Sebab wanita bagaikan bunga. Yang mekar hanya sekali, setelah itu ia layu dan mati.
"Alladzina aamanu– wa tathmainna– qulubuhum–bidzikrillah. 'Ala bidzikrillahi– tathmainnal qulub."
(Yaitu) orang-orang yang beriman serta hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Rad: 28)
Aku mengulang-ulang lagi ayat itu. Mencoba mencari ketenangan. Mencoba mencari kelapangan dari sesak yang aku rasakan saat ini. Al-Qur'an yang tadi diberikan oleh Mas Izhar, sudah basah karena air mataku.
Aku belum siap dengan kejadian hari ini. Aku belum siap bertemu dengannya. Setelah bertahun-tahun akhirnya pertahananku hancur. Bagaikan istana pasir yang susah payah ku bangun, harus tersapu ombak besar. Tak bersisa.
Ya Allah... Kuatkanlah aku..
Kalian boleh menyebut aku cengeng, memang itu kenyataannya. Aku tidaklah sekuat kelihatannya. Sebab wanita bagaikan bunga. Yang mekar hanya sekali, setelah itu ia layu dan mati.
Pernahkah kalian melihat bunga yang mekar dua kali? Tidakkan. Oleh karenanya mekarlah pada saat yang tepat, dan dipetik oleh orang yang tepat.
Aku menutup Al-Qur'an kemudian meletakkannya di atas nakas. Setelah itu tanganku turun menarik sebuah laci yang di dalamnya tersimpan benda bening berbentuk tabung. Aku mengeluarkan benda itu dari laci dan mengeluarkan isinya yang berupa tablet kecil berwarna putih.
Aku memasukkan benda itu ke dalam mulut, dan langsung menenggak air putih.
Aku ingin semuanya menghilang. Semua pertemuan, semua kehilangan, semua kesakitan. Semua beban. Aku ingin itu semua hilang, minimal hanya untuk malam ini.
Padahal aku sudah berjanji pada Ummi untuk tidak mengonsumsinya lagi. Maafkan aku Ummi. Aku sudah melanggar janji.
Paginya aku terbangun dengan kepala seberat besi 2 ton. Terasa berat dan cenat-cenut. Mungkin ini efek karena aku terlalu banyak menangis, juga obat tidur itu. Aku menatap langit-langit untuk mengumpulkan semua kesadaranku. Kemudian setelah merasa lebih baik, aku melihat jam dinding. Suasana rumah begitu sepi, mungkin belum memasuki waktu subuh.
"Astagfirullahal 'adzim!"
Aku terlonjak kaget saat melihat jarum pendek ke angka 8. Biasanya aku bangun sebelum subuh, tepatnya pukul 4 pagi. Setelah itu aku akan tahajud, salat Subuh setelah itu menyiapkan sarapan. Tapi hari ini aku kesiangan bahkan aku meninggalkan salat Subuh.
Aku segera bangkit dan menuju kamar mandi. Air yang menyiram tubuhku membuatku terasa segar. Pikiranku sudah tidak sekalut semalam. Setelah mandi, aku mengambil asal baju dalam lemari. Tanganku tertuju pada gamis berwarna merah marun–lagi-lagi merah marun– dan jilbab hitam. Serta handsock berwarna senada dengan gamis.
Sebenarnya aku tidak fanatik dengan merah marun. Hanya saja setiap benda yang ingin ku beli, jika tersedia warna itu maka aku akan memilihnya. Jadilah segala benda yang ku pakai lebih berwarna senada, mulai dari gamis, handsock, maupun masker.
Aku keluar kamar dan tidak mendapati Ummi. Aku baru ingat kalau hari ini ada acara kerja bakti di lingkungan sekitar sini.
"Besok jangan lupa ya, Ni ada kerja bakti."
Begitu kata Ummi kemarin. Karena aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri, aku tak begitu mendengarkannya.
Akhirnya aku menghampiri Ummi. Biasanya para ibu-ibu berkumpul di rumah Pak RT untuk menyiapkan makanan, serta kerjaan yang tidak begitu berat. Di jalan aku berpapasan dengan Mas Izhar yang sedang membersihkan selokan. Ia memakai kaos berwarna hitam dengan celana di bawah lutut. Aku mengangguk, kemudian memberikan ssnyum sapaan.
"Assalamu'alaikum..." Salamku setelah sampai di rumah Pak RT. Ku lihat di sana ada Ummi.
"Wa'alaikumsalam," jawab ibu-ibu kompak. "Sini, Ni. Masuk," kata Ummi.
Aku duduk di samping Ummi yang sedang mengupas bawang merah. Aku segera mengambil pisau yang menganggur, dan mengikuti Ummi untuk mengupas bawang.
"Hari ini mau masak apa Mi?" Biasanya setiap minggu menu masakannya selalu berubah.
"Sayur asem, sambel terasi, ikan asin, tempe tahu, dan juga ayam goreng," jawab Ummi menyebutkan satu persatu menu yang dihidangkan. Membayangkannya saja liurku bereaksi, menu yang dibuat hari ini sungguh membuat nafsu makan meningkat. Terlebih ada ikan asin kerupuk favoritku.
"Eh si cantik... Kirain nCi kamu nggak dateng," kata nCim Meilin yang muncul dari arah belakangku. Beliau membawa panci besar berisi beras. Aku bangkit untuk membantunya.
"Dateng dong, nCim. Cuma tadi kesiangan." Aku meletakkan panci itu di depanku. Kemudian menyiapkan panci lain untuk merebus air, yang akan digunakan untuk menyiram beras ini agar cepat matang. "Maaf ya Mi, hehe." Sekalian saja aku berkata pada Ummi. Aku takut Ummi marah, meskipun selama ini Ummi tidak pernah memarahiku. Namun tetap saja, aku tidak enak pada Ummi.
"Pantas saja tadi Ummi ketuk pintu kamu berkali-kali nggak ada respons. Habis Subuh jangan tidur lagi, nanti rezekinya di patuk ayam."
"Nah kalo ada yang melamar juga nanti balik lagi, calonnya masih tidur sih," kali ini nCim Meilin yang memojokkanku. Sedangkan Ummi hanya tersenyum.
Kerja bakti sudah selesai, begitupun juga dengan makanannya. Tinggal di bawa keluar dan di hadapkan oleh bapak-bapak dan ibu-ibu yang lain saja.
Di sampingku ada Bu RT yang sedang menyendokkan nasi untuk Pak RT. Sungguh, pasangan itu membuat aku iri. Sudah lama aku tidak melakukan hal itu.
Membahagiakan seorang istri sebenarnya mudah. Cukup memakan apapun yang dimasak oleh istri dengan susah payah, serta mengucapkan terima kasih. Syukur-syukur kalau sampai memuji enak. Begitu pun juga dengan kebahagiaan suami, cukup penuhi semua kebutuhannya dan melayaninya dengan sebaik mungkin.
"Ayamnya Mas?" aku menawarkan ayam goreng pada Mas Izhar yang sedang mengambil nasi. Ia mengangguk. "Mau paha apa d**a?"
"d**a saja."
"d**a mentok ya Zhar," celetuk bapak-bapak di belakang sana. Mas Izhar tak menanggapinya.
"Nia sama Izhar kalau bukan saudara sudah seperti suami istri ya, Mi." Aku mendengar suara Bu RT yang berbicara pada Ummi. Memang warga di sini tidak tahu akan status dan hubunganku dengan Ummi. Mereka hanya tahu aku adalah saudaranya Ummi. Ya, itu bukan bohong kan. Saudara seiman.
Tempat ini dengan rumahku dahulu sangatlah jauh. Untuk itu awalnya mereka belum mengenalku. Aku bersyukur akan hal itu. Karena jika mereka mengetahui tentang aku yang sebenarnya, aku takut akan diperolok.
Aku melirik ke arah Mas Izhar yang sedang menyantap makanannya. Pelipisnya basah karena keringat dan rambutnya sedikit berantakan. Siapa yang tidak ingin menjadi istrinya. Laki-laki dari negeri para Nabi itu merupakan imam idaman setiap wanita. Baru kali ini aku bertemu dengan orang sepertinya yang sangat menghormati wanita. Dia juga sangat sayang pada Ummi. Yang aku tahu, jika laki-laki sayang kepada ibunya, ia juga pasti akan sayang kepada istrinya.
Mas Izhar menoleh, mata kami kembali bertemu. Sungguh, pipiku memanas kali ini. Aku ketahuan sedang memperhatikannya. Aduuuuuhh!
Aku membuang muka, menatap apa saja agar aku tidak melihat ke arahnya. Sepertinya dia juga sudah tahu akan ulahku saat ini. Tolong ya Nia, jangan semakin memalukan dirimu sendiri.
Setelahnya aku mendengar suara Mas Izhar memberi pengumuman akan dibukanya Rumah Baca. Anak-anak yang berusia 3 tahun sampai usia SD yang menjadi sasaran. Rumah Baca akan di mulai setelah salat Magrib. Dari pada anak-anak menonton televisi yang acaranya tidak sesuai dengan usianya, lebih baik dibiasakan membaca untuk meningkatkan minat baca anak.
Acara televisi saat ini sangat memprihatinkan. Lebih mementingkan rating dari pada kualitas. Alhasil anak mengkonsumsi suguhan orang dewasa yang sangat jauh dari usianya. Aku juga sering membaca berita ada anak SD yang sudah berpacaran, berkelahi dengan temannya, yang lebih miris adalah memperlihatkan adegan dewasa pada teman-temannya. Oke, tidak bisa juga menyalahkan anak sepenuhnya sebab anak itu peniru yang ulung. Tinggal orang tua saja yang memberikan teladan yang baik bagi anak, serta mengontrol dan mengawasi anak apalagi jika anak sudah diberikan gadget.
Benda kecil itu bagaikan dua sisi mata uang. Jika digunakan positif maka dampaknya akan positif. Informasi apapun di dunia bisa diketahui hanya dengan satu jari. Orang yang jauh akan terasa lebih dekat. Serta memudahkan dalam lini kehidupan. Begitu pun sebaliknya, jika digunakan dengan negatif, maka hasilnya pun negatif. Contoh kecilnya, menjauhkan yang dekat. Orang-orang lebih sibuk dengan gadgetnya dari pada orang sekitar. Bahkan banyak kasus suami istri tidak harmonis lagi dikarenakan keduanya sibuk dengan urusan di dalam gadgetnya.
Waktu sudah hampir zuhur. Kulihat sudah banyak yang pulang. Setelah membersihkan sisa-sisa makanan serta mencuci alat-alat yang kotor aku dan Ummi juga pamit pulang. Begitu pula dengan Mas Izhar tentunya. Kami berjalan kaki berempat dengan nCim Meilin yang kebetulan rumahnya searah.
Ummi dan nCim terlihat mengobrol, sedangkan aku dan Mas Izhar hanya menyimak percakapan mereka.Tiba-tiba nCim Meilin membahas masalah yang sensitif buatku. Jodoh.
"Nia sudah ada calon belum nih?"
"Calon apa nCim?" aku pura-pura tak tahu. Ya siapa saja maksud dari nCim Meilin adalah calon yang lain.
"Calon suami, lah Ni."
"Belum nCim." aku tersenyum ke arahnya. Kemudian beliau bertanya lagi mengenai umurku dan kujawab, "31 tahun, nCim."
"Oh ya? Tidak terlihat loh. NCim kira malah 20 tahun, habisnya kamu cantik banget sih Nia."
Aku tertawa masa iya aku terlihat seperti 20 tahun. "NCim ini bisa saja, makasih loh nCim. NCim dan Ummi juga masih terlihat cantik kok. Seperti umur 17 tahun. Hehe."
"Tujuh belas tahun maksud kamu sisanya ya, Ni?" kata nCim.
Aku mengangkat kedua tanganku, "bukan Nia yang ngomong loh, nCim."
Ummi, nCim, dan aku tertawa bersama. Aku tidak tahu bagaimana Mas Izhar, sebab dia ada di belakang kami.
"NCim doakan supaya kamu cepat dapat jodoh. Bukan begitu, Zhar," kata nCim sambil menoleh ke belakang. Aku hanya tertawa sumbang. Entahlah, apa bunga yang sudah mati bisa tumbuh dan mekar kembali?
