" Hmmm sory ya bukan levelku" kata Leoni sombong.
" Jangan begitu nanti kamu jadian sama dia baru tahu rasa kamu" kata Tama.
" Idihhh ogah ya..." kata Leoni.
" Hahahhahahahahahah" mereka semua tertawa,
Pesanan pun datang. Sebelum bel berbunyi mereka sudah selesai memakan makanan mereka. Mereka kembali ke kelas mereka dan mengikuti ujian ke dua. Mereka sangat fokus mengerjakan soal-soal dari guru mereka, seperti biasa Leoni selalu selesai lebih awal dari teman-temannya. Disusul dengan Gerald anak baru.
Leoni langsung ke luar kelas, dia menunggu teman-temannya di depan sekolah. Gerald mengikuti Leoni dari belakanh, sepertinya benar Gerald benar-benar sudah jatuh hati pada Leoni sejak dia melihatnya di dalam kelas tadi.
Leoni berjalan menuruni tangga dan duduk di teras di lantai pertama.
Dia terus memainkan Ponselnya tanpa menyadari Gerald mengikutinya dari belakang. Ketika dia sedang memainkan Ponselnya, kepalanya terasa pusing...matanya tiba-tiba gelap dan akhirnya dia pingsan, Untung saja Gerald ada dibelakangnya ketika Leoni pingsan, Dengan sigap Gerald langsung menangkap Leoni dari belakang sehingga kepalanya tidak sampai terbentur ke lantai. Gerald langsung menggendong Leoni ke UKS dan memberitahukan kepada guru yang bertugas
" Bu...tolong dia pingsan" kata Gerald menaruh Leoni di matras.
" Sini...sini...biar ibu periksa" kata Ibu Guru.
Tas Leoni dipegang oleh Gerald sambil menunggu Leoni di periksa.
"Wah suhu badanya panas sekali" kata Bu Guru.
" Iya Bu...dari tadi dia sudah kelihatan pucat mukanya" sahut Gerald.
" Biar ibu ambilkan obat dan teh hangat dulu ya...kamu jaga dia ya...ini kamu oleskan minyak ke hidungnya ya" kata Bu Guru segera mengambil obat dan membuatkan Teh hangat.
" Iya Bu..." jawab Gerald kemudian mengoles-ngoleskan minyak kayu putih ke hidung Leoni.
Setelah beberapa menit akhirnya Leoni membuka matanya secara perlahan sambil mencium aroma minyak kayu putih, dengan penglihatan yang samar-samar dia melihat seorang laki-laki di depannya sedang mengolesi minyak di hidungnya... betapa kagetnya ketik dia melihat Gerald yang ada dihadapannya.
"Eeehhhhh.....Kamu ngapain disini!! Apa yang kamu lakukan!!!" Teriak Leoni kaget.
" Eh tenang dulu...jangan teriak-teriak, aku gak apa-apain kamu kok" kata Gerald.
" Pergi sana...jangan dekat-dekat" usir Leoni.
Tiba-tiba terdengar suara..
" Jangan begitu...dia yang menolong kami saat kamu pingsan" kata Bu Guru membawa teh hangat dan obat untuk Leoni.
" Tuh...dengerin...jangan asal ngomong" kata Gerald. Leoni pun malu karena sudah mengatakan hal yang tidak-tidak terhadap Gerald.
"Hmmm maaf deh..." kata Leoni.
" Iya gak apa-apa" jawab Gerald.
" Nie minum Obatnya ya" kata Bu Guru memberikan obat dan teh hangat untuk Leoni.
" Terimakasih Bu"kata Leoni.
" Berterimakasih juga sama temenmu, dia menggendong kamu dari jauh" kata Bu Guru tersenyum lembut.
"Hmmm terimakasih sudah menolongku" kata Leoni terpaksa.
" Iya.. sama-sama" kata Gerald tersenyum.
" Kamu tidak sarapan ya tadi pagi?" Tanya Bu Guru.
" Hmmmm iya Bu...saya tidak sarapan" jawab Leoni.
" Pantesan badan kamu panas, lalu kamu pingsan, kamu harus jaga kesehatan. Sarapan itu sangat penting, supaya kamu berenergi" kata Bu Guru menasehati.
" Iya Bu...besok saya akan sarapan sebelum berangkat sekolah" jawab Leoni dengan senyum.
" Nah begitu...jangan sampai tidak sarapan. Kesehatan itu mahal" kata Bu Guru
" Iya Bu" jawab Leoni dan Gerald secara bersamaan.
" Ya sudah kamu segera pulang ya...biar kamu cepat pulih" kata Bu Guru.
" Iya Bu" jawab mereka sambil mengangguk.
Mereka berdua akhirnya keluar dari UKS, nampak terlihat terlihat Tama, Dian, dan Aris sedang mencari Leoni. Dari jauh Dian melihat Leoni dan Gerald berjalan berdua..
" E....eh liat tuh Leni jalan bareng sama anak baru itu hehehehehhe" bisik Dian kepada kedua temannya.
" Widih....gak salah liat tuh...tadi bilangnya gak mau...sekarang malah jalan berdua-duan" kata Aris sedikit cemburu.
" Jiah...Aris cemburu hahahhahaha" kata Tama.
" Oooiii....!!" Teriak Tama sambil tertawa.
Melihat ketiga temannya Leoni pun langsung menjaga jarak dengan Gerald.
