“Jodoh itu unik kan, Ni. Aku tidak pernah tahu akan berjodoh dengan kamu. Yang aku tahu kamu adalah jodoh yang aku idam-idamkan.”
Aku masih ingat ucapan dia beberapa tahun lalu. Dia yang saat ini menjadi imam dalam rumah tanggaku. Sudah dua jam aku duduk di depan laptop yang diberikan olehnya tepat di hari ulang tahunku. Sejak menikah dengannya aku memutuskan untuk berhenti bekerja, dan hanya fokus mengurus anak serta suamiku saja. Sesekali aku datang ke toko laundry yang dengan susah payah aku dirikan. Tugasku tak berat, hanya mengontrol saja, karena sudah ada yang mengurus segalanya.
Aku melihat ke arah samping, tempat di mana dia berada. Dia baru pulang jam dua belas malam tadi, karena ada pasien yang due date. Dengkurannya terdengar keras, pertanda bahwa ia sangat kelelahan. Namun bagiku nggak masalah. Aku lebih suka suara dengkurannya yang berisik itu, daripada suasana sepi, karena itu artinya dia berada jauh dariku.
Aku sangat beruntung memilikinya sebagai suami. Dia mau memanjangkan sabar ketika menghadapiku. Atau setiap bulannya aku melewati masa periodeku. Dia rela memijat kakiku ketika keduanya membengkak saat aku hamil anak-anaknya.
Ini adalah kisahku dengannya. Kisah yang menjadi kenangan terindah untuk kami, khususnya untukku.
Ketika di luar sana banyak yang berharap kisah cintanya seperti Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib, yang sama-sama memendam rasa sejak lama kemudian dipersatukan dalam simpul halal. Atau kisah Rasulullah SAW bersama Bunda Khadijah yang sama-sama saling mengagumi kemudian bersatu hingga salah satu dipisahkan oleh maut. Ataupun kisah Nabi Yusuf as dan Zulaikha, yang konon begitu dalam hingga Zulaikha takut kecintaannya pada Nabi Yusuf as merusak kecintaannya pada Allah SWT. Dari kisah yang diinginkan oleh kebanyakan wanita, tak ada satupun kisahnya yang sama denganku. Maka kisahku seperti kisah Ummu Sulaim dan Abu Thalhah, yang maharnya adalah keislaman.
Aku ucapkan padanya, “aku meridhoi islammu sebagai maharku.”