"Iya, nCim." Mas Izhar bersuara.
Malam harinya Rumah Baca benar-benar sudah dibuka. Namun kami hanya berhasil mengumpulkan tiga orang anak saja. Tapi tak apa, tidak akan mematikan api semangatku. Biar satu orang pun yang datang, aku siap.
Ketiga anak itu bernama Dina, Ika dan juga Desti. Masing-masing berumur 4 tahun, 6 tahun, dan 7 tahun. Semuanya perempuan.
Aku datang membawa buku-buku cerita yang tempo hari Mas Izhar beli. Meletakkannya di atas meja, kemudian duduk di sofa depan Mas Izhar. Ketiga anak itu mengerubungi Mas Izhar.
"Ada yang mau dibacakan cerita?" aku mengangkat buku cerita tinggi-tinggi. Sebisa mungkin nadaku terlihat bersahabat dengan mereka agar mereka tidak takut. Namun jawaban mereka...
"Aku maunya sama Pak Izhar."
"Aku juga."
"Aku juga."
Tuhkan, anak-anak saja tahu pesonanya dia. Mas Izhar tersenyum lebar ke arahku sampai gigi gerahamnya terlihat. Dia merasa menang.
"Ayo kita mulai ceritanya." Aku mengamatinya. Dina, Ika, dan Desti sudah loncat-loncat bahagia. Bahkan Dina sudah duduk di pangkuan Mas Izhar.
"Pada suatu hari di sebuah hutan ada seekor singa dan kura-kura. Keduanya tidak pernah hidup rukun, mereka selalu bertengkar walaupun hanya masalah kecil. Suatu ketika, kura-kura datang kepada singa sambil berkata,’Hai singa, lihatlah aku punya rumah yang kuat. Rumah ini bisa melindungiku dari panas dan hujan,’ kata kura-kura sambil menunjukkan rumah yang berada di punggungnya.
"Mana mungkin kau kuat, semuanya juga tahu kalau di sini akulah yang kuat. Aku kan raja hutan," ucap singa dengan sombong."
Aku ikut mendengarkan Mas Izhar bercerita kepada anak-anak. Sesekali ikut tertawa saat Mas Izhar mengubah suaranya mengikuti suara kura-kura dan singa.
"Hei kau terlalu sombong singa. Coba buktikan kalau memang kau kuat," kata kura-kura.
"Baik akan aku tunjukkan padamu betapa hebatnya diriku," kata singa dengan menantang. "Tapi aku bingung bagaimana caranya?" tanya singa kepada kura-kura.
Kura-kura nampak berpikir sejenak, kemudian dia menemukan ide yang bagus. "Begini saja, kalau memang kau kuat coba kau gigit rumahku ini."
"Hahahaha," singa tertawa. "Hanya menggigit? Kau yakin? Itu sangat mudah untukku. Kau lihat aku mempunyai taring yang sangat tajam."
"Baiklah, coba lakukan sekarang juga," tantang kura-kura.
Akhirnya singa menggigit rumah kura-kura dengan taringnya yang tajam. Singa berusaha sekuat mungkin, agar rumah kelinci itu hancur. Namun yang terjadi...
Pluk!
Gigi taring singa copot. Singa melihatnya dengan sedih. Karena saat ini ia sudah menjadi singa ompong."
"Hahahahaha singanya ompong kayak gigi Dina," celetuk Desti pada anak berusia 4 tahun. Gigi Dina memang ompong di bagian depan. Dina mengerucutkan bibirnya, sedangkan Ika juga ikut tertawa.
Aku juga ikut tertawa. Sangat tidak menyangka kalau Mas Izhar bisa bercerita dengan baik. Bahkan kulihat anak-anak juga sangat terkesan dengan Mas Izhar. Sama sepertiku.
"Ayo-ayo, coba dengarkan. Kenapa singa bisa jadi ompong?" tanya mas Izhar.
"Karena singa gigit rumah kura-kura, Pak." Kali ini Ika yang bersuara.
"Iya benar, Ika. Nah pesannya kita sebagai manusia tidak boleh sombong. Kalau sombong nanti giginya ompong."
"Berarti Dina juga sombong dong Pak?" tanya Desti.
"Bukan... Dina itu anak baik. Dina ompong karena terlalu banyak makan permen dan coklat. Yasudah sekarang kalian pilih satu buku di atas meja, yang mana cerita yang mau kaliam dengar."
Tiba-tiba saja perutku melilit di bagian bawah. Aku mengingat kembali tanggal saat ini, sudah waktunya aku menstruasi. Aku memberikan kode kepada Mas Izhar untuk pamit sebentar.
Aku memasuki kamar, mengambil keperluanku dan memasuki kamar mandi. Biasanya di hari pertama dan kedua pasti seperti ini. Sangat sakit.
Kemudian aku mencari kotak P3K ingin mengambil minyak kayu putih. Namun tak ku temukan di dalamnya. Aku baru saja ingat, kalau minyak kayu putih itu sedang di bawa oleh Ummi. Sedangkan Ummi saat ini sedang menghadari acara temannya.
Aku duduk di atas ranjang sambil memegang perutku. Keringat dingin sudah keluar dari tubuhku. Aku menggigit bibir bawahku untuk meredam rasa sakit. Akhirnya aku meringkuk di ranjang dengan kaki yang terjulur di lantai.
"Ya Allah sakit..."
"Mbak Nia kenapa?" tepat Mas Izhar lewat saat aku merintih kesakitan. Ia sedang berdiri di depan pintu, dan nampak khawatir.
"Gapapa Mas," jawabku.
"Gapapa gimana sih Mbak, Mbak kesakitan gitu."
"Sudah biasa Mas, tamu bulanan. Sshh..." Aku meringis lagi.
"Ada yang bisa saya bantu Mbak?"
"Mas beneran mau bantu saya? Tanyaku. Dia mengangguk, "tolong carikan saya minyak kayu putih Mas."
"Yasudah Mbak tunggu sebentar."
Setelah mengatakan itu, ia langsung pergi meninggalkanku yang terus-menerus merintih kesakitan. Jika bisa mungkin perutku akan aku copot dahulu dari badanku.
Tidak lama kemudian ia datang, ia masih mematung di depan pintu kamarku. Sebisa mungkin aku bangkit, namun rasa sakit semakin menyerang. Ia ingin menolongku namun terlihat ragu. "Bo...boleh saya masuk? Sepertinya Mbak nggak bisa datang ke sini."
Aku mengangguk, "asalkan pintunya di buka lebar Mas." Sepertinya ia yang lebih tahu masalah itu. Laki-laki dan perempuan di dalam satu tempat hanya berdua, siapa lagi kalau bukan yang ketiga adalah setan.
Akhirnya ia masuk ke kamarku, dengan membuka pintu selebar mungkin. Di tangannya sudah ada minyak kayu putih serta jamu kunyit kemasan botol untuk penghilang nyeri datang bulan. Lalu memberikannya kepadaku.
"Terima kasih Mas," ucapku tulus. Aku tidak menyangka kalau ia mau membelikan benda-benda itu untukku. "Anak-anak sudah pulang?"
"Sudah."
Aku mengangguk, kulihat ia yang terlihat salah tingkah di depanku. Mungkin baru kali ini ia datang ke kamar perempuan.
"Yasudah Mbak, saya permisi dulu," ucapnya. Aku membalasnya dengan senyum dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Aku juga tidak ingin ada fitnah diantara kami. Karena fitnah merupakan sesuatu yang kejam, bahkan lebih kejam dari pembunuhan.
"Saya permisi Mbak," katanya sambil pelan-pelan melangkah keluar. "Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah..."
Dia semakin menjauh, hingga sampai di depan pintu ia berhenti dan menghadap ke arahku. "Oh iya Mbak, syafakillah. Laa ba'sa thahuurun Insya Allah.[1]"
Aku hanya menyengir, karena tidak tahu artinya apa. Setelah itu ia benar-benar pergi setelah menutup pintu kamarku.
[1] Tidak mengapa, semoga sakitmu menjadi penggugur dosamu.