" Sana geser" bisik Leoni galak.
" Iya...iya..." balas Gerald.
" Haiiiiii.....Len..." panggil Dian.
Leoni berjalan cepat sambil tersenyum malu.
Sesampai di depan mereka...
" Jie...Jie...yang katanya gak mau...ternyata diam-diam malu" ledek Tama.
" Kamu kemana aja Len, kami dari tadi mencarimu" kata Dian sedih.
" Apaan sih Tama.....tadi aku pingsan Dian" jelas Leoni.
"Apaaaa!!! Kamu pingsan!!!" Kata mereka bertiga secara serentak.
" Iya dia pingsan"sahut Gerald dengan tersenyum.
" Weh kamu yang menolong Leni?" Tanya Aris.
" Iya dia yang menolongku" kata Leoni dengan nada tidak senang.
" Wah...terimakasih ya sudah menolong Leni" kata Dian menjabat tangan Gerald.
" Wah....ternyata kamu kuat juga ya gendong Leoni" kata Aris.
" Tidak juga..." kata Gerald sambil menggaruk-garuk kepalanya.
" Sudah yuk kita pulang" ajak Leoni agar tidak semakin diejek teman-temannya.
"Eee...ini tas kamu" kata Gerald memberikan tas Leoni kepadanya.
" Oke terimakasih ya..." kata Leoni.
" Jie...Jie...Jie..." ledek teman-temannya.
Mereka segera pulang menuju rumah masing-masing. Mereka pulang dengan dengan naik angkutan umum. Ketika menunggu di halte. Mereka melihat mobil Pemilik Sekolah lewat mereka menunduk sebagai tanda hormat. Tetapi mereka semua terkejut ketika melihat Gerald membuka kaca mobilnya sambil melambaikan tangan.
" Duluan ya..." kata Gerald tersenyum.
Mereka bertiga hanya menganggukan kepalanya, mereka tidak menyangka kalau dia adalah anak Pemilik Sekolah mereka. Mata mereka tak berhenti berkedip.
" Haaaahhh ternyata anak baru itu anak Pemilik Sekolah?" Kaya Dian kaget.
" Apa iya...ya....?" Sahut Leoni juga kaget.
" Iya sepertinya...aku pernah dengar anak Pemilik Sekolah mau pindah kesini...apa mungkin itu Gerald???" Kata Tama.
" Ahhhh....mungkin hanya saudaranya kali" sahut Aris.
Mereka masih tidak menyangka, mereka menerka-nerka sendiri. Hingga akhirnya angkutan yang mereka tunggu datang,dan akhirnya membawa mereka pulang ke rumah masing-masing.
Gerald adalah anak Pemilik Sekolah, dia dulu sempat sekolah di luar negeri, tapi dia ingin pindah ke Indonesia. Walaupun dia anak orang kaya, tapi dia sangat rendah hati, dia juga pintar. Dia sering mendapat juara kelas.
Leoni masih kaget, tidak menyangka kalau Gerald adalah anak dari pemilik Sekolah.
" Hmmm.....masak sih Gerald anaknya Pemilik Sekolah???" Katanya dalam hati.
Dia turun di gang jalan, dia melambaikan tangan kepada teman-temannya.
" Bye...sampai besok" kata Leoni sambil melambaikan tangan.
Leoni melangkahkan kakinya menuju kerumahnya, sampai di rumah dia melihat Neneknya sedang duduk di teras...
" Selamat siang Nek?" Kata Leoni.
" Siang Len,,, kamu sudah pulang?" Kata Bu Rita beranjak dari bangku di teras.
" Nenek kok di luar kan panas" kata Leoni mencium tangan Bu Rita.
" Makanya Nenek di luar biar gak panas, di dalam panas banget" jawab Bu Rita.
" Kan ada AC Nek" kata Leoni sambil melepas tali sepatunya.
" Kalau pakai AC terus badan Nenek sakit" kata Bu Rita.
" Hmmm Nenek mah ada-ada saja, Leni masuk dulu ya Nek" kata Leoni membawa sepatunya ke dalam.
" Iya...sana kamu makan, tadi Nenek sudah masak sayur lodeh" kata Nenek.
" Oke...pasti enak ya Nek, ooo ya Kakek kemana Nek?" Tanya Leoni.
" Biasa Kakek lagi tidur siang,capek" jawab Bu Rita.
" Hmmm iya...ya kasihan pasti capek, ya udah saya ke dalam dulu ya Nek" kata Leoni.
" Iya Sayang" kata Bu Rita kembali duduk di bangku teras merasakan angin sepoi-sepoi. Rumah Gaby terdapat pepohonan di halamannya jadi walau udara di luar panas, di halamannya sejuk karena ada ranting daun yang banyak untuk berteduh dan menikmati angin sepoi-sepoi.
Leoni masuk ke dalam ditaruhnya sepatu di raknya di dekat pintu masuk, dia kemudian berjalan menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Sementara itu Gaby ada di dalam kamar, dia membuka kado-kado yang di dapatnya semalam. Dia sangat senang dengan kado-kado yang diterimanya, ada Sprei, Gelas, Jam tangan,tas, baju,dan lain-lainnya. Dia tersenyum sambil membaca ucapan dari kado-kado itu.
"Hmmm banyak banget ini, harus aku susun rapi diatas lemari" katanya dalam hati.
