Laki-Laki dari Negeri Para Nabi

1177 Kata
Orang yang tidak bisa menerima kekuranganmu, ia juga tidak pantas menerima kelebihanmu. Segala sesuatu di dunia ini terjadi atas kehendak Allah. Jauh sebelum raga ini lahir, garis takdir sudah di tentukan. Hidup, maut, jodoh dan rezeki semuanya sudah diatur. Bahkan daun yang jatuh pun sudah diatur dan tertulis di Lauhul Mahfudz. Sejatinya tak pantas manusia menyalahkan takdir, seperti apa yang dahulu aku lakukan. Aku menyalahkan Allah atas semua hal buruk yang terjadi, aku meninggalkan Allah begitu jauh. Yang kulihat hanya sisi buruk dari setiap frame demi frame kehidupanku. Aku adalah hamba yang hina. Namun saat ini aku sadar, setiap hal menyakitkan yang terjadi dalam hidupku membuatku menjadi kuat. Hari ini aku seperti dilahirkan kembali. Ternyata benar, wanita yang pernah terjatuh begitu dalam, jika bangkit ia tidak akan sama seperti dulu. Ia akan berdiri lebih tegak sambil mengangkat kepalanya dan menunjukkan kepada dunia bahwa ia adalah wanita yang hebat, wanita yang tangguh. Peran wanita memberikan jasa yang begitu besar bagi peradaban dunia. Di rahimnya lah seorang manusia baru di lindungi. Di tangannya lah seorang anak di didik. Hingga wanita disebut-sebut oleh Rasulullah sebagai orang yang paling berhak mendapat perlakuan baik. Wahai Rasulullah siapakah diantara manusia yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya? Rasulullah menjawab; 'Ibumu', kemudian siapa? 'Ibumu', jawab Beliau. Kembali orang itu bertanya, kemudian siapa? 'Ibumu', kemudian siapa? Tanya orang itu lagi, 'kemudian ayahmu', jawab Beliau. (HR. Bukhari dan Muslim). Tak ada maksud apapun aku membahas soal itu. Aku hanya ingin kalian para lelaki yang pernah menyakiti hati seorang perempuan tau, bahwa sesungguhnya hati itu ibarat kaca. Sekali saja rusak, maka tidak akan bisa kembali ke bentuk semula. Baiklah, rasanya terlalu panjang aku bercuap-cuap. Aku pernah berjumpa dengan seorang laki-laki yang begitu menghormati perempuan. Aku menyebut ia adalah... Laki-laki dari Negeri Para Nabi. Dini hari aku terbangun mendengar sebuah suara. Aku melihat jam dinding, ternyata baru pukul 03.00 WIB. Pantas saja saat aku melihat keluar dari celah ventilasi, langit masih gelap. Kakiku melangkah keluar, berniat ingin melaksanakan qiyamul lail. Keduanya juga berjalan mengikuti arah suara. Sesampainya di depan pintu kamar, suara itu semakin jelas terdengar. Membuat kakiku terhenti sejenak. Suara itu berasal dari kamar Mas Izhar— ku panggil Mas sebagai bentuk penghormatan—yang sedang membaca Al-Qur'an. Suaranya begitu jernih, begitu fasih, dan juga indah. Membuat siapa saja yang mendengar pasti tersentuh. Aku tidak pernah mendengar suara seindah miliknya. Wal ladziina yaquuluuna Rabbanashrif 'anna' adzaaba jahannam. Inna 'adzaabaha kaana gharaama. Innahaa saa'at mustaqarraw wamuqaama. Mas Izhar mengulang-ulang ayat itu sambil terisak. Entah apa arti dari ayat yang dibacanya aku tak tahu. Namun, hatiku semakin bergetar hebat. Aku terus mendengarkan bacaannya dengan khusyu'. Wal ladziina yaquuluna Rabbana hablana min Azwaajina dzurriyatina qurrata a'yuniw waj'alna lil muttaqiina Imama. Kali ini aku tahu ayat yang dibacanya. Karena ayat itu merupakan doa yang setiap selesai salat tak luput aku membacanya. Itu doa Nabi Ibrahim as. Yang artinya, "Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penenang hati (kami) dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqaan: 74). Mas Izhar masih melanjutkan bacaannya. Sesekali ia menangis terisak, sesekali nadanya seperti merengek kepada Allah. Sungguh beruntung wanita yang nanti akan menjadi istrinya, rumahnya akan terisi dengan lantunan ayat suci yang merupakan cahaya penerang bagi pemiliknya. Begitu indah, seindah taman surga milik Allah. Tanpa ku sadari pipiku basah. Aku terhanyut pada suara dari surga itu. Suara yang membuat siapa pun yang mendengarnya bergetar, membangkitkan jiwa, serta mengingat akan Rabb-nya. Ummi pernah bilang, orang yang membaca Al-Qur'an adalah pemerah, sedangkan yang mendengarkan adalah yang meminumnya. Maksudnya, orang yang mendengarkan lebih merenungkan daripada yang membaca sehingga lebih mendapatkan manfaat. Untuk itu, Ummi sering memintaku membaca Al-Qur'an di depannya, meskipun bacaan Al-Qur'an-ku belumlah baik. Aku mengambil wudu, ke kamar dan memakai mukena. Berdiri menghadap kiblat seraya berkhalwat dengan Sang Pemberi selamat. Meminta ampunan akan semua dosa, baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja. Baik yang secara terang-terangan ataupun yang tersembunyi. Sungguh, aku adalah orang yang merugi jika Dia tak memberi ampunan-Nya. Aku melihat Ummi dan Mas Izhar sedang berada di ruang tamu. Ku letakkan sayur sup yang sudah ku tuang ke mangkuk di atas meja makan. Hidangan untuk makan siang kali ini sudah siap. Aku puas melihat hasil masakanku. "Nia sini," panggil Ummi sambil tersenyum. Aku mengelap tanganku di washlap kemudian langsung menghampiri Ummi. "Ada apa Ummi?" tanyaku. Aku tidak berani menatap Mas Izhar, yang ku tahu ia juga sedang memperhatikanku. "Ini buat kamu, ayo dicoba." Ummi memberikan aku sesuatu. Aku ragu untuk meraihnya, namun setelah Ummi memberiku kode untuk menerimanya, akhirnya ku ambil. "Itu oleh-oleh buat Mbak Nia, sebelum pulang ke Indonesia saya sempat mampir ke Turki," ucap Mas Izhar. Aku menegakkan kepala, tanpa sengaja melihatnya yang sedang tersenyum. Yaampun, manis sekali. Astagfirullah. Aku merapalkan istigfar berkali-kali dalam hati. Aku tidak mengerti, mengapa saat ini jantungku berdebar dari biasanya. Sejenak, lantunan ayat suci yang pagi tadi kudengar, mengalun dengan indah di telingaku. Membuat kedua kakiku melepas, terasa seperti tak menginjak bumi. "Nia kenapa?" Ummi menyadarkanku dari lamunan. Aku membuka bingkisan itu dan ternyata isinya adalah dua pasang gamis dan jilbab dari sutra. Yang satu berwarna hitam dan yang satu berwarna merah marun, warna kesukaanku. Aku mendadak ciut. Rasanya tidak pantas aku mendapatkan hadiah sebagus ini. Pakaian ini begitu mahal jika dipakai di tubuhku. "Ummi, Nia tidak pantas mendapatkan ini." "Loh kenapa? Kamu nggak suka?" "Bukan begitu Ummi, Nia suka. Sangat suka malah. Tapi pakaian ini terlalu mahal untuk Nia. Nia tidak pantas memakainya." "Kamu ini. Sudah berapa kali Ummi bilang, kalau kamu sudah Ummi anggap sebagai anak kandung Ummi sendiri. Jadi anggap saja baju itu adalah hadiah dari adik kamu." Ummi merengkuhku, aku pun membalasnya. Bersama Ummi, hatiku selalu tenang dan hangat. Aku seperti memiliki seorang ibu lagi. Akhirnya aku mencoba salah satu diantara dua. Aku memilih warna hitam, karena motifnya membuat aku penasaran. Di bagian bawah, punggung tangan gamis serta bagian atas jilbab terdapat ukiran yang terbuat dari benang berwarna emas. Sungguh, perpaduan yang sangat indah. Aku keluar dari kamar menghampiri Ummi dan Mas Izhar yang masih terduduk di ruang tamu. Seketika aku mendengar suara gumaman yang begitu lirih. "Masya Allah..."  "Ya Allah kamu cantik sekali, Nia." Ummi bangkit dan memegang daguku. Tanpa sengaja pandanganku menghadap ke Mas Izhar, ia juga memperhatikanku dan langsung menunduk. Begitu juga dengan aku, aku malu. Ummi memutar tubuhku, memperhatikanku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kemudian berdecak kagum. Lalu Ummi mengelus punggungku seraya berkata, "Kamu terlalu berharga untuk disakiti. Jangan tangisi orang yang tidak pantas untuk ditangisi. Ummi yakin, suatu saat kamu pasti mendapatkan seseorang yang bisa menerima kekuranganmu. Orang yang tidak bisa menerima kekuranganmu, ia tidak pantas mendapatkan kelebihanmu." Aku langsung memeluk Ummi. Ternyata Ummi tau, kalau aku sering menangis diam-diam. Kejadian yang pernah menimpa aku meninggalkan luka yang begitu dalam. Bahkan pisaunya masih bertengger sempurna di hatiku. Aku sedang berusaha mencabutnya perlahan-lahan. Jika aku memaksanya, maka rasanya akan lebih sakit. Ya Ummi benar, aku terlalu berharga untuk disakiti. Dan orang yang tidak bisa menerima kekuranganku, dia juga tidak pantas menerima kelebihanku. Semoga diluar sana masih ada laki-laki yang mau menerimaku. Semoga. Dan di kepalaku terlintas bayangan laki-laki dari negeri para Nabi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN