Tidak perlu, Ibu sudah memesan taxi, mungkin mereka tidak enak mau minta tolong sama kamu, kan kamu lelah" kata Gaby.
" Hmmm sebenarnya gak apa-apa aku antar" kata Verdo.
" Gak apa-apa lain kali saja, yuk kita ke luar" ajak Gaby.
" Oke aku ke kamar mandi dulu ya" kata Verdo.
Sementara itu di kamar Leoni..
" Len..!!!" Kata Bu Rita masuk ke kamar Leoni.
" Iya Nek..ada apa?" Tanya Leoni.
" Len Nenek sama Kakek pulang dulu ya, ada hal yang harus diselesaikan.
" Loh kok mendadak Nek???" Tanya Leoni.
" Iya Nenek juga baru di telepon dari Surabaya" kata Bu Rita.
" Yaaahhh.... Leni ditinggal lagi" kata Leoni memeluk Bu Rita sedih.
" Kapan-kapan bisa kesini lagi kan...owh ya kan liburan kamu yang ke Surabaya kan?" Kata Bu Rita menghiburnya.
" Hmmmmmmmm iya deh Nek, nanti saya yang kesana" kata Leoni.
" Oke...nanti kalau sudah libur kamu beri kabar ya...nanti Nenek pesan tiket untukmu" kata Bu Rita.
" Horeeee......jadi tidak sabar mau kesana" kata Leoni.
" Iya....kalau begitu kamu rajin belajar ya supaya bisa mengerjakan soal, jangan lupa juga belajar menghargai Ibu dan Ayahmu Verdo ya...." kata Bu Rita menasehati.
" Hmmm akan saya usahanya Nek" kata Leoni.
Sementara mereka bercakap-cakap, tiba-tiba taxi yang dipesan datang. Pak Roby segera keluar kamar membawa tas dan koper kecil, Bu Rita dan Leoni juga segera keluar kamar, begitu juga dengan Gaby dan Verdo. Mereka saling berpelukan dan sedih karena harus kembali berpisah..
" Hati-hati ya Yah...Ibu" kata Verdo mencium kedua tangan mertuanya.
" Iya...tolong jaga anak dan cucuku dengan baik ya?" Kata Pak Roby.
" Iya Titip mereka berdua ya" sahut Bu Rita.
" Baik Yah...Ibu..." kata Verdo menaruh tas dan koper ke bagasi mobil taxi.
" Hati-hati ya Nek...Kakek" kata Leoni memeluk dan mencium Kakek dan Neneknya sedih.
" Baik-baik ya sayang..." kata Pak Roby mencium kening Leoni.
" Ingat pesan Nenek ya...kalau liburan nanti kamu yang ke Surabaya" kata Bu Rita tersenyum.
" Iya Nek.." jawab Leoni.
" Jaga anakmu baik-baik ya Gab..." kata Pak Roby sambil memeluk dan menciumnya.
" Iya Ayah....saya usahakan" kata Gaby.
" Belajar menjadi Ibu yang baik" kata Bu Rita.
" Baik Bu..." kata Gaby.
Bu Rita dan Pak Roby masuk ke dalam mobil dan segera menuju ke Bandara agar mereka tidak ketinggalan pesawat.
Sementara Gaby, Verdo dan Leoni kembalo ke dalam rumah. Leoni sangat sedih karena ditinggal Bu Rita dan Pak Roby, dia kembali merasa kesepian.
" Hmmmmm sepo lagi deh" katanya dalam hati.
Leoni segera kembalo ke kamarnya untuk belajar. Sementara itu Gaby dan Verdo masih duduk di riamg keluarga sambil menonton televisi. Walaupun mereka tinggal satu rumah dan ada keturunan darah, tapi Leoni menganggap mereka seperti orang asing, apalagi ada beberapa hal yang membuat Leoni tertekan, dia seolah-olah ada dilingkingan yang kurang baik. Leoni sudah lama mengetahui hubungan Verdo dengan Ibunya...kini dia harus menjadi ayahnya, itu membuat Leoni sangat berat untuk menerima kenyataan ini.
Leoni sangat sedih ditinggal pulang Pak Roby dan Bu Rita. Tanpa sepatah katapun Leoni langsung kembali ke kamarnya. Sementara Gaby dan Verdo masih di ruang keluarga.
" Kok Ibu dan Ayah...mendadak pulang ada apa?" Tanya Verdo.
" Kurang tahu juga, mungkin ada masalah di bisnis kuliner Ibu yang baru" kata Gaby.
" Hmmmm Ibumu punya Bisnis baru?" Tanya Verdo kembali.
" Sudah lama sih...sudah hamp kata Gaby.
" Leni seperti sangat sedih ditinggal mereka berdua" kata Verdo.
" Ih kamu sok tahu...baru juga kamu kenal Leni...biarkanlah pasti besok dia sudah baik kok" kata Gaby.
" Aku boleh minta tolong nggak?" Kata Verdo manja.
" Boleh dong sayang" kata Gaby.
" Cium pipiku" kata Verdo.
" Hehehheeh.....Kamu ini" kata Gaby langsung mencium pipi Verdo.
"Hmm kamu mau minum teh atau kopi?" Kata Gaby.
" Aku mau minum...susu..." katanya menggoda.
" Tuh kan kamu aneh lagi" kata Gaby menutup payudaranya.
" Hehehehe kan gak apa-apa, kita kan sudah sah jadi suami istri kan?" Kata Verdo.
" Kamu ini pintar merayu" kata Gaby.
" Kamu kan sudah tahu...maksudku" kata Verdo langsung mengangkat tubuh Gaby.
" Eeeh...apa-apaan sih,turunin....!!!" Kata Gaby.
" Gak mau sayang" bisik Verdo menggendong Gaby masuk ke dalam kamar.
Verdo langsung mendorong pintu kamar dan menutupnya kembali, Gaby makin malu, akhirnya dia ditaruh di ranjang. Verdo mulai menggoda dan mencium Gaby mulai dari bagian kaki hingga ke kening Gaby. Mereka saling b******u, hingga akhirnya...Verdo merasa ingin bersetubuh dengannya.
" Apa kamu sudah selesai?" Bisik Verdo.
" Sudah sayang" kata Gaby yang sudah mulai menikmati petualangan Verdo.
Mereka berdua sekarang telanjang bulat, tanpa ada sehelai benang menutupi tubuh Verdo dan Gaby. Mereka bener bersetubuh hingga selesai.
" Terimakasih sayang" kata Verdo sudah merasa puas dengan Gaby.
" Sama-sama sayang...i love you" kata Gaby mencium bibir Verdo. Dan akhirnya merekapun tertidur.
Di Kamar Leoni masih merasa sedih,,,, dia benar-benar merasa sendiri sekarang. Dia tidakLeoni berjalan ke luar rumah dia mengambil topi, jaket dan sepatu santainya kemudian dia mengambil sepeda yang ada di garasi. Leoni langsung menaiki sepedanya dan bersepeda memutari komplek sambil menangis sedih. Setelah beberapa kali memutari komplek rumahnya, dia berhenti di tengah-tengah taman, hari sudah mulai gelap, Leoni menaruh sepedanya kemudian dia duduk di sebuah ayunan. Ketika dia sedang melamun sambil duduk di ayunan... tiba-tiba ada yang menghampirinya..
" Eh.....Kamu....." kata seseorang dari belakang.
Leoni langsung menoleh kebelakang dan.....
" Kamu.....?????" Kata Leoni kaget langsung berdiri dari ayunan.
" Ngapain kamu disini...???" Tanya Gerald.
" Kamu juga ngapain disini???" Kata Leoni.
" Hahahhahahahahahah...memang ya...kita tuh sudah ditakdirkan bersama" kata Gerald.
" Ih kamu kepedeean" kata Leoni kesal.
" Buktinya hari ini kita sudah tiga kali dipertemukan kan?" Kata Gerald tersenyum.
" Hmmm sok tahu kamu' kata Leoni kembali duduk di ayunan.
" Iya...tadi pagi ajha di sekolah kamu datang ke kelas langsung liat aku kan,,, terus pas pulang sekolah kita juga ketemu di UKS....habis itu sekarang kita bertemu lagi" kata Gerald mengingatkan.
" Hmmmm bisa-bisanya sih nih anak....selalu muncul" kata Leoni dalam hatinya.
" Eh malah diam...benar kan?" Kata Gerald.
" Terserah kamulah" kata Leoni cuek.
" Kamu kok sore-sore begini masih main disini?" Tanya Gerald.
" Itu bukan urusanmu" kata Leoni dingin.
" Sana pulang...kan ini sudah mau magrib...nanti kamu dicari sama Mamamu" kata Gerald.
" Gak bakal aku dicari....jangan sok peduli deh" kata Gaby kesal.
" Ada apa sih kamu ini, kalau liat aku kamu marah-marah terus" kata Gerald langsung mengambil bola basketnya dan main bola basket di depan Gaby, karena taman itu juga ada lapangan basketnya.
Leoni masih terus menggerakkan ayunannya...dia hanya diam tapi air matanya terus menetes, Gerald yang memperhatikan dari jauh, ikut penasaran dengan apa yang dihadapi Leoni.
" Anak itu kenapa sih...kelihatannya dia sedang sedih" pikirnya dalam hati sambil memantulkan bola basketnya kemudian memasukkannya ke dalam ring basket.
" Yesss!!! Masuk" kata Gerald, kemudian menghampiri Leoni dan duduk di samping ayunan yang dinaiki Leoni.
" Kamu sebenarnya kenapa sih???" Tanya Gerald.
Leoni tidak menjawab pertanyaan dari Gerald tapi air matanya terus mengalir seolah menggambarkan hatinya yang sedang sedih.
" Nie....buat menyeka air matamu" kata Gerald memberikan sapu tangannya untuk Leoni. Leoni langsung mengambil sapu tangan dari Gerald dan menyeka air matanya.
" Terimakasih....." kata Leoni.
" Kamu pulang sana...sudah hampir malam..." kata Gerald.
" Aku masih mau disini....kalau kamu mau pulang sana pulang" kata Leoni.
" Hmmmmmmmm..... baiklah aku akan menemanimu" kata Gerald.
" Eh nggak usah...sana kamu pulang...biarkan aku sendiri disini" kata Leoni sedih.
" Aku gak mau kamu sendirian,,kami kan cewek gak baik sendirian kaya gini, kalau memang ada masalah kamu sebaiknya masuk ke kamarmu kemudian kamu bisa menceritakannya pada Tuhan...kalau kamu simpan masalahmu kamu akan terus terlarut dalam kesedihanmu" kata Gerald.
" Semua orang gak peduli sama aku,,jadi kamu lebih baik tidak usah sok peduli deh" kata Leoni ketus.
" Kalau kamu tidak mau cerita sama aku, kan kamu bisa cerita sama Tuhan....tapi ini udah mau malam, besok kita juga masih ujian, kamu pulang ya?" Kata Gerald.
Setelah terdiam sejenak akhirnya Leoni mau mendengarkan Gerald dan segera mengambil sepedanya dan segera pulang, sementara itu Gerald juga mengikutinya dari belakang. konsentrasi dalam belajar. Dia menaruh bukunya kemudian bergegas untuk keluar kamar. Leoni akhirnya sampai di depan rumahnya, dia tahu kalau Gerald membuntutinya.
" Terimakasih ya..." kata Leoni.
" Hmmm iya sama-sama, sampai besok ya Daaaa..." kata Gerald segera meninggalkan Leoni.
Sementara itu Pak Roby dan Bu Rita sudah sampai di bandara Surabaya,,, Bu Rita langsung menghubungi Leoni.
Leoni yang sedang menaruh sepedanya berhenti sejenak karena ada panggilan di Ponselnya. Dia mengambil Ponselnya di dalam tas ranselnya dan duduk di kursi di teras..
" Halooo Nek..." kata Leoni.
" Halooo sayang, kami sudah sampai Surabaya...Kamu baik-baik kan?" Kata Bu Rita memberitahu.
" Ooo Syukurlah Nek kalau sudah sampai,,,,saya sedang tidak baik...saya sedih karena harus ditinggal Kakek dan Nenek..." kata Leoni sedih.
" Aduhhh cucu Nenek kan anak yang kuat...Sabar ya sayang nanti kalau kamu sudah selesai ujian kamu boleh kesini" kata Bu Rita menghiburnya.
" Hmmmm baiklah Nek..." kata Leoni sedih.
" Ya udah...nanti Nenek telepon lagi ya..., mobil yang menjemput kami sudah datang...jangan lupa jaga kesehatanmu ya Nak...Daaa" kata Bu Rita.
" Iya Nek...Daaa" kata Leoni menutup teleponnya.
" Hmmmm satu hari rasanya satu tahun" kata Leoni dalam hati.
Leoni melepas sepatunya dan bergegas untuk masuk ke dalam rumah untuk mandi dan belajar untuk ujian besok.
Leoni masuk ke kamarnya, kemudian dia langsung masuk ke kamar mandi melepas bajunya kemudian segera berendam dalam kamar mandi. Sambil membasuh tubuhnya dengan air dia juga memberi tubuhnya dengan sabun yang wangi.
Disisi lain, Verdo yang mendengar suara orang membuka pintu langsung memakai bajunya dan bergegas untuk ke depan, melihat siapa yang datang, sedangkan Gaby masih tertidur pulas.
Saat Verdo mengecek siapa gerangan yang datang, dilihatnya tidak ada siapapun juga, saat mau kembali ke kamarnya dia melihat kamar Leoni terbuka..
" Hmmm siapa yang datang...mungkinkah tadi Leni ya..." gumam Verdo melihat ke kamar Leoni.
Ketika Verdo memasukkan kepalanya dia kaget melihat Leoni baru keluar dari kamar mandi hanya berbalutkan handuk, Leoni pun kaget ketika melihat Verdo melihat ke kamarnya...
" Achhh!!!" Spontan Leoni langsung menutup tubuhnya dengan tangannya.
" Maaf...Maaf...saya kira kamu tidak ada di dalam" kata Verdo segera menutup pintu kamar Leoni.
" Hufh" desah Verdo menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengelus dadanya.
" Ngapain sih tuh orang masuk ke kamar" gumam Leoni mengunci pintu kamarnya.
Verdo berjalan ke dapur untuk mengambil air minum, dia meneguk air putih lalu duduk di kursi meja makan. Dalam pikirannya masih terlintas tubuh indah dari Leoni yang hanya berbalutkan handuk.
" Duh...kenapa ini masih kebayang diotaku ini" sambil mengetuk kepalanya. Saat dia masih duduk, Gaby keluar dari kamar..
" Sayang....sayang .." teriak Gaby dari depan kamar.
" Iya..." sahut Verdo segera beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri Gaby.
" Ada apa sayang, baru ditinggal sebentar kamu sudah kangen ya?" Rayu Verdo memeluk pinggang Gaby.
" Aku kira kamu pergi, aku bangun kamu sudah gak ada di sampingku" kata Gaby menepuk lembut pipi Verdo dengan mesra.
" Iya...aku tadi dengar ada orang masuk jadi aku bangun untuk mengeceknya" kata Verdo lembut.
" Oooo...paling juga Leni...siapa lagi kan dirumah ini hanya kita bertiga" kata Gaby.
" Iya... dia yang datang,,,,sayang aku laper, bisa minta tolong buatkan mie kuah?" Kata Verdo manja.
" Oooke...baiklah...Kamu mandi dulu sana sambil nunggu aku masak" pintanya.
" Baik sayang..." sahut Verdo mencium pipi Gaby dengan lembut.
Gaby segera pergi ke dapur untuk menyiapkan makan, sementara Verdo masuk ke kamar untuk segera mandi.
Di kamar mandi, Verdo melepas bajunya, menyalakan shower dan membasahi muka dan tubuhnya dengan air,,,dia terus terbayang dengan tubuh indah Leoni. Hatinya berdebar kencang saat mengingat kejadian bersama dengan Leoni, baik itu ketika mereka bersentuhan bibir dan juga melihat Leoni selesai mandi dan hanya berbalut handuk tipis...pikirannya menjadi sangat kacau, dilain sisi dia adalah ayah tirinya, disisi lain ada birahi yang muncul dalam jiwanya.
" Apa-apaan aku ini...!!!" Pikir Verdo mengambil sabun untuk membersihkan badannya.
Di Kamar Leoni sudah berganti baju dengan piamanya yang terlihat seksi, dia menyisir rambutnya di depan kamar rias, dia juga mengoles handbody lotion untuk tangan dan kakinya hingga terlihat mulus dan harum. Dia masih tidak menyangka Verdo masuk ke kamarnya, dalam benaknya dia sangat kesal...apalagi banyak hal yang dia tidak inginkan terjadi. Selesai merawat tubuhnya, Leoni segera naik ke atas tempat tidurnya dia membaringkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di bantal. Dia teringat dengan kata-kata Gerald, kalau dia pasti bisa lalui semua yang menimpa dirinya, tapi disisi lain, dia juga kesal karena selalu dipertemukan dengannya.
" Anak itu juga...kenapa selalu muncul di hadapanku!!!" Pikirnya hingga akhirnya ia memejamkan matanya dan tertidur.
Di dapur, Gaby sudah selesai memasak, dia sangat pandai memasak, ditaruhnya masakannya di mangkok dan menyiapkannya di meja makan, lalu segera masuk ke kamar untuk memanggil Verdo. Verdo juga sudah selesai berganti pakaian.
" Hmmmm harumnya suamiku...sudah ganteng..." Puji Gaby dengan senyum.
" Iya dong...suami siapa dulu..." kata Verdo memeluk mesra dan mencium leher Gaby.
" Eh jangan cium aku dulu,,, aku bau bumbu dapur..." kata Gaby menghindar.
" Gak apa-apa kan kamu tetep wangi" rayu Verdo menggoda.
" Sudah siap makanya...sudah aku taruh di meja, kamu makan sendiri dulu ya...badanku lengket mau mandi dulu" kata Gaby mencium bau badannya.
" Yah...masak sendiri...temenin dong...." pinta Verdo manja.
" Hmmmm.....sendiri dulu ya aku mau mandi nih udah gak tahan dengan bau badanku, nanti kamu gak nafsu makan lagi" kata Gaby.
" Baiklah...aku makan dulu ya...makasih sudah dimasakin" kata Verdo segera keluar untuk makan. Sedangkan Gaby langsung masuk ke kamar mandi.
Di Surabaya...
Pak Roby dan Bu Rita langsung menuju ke rumah Sakit untuk melihat keadaan Alex. Di dalam perjalanan...Bu Rita sangat khawatir dengan kondisi Alex.
"Hmm...gimana keadaan Alex ya Yah...??" Kata Bu Rita sedih.
" Ya kita doakan supaya dia baik-baik saja" kata Pak Roby mengusap tangan Bu Rita.
Selang beberapa menit mereka sampai ke rumah Sakit dimana Alex di rawat. Mereka segera masuk dan menanyakan keberadaan Alex.
" Permisi Sus...kami mau tanya Pasien atas nama Alex Riyanto dimana ya?" Tanya Pak Roby.
" Selamat malam Pak...sebentar ya saya carikan dulu " kata Suster membuka buku daftar pasien.
" Baik Sus" kata Pak Roby mengangguk.
" Bapak Alex Riyanto ada di ruang Mawar nomer tiga A Pak" kata Suster ramah.
" Kalau boleh tahu dimana ya ruangannya?" Tanya Pak Roby kembali.
" Ada dilantai dua Pak, Bapak silahkan lurus ke depan ada lift nanti di sebelah kiri ruang Mawar" kata Suster.
" Baik Sus...Terimakasih informasinya" kata Pak Roby. Mereka langsung bergegas ke untuk naik lift dan segera mencari ruangan di mana Alex dirawat. Sesampai di lantai dua, mereka belok kiri dan mencari ruangan Mawar Nomer tiga A. Setelah beberapa langkah mereka menemukan ruangan yang mereka tuju.
" Ini Yah sepertinya ruangannya" kata Bu Rita sambil melihat tulisan yang ada di atas pintu ruangan.
" Ruang Mawar Nomer tiga A"
" Betul Bu...ini ruangannya, ayo kita masuk" ajak Pak Roby.
Mereka akhirnya masuk ke dalam, dilihatnya Alex sedang tertidur dengan dipasang infus di dalamnya.
" Sttt Alex sedang tidur kita jangan ganggu dia dulu, kita lebih baik diluar" bisik Pak Roby.
" Baik Yah...ayo kita keluar" kata Bu Rita.
Mereka akhirnya menunggu di luar ruangan. Saat mereka menunggu tiba-tiba ada Suster datang.
" Permisi Pak..Bu..apakah kalian keluarga dari Pak Alex?" Tanya Suster dengan ramah.
" Iya betul Sus kami keluarganya" kata Bu Rita.
" Ini Pak..Bu...tolong diisi data dari pasien, dan setelah itu Bapak dan Ibu bisa menemui Dokter" kata Suster memberikan selembar kertas kepada Pak Roby.
" Baik Sus" kata Pak Roby.
" Nanti kertasnya bisa diberikan ke saya di depan sana ya Pak?" Kata Suster.
" Baik" kata Pak Roby.
" Kalau begitu saya permisi dulu ya Pak..Bu.." kata Suster pergi meninggalkan mereka.
Mereka mengisi data di lembar kertas yang diberikan oleh Suster, selesai mengisi lembar itu diberikan kepada Suster kembali.
" Permisi Sus...ini sudah selesai" kata Pak Roby memberikan kertas kepada Suster.
" Terimakasih Pak, Bapak dan Ibu silahkan ke ruang Dokter disebelah sana" Kata Suster lembut.
" Baik Sus" kata Pak Roby segera ke ruang Dokter.
" Permisi Dok..." kata Pak Roby.
" Silahkan masuk Pak, Bu" kata Dokter ramah.
" Dengan keluarga Pak Alex ya?" Tanya Dokter.
" Iya Dok benar, bagaimana keadaan Alex?" Tanya Pak Roby.
" Hmmm kami sudah memeriksa Pak Alex...Pak Alex terkena gejala Kanker Otak stadium awal" kata Dokter.
" Apa!!! Kanker Otak Dok" kata Pak Roby kaget, Bu Rita langsung sedih dan meneteskan air matanya.
" Iya...setelah kami melakukan observasi di dalam kepala Pak Alex ada benjolan kecil yang merupakan Kanker" kata Dokter menjelaskan.
" Ya Tuhan....Alex menderita kanker Otak?"kata Bu Rita.
" Kami mohon Dokter bisa melakukan yang terbaik untuk Alex" kata Pak Roby sedih.
" Kami akan berusaha sebaik mungkin Pak, Bu, karena ini masih stadium awal jadi masih bisa kami lakukan tindakan" kata Dokter.
" Kami percayakan semuanya kepada Dokter, agar Alex bisa diobati" kata Pak Roby sedih.
Di sisi lain, Gaby tidak habis pikir kalau Verdo tiba-tiba mau masuk ke dalam kamarnya, dia semakin tidak suka dengan Ayah sambungnya itu, ketika dia dalam lamunannya, dia ingat akan Alex Ayahnya.
" Hmmm Ayah sebenarnya dimana??? Aku sangat rindu dengan Ayah..." hati Leoni tiba-tiba sangat gelisah seperti ada kontak batin dengan Alex.
" Sabar...Sabar...Kata Nenek kan mau kasih tahu keberadaan Ayah..." pikirnya dalam hati.
" Coba aku telepon Nenek, sudah sampai rumah apa belum, tadi bilangnya masih di Bandara" gumam Leoni mengambil ponselnya.
Sementara di Rumah Sakit, Pak Roby dan Bu Rita sudah selesai berbicara dengan Dokter, mereka langsung keluar dari ruangan Dokter.
" Alex...sungguh berat bebanmu nak" kata Bu Karina sedih.
" Kita harus suport dia Bu... supaya dia tetap semangat menjalani hari-harinya" sahut Pak Roby mengelus pundak Bu Rita. Sementara mereka berbicara Ponsel Bu Rita berdering.
" Siapa yang menelpon Bu?" Tanya Pak Roby.
" Leni Pak, pasti perasaan dia tidak enak, aku angkat dulu ya" kata Bu Rita, Pak Roby mengangguk.
" Halo...Nek..." kata Leoni semangat.
" Halo Leni sayang" jawab Bu Rita.
"Nek..Nenek sama Kakek sudah sampai rumah?" Tanya Leoni.
" Hmmm belum Len, Kami masih menjenguk teman kami" jawab Bu Rita.
" Menjenguk???? Di Rumah Sakit ya Nek???" Tanya Leoni.
" Iya...kami sedang berada di Rumah Sakit, ada teman kami yang sakit" jelas Bu Rita.
" Ooo kalau begitu kalau Nenek sampai di rumah kabari Leni ya Nek" kata Leoni.
" Iya sayang...pasti nanti Nenek kabari, kamu apa sudah makan?" Tanya Bu Rita.
" Hmmm masih kenyang Nek...nanti kalau lapar Leni makan" kata Leoni memegang perutnya.
" Ya sudah kalau begitu Nenek tutup teleponnya dulu ya... soalnya ini di Rumah Sakit, takut menganggu " kata Bu Rita pelan.
" Baik Nek...nanti kita sambung lagi ya...soalnya Leni kesepian" kata Leoni sedih.
" Kamu belajar dulu ya...soalnya kan kamu besok masih ujian...jangan lupa makan teratur ya" kata Bu Rita.
" Siap Nek...pasti Saya ingat pesan Nenek kok...Dada Nek..salam buat Kakek" kata Leoni.
" Oke...Daaaa. " kata Bu Rita mematikan telepon.
" Sudah Bu? Yuk kita lihat Alex" ajak Pak Roby.
" Sudah Pak..Yuk..." jawab Bu Rita menggandeng tangan Pak Roby yang sudah terlihat lelah. Mereka berjalan menuju kamar rawat dimana Alex dirawat. Ketika dilihat dari depan pintu, terlihat Alex sudah terbangun dari tidurnya dan dia sedang di periksa oleh Suster.
" Yuk Masuk Bu.." ajak Pak Roby.
" Jangan dulu Pak...lihat Alex masih diperiksa, kita tunggu dulu disini" kata Bu Karina.
Sementara itu Alex sedang didalam dengan dua perawat, satu memeriksa tekanan darah, yang satunya memeriksa Infusnya.
" Sudah Pak...semua sudah kembali normal" kata Suster.
" Terimakasih Sus, apa keluarga saya sudah datang?" Tanya Alex lembut.
" Hmm sepertinya tadi sudah Pak...sementara ada di ruang Dokter tadi...karena ada hal yang harus dibicarakan, baik Pak...kalau ada apa-apa Bapak bisa tekan tombol ini ya Pak..kami permisi dulu" kata Suster pergi meninggalkan Alex.
Di depan pintu kamar rawat...
" Malam...Pak Bu...silahkan...Pasien sudah bangun...semuanya dalam keadaan baik" jelas Suster.
" Terimakasih Sus, kami masuk dulu" kata Bu Rita.
" Silahkan Pak..Bu..kami juga permisi dulu...selamat malam" kata Suster.
Mereka segera masuk ke dalam ruangan, Alex sangat senang dengan kedatangan Pak Roby dan Bu Rita.
"Selamat malam Pak...Bu..." sapa Alex dari jauh. Merekapun menghampiri Alex dan Alexpun mencium kedua tangan mantan mertuanya itu, namun sekarang sudah dianggap menjadi orangtuanya sendiri.
" Selamat malam Nak...bagaimana keadaannya?" Tanya Bu Rita khawatir.
" Iya Bagaimana keadaanku?" Sahut Pak Roby langsung duduk di samping ranjang Alex.
" Saya sudah mulai membaik Pak Bu...sudah tidak pusing...tadi saya merasa kepala saya sakit sekali, mata saya juga gelap...jadi saya langsung kesini dan setelah diperiksa malah saya disuruh menginap untuk menganalisis penyakit saya" kata Alex.
" Baguslah kalau keadaanku semakin membaik" kata Pak Roby berusaha kuat di depan Alex...walaupun hatinya sedih karena sudah mengetahui penyakit yang di derita Alex.
" Owh ya...Pak..Bu..tadi sampai di sini jam berapa, kok saya tidak tahu?" Tanya Alex.
" Tadi kami sampai disini pukul setengah tujuh, waktu kami sampai kamu masih tertidur, jadi kami tidak mau menganggu" jelas Bu Rita menahan air matanya.
" Owh iya...tadi saya tertidur setelah minum obat sore" kata Alex.
" Kamu harus banyak istirahat, biarkan pekerjaanmu nanti Bapak bantu" kata Pak Roby.
" Saya sudah baik kok Pak..paling besok sudah bisa pulang" kata Alex.
" Kamu tidak usah bekerja dulu, biarkan sementara ini Pak Roby yang urus pekerjaanmu" sahut Bu Rita.
" Baiklah Bu...owh ya tadi Suster bilang Ibu dan Bapak menemui Dokter ya? Apa kata Dokter tentang penyakit saya?" Tanya Alex
Mereka terdiam sesaat...Bu Rita dan Pak Roby saling berpandangan... seolah-olah mereka bingung harus menjawab apa kepada Alex, karena Dokter bilang kalau Alex tidak boleh banyak pikiran dulu.
" Hmmm tadi Dokter bilang kamu terlalu capek...jadi kamu harus banyak istirahat dulu" jelas Pak Roby.
" Iya Nak...Kamu harus banyak istirahat dulu" tambah Bu Rita.
" Maaf nak...kami belum bisa memberitahu tentang penyakitmu yang sebenarnya" pikir Bu Rita dalam hati.
" Hmmm Dokter tidak menjelaskan saya sakit apa???" Tanyanya kembali.
" Mereka masih menganalisis dan mendiagnosa penyakitmu nak" sahut Pak Roby berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Owh baiklah...Owh ya Bu..bagaimana kabar Leni?" Tanyanya.
" Leoni baik-baik saja...Ibu berencana kalau nanti liburan mau ajak dia kemari" kata Bu Rita.
" Benarkah Bu???" Kata Alex senang.
" Iya... nanti kami sudah berjanji kepadanya" kata Pak Roby.
" Hmmm apa dia tahu kalau saya ada di sini?" Tanyanya kembali.
" Dia tidak tahu kamu di rumah Sakit, yang dia tahu kalau kamu juga ada di Surabaya" jelas Bu Rita.
" Owh ya...apa Ibu sudah menceritakan kepada Leni?" Kata Alex.
" Iya Ibu sudah cerita...makanya Ibu mau mempertemukan kamu dengannya" jelas Bu Rita.
" Terimakasih ya Pak...Bu...kalian sangat menyayangi saya dan Leni" kata Alex terharu.
" Kalau begitu...kami pulang dulu ya...nanti kami suruh Pak Hery untuk menjagamu disini" kata Pak Roby.
" Saya sendiri juga gak apa-apa kok Pak" jawab Alex.
" Jangan begitu kamu harus ada yang menjaga...biar Pak Hery kami suruh ke sini" sahut Bu Rita. Pak Hery adalah orang kepercayaan Pak Roby.
" Baik Bu...Terimakasih perhatiannya" kata Alex menurut.
" Kami pulang dulu ya... sementara kalau kamu ada keluhan kamu bisa menghubungi Suster" kata Pak Roby.
" Baik Pak..." jawab Alex.
" Pak Jeri sudah dalam perjalanan kesini, sepuluh menit lagi sampai" jelas Pak Roby.
" Iya Pak..Terimakasih banyak..." kata Alex.
" Kami pergi ya...selamat malam...selamat beristirahat" kata Bu Rita mencium kening Alex,kemudian langsung keluar dari ruangan. Alex pun sangat terharu dengan kebaikan hati mereka.Sementara itu di rumah Leoni dia merasa sangat lapar, dia menuju ke dapur untuk mencari makan. Namun ketika dia ke dapur dia melihat Verdo sedang mencuci piring.
" Haduh...kenapa juga ada orang ini" katanya dalam hati.
Leoni kemudian membuka kulkas melihat apa yang bisa dia makan. Verdo yang sedang mencuci piring menoleh mendengar ada orang membuka pintu kulkas.
" Kamu sudah makan belum Len?" Tanyanya ramah.
" Hmmm belum..ini lagi mau masak" jawabnya ketus.
" Ini masih ada masakan, tadi Ibumu yang memasak" kata Verdo.
" Makasih, tapi tidak perlu, biar saya buat telur dadar saja" jawabnya ketus juga.
" Oke kalau begitu..." kata Verdo melangkahkan kakinya ke luar rumah untuk pergi merokok.
" Hufhhh...untung langsung pergi tuh orang" gumamnya dalam hari. Ia langsung mengambil dua telur dan menyiapkan bahan untuk memasak telur dadar kesukaannya. Ketika dia sedang memecahkan telurnya.. tiba-tiba dia teringat Alex...dia mengingat kalau dia sekolah selalu dibuatkan telur dadar kesukaannya. Leonipun mengeluarkan air matanya, dan mulai menangis sedih, hingga akhirnya dia lupa menyalakan kompornya.
" Hmmm jadi lupa deh...kompornya belum aku nyalain"
Leoni memasak telur dadar lalu memakannya sendiri di meja makan, selesai dia makan langsung membereskan dapur, dan segera kembali ke kamarnya. Ketika dia melangkahkan kakinya ke kamar dia melihat pintu luar masih terbuka, dia buru-buru untuk menutupnya, namau ketika dia mau menutup pintu terlihat ada asap mengepul, dia langsung keluar untuk melihat kondisi di luar. Pas dilihatnya di luar ternyata Verdo sedang duduk di teras sambil memegang satu Batang rokok dan menghempaskan asapnya ke atas. Saat melihat Verdo di luar Leoni bergegas untuk masuk kembali dan terburu-buru masuk ke kamarnya. Verdo yang merasa ada orang berdiri di depan pintu langsung menoleh ke arah pintu namun tidak ada orang, dia kemudian lanjut menghabiskan rokoknya.Setelah habis rokoknya dia segera menutup dan mengunci pintu rumah, kemudian mengecek ke dapur ternyata Leoni sudah kembali ke kamar, akhirnya diapun kembali ke kamar, saat dia masuk ke kamar dia melihat Gaby masih tertidur pulas. Verdo hanya tersenyum dan bergumam ketika melihat istrinya masih tidur pulas.
" Dia mungkin sangat lelah" kata Verdo sambil menarik selimut untuk Gaby dan mencium keningnya, dia juga segera tidur setelah membersihkan dirinya.
Di Rumah Sakit Hery sudah datang untuk menjaga Alex. Hery sudah menganggap Alex sebagai saudaranya sendiri. Alex belum juga beristirahat ketika menunggu kedatangan Hery. Ketika dia mencoba memejamkan matanya dia malah semakin gelisah, tiba-tiba ada orang berbadan besar masuk ke dalam ruangan. Alex berpura-pura tidur.
" Lex...Kamu sudah tidur?" Panggil Hery.
" Sudah" jawab Alex membuka matanya.
" Hah...Kamu ini sakitpun masih saja bisa bercanda" kata Hery menepuk jidatnya.
" Hm sebenarnya aku tuh sudah gak sakit...tapi kok masih di suruh menginap disini nie...malah dipasang infus segala" kata Alex.
" Hmmm dasar Kamu ini, kok belum tidur?" Tanya Hery duduk di samping Alex dan menaruh bungkusan satu kantong plastik.
" Kamu bawa apa kok ada bungkusan plastik?" Tanya Alex.
" Ini tuh air mineral sama Snack kalau aku laper, tadi Ibu Rita yang bawain buatku" jawab Hery.
" Dasar udah gemuk masih aja mau ngemil" ledek Alex.
" Hmmm aku tuh gak gemuk hanya berat badanku nambah" kata Hery.
" Hahahhahaha.....sama ajha bro..." kata Alex tertawa terbahak-bahak.
" Eh kamu lagi sakit jangan berisik nanti malah kita dimarahin" sahut Hery.
" Lah gimana nggak...berisik kalau ada kamu pasti aku mati ketawa" kata Alex.
" Hush kalau ngomong itu..yang bener dong...udah sono tidur..?!!" Suruh Hery.
" Hmmm ini baru jam berapa??? Biasanya tuh aku tidur lebih dari jam dua belas malam" kata Alex melihat jam dinding.
" Nie anak benar-benar ya...masih ajha keras kepala...walau kamu sakit" oungkas Hery menggelengkan kepala.
" Aku tuh gak sakit...hufh susah dah...ngomong sama kamu hahahhahaha" kata Alex tersenyum.
" Kamu ini Lex...aku tahu kalau sakitmu itu sangat parah, tapi kamu sama sekali tidak merasakannya, kamu berusaha tegar, atau memang kamu gak tahu kalau kamu sakit??" Gumam Hery dalam hatinya.
" Lah...lah...malah ngalamun..." sahut Alex.
" Hmmmm sapa yang ngalamun...lagi mikir aja kamu tuh sakit apa??? Atau jangan-jangan kamu cemburu ya karena mantan istrimu sudah menikah lagi" ledek Hery.
" Hmmm aku cemburu???? Tidaklah dia sudah tidak penting untukku, yang terpenting saat ini adalah putriku" kata Alex.
" Kalau memang putrimu penting bagimu, kenapa selama ini kamu tidak menemuinya?" Kata Hery.
" Hmmm bukannya aku tidak mau menemuinya...tapi aku berjanji dengan diriku...kalau aku belum sukses, aku tak kan menemuinya, karena aku tak bisa memberikan apa-apa untuknya" kata Alex sedih.
" Hmmm sabar bro...kamu pasti bisa...ingat usaha kita yang semakin berkembang ini semua berkat kerja kerasmu" kata Hery memberi semangat.
" Aku sangat menyesal tidak bisa mendapat kesempatan untuk mengasuhnya, hanya karena saya tidak memiliki rumah, jadi sebelum aku punya rumah aku belum bisa mengambil hak asuh Putriku" kata Alex menyesal.
" Hmmm tenang saja rumahmu sudah hampir delapan puluh persen selesai" sahut Hery tersenyum ramah.
" Terimakasih ya, selama ini kamu sudah menemani saya, sejak mulai dari nol, kamu selalu mensupportku" kata Alex senang.
" Sudah jangan mikir macam-macam lagi...tidur sana" kata Hery.
" Hmmm sudah kubilang kalau aku gak bisa tidur...sana kalau kamu mau tidur dulu, kamu pasti capek sudah mengurus semuanya" kata Alex.
" Hoooammm iya betul...aku ngantuk sekali...aku tidur dulu ya" kata Hery segera membaringkan tubuhnya di sofa yang berada di pojok ruangan.
" Oke...selamat tidur ya..." kata Alex.
Hery pun langsung tertidur pulas, terlihat wajahnya yang lelah, karena dia harus mengurus semua urusan bisnis kuliner Alek dan mertuanya. Dia sudah hampir kepala empat, tetapi dia belum juga menikah. Dia memiliki trauma karena dia ditinggal nikah pacarnya yang sudah menjalin hubungan selama lima tahun. Hubungan mereka kandas karena perempuan yang sangat dicintainya lebih memilih pemuda dari keluarga yang kaya, karena waktu itu dia hanyalah seorang supir pribadi dari keluarga Pak Roby. Alex masih saja belum bisa memejamkan matanya, dia selalu terbayang Leoni, Putri yang sangat dia cintai.
" Maafkan...Ayah Nak...Sabar ya...kita pasti bisa berkumpul kembali" pikirnya dalam hati sambil menatap langit-langit ruangan itu.
Sementara itu, Pak Roby dan Bu Rita sudah sampai di rumahnya. Mereka segera membersihkan diri dan segera berbaring di tempat tidur, sebelum mereka tidur, seperti biasanya mereka berbicara satu dengan lain, layaknya suami istri pada umumnya...
"Hmm gimana ya kalau sampai Alex tahu penyakitnya???" Kata Bu Rita sedih.
" Kita tidak bisa juga menyembunyikan hal ini kepadanya" jawab Pak Roby sambil memejamkan matanya walau belum tidur.
" Tapi...bagaimana kalau dia tahu dan akan semakin lebih parah sakitnya karena dia tahu penyakitnya sangat parah, walaupun ini baru stadium awal, tapi kan Dokter bilang harus segera diambil tindakan secepatnya" keluh Bu Rita.
" Iya juga Bu...tapi kita harus cari waktu yang tepat untuk memberitahukannya" kata Pak Roby.
" Kalau sampai Leoni tahu keadaan Ayahnya...dia pasti akan sangat sedih" kata Bu Rita.
" Pastinya Bu, anak mana yang tidak sedih kalau Ayahnya mengidap penyakit yang ganas ini" sahut Pak Roby.
" Ya Tuhan ....semoga Leni bisa melewati semua ujian hidup ini" harapan Bu Rita.
" Iya...kita harus selalu mendukung Leni.. apapun kondisinya dan keadaanya" kata Pak Roby.
" Iya Pak... kita istirahat dulu,,ingat usia kita sudah tidak muda lagi...kita harus menjaga kesehatannya kita" kata Bu Rita.