Dia tidak peduli dengan kedatangan Leoni, sikapnya yang dingin membuat dia tampak seperti tidak mempunyai anak. Bahkan kalau mereka jalan berdua terlihat seperti kakak dan adik,karena usia Gaby yang terbilang belum tua. Dia nampak cantik dan anggun layaknya gadis-gadis yang masih perawan. Dia sibuk di kamar membereskan kadonya.
Selesai berganti pakaian Leoni langsung mencuci tangan dan kakinya kemudian makan siang, habis itu dia kembali ke kamar. Rumah itu cukup besar, tapi terlihat sepi karena aktifitas yang dilakukan Gaby dan Leoni hanya di kamarnya masing-masing.
Bu Rita sangat sedih melihat keadaan rumah Gaby...
" Hmmm...ini rumah bersih...besar...tapi kok sepi kaya kuburan" pikirnya dalam hati.
Bu Rita kemudian masuk ke dalam rumah, melihat meja makan nampak kalau Leoni sudah makan,karena piringnya sudah di tempat cuci piring dalam keadaan rapi. Dengan tersenyum Bu Rita berkata dalam hatinya.
" Hmmm Leoni sudah makan, aku mau ke kamarnya, pasti dia di kamar".
Bu Rita melangkahkan kakinya menuju ke kamar Leoni..
" Tok..tok...tok.."
" Len...Nenek boleh masuk" tanya Bu Rita.
" Masuk Nek,,,pintunya tidak di kunci" jawab Leoni yang sedang berbaring di kasurnya.
Bu Rita masuk ke dalam kamar Leoni lalu menutup pintunya dan langsung menghampiri Leoni.
" Kamu sudah makan kan Len?" Tanya Bu Rita.
" Sudah kok Nek,,terimakasih sudah dimasakin sayur kesukaan saya" kata Leoni bangun dari pembaringan nya.
" Loh . kok mukamu pucat, kamu sakit ya?" Tanya Bu Rita.
" Hmmm tadi Leni pingsan Nek" kata Leoni.
" Apa?! Kamu pingsan?" Kata Bu Rita kaget.
" Iya Nek.... tadi pas pulang sekolah saya pingsan" jawab Leoni sedih.
" Aduhhh....Kamu tadi gak sarapan jadinya pingsan" kata Bu Rita membelai rambut Leoni.
" Iya Nek,,,,,tapi gak apa-apa kok sekarang udah baikan, tadi juga ada teman saya yang menolong membawa saya ke UKS" jelas Leoni.
" Hmmm Syukurlah kalau ada teman yang menolong,kamu gak kebentur kan?" Tanya Bu Rita kembali.
" Enggak kok Nek, tadi langsung ditangkap teman saya, sadar-sadar saya sudah di UKS dan diberi obat sama teh manis" kata Leoni menjelaskan.
" Hmmm kamu kalau mau berangkat sekolah harusnya sarapan dulu, supaya badan kamu punya energi, kan otak juga butuh nutrisi" kata Bu Rita menasehati.
" Hmmm biasanya sih saya gak sarapan Nek, kalau jam istirahat baru saya makan di kantin" kata Leoni.
" Mulai besok kamu harus sarapan, tidak boleh tidak" kata Bu Rita.
" Hmmm habisnya gak sempat Nek kalau sarapan" kata Leoni beralasan.
" Hmmm Nenek tahu pasti Ibumu tidak membuatkan sarapan kan untukmu?" Tanya Bu Rita.
" Hmmmm....iya...Nek, mungkin Ibu sibuk, kan harus ke kantor juga" kata Leoni sedih.
" Len, kamu anak yang baik,walaupun Ibu memperlakukanku tidak baik, tapi kamu masih saja membelanya, padahal dari kecil kamu tidak dipedulikan oleh Ibumu" kata Bu Rita dengan mata berkaca-kaca.
" Nek...sebenarnya Leni ini anak Ibu bukan Nek?" Tanya Leoni penasaran.
" Kamu sekarang sudah beranjak besar, kamu harus tahu alasan Ibumu bersikap tidak baik padamu" kata Bu Rita sedih.
" Memangnya kenapa Nek, kalau boleh tahu kenapa Ibu begitu tidak senang denganku?" Kata Leoni penasaran.
" Tapi kamu harus janji, setelah kamu mendengar penjelasan dari Nenek kamu tidak boleh lagi membenci Ibumu" kata Bu Rita.
" Hmmm Iya Nek...coba ceritakan padaku Nek, kenapa Ibu begitu tidak suka dengan saya" kata Leoni semakin penasaran. Bu Rita akhirnya bercerita...
" Dulu Ibumu adalah seorang wanita yang hebat dalam bekerja, hingga suatu hari perusahaan dimana Ibu bekerja, mengadakan pesta di klub malam. Ibumu masih senang dengan dunia malam. Hingga akhirnya dia dan teman-temannya minum minuman keras sampai mabuk. Ketika mabuk Ibumu ditolong oleh Ayahmu Alex yang waktu itu bekerja di klub itu. Alex membawa Ibumu pulang kerumah, Ibumu sudah bisa membeli rumah walaupun dia baru bekerja selama satu tahun di perusahaannya. Entah apa yang dilakukan Ibumu sehingga Ibumu dan Alex melakukan perbuatan diluar dugaan. Mereka melakukan hubungan layaknya suami-istri, hingga akhirnya setelah beberapa bulan Ibumu mengandung, Nenek dan Kakek mencari tahu Alex dan akhirnya kami bertemu dengannya. Alex orang yang sangat baik, dia mau mempertanggungjawabkan perbuatannya. Alex menikahi Ibumu, meskipun Ibumu tidak setuju,malah mau menggugurkan, tapi Nenek menghentikan niatnya, dan akhirnya dia mau menikah dengan Alex" pungkas Bu Rita sambil mencucurkan air mata.
