Menuju Cahaya

1241 Kata
Jika sabar dan syukur itu dua kendaraan, aku tak peduli harus menaiki yang mana. (Umar Bin Khattab) "Jo ngapain sih ke sini?! Sebel!" "Biasa Mbak, urusan laki-laki. Beberapa hari ini dokter Jo memang sering ke sini." Aku yang sedang mengaduk teh terhenti, "ngapain? Kok Mbak nggak tau?" "Iya lah Mbak nggak tau, setelah dari kios laundry kan Mbak langsung ke kamar. Diskusi Mbak sama Mas Izhar." "Diskusi apa?" "Tentang Islam Mbak, sepertinya dokter Jo tertarik dengan Islam." Benarkah? Semoga saja dia memang mendapatkan hidayah. Hidayah merupakan hak prerogatif Allah. Mutlak hanya Allah yang berkuasa akan memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki. Bahkan Nabi Muhammad SAW tidak bisa memberikan hidayah kepada Pamannya, Abu Thalib. Yang hingga akhir hayatnya tidak mengimani ajaran Islam yang disampaikan oleh keponakannya sendiri. Kisah lainnya, seperti yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS. Hidup di tengah-tengah orang-orang yang menyekutukan Allah SWT, Nabi Ibrahim AS yang kokoh dalam memegang teguh keimanannya pada Allah tidak bisa mengajak orang tuanya untuk mengikuti ajaran yang dibawanya. Aku jadi teringat oleh kata-kata dari Imam Syafi'i, "Andai hidayah itu seperti buah yang bisa ku beli, maka akan aku beli berkeranjang-keranjang untuk aku bagikan kepada orang-orang yang aku cintai." Masya Allah... Memanglah hidayah adalah mutiara berharga yang tidak setiap orang dapat meraihnya. Hidayah itu mahal, karena dapat mengantarkan seseorang pada kasih sayang Allah. Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, berikanlah hidayah kepadanya agar bisa merasakan nikmat keimanan kepada-Mu. "Mbak Nia kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Adinda dengan wajah bingung. Hah? Siapa yang senyum-senyum? "Apa sih Din, udah ah Mbak mau nganter minuman ini ke ruang tamu." Aku segera meninggalkan Adinda di dapur dan langsung menuju ruang tamu. Di sana ada Mas Izhar dan Jo yang sedang berbincang dengan serius. "Silakan Mas di minum," ujarku seraya meletakkan dua cangkir teh ke meja. "Makasih Mbak." "Kok Izhar doang yang ditawari, aku nggak?" Tau sendiri lah siapa yang berkata seperti itu. "Yaudah kalo mau minum mah tinggal minum aja," kataku tak acuh. "Dasar pilih kasih! Sana kamu pergi!" Kurang asem dia mengusirku. "Tanpa kamu suruh juga aku bakal pergi kali! Awas berduaan yang ketiganya setan loh!" "Yeeeee emangnya aku berduaan sama perempuan! Hus hus sana!" Ish sebel! Padahal aku ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Akhirnya aku pergi ke dapur, mendekati Dinda. Sekalian menguping. "Zhar kalau ada orang baik banget, anti korupsi, bangun masjid, seluruh hidupnya ia korbankan untuk menolong sesama kemudian dia meninggal tapi bukan muslim. Dia masuk surga atau neraka?" tanya Jo. Aku sudah duduk di meja makan bersama Dinda untuk menguping mereka. "Neraka Mas," jawab Mas Izhar. "Lah kan dia orang baik, kenapa masuk neraka?" "Kan dia bukan muslim Mas." "Jahat banget dong Tuhan. Dia udah baik malah masuk neraka." "Allah tidak jahat Mas, tapi adil." "Adil dari mana Zhar? "Mas ngambil spesialis di mana? Terus dapet gelar apa?" Bukannya menjawab, Mas Izhar balik bertanya. "Saya spesialis di NUS, dapet gelar spesialis Obstetri dan Ginekologi. Kenapa?" "Kenapa Mas dapet gelar itu dari NUS?" "Ya karena saya kuliah di sana. Wisuda di sana. Gimana sih?" Jo mulai sewot karena di tanya terus menerus. "Nama Mas terdaftar di sana? Mas mendaftar?" "Ya jelas dong, Zhar." "Sekiranya waktu itu Mas tidak mendaftar, tapi Mas datang ke sana, ikut perkuliahan, diam-diam ikut ujian, bahkan Mas dapat nilai sempurna. Apa Mas juga tetap dapat ijazah?" "Jelas enggak lah, itu namanya mahasiswa ilegal. Sekali pun dia pintar, dia tetap tidak terdaftar sebagai mahasiswa. Di sana ketat Zhar soal aturan." "Berarti kampus Mas jahat, dong. Ada mahasiswa pintar gitu tapi nggak dikasih ijazah hanya karena nggak mendaftar." Jo terdiam sejenak, kemudian melanjutkan. "Ya nggak jahat sih, itukan aturan. Salah sendiri nggak mendaftar, dia harus menerima konsekuensinya yang nggak dapat ijazah dan titel resmi dari kampus." "Nah... Kalau kampus Mas aja ada aturan, apalagi dunia dan akhirat. Kalau surga diibaratkan ijazah, dunia ibarat bangku kuliah, maka syahadat adalah pendaftaran awalnya. Tanpa pendaftaran awal mustahil kita diakui dan dapat ijazah, sekalipun kita ikut kuliah dan mampu melaluinya dengan gemilang. Itu adalah aturan, menerapkannya bukanlah kejahatan, melainkan keadilan." Masya Allah... Penjelasan Mas Izhar logis sekali. "Kamu terus mengatakan tentang surga, tentang neraka, tentang hari kebangkitan, tentang malaikat, tentang Allah, tentang semua yang nggak bisa kita lihat. Bukankah itu hanya kabar dari kitab Al-Qur'an mu itu? Saya nggak percaya kalau belum melihatnya." Bisa-bisanya pertanyaan itu keluar dari bibir Jo. Dulu ia memang terkenal siswa yang kritis di kelas. Ya Allah bantulah Mas Izhar dalam menjawabnya. "Mas di Indonesia kita punya masalah kemacetan, bukan begitu?" "Ya." "Mas pernah denger radio dan ada berita kemacetan?" "Ya, saya denger radio di mobil kalau mau berangkat ke rumah sakit." "Mas jalan di tol, terus nggak ada kemacetan sama sekali. Jalannya bagus, lancar terus, jalannya luar biasa. Sampai Mas nggak bisa lihat mobil di depan Mas. Ketika Mas mendengarkan radio dan ada berita dua kilometer di depan Mas ada kemacetan karena ada kecelakaan parah. Jika bisa keluar, maka keluarlah. Begitu yang disampaikan si penyiar radio. Menurut Mas apa Mas bisa melihatnya?" "Nggak bisa lah, kan jauh dua kilometer di depan." "Mas nggak bisa melihatnya, tapi apakah Mas akan keluar dari tol itu?" "Ya, saya akan keluar dari tol itu. Ngapain nunggu, bisa jadi baru selesai 2 jam, 3 jam, atau 5 jam kan?" "Kenapa Mas keluar?" "Ya karena berasal dari sumber terpercaya. Reporter melihat sesuatu yang nggak bisa saya lihat." "Dan Mas percaya padanya?" "Iya." "Allah Azza wa jalla menciptakan manusia, dan manusia mampu untuk berpikir. Dan memahami sesuatu, meskipun belum melihatnya. Binatang tidak seperti itu, mereka baru bergerak saat sudah melihat sesuatu. Misalkan ada pengumuman silakan keluar dari rumah ini, kita manusia bisa langsung keluar melewati pintu, tapi binatang tidak bisa karena mereka tidak mengerti bahasa. Tapi jika mereka melihat api, mereka akan langsung menjauh. Mereka harus melihat sesuatu terlebih dahulu baru bisa bergerak.Namun manusia tidak seperti itu, manusia bisa bersikap jika mereka memahami. Allah berfirman bahwa Dia mengajarkan Al-Qur'an, dan Dia tidak memberi yang lain agar beriman. Dia memberi Al-Qur'an dan itu cukup. Ada beberapa mukjizat tapi pesan utama Islam adalah Al-Qur'an itu sendiri. Mukjizatnya adalah Al-Qur'an itu sendiri, karena manusia itu bukan binatang. Mas nggak harus melihat dulu baru beriman, tapi Mas bisa berpikir kemudian beriman. Itu lah Allah mengatakan bahwa Dia lah yang mengajarkan Al-Qur'an karena Dia lah yang menciptakan manusia. Manusia bukan binatang. Kalau Mas bicara saya baru percaya kalau saya melihatnya maka Mas bertingkah seperti kambing, seperti sapi, seperti kera, bukan seperti manusia. Manusia bisa berpikir. Al-Qur'an itu menarik bagi akal. Kalau Mas bisa percaya dengan si penyiar radio karena sumbernya jelas, kenapa Mas nggak percaya dengan Al-Qur'an yang bersumber dari Allah, Sang Maha Pencipta." Aku dan Dinda tertegun mendengar jawaban dari Mas Izhar. Ku rasa Jo pun begitu. Karena aku tidak mendengar suara apa pun lagi. "Dinda... Kamu adalah wanita paling beruntung di dunia, karena memiliki Mas Izhar sebagai suami." Adinda tersenyum malu-malu. "MBAK NIA! MBAK KELUAR MBAK! INI GAWAT!" Seseorang memanggil namaku sambil berteriak panik. Sepertinya itu suara Yudi. Aku langsung keluar menghampirinya, di susul oleh Adinda, Jo dan Mas Izhar. "Ada apa Yud, kenapa panik begitu?" "Mbak gawat, Mbak! Gawat!" "Iya kenapa? Kamu tenang dulu. Jelasin sama Mbak apa yang terjadi?" "Kios laundry Mbak... Kios laundry Mbak..." "Iya kenapa? Kamu kalau ngomong yang benar Yud, jangan buat Mbak penasaran." "Kios laundry Mbak kebakaran." Astagfirullahal 'adzim... Ya Allah... Kuatkan aku. "Yud, ayo kita ke sana!" "Iya Mbak." Aku langsung bergegas ke kios laundry. Tidak mengira kalau Mas Izhar, Adinda dan Jo juga akan mengikutiku. "Astagfirullah..." Kobaran api begitu besar. Para warga sibuk membantu mengambil air untuk meredam kemarahan si jago merah. Suara tangisan ibu-ibu terdengar nyaring karena rumahnya ikut terbakar juga bersamaan dengan kios laundry ku. Kakiku terasa lemas, rasanya tidak sanggup menopang beban tubuhku sendiri. Cobaan apalagi ini, Ya Allah? Mengapa datangnya bertubi-tubi? Berikanlah kesabaran serta kekuatan kepadaku. Laa haula walaa quwwata illa billahil 'aliyil 'adzim... Selanjutnya aku tidak ingat lagi apa yang terjadi. Yang ku dengar terakhir kali adalah mereka berteriak memanggil namaku. "Nia!" "Mbak Nia!" *****  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN