Izhar Syafawi

1397 Kata
Tak apa aku ditinggalkan olehnya, yang penting tidak ditinggalkan oleh-Nya. *** Sudah dua jam aku duduk di depan laptop yang dibelikan dia tepat di hari ulang tahunku beberapa tahun lalu. Sejak menikah dengannya aku memutuskan untuk berhenti bekerja, dan hanya fokus mengurus suami serta anak-anakku saja. Sesekali aku datang ke toko laundry yang dengan susah payah aku dirikan. Tugasku tak berat, hanya mengontrol saja, karena sudah ada yang mengurus segalanya. Aku melihat ke arah samping, tepat di mana ia berada. Ia baru saja pulang jam 12 malam tadi, karena ada tugas mendadak di rumah sakit. Sebagai istri dokter, aku harus siap kapan pun ditinggalkannya ke luar kota untuk mengisi seminar ataupun ditinggal saat ada kondisi due date pasiennya seperti saat ini. Dengkurannya terdengar keras, pertanda bahwa ia sangat kelelahan. Namun bagiku tak masalah, aku lebih suka suara dengkurannya yang berisik itu, dari pada suasana sepi, karena itu artinya ia sedang berada jauh dariku. Ah aneh, padahal saat ini usiaku sudah tidak muda lagi. Sama sepertinya. Tapi kami masih merasa seperti anak muda zaman sekarang. Kalau sedang libur, dia sering mengajak aku pergi ke taman untuk sekedar melepas penat, atau pun pergi ke restoran favorit kami, atau pun pergi ke kajian. Iya, kami berdua masih haus ilmu. Terutama ilmu agama. Terlebih ia yang seorang mualaf. Aku sangat beruntung memilikinya sebagai suami. Dia mau memanjangkan sabar ketika menghadapi sifat childish-ku. Atau setiap bulannya aku melewati masa periodeku. Ia rela memijat kakiku ketika keduanya membengkak saat aku hamil anak-anaknya. Dari awal aku tidak pernah meminta seseorang yang sempurna sebagai suamiku. Karena aku sadar, aku bukanlah wanita sempurna. Cukuplah ia yang mencintai Allah dan bisa berdamai dengan masa laluku, bagiku itu sudah lebih dari cukup. Namun ternyata Allah memberiku kejutan lain dengan menghadirkan sosoknya dalam hidupku. Sebenarnya sangat panjang perjalanan kami, banyak lika-liku yang kami hadapi sampai akhirnya kami bersatu hingga detik ini. Jika kalian ingin mengetahuinya, silakan baca. Tapi kalau kalian malas membaca kisah yang teramat panjang dan mungkin akan membosankan, tinggalkan lah. Karena aku juga tidak pernah memaksa. Tapi aku minta satu hal, jangan bilang-bilang ke dia kalau aku menceritakannya pada kalian. Bisa-bisa dia besar kepala, tapi aku tetap cinta. *** Sepuluh tahun lalu, aku sempat bekerja sebagai tukang bersih-bersih di rumah Ummi Salamah. Beliau begitu baik kepadaku. Selama bekerja dengannya aku tidak pernah mendengar bentakkannya saat akan menyuruh sesuatu. Perangainya begitu lembut, sifatnya begitu halus seperti sutra. Beliau memperlakukan aku bukan seperti asisten rumah tangganya, melainkan anaknya sendiri. Sampai suatu hari, Ummi menyuruhku untuk membersihkan kamar. Beliau bilang kalau pemilik kamar itu akan datang. Tanpa menolak, aku langsung mengiyakan perkatakan Ummi. Ummi pernah cerita kalau anak semata wayangnya sedang kuliah di luar Negeri. Tepatnya di Al-Azhar, Kairo. Aku masih ingat saat itu, aku hanya bisa mengangguk sambil terperangah mendengar cerita Ummi. Sungguh hebat anaknya Ummi itu. Setahu aku kalau lulus dari universitas itu harus hafal Al-Qur'an 30 juz. Tinggal bersama Ummi memberikan aku banyak pelajaran, terutama mengenai agamaku. Islam. Ummi tidak pernah mengguruiku secara langsung, namun Ummi mencontohkannya sendiri. Misalkan seperti kewajiban salat lima waktu, Ummi tidak memberikan aku ayat atau hadis mengenai keutamaan salat, tetapi Ummi langsung mengajakku salat berjamaah di rumah. Atau kewajiban menutup aurat, Ummi sering memberikan aku jilbab-jilbab panjang yang menjulur sampai ke d**a, beserta gamisnya juga. Aku jadi sering menggunakannya hingga aku terbiasa. Sampai ketika aku lupa untuk mengenakannya, aku merasa tidak nyaman ketika keluar rumah. Saat itu aku memang belum mengenai jilbab. Ummi seorang janda, suaminya sudah meninggal ketika anaknya berusia 15 tahun. Ummi bekerja sendiri mencari nafkah untuknya juga untuk anaknya. Apapun Ummi lakukan agar bisa memberi kehidupan yang layak untuk anaknya yang penting halal. Sungguh hebat bukan Ummi Salamah itu. Bisa menjadi ibu sekaligus ayah. Darinya lah aku belajar untuk kuat. Kalau diingat bagaimana aku bisa sampai di rumah Ummi, itu adalah bagian paling menyakitkan yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku berjalan di tengah derasnya hujan yang menyirami kota dengan begitu deras. Seakan alam pun tahu, bagaimana sakitnya hatiku saat itu. Malam itu aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, merobek langit dan menceritakan semua yang terjadi pada-Nya. Aku ingin mencari jawaban atas pertanyaanku, "mengapa harus aku yang mengalami? Mengapa sejak aku dilahirkan aku tidak pernah bahagia?" DIA pasti tahu jawabannya, karena Dia-lah yang membuat skenario ini. Mengapa Dia begitu jahat kepadaku hingga membuat aku semenderita itu. Tidak pantaskah aku bahagia? Bahkan untuk bersama dengan laki-laki yang sangat aku cintai. Aku sudah tidak tahu lagi tujuan hidupku. Dulu aku pernah mempunyai impian, menjadi istri yang baik untuk suamiku. Mencintai suamiku bagaimana pun keadaannya, berada di sampingnya dalam keadaan apapun, namun ternyata ia tidak mempunyai perasaan yang sama sepertiku. Dengan mudahnya ia meninggalkanku setelah tahu kekuranganku. Aku ingin mati saja. Itulah yang aku pikirkan saat itu. Aku sudah tidak punya lagi "rumah" untuk pulang. Tidak ada sandaran kala aku merasa lelah. Bahkan aku dibuang oleh keluargaku. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk terjun dari atas jembatan yang sedang aku lewati ini. Biarlah derasnya air sungai menghilangkan tubuhku, seperti aku yang ingin menghilangkan semua masalah-masalahku. Satu kakiku berhasil naik, namun saat aku ingin menaiki satu kaki lagi seseorang menahan lenganku. Memegangnya kuat, memohon agar aku tidak melanjutkan aksi konyolku. Aku meronta, memintanya untuk tidak peduli akan hidupku. Siapalah dia yang berani ikut campur urusanku. Dia hanya orang asing bagiku, tak lebih. "Istigfar, Nak. Istigfar..." kata orang itu dengan suara lembut. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena di tempat ini gelap dan minim penerangan. "Bunuh diri adalah dosa besar." Aku menghentikan gerakanku. Entah mengapa mendengar suaranya mengingatkanku pada suara milik ibu yang menenangkan. Aku begitu merindukan ibu, kalau saja saat ini kedua orang tuaku masih ada. Aku tahu kemana aku harus pulang. Aku menangis sejadi-jadinya di bahu orang itu. Pelukannya begitu hangat, memudarkan rasa dingin yang merasuk ke tulangku. Aku mengeluarkan segala isi hatiku, perasaaku yang selama ini aku pendam, beban-bebanku yang tidak pernah aku bagi oleh siapapun. Saat itu, aku bisa dengan mudah menceritakan semuanya hingga dadaku terasa sesak sampai aku tak sadarkan diri. Itulah ceritaku bisa sampai di rumah ini. Sebenarnya Ummi Salamah tidak pernah menganggap aku asisten rumah tangga, hanya saja itu aku yang meminta sebagai balas budi. Aku masih ingat perkataan Ummi Salamah yang saat itu tidak aku mengerti. Begini, "tak apa ditinggalkan olehnya, yang penting tidak ditinggalkan oleh-Nya." Saat itu memang aku tidak mengerti karena apa bedanya dari dua kalimat itu. Tetapi sekarang, aku sudah mengerti. Dan kata itu selalu aku pegang menjadi andalan untuk menjalani kehidupan yang begitu keras ini. Aku yakin, selama ada Allah, aku akan baik-baik saja. Suara klakson mobil menyadarkanku dari lamunan. Aku yakin itu adalah anak dari Ummi Salamah yang sudah sampai. Aku langsung pergi ke dapur, menyiapkan minum yang akan kuberikan padanya. "Assalamulaikum, Ummi." Suara khas laki-laki terdengar. Aku mengintip dari arah dapur, Ummi sedang berpelukan dengan seorang laki-laki. "Masya Allah.. Kamu sudah besar sekali, Nak." Aku keluar dengan membawa dua cangkir teh di atas nampan. Dengan gerakan pelan ku taruh cangkir itu ke meja. Aku melirik Ummi yang saat itu sedang menyeka air matanya. Ummi sendiri tidak pernah cerita bahwa anaknya seorang laki-laki, ku kira malah perempuan. "Dania." Namaku disebut oleh Ummi ketika ingin kembali lagi ke dapur. Aku segera menghadap Ummi. "Kenalkan ini Izhar, putra Ummi." Aku melihat ke arah putra Ummi, ia menangkupkan tangannya di depan d**a seraya menyebutkan nama. Begitupun dengan aku. "Dania." "Izhar Syafawi," ucapnya. Sepertinya namanya tidak asing lagi. Tapi dimana aku mendengar nama itu? Ah iya aku ingat, namanya itu seperti hukum tajwid mim mati bertemu dengan huruf hijaiyah selain mim dan ba'. Ummi pernah mengajarkan aku hukum tajwid, agar aku bisa lancar membaca Al-Qur'an. Meskipun nyatanya sampai saat ini aku masih terbata-bata. "Kamu pasti bingung ya," ucap Ummi padaku. Kentara sekali kah wajahku jika bingung? Hingga Ummi bisa langsung menebaknya. "Ummi memang sengaja memberinya nama Izhar Syafawi yang merupakan salah satu hukum tajwid. Dengan harapan putra Ummi ini mampu mempelajari Al-Qur'an dengan baik dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari." Ummi tersenyum ke arahku. Aku hanya bisa mengangguk sambil menundukkan kepala. Ummi pernah bilang tidak baik menatap orang yang bukan mahram kita, berdosa hukumnya. *** Sedikit dulu aku menceritakan kisahku pada kalian. Bayi besarku yang ketika pertama kali tulisan ini kubuat sedang terlelap, kini sepertinya sudah bangun. Lihatlah, dia sedang tersenyum ke arahku dengan manis sambil menepuk sisi kosong di sampingnya. Ah aku tak mau membuatnya lama menunggu. Nanti akan aku ceritakan lagi bagaimana bisa aku dibersamakan olehnya. Jika aku ingat-ingat, Ummi Salamah juga salah satu orang yang berjasa.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN