*** Rafas menyusul Aura setelah menghentikan tawanya. Melihat Aura sebal menjadi hiburan sendiri untuknya. Namun, Rafas juga takut Aura benar-benar marah padanya. “Tuan putri! Astaga, tunggu aku!” ujar Rafas pura-pura kesuitan menyeimbangkan langkahnya dari Aura. Padahal, mudah saja bagi pria itu untuk menyusul Aura. “Kau benar-benar marah?” tanya Rafas. Aura menoleh dan memutar bola matanya secara asal. “Untuk apa aku marah?” sebalnya. Rafas mengangguk singkat. “Kupikir kau marah gara-gara aku terus menerus menggodamu,” ucapnya. Tck. Siapa lagi yang berdecak sebal selain Aura. Sang putri sebal sebab ternyata Rafas menyadari perbuatannya. Untuk apa pria itu menggodanya? Untuk membuatnya gugup? Sialan! Aura merasa tidak terima. “Astaga! Jangan marah. Aku hanya bercanda,” ucap

