Setelah sampai di tempat tujuan, kami langsung menuju ke toko buku yang namanya sangat terkenal. Aku berjalan bergandengan dengan Ummi, sedangkan Mas Izhar di belakang kami. Dia seperti jadi bodyguard kami.
Dahulu ketika aku masih sekolah, aku sering mengunjungi toko buku. Berlama-lama di dalamnya hanya untuk membaca saja. Jika ada novel yang menarik, barulah aku beli.
Dari kecil aku memang senang membaca, terutama novel. Dahulu aku menyukai teenfic, mungkin karena sesuai umur. Seiring berjalannya waktu, jadi berubah. Aku menyukai novel yang bertema religi dan romantis. Hehe.
Dari novel sebenarnya kita bisa mengambil pelajaran. Seorang penulis pasti akan menyisipkan nilai-nilai yang baik di dalam tulisannya. Dari dulu aku senang membaca karya Tere Liye, karena karyanya selalu diselipkan nilai kehidupan yang sarat akan makna.
Aku memilih berpencar dengan Ummi dan Mas Izhar. Ummi ke bagian parenting, sedangkan Mas Izhar ke bagian anak. Dan aku ke bagian novel.
Aku mengambil satu novel dan membaca sinopsisnya. Di sana diceritakan seorang CEO muda, tampan berumur 25 tahun menikah dengan bawahannya. Aku mengerutkan kening, memangnya ada ya seperti itu di dunia nyata.
Aku pernah bertemu dengan CEO, beliau adalah boss dari ehm, tidak perlu ku sebut namanya. Saat itu aku sedang menemaninya ke acara ulang tahun pernikahan bossnya, aku dikenalkan oleh CEO tersebut. Dan ternyata umur beliau sudah kepala lima.
Aku lebih suka novel yang membumi, sesuai realita dan keadaan pada zamannya. Sehingga aku yang membacanya tidak berangan-angan untuk bisa mendapatkan seorang laki-laki kaya tujuh turunan, CEO, muda, dan juga sempurna.
"Ini untuk Mbak." Kepalaku langsung menoleh ke sumber suara dan langsung membalikkan tubuh. Tangannya terulur seraya memegang benda persegi berwarna merah muda.
"Buat saya?" tanyaku memastikan. Aku meraihnya ragu. Itu adalah Al-Qur'an bersampul pink bintik-bintik putih, dengan hiasan kancing dan tali di sampulnya.
Mas Izhar mengangguk, "di dalamnya terdapat panduan tanda tajwid, Mbak bisa lebih mudah membacanya."
Aku menelan salivaku dengan susah payah. Mungkin dia pernah mendengar aku sedang membaca Al-Qur'an dengan terbata-bata.
Selain banyak nilai kehidupan yang bisa ku ambil dari novel, aku juga berpikir akan suatu hal. Tentang membaca Al-Qur'an. Sebisa mungkin aku akan membaca satu hari satu juz. Mungkin bagi seseorang yang sudah lancar, hanya butuh waktu satu jam saja. Tetapi aku membutuhkan waktu 2 sampai 3 jam. Oleh karenanya aku cicil membacanya setiap selesai salat fardu.
Aku sempat berpikir, jika aku bisa membaca novel satu hari satu buah. Lalu kenapa aku tidak bisa membaca Al-Qur'an satu hari satu juz. Aku sudah diberi waktu oleh Allah 24 jam, masa untuk menyisihkan 2 jam saja tidak bisa. Sisa 22 jam lagi waktu, semuanya pasti untuk urusan duniawi. Jika salat adalah saat hamba berbicara dengan Allah, maka membaca Al-Qur'an adalah saat Allah yang berbicara langsung pada hamba melalui firman-Nya.
Sesibuk apapun kita, jangan sampai melupakan Al-Qur'an. Jika tidak bisa membacanya satu hari satu juz, cobalah untuk setengah juz. Jika tidak bisa juga, cobalah membacanya satu lembar. Jika satu lembar masih tidak bisa, bacalah satu ayat. Jika satu ayat juga tidak bisa, tutuplah Al-Qur'an. Kemudian pandangilah dalam-dalam dan coba renungkan. Dosa apa yang telah dilakukan sehingga kita dijauhkan dari Al-Qur'an.
Bisa jadi bukan kita yang tidak mau membaca Al-Qur'an, tapi Al-Qur'an lah yang tidak mau kita baca.
Ya Allah igfirly...
"Mbak Nia kenapa?" Mas Izhar menyadarkanku, "nggak suka ya? Atau mbak mau pilih warna kesukaan Mbak aja?"
"Ehm suka, Mas. Nggak papa ini aja, warnanya lucu," aku tersenyum ke arahnya. "Lagi pula warna kesukaan saya nggak ada, hehe." Aku melihat ke arah rak tempat khusus Al-Qur'an yang tidak begitu jauh dari tempatku saat ini.
"Memangnya warna kesukaan Mbak apa?" tanyanya.
"Merah marun, Mas," jawabku. "Mas sudah pilih buku-bukunya?"
"Sudah, kira-kira kita butuh apa lagi ya?"
"Kalau buku cerita anak Islam, bagaimana Mas? Saya kira anak harus mulai dikenalkan kisah para Shahabiyah sejak dini." Aku memberikan usul. Hal-hal yang ditanam sejak kecil, lebih membekas dalam ingatan. Itulah yang aku rasakan.
"Good idea," ia menjentikkan jarinya. "Mbak bisa bantu saya kan, cari bukunya?"
Aku mengangguk, "bisa Mas."
Kami berjalan ke area anak lagi. Dia berjalan lebih dulu di depanku. Sesampainya di area anak, kami berpencar. Namun masih dalam satu area.
Aku sibuk mencari-cari buku Shahabiyah untuk anak. Satu persatu aku cari judulnya dan Alhamdulillah ketemu!
Aku mengambil satu yang sudah terbuka, yaitu yang berjudul Khadijah—Pengusaha Sukses. Buku ini disertai gambar di dalamnya yang menurutku bisa membuat anak-anak tertarik. Ya, semoga saja.
Aku larut dalam bacaan. Sayup-sayup aku mendengar suara perempuan dari arah kiriku dan memanggil nama Mas Izhar.
"Pak Izhar! Ya Allah, kok bisa ya ketemu Bapak di sini?"
Aku tak mendengar Mas Izhar menjawab apa. Aku segera menutup buku itu, dan mengambil ke sepuluh serinya.
"Nia!" Aku menoleh, ternyata Mas Izhar memanggilku. "Sini."
Aku segera menghampirinya yang sedang berhadapan dengan dua gadis. Yang satu memakai jilbab hitam dan yang satu lagi memakai jilbab biru.
"Ya, ada apa Mas?" tanyaku. Aku tersenyum ke arah dua gadis itu yang sejak kedatanganku terlihat canggung. Satu dari mereka berbisik pada temannya, "Lho, katanya Pak Izhar masih single, kok ini bawa istri."
"Gue juga nggak tau," bisik gadis satu lagi yang terdengar di telingaku.
Aku tersenyum kepada mereka, kemudian mengulurkan tangan seraya menyebutkan namaku, "Dania."
"Satu dari mereka menyambut tanganku dan memperkenalkan diri, "Selvi."
"Nurul. Kami adalah Mahasiswinya Pak Izhar, Bu."
Aku mengangguk, pantas saja manggilnya Pak. Tapi kok aku juga dipanggil Bu? Memangnya aku setua itu?
"Bukunya sudah ketemu?" tanya Mas Izhar padaku.
"Sudah Mas, ini buku berseri. Isinya bagus, bergambar pula. Pasti anak-anak suka."
"Yasudah kalau gitu kami pamit ya, sudah sejak tadi kami di sini," ucapnya pada dua gadis itu. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam Pak."
Aku dan Mas Izhar menghampiri Ummi yang masih sibuk membaca. "Serius banget sih Ummiku ini bacanya."
"Eh kalian sudah selesai?" tanya Ummi sambil menutup buku. Di tangannya sudah ada beberapa buku yang sepertinya ingin dibeli.
"Sudah Mi," jawab Mas Izhar. "Ummi masih mau baca dulu?"
"Sudah kok. Beberapa menit lagi salat Ashar, kita salat di sini saja ya," kata Ummi.
"Iya Mi. Sini biar buku Ummi sekalian Izhar bayarin."
Setelah membayar semua buku-buku, kami pergi ke lantai atas. Tempat salat atau mushala di mall ini terletak di dekat parkiran mobil dan diujung. Lihatlah, seakan kita benar-benar dijauhkan dari tiang agama.
"Kamu mau makan nggak, Ni?" tanya Ummi saat selesai salat. Kami sedang melipat mukena.
"Aku ikut Ummi saja. Lagi pula katanya Mas Izhar susah cari tempat makan yang pas, Mi. Apa dia bisa cocok dengan tempat makan di mall ini?"
"Paling Ummi suruh dia beli roti, Ummi cuma takut maag kamu kambuh."