" Hmmm jadi Ibu memang tidak suka denganku sejak saya ada dalam rahimnya???" Kata Leoni sedih.
" Bukan begitu Len, Ibumu belum siap menerima kenyataan yang dialaminya, walaupun itu adalah kesalahannya sendiri" kata Bu Rita.
" Pantas saja...dari kecil saya hanya diurus dan dirawat oleh Ayah...hatiku sangat hancur ketika Ayah harus pergi meninggalkanku Nek" katanya sedih sambil menangis.
" Sabar ya Len..Kamu adalah anak yang kuat kamu pasti bisa melewati ini semua" kata Bu Rita menghiburnya.
" Nek...sebenarnya saya ingin sekali bertemu dengan Ayah, tapi saya tidak tahu harus mencarinya kemana" kata Leoni sedih berderai air mata.
" Hmmm Len sebenarnya Nenek tahu dimana Alex" kata Bu Rita memegang bahu Leoni.
" Apa!!! Nenek jadi selama ini tahu keberadaan Ayah????" Kata Leoni kaget.
" Hmmm sebenarnya setelah Ayahmu sah bercerai dengan Ibumu, dia meminta Nenek untuk terus memantau perkembangannya tanpa sepengetahuan Ibumu" kata Bu Rita.
" Apakah benar Nek??? Dimana Ayah sekarang Nek??? Saya sangat rindu padanya?" Kata Leoni.
" Nanti kalau sudah waktunya Alex sendiri yang akan menemuinya Len" kata Bu Rita.
" Tapi kapan Nek...tolong beritahu saya dimana Ayah Nek?????" Kata Leoni semakin menangis.
" Hmmmm sebenarnya Nenek tidak boleh memberitahukan padamu, tapi Nenek tidak mau kamu sedih, Alex Ayahmu selama ini ada di Surabaya, dia sedang merintis usaha" kata Bu Rita.
" Hah...Ayah di Surabaya??????? Ajak saya kesana ya Nek?" Kata Leoni senang mendengar kabar tentang keberadaan Alex.
" Pasti Len, tapi kamu harus menyelesaikan sekolahmu baru kamu akan Nenek bawa ke Surabaya untuk bertemu Ayahmu" kata Bu Rita.
" Baik Nek....Leoni sudah tidak sabar ingin bertemu Ayah" kata Leoni penuh semangat.
" Tapi ingat kamu tidak bolehberitahukan Ibumu" kata Bu Rita.
" Pasti Nek...toh juga saya tidak pernah bicara dengan Ibu" kata Leoni.
" Oke nanti kalau sudah selesai ujian, kamu boleh liburan bersama Nenek ke Surabaya" kata Bu Rita
Leoni sangat senang dengan kabar tentang keberadaan Ayahnya Alex. Dia tidak sabar untuk bertemu ayahnya.
Alex kini tinggal di Surabaya, selesai perceraian dia dan Bu Rita bersepakat untuk membangun bisnis kuliner di Surabaya, tapi tanpa sepengetahuan Gaby. Gaby melarang Leoni bertemu dengan Alex, walaupun Gaby tidak peduli dengan Leoni, tapi dia melarangnya untuk bertemu dengan Ayahnya.
Alex bekerja sangat giat, sehingga usaha yang dia rintis bersama mantan mertuanya semakin berkembang dengan pesat. Dia selalu mendapat kabar dari Bu Rita tentang keadaan Leoni. Alex hanya menahan rindu,tapi ketika dia melihat foto Leoni rasa rindunya terobati. Sekarang usahanya sudah mempunyai banyak cabang, karena dia giat bekerja dia tidak memikirkan kesehatannya.
Beberapa hari ini kesehatannya semakin menurun, hingga Alex harus bolak balik ke rumah sakit untuk periksa. Tapi Bu Rita juga tidak mengetahuinya.
Sementara itu di rumah Gaby...Gaby selesai membereskan kamarnya dia segera menyiapkan makan siang untuk Verdo.
" Kok sepi...Ibu dan Ayah dimana ya? Hmmm mungkin mereka sedang istirahat" katanya dalam hati sambil menyiapkan piring untuk suaminya. Setelah selesai diapun menggambil ponselnya di kamar untuk menghubungi Verdo.
" Halo....sayang" kata Verdo mengangkat telepon dari Gaby.
" Halo... sayang..." kata Gaby.
" Iya...kangen ya?" Kata verdo merayu.
" Ah kamu ini...kamu pulang jam berapa?" Tanya Gaby.
" Hmmm sebentar lagi selesai kok...aku langsung pulang..kangen sama kamu" katanya merayu.
" Hehe...iya aku tunggu ya, aku sudah siapkan makan siang untukmu" kata Gaby.
" Wah enaknya...gini ini punya istri yang perhatiaan" kata Verdo senang.
" Iya donggg...cepet pulang ya?" Kata Gaby.
" Oke...tunggu aku ya sayang...Love you" kata Verdo.
" Iya sayang...love you tooo" kata Gaby mematikan ponselnya.
Mereka sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta. Apalagi mereka belum melakukan hubungan suami istri karena Gaby masih menstruasi.
Dibalik kemesraan mereka ada hati Leoni yang tersakiti. Setelah satu jam menunggu suara mobil Verdo akhirnya datang. Gaby yang tidak asing dengan suara mobilnya bergegas ke luar kamar untuk menyambut kedatangan Verdo. Dia merapikan rambutnya yang tergerai panjang, serta menambah bedak di pipinya, tak lupa juga menyemprotkan parfum ke bajunya lalu segera keluar. Sedangkan Leoni dan Neneknya sudah tertidur di kamar Leoni.
Verdo memarkirkan mobilnya di garasi, walaupun dia seorang pemilik perusahaan tapi dia hanya mengendarai mobil biasa jazz Inova. Ketika turun dari mobil dia mencium bau wangi, dilihatnya Gaby sudah menunggu di depan pintu rumah dengan wajah yang berseri-seri. Verdo pun langsung menghampirinya dan mencium keningnya.
" Hai sayangku yang cantik....Kamu benar-benar sangat cantik" rayu Verdo memegang dan mencium tangan Gaby.
Gaby pun merasa tersanjung dengan rayuan Verdo,sehingga mendekatkan wajahnya ke muka Verdo dan mencium bibir Verdo, suasana rumah yang sepi membuat mereka bebas untuk b******u cinta.
" Awas ya liat saja kalau kamu sudah selesai" bisik Verdo b*******h.
" Siapa takut...." tantang Gaby. Lalu memeluk pinggang Verdo dan mereka duduk disopa sambil berbaring dan bercium-ciuman.
" Ssttt.... sudah yuk makan...gak enak nanti dilihat orang" bisik Gaby mendorong tubuh Verdo dan segera berdiri.
" Hhhhmmm awas ya..." kata Verdo melepas sepatunya. Gaby langsung bergegas ke dapur dan melemparkan senyum menggoda kepada Verdo.
" Ganti baju...cuci tangan baru makan ya sayang..aku tunggu disini" kata Gaby menyiapkan minuman di meja makan.
" Oke....aku ke kamar dulu ya" kata Verdo menaruh sepatunya dan masuk ke kamar mengganti pakaiannya.
" Oke...." jawab Gaby.
Verdo langsung ke kamar, ketika masuk ke kamar dia melihat kamarnya sudah bersih dan rapi..
" Hmmm aku gak salah milih istri.... sangat rajin sekali" gumam Verdo takjub melihat kamarnya yang indah. Diapun mengganti pakaian dan segera ke ruang makan.
Gaby sudah duduk di meja makan sambil mengambilkan nasi dan lauk untuk Verdo.
" Wah enak sekali kelihatanya" Puji Verdo.
" Pasti enak dong Ibu dan aku yang memasak...yuk dimakan sayang" kata Gaby.
" Oke...terimakasih ya sayang" kata Verdo meminum air putih dan segera menyantap makanannya.
"Wahhhh memang jempol deh....aku gak pernah makan masakan seenak ini" Puji Verdo makan dengan lahap.
" Masak??? Bukannya kamu terbiasa makan makanan yang lezat ya?" Kata Gaby memakan buah apel merah.
" Hmmm siapa bilang..di rumah, Mama jaga makananku..pokoknya semua tak ada rasa...nasi merah makananku tiap hari..." kata Verdo.
" Kan bagus lebih sehat kan" kata Gaby meledek.
" Iya hambar semua...wah bisa-bisa aku disini bisa gemuk nih" kata Verdo.
" Harus dong...kalau kamu kurus nanti aku yang disalahin, dibilang gak pinter masak" kata Gaby.
" Hehehehe.. enggaklah pokoknya aku bangga samamu, bener istri idaman" Puji Verdo.
" Ah mulai deh...berlebihan" kata Gaby malu.
" Hupppph....kenyangggg.....nya..." kata Verdo.
" Sini biar aku beresin" kata Gaby mengambil piring Verdo untuk dicuci.
Ketika mengambil piring Verdo menarik Gaby sehingga dia duduk di pangkuan Verdo, kemudian mencium leher Gaby dan akhirnya mencium bibirnya.
Saat mereka tenggelam dalam kemesraan mereka tiba-tiba terdengar suara orang membuka pintu kamar
" Klekkk...."
Ternyata Pak Roby sudah bangun dari tidurnya. Gaby langsung berdiri dan segera ke dapur untuk mencuci piring, sedangkan Verdo langsung menghampiri Pak Roby.
" Selamat siang Ayah" sapa Roby dengan sopan.
" Eh kamu Ver...Kamu sudah pulang? Ayah tidak mendengar suara mobilmu, Ayah tidur pulas haha..." kata Pak Roby.
" Iya Ayah....Anda sudah makan?" Tanya Verdo.
" Sudah kok...ini mau cari Ibu, kemana dia" kata Pak Roby.
" Hmmm dari tadi saya juga tidak nampak Ibu di luar, mungkin beliau tidur di kamar Leoni" kata Verdo.
" Ooo ya...mungkin" kata Pak Roby langsung ke dapur untuk mengambil air minum.
" Eh Ayah....sudah bangun" kata Gaby merapikan dapur.
