Aku meringkuk terduduk di lantai rumah sakit. Dinginnya lantai merasuk hingga ke tulang. Namun lebih dari itu, hatiku terasa sakit. Aku merasa kerdil saat keluargaku satu-satunya tidak ingin kehadiranku. Aku tidak tahu apa salahku sebenarnya, yang aku tahu mereka menginginkan agar aku segera pergi meninggalkan rumah itu.
Aku masih ingat, sewaktu dulu saat aku dan Wisnu berpacaran memasuki usia lima tahun Bibi Lisa menyuruh aku agar segera menikah. Padahal saat itu, Wisnu belum lulus kuliah. Untunglah orang tua Wisnu berbaik hati memberikan putranya rumah agar kami bisa tinggal di situ. Aku merasa Bibi Lisa mengusirku secara perlahan.
Drrtt...
Handphoneku bergetar. Sebuah nomor yang tidak ku kenal memanggil. Aku ragu mengangkatnya, takut kalau orang dibaliknya adalah orang jahat. Namun aku juga khawatir, takut panggilan itu penting, dan aku tidak mengangkatnya. Akhirnya aku memilih untuk mengangkatnya juga.
"Kamu di mana?"
Belum sempat aku menyapa atau memberi salam, suara di seberang sana langsung menyambar.
"Aku di rumah sakit."
"Kirim alamat rumah sakitnya sekarang juga!"
Dasar pemaksa! Tidak tahukah ia kalau hatiku sedang tidak baik.
"Cepetan! Aku nggak suka nunggu!!"
"Bawel! Gimana aku bisa kirim alamatnya, kalau kamu masih nelpon."
"Yasudah, kamu jangan kemana-mana. Tetaplah di situ."
Panggilan terputus. Aku segera mengirimkan lokasi di mana aku berada saat ini.
"Ma... Pa... Kita mau ke mana sih?" tanya Nia yang saat ini duduk manis di kursi belakang mobil.
"Nanti kamu juga tahu, Sayang..." ujar Maya—Mamanya Nia.
"Ih Mama kok main rahasia segala sih." Nia mengerucutkan bibir. Ia paling tidak suka ada rahasia di antara mereka.
"Papa habis beli villa baru Sayang. Kita liburan beberapa hari di sana." Kali ini Haris—Papanya Nia berbicara.
"Beneran?" tanya Nia. Setelah Mamanya balas mengangguk, ia tersenyum senang. "Asiiiiikkk!"
Nia bersyukur terlahir dalam keluarga yang sangat menyayangi dirinya. Nia merasa hidupnya sudah cukup. Begitu sempurna, hingga Nia tidak ingin meminta apa-apa lagi. Baginya, dengan kedua orang tuanya berada di sisinya adalah hal yang paling membahagiakan.
Mobil berhenti di persimpangan lampu merah. Mobil Haris yang paling depan. Nia menghadapkan wajahnya ke arah kanan, matanya langsung membesar sempurna, lidahnya kelu, tubuhnya menjadi kaku saat melihat sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya.
Sreeeettt
Brugg!!
Mobil yang ia tumpangi terseret beberapa meter, begitupun dengan tiga mobil di sampingnya. Tubuh Nia terpelanting saat mobil itu berguling, kepalanya terbentur bagian atap mobil dengan kencang dan Nia sudah tidak ingat apa-apa lagi. Selain ia menyebut kata Ma... Pa... Sebelum memejamkan mata.
Nia terbangun dengan kondisi kepalanya di perban. Ada beberapa bagian tubuhnya yang memar. Namun ia tak peduli, saat ini yang ingin ia lakukan adalah mencari kedua orang tuanya.
"Nia kamu sudah sadar?"
Nia menghadap ke sumber suara, di sana ada seorang laki-laki yang berwajah mirip dengan ayahnya. Dia adalah adik kandung Haris, Papanya.
"Paman, Papa sama Mama mana?" tanya Nia.
"Kamu tenang dulu Ni, mereka sudah aman."
Syukurlah... Batin Nia. Nia takut kalau mereka tidak terselamatkan.
"Nia mau ketemu sama mereka Paman."
"Iya Nia, kamu tenang dulu."
"Nia mau ketemu Mama sama Papa sekarang!" seru Nia tidak sabaran.
Akhirnya Surya membawa Nia ke sebuah tempat. Nia yang menyadari hal itu ketar-ketir tak keruan. Pamannya bilang kalau Mama dan Papanya sudah aman, tapi Nia tidak mengerti mengapa Paman Surya membawanya ke tempat ini.
Kamar jenazah.
Begitu plang yang ada di atas pintu.
"Nggak mungkin!" teriak Nia. "Paman kenapa kita ke sini? Nia mau bertemu Mama sama Papa!"
"YA ALLAH... INI NGGAK MUNGKIN!!" Nia berteriak histeris saat melihat kedua orang yang dicarinya sudah terbujur kaku. Wajah keduanya pucat pasi. Napas tidak lagi berhembus dari hidung keduanya. Di wajah Papanya tertancap kaca mobil yang panjangnya seruas jari tangan orang dewasa. Mengenaskan. Kata yang tepat menggambarkan keduanya.
"Mama... Papa... Bangun... Kalian bilang mau ajak Nia liburan. Tapi kenapa kalian tidur? Ma... Pa... Nia mohon bangunlah..." Nia mengguncangkan tubuh keduanya sambil menangis histeris. "Kenapa kalian tega meninggalkan Nia sendiri? Nia mau ikut kalian. Nia mau sama kalian. Kenapa kalian nggak ajak Nia pergi? MAMA... PAPA..."
Setelah itu tubuh Nia ambruk tak sadarkan diri.
Semenjak kepergian orang tuanya, Nia tinggal bersama Paman Surya dan juga Bibi Lisa di rumahnya. Kejadian itu meninggalkan luka yang begitu dalam di hidup Nia. Nia yang tadinya merupakan gadis periang, kini berubah menjadi pemurung. Nia banyak mengurung dirinya di kamar, dan menjadi anti sosial. Nia banyak menangis sambil mendekap foto kedua orang tuanya. Sampai akhirnya Nia bangkit karena dukungan dari seorang pria bernama Wisnu. Dan Nia tidak pernah tahu, bahwa nantinya Wisnu juga menambah sederet luka di dalam hidupnya.
"Ma... Pa... Nia kangen... Hiks..."
Sebulir bening air terjatuh dari mataku ke ujung kaki. Kemudian terserap oleh kaos kaki yang aku kenakan. Aku masih setia memeluk lututku sendiri di sini. Menunggu Bibi Lisa pergi, dan aku bisa bertemu dengan Paman Surya untuk melihat keadaannya.
"Kamu udah tua nggak pantas nangis." Aku melihat sepasang sepatu kulit berwarna hitam berdiri di depanku. "Aku nggak punya balon buat diemin kamu, Ni."
Tanpa aku lihat pun aku tahu, siapa dia. Dia laki-laki menyebalkan yang tadi menelponku.
"Aku 30 tahun, bukan anak usia 3 tahun."
Dia terkekeh kemudian duduk di lantai, sama sepertiku. Jaraknya tiga lantai dari tempatku saat ini.
"Itu tahu, kenapa masih nangis?" tanyanya. Matanya menatap ke arahku, aku segera menyeka habis air mataku yang tersisa. Lagi-lagi harus ia yang melihatku sedang menangis.
"Memangnya nangis harus liat umur dulu! Sini aku colok mata kamu biar nangis juga."
Lama-lama aku kesal dengannya. Eh, sudah dari dulu deh aku kesal kepadanya.
"Kamu mau aku nangis Ni? Menghilanglah kamu dari muka bumi ini."
"Kenapa aku?"
"Kamu tahu, anak kecil yang kehilangan mainannya pasti nangis. Aku juga gitu Ni. Kalau kamu hilang, aku nangis nggak ada orang yang bisa di bully."
"Kurang ajar!" Aku melempar sandal ke arahnya. Sayangnya gerakan refleksnya sangat baik, sandalku tidak mendarat sempurna di tubuhnya.
Dia terkekeh.
"Kenapa kamu ke sini, Jo?"
"Jangan geer kamu, aku nggak nyusul kamu ke sini," ujarnya. Siapa juga yang mengira seperti itu. "Aku ke Bogor mau ngurus surat penjualan rumah aku, eh tau kamu di sini yaudah sekalian aku juga mau ngambil berkas-berkas yang tertinggal."
"Kamu pernah tugas di rumah sakit ini?"
"Hmm..."
Kami sama-sama terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing. Namun tiba-tiba Jo menggumam.
"Aku lebih suka kamu marah-marah, Ni. Dari pada diam. Setidaknya kalau kamu marah-marah itu artinya kamu sedang baik-baik saja."
Dia suka aku marah-marah? Pantas saja selalu membuat aku kesal.
"Kamu sudah makan?" tanyanya.
Aku menggeleng. Bagaimana bisa aku makan saat aku belum tahu bagaimana kondisi Paman Surya.
"Makan yuk. Aku kayak duduk sama mayat, wajah kamu pucet banget."
"Kamu aja, sana. Aku nggak lapar."
"Serius kamu mau di sini sendiri?" tanyanya. "Kamu nggak tau ya kisah mistis rumah sakit ini."
"Mana aku tahu, dan aku nggak mau tahu."
Aku mengedarkan pandangan ke sepanjang lorong, tidak ada tanda-tanda manusia selain aku dan Jo. Dari ujung ke ujung, lorong begitu sepi.
"Kabarnya nih, Ni. Kalau lorong sepi gini, biasanya ada suster lewat. Tapi bukan sembarang suster Ni, dia hantu. Terus dia nyari mangsa buat di suntik, terus...."
"Stop! Jangan diterusin. Oke aku ikut kamu makan."
Aku bergidik membayangkannya. Bulu kudukku berdiri semua. Aku segera mengekori Jo dari belakang.
"Mau makan apa?" tanyanya saat kami sudah berada di tempat makan yang berada di luar rumah sakit.
"Terserah!"
"Soto ayam mau?"
"Terserah!"
"Kalau ayam bakar?"
"Terserah!"
"Ck!" Ia berdecak, "kasih keputusan dong, Ni. Aku bingung kalau kamu jawab terserah terus."
"Aku mau bakso..."
"Ck! Jangan bakso, yang lain. Aku yakin dari pagi perut kamu itu belum kemasukan nasi."
Gimana sih Jo ini, tadi ia bilang aku suruh mengambil keputusan. Sekarang sudah ambil keputusan, malah ditentang. Dasar!
"Aku udah makan bubur buatan Mas Izhar tadi pagi."
"Ck! Izhar lebih muda dari kamu, ngapain manggilnya Mas."
"Suka-suka aku lah... Apa urusannya sama kamu? Kamu juga mau dipanggil Mas?"
"Memangnya aku Mas-mas tukang bakso! Yaudah cepet mau makan apa!"
Ish dia yang jadi sewot.
"Soto ayam aja deh," kataku. Akhirnya kami berdua memasuki kios yang menjual soto ayam.
"Tenang aja, aku yang bayarin. Anggap aja teraktiran rumah aku sudah laku terjual." ucapnya dengan jumawa. "Tapi nanti kalau aku ngelaundry di tempat kamu dapet diskon lagi ya."
"Dasar pamrih!"
Dia tertawa sampai bahunya bergetar. Seperti biasa, matanya berubah segaris.
"Terima kasih, Jo."
Terima kasih setidaknya aku tidak sendiri melewati hari ini.
Aku sudah menceritakan semuanya pada Jo. Mulai dari aku ke makam Mama, Papa. Aku datang ke rumah, Paman Surya yang serangan jantung, hingga penolakkan Bi Lisa yang tidak mengizinkan aku untuk mengetahui kondisi Paman. Ia bilang, takut nanti ke bawa s**l.
Mari kita lihat bagaimana usaha Jo membantuku.
Jo tengah berjalan menuju meja resepsionis yang dipenuhi oleh para suster. Lengan kemejanya ia gulung hingga siku, dan kemudian menyugar rambutnya. Dengan gaya santai, ia mendekat ke suster yang sedang berbincang itu.
Aku memperhatikannya dari jauh. Beberapa orang suster nampak terpesona dengan Jo yang tengah berbicara sesuatu. Beberapa yang kain sibuk tebar pesona dan ada juga yang melongo tak percaya.
Beberapa menit kemudian Jo mengacungkan ibu jarinya kepadaku sambil mengerlingkan matanya. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya itu. Dasar Jo! Meskipun menyebalkan, ia tetap bisa diandalkan.
"Berhasil Ni!"
Jo menghampiriku dengan raut wajah senang. "Kamu bisa ke ruang inap Paman kamu, tapi nanti setelah Bibi kamu pergi. Bibi kamu kembali lagi ke sini pagi-pagi. Usahakan sebelum Bibi kamu dateng, kita udah nggak ada di sini."
"Iya Jo, makasih ya..." ucapku tulus sambil tersenyum ke arahnya.
"I...iya Ni."
"Kamu ngomong apa sama suster?" tanyaku. Aku ingin tahu triknya menaklukkan para suster itu.
"Ada deh rahasia!"
Aku mengendikkan bahu. Yang penting sekarang aku bisa melihat kondisi Paman Surya.
"Sekali lagi makasih ya, Jo."
"Kamu ngomong makasih lagi, dapet piring cantik Ni."
"Hahaha."