Ya Allah Ummi. Dia lebih mementingkan aku dari pada anaknya.
Aku memang mempunyai maag kronis, kalau sudah kambuh aku sampai tidak bisa berjalan dan dadaku terasa sesak.
"Sebelum pergi tadi Nia sempet makan kok, Ummi."
"Ehm tapi Ummi lagi mau makan seafood kamu temani Ummi makan ya."
Aku mengangguk, "iya Ummi."
Kami berdua keluar dari tempat salat dan Mas Izhar sudah menunggu di bangku panjang tempat sandal. Mataku tidak sengaja bersiborok dengan matanya. Aku segera menunduk, untuk menghindari pesonanya.
Selama ini kami memang berkomuniasi berhadapan. Tetapi aku tidak pernah melihat tepat di matanya, paling aku hanya melihat hidung atau dahinya saja. Pokoknya di area wajah. Atau lebih sering menunduk. Pandangan mata diumpakan panah beracun. Jika panah itu melesat dari busurnya, kemudian menikam jantung orang yang dikenainya. Maka orang itu akan mati. Ya mati karena tikaman racunnya. Oleh karena itu kita diperintahkan untuk menjaga pandangan. Agar kita atau orang lain tidak bisa terkena panah beracun itu.
Pernah mendengar kalau cinta datang dari mata turun ke hati? Nah maksudku seperti itu.
Kami memasuki sebuah tempat makan yang terkenal penyaji seafood dengan tagline harga kaki lima rasa bintang lima. Tempat ini lumayan ramai, kami memilih di sisi ujung agar tidak terlihat dari depan.
"Ummi mau pesan apa?" tanyaku.
"Ummi kepingin udang," jawab Ummi. Setelah itu Mas Izhar langsung mengingatkan. "Ummi kan punya kolesterol."
"Sedikit saja Zhar, Ummi kepingin banget."
Akhirnya Mas Izhar pun mengalah. Dengan catatan Ummi tidak boleh memakan udang dengan porsi banyak. Bukan sayang dengan uangnya, tapi dia lebih sayang dengan kesehatan Ummi. Oh iya, dia juga benar-benar tidak memilih makan di tempat ini dan membeli roti di tempat perbelanjaan. Dia hanya memesan segelas jus terong Belanda.
Di rasa cukup, kami memilih pulang. Karena mobil Mas Izhar di parkir di parkiran depan, jadi tidak ke atas lagi, tempat di mana tadi kami salat.
Aku mengedarkan pandangan, mall ini cukup ramai. Atau mungkin karena weekend. Lebih banyak anak muda, apalagi saat kami melewati bioskop.
Sampai pada mataku melihat orang yang begitu aku kenal. Yang namanya tidak ingin kusebut. Dia bersama seorang wanita dan anak kecil yang ku taksir berumur empat tahun.
Ya Allah... Namanya tidak ingin kusebut, tapi malah dia nampak di mataku.
Beruntung dia tidak melihatku, karena sibuk dengan keluarga barunya. Sekilas pengandaian itu berputar di kepalaku. Andai saja aku di posisi wanita itu, andai kami masih....
Ah... Andai, andai, andai... Hanya akan membuatku sakit hati.
Aku mencoba meredam hal yang berkecamuk di dalam hatiku. Mataku memanas, entah karena apa. Di saat-saat seperti ini rasanya aku ingin menghilang saja dari muka bumi. Atau aku lebih memilih Allah membutakan mataku saja, dari pada melihat hal itu.
Astagfirullah.. Ya Allah... maafkan hamba...
Aku langsung beristigfar, bagaimana jika malaikat sedang lewat dan perkataanku menjadi nyata. Banyak orang yang tidak diberikan kesempatan melihat oleh Allah, tetapi ingin sekali melihat keindahan ciptaan Allah. Sedangkan aku? Aku sudah diberikan fisik yang sempurna tanpa kekurangan apapun, malah meminta hal seperti itu. Sungguh, aku benar-benar hamba yang kufur nikmat.
Aku ingin pulang, aku ingin mengadukan semuanya pada Allah. Aku ingin menangis di hadapan-Nya. Dadaku begitu sesak, seolah stok oksigen habis. Aku tidak ingin menangis di sini. Aku tidak ingin Ummi dan Mas Izhar tahu akan apa yang sedang aku rasakan. Biarlah hanya aku dan Allah saja yang tahu, kalau saat ini seseorang telah menusuk hatiku dengan belati yang sama. Seperti apa yang dia lakukan dahulu.