Jadi wanita itu jangan maunya hanya dibimbing saja. Tapi tunjukkan pada kami para lelaki, kalau kalian pantas untuk dinikahi.
-Izhar syafawi-
Siang itu kami makan bersama. Ummi duduk di sampingku dan Mas Izhar berada di depanku. Aku memasak menu yang Ummi suruh, yaitu sup iga, perkedel, dan juga sambal goreng ati. Ummi bilang itu adalah makanan kesukaan Mas Izhar.
"Waaah sepertinya enak nih," ucap Mas Izhar melihat hidangan yang ada di hadapannya. Ia segera mengambil piring, menyendok nasi serta lauknya.
"Coba dimakan deh, masakan Nia ini sangat enak. Ummi yakin pasti akan cocok di lidah kamu." Ummi menuangkan sup iganya di mangkuk lain. Kebiasaan Ummi kalau memakan sup, tidak pernah dicampur satu piring dengan nasi. Sedangkan kulihat Mas Izhar yang tampak ragu dengan perkataan Ummi. "Izhar ini Ni susah cocok dengan masakan orang. Harus benar-benar seleranya baru dia mau makan."
"Loh lalu di sana Mas Izhar gimana makannya? Pasti susah kan cari masakan Indo?" tanyaku.
"Susah sih, tapi saya punya tempat makan langganan. Makanan Mesir. Setiap hari saya makan di sana, sampai-sampai pemiliknya bosan dengan saya. Paling tidak kalau saya kangen makanan Indo, saya masak sendiri. Ya itu kata Ummi, lidah saya ini suka pilih-pilih makanan."
Aku mengangguk. Dalam hati aku berdoa semoga saja masakanku ini masuk ke dalam seleranya. Ia mulai menyendok dan memakannya dengan perlahan. Aku yang melihatnya menahan napas, sambil ketar-ketir di dalam hati.
"Gimana? Enak kan?" Belum sempat aku bertanya, Ummi sudah lebih dulu bertanya padanya. Ia diam sejenak, sungguh jantungku jadi deg-degan menunggu jawabannya.
"Masya Allah... Enak Ummi. Hampir sama dengan masakan Ummi."
Aku tersenyum lega mendengarnya. Alhamdulillah kalau ia menyukai masakanku.
"Tuhkan benar kata Ummi pasti kamu suka. Nia ini selain cantik juga pintar masak," kata Ummi. Sungguh Ummi paling pintar memuji seseorang, Beliau juga sering berkata seperti itu pada teman-temannya. Namun kali ini berbeda, aku malu. Sungguh.
"Kan Ummi yang ngajarin Nia masak." Ummi terkekeh, selain menjadi sosok orang tua pengganti, Ummi juga bisa menjadi guru buatku.
"Yasudah ayo makan, nanti supnya keburu dingin."
Setelah selesai makan aku membersihkan meja makan. Menaruh piring dan gelas kotor ke dalam wastafel agar segera dicuci. Kebiasaanku setiap selesai makan, aku harus langsung mencucinya karena tidak ingin menjadi menumpuk.
"Di sana kamu sudah ada calon belum buat jadi menantu Ummi?"
Aku menghentikan aktivitasku sejenak, untuk mendengarkan pembicaraan Ummi dengan Mas Izhar diam-diam. Aku sengaja menyalakan air keran agar mereka menganggapku sedang mencuci piring.
"Belum Ummi, Izhar lebih suka wanita Indonesia untuk dijadikan istri."
"Lho memangnya kenapa Mas, bukannya wanita Mesir itu cantik-cantik? Titisannya Cleopatra."
Astahfirullah... Lancang sekali mulutku ini berani bertanya macam itu. Ya suka-suka dia lah, mau sama siapa saja bukan urusan kamu.
"Iya Mbak, cantik sih. Tapi budaya kami berbeda. Saya lebih memilih wanita Indonesia karena ingin istri saya nanti bisa tinggal dengan Ummi. Saya ini kan anak satu-satunya Ummi, saya ingin istri saya bisa menyayangi Ummi seperti ibu kandungnya sendiri."
"Oh saya kira Mas seperti Fakhri, yang menikahi gadis Mesir bernama Aisha."