Jo sudah memastikan Bi Lisa sudah keluar dari ruang inap Paman Surya. Kemudian, tanpa menyia-nyiakan kesempatan aku segera masuk ke dalam ruangan itu.
Aku melihat Paman Surya yang tengah tertidur. Rambutnya sudah banyak yang berubah putih, kerutan penuaan sangat tampak di wajahnya. Mungkin saja kalau Papa masih ada, wajahnya tidak jauh seperti ini.
Aku duduk di kursi samping tempat tidur. Aku melirik Jo yang juga mengikuti masuk ke dalam, dan duduk di sofa— karena kamar ini ruangan VIP. Ia menyenderkan tubuhnya pada sofa kemudian memejamkan mata. Kalau bukan karena dia mungkin aku tidak bisa melihat kondisi Paman saat ini.
"Paman ini Nia." Aku memegang tangannya yang ringkih seraya berucap lirih, "maafin Nia Paman... Maaf..."
Ya Allah... Tuhan yang nyawaku ada dalam genggaman-Mu, sembuhkan lah ia, angkat lah penyakitnya, jadikan sakitnya ini sebagai penggugur dosanya. Hanya dia keluarga yang aku punya ya Allah.
"Ni...a..."
Kepalaku terangkat, dan tepat saat itu ku lihat mata Paman Surya terbuka. Paman Surya mencoba bangun dari tidurnya namun segera kutahan.
"Paman... Nia minta maaf ya Paman..."
"Pa–man yang min–ta ma–af sama ka–mu." Paman Surya kesulitan bicara.
Kepalaku menggeleng, "nggak Paman, nggak salah. Paman sekarang istirahat ya, jangan banyak bicara."
"Paman belum tenang kalau belum bilang ke kamu."
"Paman mau bilang apa?"
Jo mendekat ke arah kami, ia juga menarik kursi yang kosong. Paman Surya memberiku isyarat pertanyaan siapa laki-laki itu.
"Dia Jo, teman Nia Paman."
"Kamu kemana aja? Paman mencari kamu ke mana-mana setelah Paman tahu hubungan kamu dan Wisnu berakhir." Paman Surya berkata pelan-pelan.
Aku tidak ingin menceritakan yang sesungguhnya. Bahwa malam itu aku ingin bunuh diri. Aku tidak mau membuat Paman Surya khawatir.
"Nia pergi ke suatu tempat Paman. Di sana Nia mempunyai keluarga baru."
"Kamu sudah menikah lagi?"
"Belum Paman. Ada seorang Ibu yang menganggap Nia anak kandungnya sendiri Paman."
"Ya Allah..." Paman Surya menangis. "Paman jadi semakin berdosa sama kamu, Nia."
"Paman jangan mikir yang macam-macam ya. Paman sama sekali nggak salah apa-apa."
"Nia hati kamu terbuat dari apa, Nak? Maafin keluarga Paman yang tamak, Nia. Paman gagal menjadi seorang pemimpin."
Aku terdiam, tidak mampu lagi berkata-kata. Aku juga melirik Jo yang ada di seberangku, sepertinya ia tidak ingin ikut campur dengan pembicaraan kami.
"Tapi Nia... Kamu tenang saja seluruh aset perusahaan, rumah, mobil masih atas nama kamu. Bibi kamu memaksa mengubahnya atas nama dia, tapi tidak bisa semudah itu."
Dulu, Papa memang mempunyai perusahaan produksi semen terbesar di Indonesia. Namun yang aku tahu, setelah Papa tiada, Paman Surya dan anaknya lah yang mengelola semuanya. Aku pun tidak keberatan, karena aku tidak memiliki ilmu dalam mengelola perusahaan.
"Paman... Sungguh Nia sudah bersyukur dengan kehidupan Nia yang sekarang. Memang segala sesuatu memakai uang, Paman. Tapi yang terpenting keberkahan dari uang itu."
"Nia pokoknya mulai dari sekarang, seluruh keuntungan perusahaan akan mengalir ke rekening kamu..."
"Paman tidak perlu—"
"Itu hak kamu Nia. Jangan menolaknya. Keluarga Paman sudah terlalu banyak mendzalimi kamu."
"Paman bagi Nia bisa diterima dengan keluarga Paman itu sudah cukup. Nia rela memberikan semuanya asalkan Paman dan keluarga mau mengakui Nia. Karena cuma kalian yang Nia punya."
Ya hanya mereka satu-satunya keluarga yang aku punya. Aku tidak ingin karena harta mereka malah menjauhiku. Biar bagaimana pun juga darah lebih kental daripada air.
****