. Jantungnya hampir saja copot saat tanpa sengaja melihat Aston mengejar Rafas. Entah apa yang akan terjadi andai ia tidak bergerak cepat.
Mungkin Rafas sudah tertangkap dan dibawa pada perdana mentri Basam. Bukan hanya Rafas yang akan terluka, tetapi nama Aura juga akan diseret bersamanya. Membayangkan hal itu saja sudah membuat Aura merinding tidak terima.
Sepertinya, Aura harus memperingatkan Rafas sekali lagi untuk tidak sembarangan berada di tempat ini.
“Apa kau lupa? Kau itu seorang buronan kerajaan!” ujarnya masih dengan kekesalan. Bagaimana mungkin Rafas bersikap seenaknya seperti ini? Apa dia pikir prajurit kerajaan main-main dalam mencarinya?
“Kau pikir nyawamu ada berapa huh? Kau pikir kau ini siapa?” Kini, Aura tak bisa menahan suaranya. Beruntung, kediamannya kedap suara. Tak akan ada yang bisa mendengarnya.
Rafas salah tingkah dan merasa bersalah karena telah ke tempat ini tanpa berpikir lagi. Namun, dirinya tidak menyesal sebab ia mendapatkan sesuatu yang sepadan dengan nyawanya. Percakapan yang tidak sengaja dirinya dengar tadi bisa menyelamatkan nyawa seseorang, meskipun nyawanya sendiri hampir saja jadi korban. “Maafkan aku,” lirihnya menyesal karena telah membuat Aura khawatir atau marah. Entahlah, Rafas tidak bisa membaca apa yang saat ini Aura rasakan.
Aura menarik napasnya dalam, sebelum mengembuskannya secara perlahan. Ditatapnya Rafas dengan lekat, lalu dibuangnya tatapan itu ke arah lain. Ia baru sadar telah membuat Rafas merasa tidak nyaman.
“Katakan apa yang sedang kau lakukan di tempat ini? Kau tahu, bukan hanya dirimu yang akan dalam bahaya jika tertangkap,” tanya Aura yang mulai melembutkan suaranya. Tak tega juga dirinya melihat wajah Rafas yang ketakutan.
Rafas pun ikut menarik napasnya dalam sebelum mengembuskannya secara perlahan. “Aku berada di sini karena mengkhawatirkanmu sekaligus mengkhawatirkan perutku!” ujarnya membuang muka.
Ia ingat dirinya belum sempat mengisi perut sejak kemarin gara-gara Aura berhenti memberinya makan. Dan, beberapa menit yang lalu ia berlari bagai kesetanan dalam keadaan perut kosong. Rafas tahu ini bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah perutnya yang meminta jatah, tetapi dia kesal juga pada Aura karena melupakan keberadaannya.
Aura melebarkan pupil matanya. Kesibukan di dalam istana membuatnya melupakan soal makanan Rafas. Lagi pula, bukan hanya itu yang menjadi alasannya mengabaikan pria di depannya ini. Aura masih malu lantaran kejadian malam itu. Makanya ia menghindari Rafas.
“Kau sengaja mengabaikanku, bukan?” tanya Rafas curiga. Melihat bagaimana Aura menghindari tatapannya, Rafas yakin sekali kecurigaannya ini benar.
Tck!
Sudah dia duga, Aura sengaja mengabaikannya karena kejadian malam itu. Apa Aura terganggu? Entahlah, tetapi melihat pipi sang putri sedikit memerah, Rafas sedikit yakin bahwa menghindarnya Aura adalah karena godaannya.
“Keterlaluan! Aku hampir mati kelaparan daripada ditebas pedang,” ucap Rafas menyindir kelakuan Aura. “Padahal kau sendiri yang memintaku menjaga nyawaku!” ujarnya.
Tck! Kini giliran Aura yang mendecakan lidahnya. Ia memberanikan diri membalas tatapan Rafas yang penuh tuduhan. “Aku baru saja ingin menemuimu,” katanya.
“Bohong!” balas Rafas.
Tatapan mata Aura menajam. “Kau berani melawanku? Menuduhku?” kesalnya.
Dengan santai Rafas menganggukkan kepala. Ia menyimpan tangannya di depan d**a. “Aku tahu kau sengaja menghindar dariku karena kejadian malam itu,” ucapnya.
Sekali lagi Aura membuang wajahnya. Lalu kembali menatap Rafas. “Jangan sembarangan menuduhku! Cepat bersihkan dirimu agar aku bisa membawakan makanan untukmu!” ujarnya.
“Apa kubilang, kau sengaja menghindariku. Seperti saat ini contohnya. Apa kau merasa terganggu karena kejadian malam itu?” Rafas menaikan salah satu alisnya. Ia menggoda putri Aura lagi.
Tck! Menyebalkan! Berani sekali Rafas melakukan itu? Namun, Aura tidak bisa marah, itu akan semakin memperjelas tuduhan Rafas.
“Aku tidak menghindarimu, aku hanya sedang sibuk dengan istana dalam. Ibunda ratu akan mengadakan pesta ulang tahunnya beberapa minggu lagi,” ucap Aura memberikan alasan paling masuk akal yang mungkin bisa Rafas terima.
“Aku tidak berbohong. Aku terlibat dalam pesta itu karena aku akan menarikan tarian pedang.” Entah kenapa Aura harus menjelaskan ini kepada Rafas, tetapi bila ia bisa menghindari tuduhan Rafas, maka dirinya dengan senang hati menggunakan pesta ulang tahun ibunya sebagai alasan.
Rafas mengangguk singkat. Ia pura-pura percaya meskipun masih curiga. “Pesta kerajaan memang berbeda, acaranya dipersiapkan jauh sebelum hari H,” komentarnya menanggapi penjelasan Aura.
“Begitulah. Ibunda ratu menyukai pesta yang mewah. Selain itu, aku juga sibuk mengajari Putr Mahkota ilmu pedang,” terang Aura. Kali ini dirinya tidak berbohong. Kesehariannya di isi dengan mengajari putra mahkota Joan ilmu bela diri.
“Maksudmu pangeran Joan?” tanya Rafas yang baru saja menyadari yang sedang Aura bicarakan adalah orang yang sama dengan yang perdana mentri Basam dan pengikutnya katakan.
Aura mengangguk singkat. Ia mengernyit heran lantaran merasa tak pernah memberitahu Rafas soal adiknya, putra mahkota kerajaan ini dengan detail seperti itu. Aura tidak pernah sembarangan membawa-bawa nama Joan pada seseorang yang baru dirinya kenal seperti Rafas.
“Dari mana kau tahu tentang Joan?” tanyanya curiga. Tentu saja, siapapun bisa Aura curigai meskipun ia sudah memutuskan untuk mempercayai Rafas dan menganggapnya seorang teman.
Rafas mengangguk tenang meskipun tadi ia sempat mendengar musuh sang putri merencanakan kejahatan pada putra mahkota Joan. “Akan aku ceritakan setelah kau memberiku makan. Aku benar-benar kelaparan sekarang,” katanya. Masih saja Rafas sempat memikirkan perutnya yang keroncongan.
Iya, Rafas tidak akan bisa berpikir bila tidak ada makanan. Rafas butuh tenaga untuk menyusun sebuah rencana dalam melindungi putra mahkota kerajaan ini.
Putri Aura berdecak sebal. Ia sungguh penasaran, tetapi juga kasihan pada Rafas yang kelaparan. Baru saja ia mendengar perut Rafas berbunyi, dan itu sungguh menyedihkan.
“Bersihkan dirimu! Aku akan meminta pelayan untuk membawakan makanan. Jangan keluar dari tempat pemandian sebelum aku memanggilmu!” perintahnya. Tentu saja Aura khawatir pelayan istana di kediamannya melihat Rafas. Tidak ada yang tidak mungkin, bukan? Bisa saja salah satu dari pelayannya adalah orang suruhan Perdana Mentri yang licik.
Rafas menganggukkan kepalanya dengan semangat. “Aku menerima perintahmu, tuan putri. Kalau begitu aku mandi dulu,” balasnya.
Aura mengabaikan itu. Ia berbalik meninggalkan Rafas yang masih memandangi punggungnya. Putri Aura tidak tahu saja, Rafas sungguh mengaguminya. Aura hebat, tegas dan penuh perhitungan. Juga, memiliki hati yang baik. Selalu ingin melindungi yang lemah, dan yang terpenting Aura mencoba untuk mempercayai orang asing sepertinya ini.
Dia pantas menjadi putri kerajaan ini. Sikapnya yang bijaksana dan tegas akan membawa kerajaan pada kedamaian. Rafas yakin akan hal itu. Ia percaya bahwa Aura mampu melindungi kerajaan ini dari malapetaka. Dan, Rafas berjanji untuk selalu menemani sang putri dalam melindungi kerajaan.
“Itu kebaikan paling setimpal untuk membalas kebaikanmu, putri Aura!” ujar Rafas. Lalu, pria itu masuk ke dalam ruangan yang menuju ke pemandian pribadi sang putri. Wangi khas Aura menguar begitu saja, membuat Rafas nyaman karenanya.
“Akan terasa lebih menyenangkan bila wewangian ini bisa kuhirup langsung dari tubuhnya,” kekehnya Rafas. Lalu, dengan cepat ia sadar akan kelakuannya.
“Lancang!” katanya masih sambil terkekeh. Rafas menggelengkan kepala. Taka da maksud untuk melecehkan sang putri, hanya saja sejak bertemu dengan Aura, Rafas sering melamunkannya. Mungkin karena putri Aura adalah penyelamatnya, orang pertama yang akhirnya bersikap baik kepadanya.
Iya, pasti karena hal itu. Dan, Rafas pikir ia semakin ingin membuktikan bahwa dirinya bukan seorang villain yang sedang diburu kerajaan kepada putri Auraleia karena Rafas secepatnya ingin berada di sisi Aura sebagai perisainya.
.
.
To be continued.