Oke, kali ini mulutku benar-benar harus dikunci rapat.
Sudah terhitung satu bulan setengah sejak kedatangan Mas Izhar. Dia juga sudah mendapatkan pekerjaan, yaitu menjadi seorang Dosen di fakultas Tarbiyah di salah satu Universitas Islam di daerah Ciputat.
Sepertinya ia menjadi Dosen idola di kampusnya. Biasanya Dosen-dosen muda sepertinya menjadi incaran para mahasiswi akhir yang galaunya bukan hanya memikirkan soal revisi saja, melainkan juga galau mencari pasangan hidup. Andai saja aku bisa mengatakan kepada wanita di luar sana, agar tidak terburu-buru dalam menikah. Bukan berarti aku tidak mendukung menikah muda, hanya saja menurut pengalamanku sendiri lebih baik menunggu lebih lama untuk mendapatkan seseorang yang tepat, daripada terburu-buru dan akhirnya mendapatkan orang yang salah.
Namun jika boleh memilih, lebih baik menikah cepat dan mendapatkan orang yang tepat.
Omong-omong soal Mas Izhar, saking famousnya dia di kampus sampai ada mahasiswinya yang nekat mengantarkan bingkisan atau kado ke rumah. Aku juga heran dari mana mereka mendapatkan alamat ini. Kalau sudah begitu, pasti hadiah itu ia berikan kepada aku. Kan aku jadi enak. Hehe.
"Mas lagi pesen barang online?" tanyaku setelah menerima sebuah paket yang beratas namakan dia.
"Nggak Mbak," jawabnya.
"Lha ini tulisannya buat Mas, alamatnya juga tepat. Mungkin Mas lupa kali."
"Yasudah Mbak buka saja, apapun isinya itu hak Mbak," ucapnya. Ia langsung duduk di kursi ruang tamu sambil membaca buku.
Aku pun mulai membuka bingkisan itu, dan isinya ada beberapa batang cokelat bermerk terkenal yang sering kudengar namanya. Di atasnya ada sebuah note bertinta merah. Kertasnya bagus, seperti kertas file sewaktu aku kecil dulu.
"Sepertinya ini dari mahasiswa bimbingan Mas deh. Ini ada suratnya Mas."
"Apa isinya?"
"Pak saya mau dibimbing bapak sampai ke surga." Aku membacanya sambil mengerutkan kening. Lha kok aneh, sampai bawa-bawa surga. Atau mungkin skripsinya mengenai surga dan neraka kali. Aku pun tidak mengerti.
"Jadi wanita itu jangan hanya mau dibimbing saja. Tapi tunjukkan kepada kami para lelaki, kalau kalian pantas untuk dinikahi."
Sumpah aku merasa tertohok dengan ucapannya. Aku tahu perkataannya bukan untukku. Hanya saja, aku merasa tersindir. Aku selalu berdoa agar diberikan laki-laki yang mau membimbingku, yang bisa menjadi sosok panutan untukku kelak dan anak-anakku. Namun saat ini aku sadar, bahwa seorang wanita juga harus memantaskan diri menjadi saliha. Agar pantas mendampingi siapapun laki-laki yang Allah kirimkan untuknya. Karena untuk menjadi saliha tidak bisa instan, butuh proses panjang dan juga jalan yang terjal serta berliku.
Ummi memasuki kamarku, menanyakan apakah aku sudah siap atau belum. Aku mengangguk sebagai jawaban, lalu mematutkan diri di cermin memastikan penampilanku sudah rapi. Hari ini aku memakai gamis berwarna merah marun dengan jilbab yang berwarna senada pemberian Mas Izhar waktu itu. Harus aku acungi jempol atas seleranya dalam memilih busana, gamis ini membalut tubuhku dengan indah.
Hari ini aku, Ummi dan Mas Izhar ingin pergi ke mall yang tak berada jauh dari rumah. Mas Izhar ingin pergi ke toko buku ya1ng ada di dalamnya, karena mencari toko buku selain di mall itu sulit di daerah sini. Mas Izhar bilang kalau ia ingin mendirikan 'rumah baca' di rumah, karena mengingat literasi anak-anak Indonesia sangat kurang.
Aku pernah membaca dari portal berita menurut data statistik dari UNESCO, dari total 61 negara, Indonesia berada di peringkat 60 dengan tingkat literasi rendah.
Peringkat 59 diisi oleh Thailand dan peringkat terakhir diisi oleh Botswana. Sedangkan Finlandia menduduki peringkat pertama dengan tingkat literasi yang tinggi, hampir mencapai 100%.
Data ini jelas menunjukkan bahwa tingginya minat baca di Indonesia masih tertinggal jauh dari Singapura dan Malaysia. Dari data penelitian yang dilakukan United Nations Development Programme (UNDP), tingkat pendidikan berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia masih tergolong rendah, yaitu 14,6 %. Persentase ini jauh lebih rendah dibandingkan Malaysia yang mencapai 28% dan Singapura yang mencapai angka 33%.
Hal itu terjadi karena beberapa faktor. Pertama, belum ada kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak dini. Anak adalah peniru yang ulung, dan orang tua menjadi role model bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting untuk menanamkan minat baca pada anak sejak dini untuk meningkatkan kemampuan literasi anak.
Faktor kedua adalah akses fasilitas pendidikan kurang merata dan minimnya kualitas sarana pendidikan. Dan faktor yang terakhir masih kurangnya produksi buku di Indonesia.
Ya karena faktor itulah Mas Izhar mendirikan 'Rumah Baca' terutama untuk menanamkan minat baca pada anak sejak dini.
Aku dan Ummi keluar rumah, di sana sudah ada Mas Izhar yang sedang memanaskan mobil. Pakaiannya begitu kasual dengan kaos berkerah warna biru dongker serta celana hitam panjang di atas mata kaki.
"Waduh Ummi Izhar cantik sekali," godanya. Aku melihat Ummi yang tersenyum malu. Namun benar, hari ini Ummi sangat cantik dengan gamis berwarna hijau muda dengan jilbab senada. Meskipun Ummi sudah berumur, namun garis-garis kecantikkan masih nampak di wajahnya.
"Iya Ummi, Mas Izhar benar. Ummi sangat cantik hari ini," timpalku.
"Sepertinya saat Allah menciptakan Ummi, Dia sedang bahagia. Sungguh beruntung Almarhum Abi bisa mendapatkan bidadari surga seperti Ummi."
"Yaampun kalian ini, bisa-bisanya merayu Ummi. Ummikan jadi malu."
Aku dan Mas Izhar kompak tertawa.
Aku duduk di kursi penumpang belakang. Mas Izhar yang menyetir, sedangkan Ummi duduk di sampingnya. Awalnya Ummi ingin duduk di sampingku, namun dilarang Mas Izhar karena ia seperti menjadi supir pribadi.
Mas Izhar banyak bercerita kepada Ummi. Terutama mengenai kehidupannya selama merantau di negeri orang. Ya, aku tahu, tidak mudah memang menjalankannya. Apalagi harus berpisah jauh ribuan mil dengan keluarga.
Aku hanya menyimak pembicaraan antara ibu dan anak itu. Hatiku menghangat melihat Mas Izhar sangat bersikap lembut dan juga sayang pada Ummi. Begitu pun dengan Ummi, Beliau adalah wanita hebat karena bisa membuat anaknya menjadi seperti sekarang.
Di pertengahan jalan, Ummi mendadak menyuruh Mas Izhar menghentikan mobilnya. Aku melihat ekspresi Mas Izhar yang nampak bingung dari kaca spion depan. Aku juga sama bingungnya.
"NCi Meilin mau kemana?" Ummi membuka kaca mobil, kepalanya setengah keluar. Di luar sana ternyata ada nCim Meilin, tetangga kami yang merupakan etnis Tionghoa.
"Mau ke vihara, Mi."
"Bareng kami saja, kebetulan lewat sana."
NCim Meilin menolaknya, karena ia merasa tidak enak dengan kami. Namun bukan Ummi namanya kalau menyerah begitu saja, akhirnya nCim Meilin mau dan duduk di sampingku.
Ummi membuka obrolan dengan nCim Meilin, mereka membicarakan tentang acara paguyuban di RT kami. Setiap dua minggu sekali memang ada bersih-bersih lingkungan sekitar. Bapak-bapak yang membersihkan, sedangkan para ibu-ibu membantu untuk menyiapkan makanan. Aku juga sering ikut karena diajak oleh Ummi.
Beliau juga sempat mengobrol dengan Mas Izhar, sesekali bertanya tentang kepulangannya ke Indonesia. Mas Izhar menjawabnya dengan sikap lembut, tenang serta berwibawa. Terlihat sekali kalau Mas Izhar seorang yang berilmu dari sikapnya memperlakukan orang yang lebih tua darinya. Memang laki-laki yang tampan dan mapan sangat menarik, namun lebih menarik lagi saat ia memiliki iman dan berilmu.
Jika aku dihadapkan dengan dua pilihan antara yang mapan dan tampan ataupun beriman dan berilmu, maka dengan tegas aku akan menjawab yang kedua. Karena saat seorang laki-laki sudah beriman dan berilmu ketampanan dan kemapanannya sudah tercipta dengan sendirinya.
Memangnya ada yang mau sama kamu?
Sisi diriku berkata. Aku harus mengucapkan terima kasih kepadanya telah bersikap realistis. Sehingga aku tidak terjerumus dalam pengandaian yang mungkin bisa membuat aku masuk ke dalam jurang pengharapan. Aku tahu sakitnya berharap kepada manusia seperti apa, dan aku tidak mau terjebak di lubang yang sama.
Aku juga sempat mengobrol dengan nCim. Obrolan kami tidak jauh dari seputar masakan. NCim juga sangat jago membuat resep makanan enak, beliau sering membaginya padaku.
NCim Meilin turun di depan sebuah bangunan yang di d******i dengan warna merah. Di depan bangunan tersebut, terdapat gapura yang bertulisakan 'vihara lim pak kung.'
"Terima kasih ya, Mi, Izhar dan hey kamu. Kapan-kapan kita masak bareng lagi ya."
Aku tertawa kepada nCim Meilin. "Iya nCim insya Allah."
Ajaran Islam memang sempurna. Tidak hanya perkara hubungan seorang hamba dengan Sang Khalik, tetapi juga dengan sesama. Bahkan dengan orang yang berbeda keyakinan sekalipun.
Aku jadi teringat cerita Ummi tentang bagaimana akhlak Nabi Muhammad SAW terhadap nonmuslim.
Nabi Muhammad SAW adalah yang paling perhatian terhadap kondisi pengemis tua dari bangsa Yahudi yang menetap di salah satu sudut pasar di Madinah. .
Setiah hari, Nabi datang menyuapi pengemis tersebut. Yang selain faktor usia, ia juga tidak bisa melihat. Dan setiap hari Nabi datang menyuapi, pengemis Yahudi itu selalu menyebut-nyebut Muhammad sebagai orang yang jahat, mesti dijauhi dan segala cacian buruk lainnya.
Hingga pada akhirnya, Yahudi tua itu terkejut, ketika tangan yang biasa menyuapinya selama ini berbeda pada suatu hari. Ya, tangan itu adalah tangan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang senantiasa mengikuti Nabi dalam segala hal.
Saat itulah, pengemis Yahudi itu mendapatkan berita bahwa tangan yang selama ini menyuapinya telah tiada, dan tangan itu adalah tangan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wasallam, orang yang selama ini selalu ia caci maki.
Aku menangis ketika Ummi bercerita waktu itu. Nabi Muhammad SAW memang pantas dijadikan panutan bagi seluruh umatnya. Akhlaknya adalah akhlak Al-Qur'an, ucapan serta perilakunya adalah hadist. Manusia paling sempurna, kekasih Allah.
Allahumma shalli 'ala Muhammad, wa'ala ali Muhammad.
Ya Allah sampaikanlah shalawat kepada Nabi Muhammad, dan keluarga Muhammad. Jadikanlah kami ke dalam golongan hamba-hamba yang mencintai-Mu dan Rasul-Mu hingga hari kiamat nanti.