" Iya...apa kamu melihat Ibumu?" Tanya Pak Roby sambil menuang air minum ke gelas.
" Saya kok gak liat Ibu, mungkin Ibu tidur di kamar Leni" kata Gaby.
" Wah kalian ini kompak sekali" kata Pak Roby.
Gaby dan Verdo hanya tersenyum dan saling melempar pandangan mereka mengedipkan mata.
Gaby dan Verdo sedang dimabuk cinta...jadi mereka ingin selalu bercinta disetiap kesempatan. Mereka kemudian ke kamar untuk melanjutkan kemesraan mereka. Sedangkan Pak Roby keluar rumah untuk mencari udara segar.
Di kamar Leoni, Leoni terbangun dari tidurnya, sedangkan Bu Rita masih tertidur pulas.
" Hmmm kasian Nenek pasti capek" kata Leoni lalu membetulkan selimut Bu Rita.
" Kenapa aku mimpi buruk tentang Ayah,,,semoga Ayah baik-baik saja...tapi gimana kabar ayah sekarang? Aku sangat rindu Ayah" Kata Leoni sedih.
Dia pun segera turun dari ranjangnya dan bergegas untuk keluar mengambil air minum.
Disisi lain ketika Gaby dan Verdo sedang bermesraan, tiba-tiba Verdo merasa haus,
" Hmmm kok aku haus sekali, bentar ya aku ambil minum dulu" kata Verdo.
" Biar aku ambilkan ya..." kata Gaby.
" Tidak usah, biar aku sendiri, kasian kamu pasti capek" kata Verdo tersenyum.
" Baiklah...jangan lama-lama ya" kata Gaby menggoda.
Verdo akhirnya keluar kamar untuk mengambil minum. Ketika dia berjalan menuju ke dapur, dia melihat Leoni sedang meneguk air minumnya. Dia memperhatikan Leoni dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dia sangat terpesona dengan kemolekan tubuh Leoni.
" Benar-benar sempurna" kata Verdo dalam hati.
Ketika Verdo memandang Leoni, tiba-tiba Leoni menoleh dan melihat Verdo, dia merasa sangat gugup dan cepat-cepat untuk pergi dari dapur. Tapi saat mereka berpapasan...
" Kamu sudah pulang sekolah ya Len?" Tanya Verdo dengan lembut.
" Hmm iya.." jawabnya sambil menundukkan kepalanya dan langsung kembali ke kamar.
" Hmmmm...harus lebih sabar agar aku bisa dekat dengannya" kata Verdo dalam hati dan segera mengambil air minum kemudian kembali ke kamar untuk memadu cinta dengan Gaby.
Sementara itu keadaan Alex semakin memburuk. Dokter menyarankan agar Alex dirawat di Rumah Sakit.
" Pak...dimana keluarga Bapak?" Tanya Suster.
" Keluarga saya di Jakarta Sus, di Surabaya saya sendiri" kata Alex.
" Apa ada saudara dekat atau teman gitu Pak?" Tanya Suster kembali.
" Ada Sus, nanti coba saya hubungi" jawab Alex sambil berbaring di ranjang pasien.
" Baik Pak, saya pasang infus dulu ya Pak, permisi tangannya Pak" kata Suster memasangkan infus ditangan Alex.
" Sudah Pak, nanti kalau teman Bapak sudah dihubungi, mohon untuk ke ruang administrasi untuk melengkapi dokumen Bapak" kata Suster.
" Baik Suster, terimakasih" kata Alex.
" Sama-sama Pak, saya permisi dulu" kata Suster meninggalkan ruangan.
Alex mencoba melihat kontak di Ponselnya,..
" Hmmm siapa yang harus saya hubungi..." pikirnya sambil melihat di kontak.
Saat melihat kontak dia ingat kepada Bu Rita.
" Hmmm Ibu" kata Alex.
Walau Alex sudah bercerai dengan Gaby, namun hubungan dengan Pak Roby dan Bu Rita masih cukup baik. Bahkan Mereka menganggap Alex seperti anaknya sendiri sehingga diberi kepercayaan untuk memegang bisnis kulinernya. Alex sudah tidak memiliki orang tua, bahkan saudarapun dia tidak punya. Kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan saat usianya baru lima belas tahun dan duduk di bangku SMP, dia bisa menyelesaikan sekolahnya karena beasiswa yang diterimanya hingga bisa melanjutkan ke SMA. Demi memenuhi kebutuhannya dia sekolah sambil bekerja. Biaya sekolahnya bisa dilunasi karena dia pandai menyimpan uangnya dengan baik. Alex juga merupakan seseorang yang pantang menyerah. Ketika lulus SMA dia tetap melanjutkan pekerjaannya di klub malam, walau hanya sebagai tukang bersih-bersih dan tukang peluang minuman dia belajar untuk bekerja dengan giat dan jujur. Dimana akhirnya takdir mempertemukan dia dengan Gaby. Walaupun awalnya menolong, tapi apalah daya...karena rayuan Gaby dalam ketidaksadarannya, walaupun awalnya menolak, tapi Gaby terus memaksanya akhirnya diapun lepas kendali dan melakukan hubungan suami istri bersama dengan Gaby.
Alex akhirnya menghubungi Bu Rita. Tapi panggilannya tidak dijawab. Karena Bu Rita sedang istirahat di kamar Leoni, sedangkan ponsel Bu Rita ada di kamar tamu.
" Hmmm Bu Rita apa masih di Jakarta ya....?" Pikir Alex.
Sementara itu di dalam kamar Leoni duduk di meja belajarnya. Dia membuka buku untuk belajar sambil memikirkan tentang Gerald.
"Hmmm pantas saja dia mengerjakan soal dengan cepat, dia pindahan dari luar negeri, bakal jadi sainganku pasti nie" pikir Gaby dalam hati.
" Duh...kenapa ini malah mikirin anak baru itu" sambil memukul-mukul kepalanya dengan tangan.
Tanpa sadar tangannya menjatuhkan pot bunga yang dimeja belajar.
" Cetaaartr..........." pot bunga yang dari botolpun pecah dilantai, Bu Rita langsung terbangun dari tidurnya.
" Kenapa Len??? Apa yang jatuh???" Tanya Bu Rita mengambil kecamatanya.
" Ini Nek...saya tidak sengaja menjatuhkan pot bunga" kata Leoni sambil membersihkan pecahan pot.
" Hati-hati ya Len itu kaca" kata Bu Rita.
Belum juga Leoni menjawab dia sudah terkena pecahan kaca.
" Aduhhh!!!" Teriak Leoni tangannya tergores pecahan pot bunga.
" Hmmm baru saja Nenek ngomong ehhh malah sudah kena tanganmu, dimana kotak P3knya Len?" Tanya Bu Rita.
" Di atas lemari plastik itu Nek" kata Leoni sambil memegang tangannya yang terluka mengeluarkan tetes darah.
" Baik Nenek ambil" kata nenek beranjak dari tempat tidur menuju ke lemari plastik untuk mengambil kotak P3k lalu menghampiri Leoni.
"Sini Nenek Obati" kata Nenek memberi obat merah ke luka ditangan Leoni, kemudian membalutnya dengan plester, seketika itu juga darahnya sudah berhenti menetes.
"Terimakasih ya Nek..." kata Leoni tersenyum manis.
" Iya sama-sama, Nenek mau lihat Kakek dulu ya, kamu lanjutkan belajarnya,jangan banyak melamun, nanti kamu pecahin apa lagi hehehehe" kata Bu Rita.
" Iya Nek...pasti saya belajar dengan benar" kata Leoni.
Bu Rita keluar dari kamar, saat di depan pintu kamar Tamu, tiba-tiba ada orang memeluk dari belakang.
" Dari mana kamu Bu...?" Kata Pak Roby memeluk Bu Rita.
" Eh...Kamu ngapain sih peluk-peluk segala, kan gak enak nanti kalau dilihat Verdo atau Gaby,bahkan Leoni!" Kata Bu Rita berusaha melepaskan diri dari pelukan Pak Roby.
" Kamu ini loh aku nanya dari mana? Malah gak dijawab" kata Pak Roby melepaskan pelukannya.
" Aku tuh tidur di kamar Leoni,udah aku ke kamar dulu ya...mau liat ponselku" kata Bu Rita.
" Oke...aku masih mau di teras sambil cari angin...mana tahu nanti dapat hiburan cewek lewat hahahhahaha" kata Pak Roby.
" Dasar Kamu...ini...ingat usia sudah tua!!!" Kata Bu Rita.
" Gak apa-apa walaupun rambutku sudah mulai putih tapi kan aku tetap gagah kan?" Kata Pak Roby memuji dirinya sendiri.
" Halah....mulai kan...." kata Bu Rita segera masuk ke kamar.
Sampai di kamar dia mencabut kabel cas ponselnya, dia duduk dipinggir ranjang sambil menatap pemandangan diluar.
Ketika dia membuka Ponselnya, dia melihat ada beberapa pesan masuk, dan juga beberapa panggilan masuk. Dia melihat Alex menelponnya.
" Alex menelpon? Ada apa ya?" Tanyanya dalam hati.
Kemudian Bu Rita mencoba menghubungi Alex.
Alex yang sedang berbaring sambil menatap ke atas tiba-tiba mendengar ponselnya berbunyi. Dia segera mengangkat teleponnya.
" Halo Bu..." kata Alex.
" Halo Alex, ada apa tadi kamu menelpon ya? Maaf tadi Ibu tertidur di kamar Leni, kamu apakabar?" Tanya Bu Rita.
" Nggak apa-apa Bu, bagaimana kabar Ibu dan keluarga disana?"
" Kabar kami baik-baik saja" kata Bu Rita.
" Leoni apakabar Bu?" Kata Alex.
" Dia baik-baik saja tapi dia benar-benar terpukul karena kamu tidak memberi kabar kepadanya, dan menghilang darinya" kata Bu Rita sedih.
" Hmmm maafkan saya Bu,,, kalau sudah siap saya akan bertemu dengannya" kata Alex sedih.
" Baiklah...owh ya kamu Belum menjawab pertanyaan Ibu, ada apa kamu menelpon Ibu? Apa ada masalah dengan bisnis kita?" Tanya Bu Rita.
" Tidak ada masalah Bu dengan bisnis kita, tapi....ada masalah dengan saya" kata Alex.
" Kamu kenapa Alex?????" Tanya Bu Rita.
" Saya sedang dirawat di rumah Sakit Bu" kata Alex.
" Apa?????!!!!!!! Kamu masuk Rumah Sakit???" Kata Bu Rita kaget.
" Iya Bu...saya diharuskan opname dirumah sakit untuk sementara waktu" kata Alex.
" Kamu sakit apa Alex???" Tanya Bu Rita penasaran.
" Saya belum tahu Bu, Dokter belum memberikan hasil pemeriksaannya" kata Alex.
" Terus kamu disana bersama siapa?" Tanya Bu Rita.
" Saya sendiri Bu" kata Alex.
" Apaaaa!!!! Kamu sendiri?????" Kata Bu Rita kaget.
" Iya Bu,,untuk itu saya menelpon Ibu, karena pihak rumah Sakit menyuruh saya untuk menghubungi keluarga, jadi saya menelpon Ibu" kata Alex menjelaskan.
" Ya Tuhan....begini saja nanti sore Ibu kembali ke Surabaya, kamu jelaskan kepada pihak Rumah Sakit kalau kami datang nanti malam" kata Bu Rita.
" Besok juga tidak apa-apa kok Bu saya sudah agak baikan" kata Alex.
" Tidak apa-apa, semua urusan kami sudah selesai, kami akan pulang hari ini" kata Bu Rita.
" Terimakasih Bu, sudah menyayangimu seperti ini" kata Alex terharu dan meneteskan air mata.
" Sama-sama Nak. Ibu siap-siap dulu ya" kata Bu Rita.
" Iya Bu, hati-hati ya Bu" kata Alex menutup teleponnya.
Bu Rita langsung menyiapkan tasnya dan mengemasi barang-barangnya, Pak Roby masuk ke dalam kamar...
" Loh...kok udah kemas-kemas, memang kita mau kemana?" Tanya Pak Roby bingung.
" Kita harus pulang hari ini Yah.." kata Bu Rita memasukan bajunya.
" Apa!!? Pulang???" Kata Pak Roby kaget.
" Iya kita harus pulang hari ini" kata Bu Rita.
" Ada kok mendadak?" Tanya Pak Roby.
" Stttttttt...Alex masuk Rumah Sakit!" Katanya berbisik.
" Apa!!!?" Alex masuk Rumah Sakit???" Kata Pak Roby.
" Iya barusan dia telepon, kalau dia sedang di rawat, dan pihak Rumah Sakit menyuruh kita datang ke sana" kata Bu Rita.
" Hmmm...oke kalau begitu kita pulang sekarang, biar aku cek dan pesan tiket pesawat dulu" kata Pak Roby.
" Oke...semoga masih ada yang kosong" kata Bu Rita cemas.
Pak Roby mencari jadwal keberangkatan pesawat, sedangkan Bu Rita selesai mengemasi barangnya.
" Gimana Yah...sudah dipesan?" Tanya Bu Rita.
" Ini mau pesan yang jam enam sore atau jam delapan sore?" Tanya Pak Roby.
" Hmmmm ini jam berapa ya?" Kata Bu Rita melihat jam dinding di kamar.
" Jam Empat lebih lima belas menit" kata Pak Roby melihat jam tangannya.
" Hmm kalau dari sini jam lima berarti sampai bandara jam enam kurang lima belas menit, jadi kita pesan yang jam enam saja Yah" kata Bu Rita.
" Baik, saya pesan ya" kata Pak Roby memesan tiket pesawat.
" Oke...aku ke kamar Gaby dulu, biar saya ngomong ke dia kalau kita mau pulang hari ini" kata Bu Rita segera ke luar kamar.
Bu Rita berjalan menuju ke kamar Gaby...
" Tokkk... tok...Gaby...Gaby..." panggil Bu Rita sambil mengetuk pintu.
Gaby yang sedang di kamar berdua dengan Verdopun keluar kamar, sementara Verdo berbaring di ranjang...
" Ibu tu...kamu coba liat" kata Verdo.
" Oke...sebentar ya" kata Gaby turun dari ranjang, berjalan ke luar kamar.
" Iya Bu ada apa?" Tanya Gaby membuka pintu.
" Gab...Ibu dan Ayah mau pamit pulang sekarang ya...?" Kata Bu Rita.
" Loh kok mendadak Bu...apa ada masalah atau ada apa?" Tanya Gaby kaget.
" Hmmm ada urusan yang harus Ibu tangani segera, Ayah sudah memesan tiket pesawat pukul enam sore ini, jadi Ibu harus segera berangkat dari sini" kata Bu Rita.
" Kalau begitu biar Verdo antar ke bandara ya Bu" kata Gaby.
" Tidak usah, kasihan Verdo pasti lelah, kami sudah pesan taxi, sebentar juga datang taxinya..." kata Bu Rita.
" Yakin Ibu dan Ayah tidak mau diantar?" Kata Gaby.
" Tidak usah, Ibu pamit ke Leoni dulu ya" kata Bu Rita.
" Baik Bu" jawab Gaby.
Bu Rita segera ke kamar Leoni, sedangkan Gaby segera ke kamarnya untuk memakai sweeternya, karena dia hanya berpakaian menggunakan baju tidur.
"Ada apa kok kamu pakai sweeter?" Tanya Verdo.
" Aku harus antar Ayah dan Ibu ke depan, mereka mau pulang sekarang" kata Gaby.
" Loh bukannya besok pulangnya? Kok mendadak hari ini" kata Verdo.
" Iya Ibu ada urusan yang harus segera di selesaikan" kata Gaby.
" Biar aku antar ke bandara" kata Verdo.