Rumah Leoni, Verdo dan Gaby sudah tertidur pulas, tapi Leoni masih gelisah memikirkan Alex.
" Yah...Kenapa Ayah menghilang begitu saja...Leni sangat merindukanmu Yah..." kata Leoni sambil menangis.
" Seandainya waktu itu ayah sudah memiliki rumah pasti kita bisa tinggal bersama, tapi...ayah...dimana Ayah...aku benar-benar rindu"
Leoni sangat sedih mengingat kebersamaan mereka dari kecil hingga dia remaja, sedangkan. Gaby sama sekali tidak memperhatikan Leoni. Terlebih lagi saat ini Gaby sudah menikah dengan Verdo. Verdo sebenarnya sangat peduli dengan Leoni, akan tetapi hatinya merasa kesal ketika mengetahui kalau dia menghancurkan keluarganya.. memisahkannya dari ayah yang sangat dia sayangi. Leoni masih belum menerima keberadaan Verdo yang saat ini menggantikan posisi Alex Ayahnya.
" Sampai kapan pun dia tidak akan pernah bisa menggantikan Ayah" pikir Leoni yang sudah tertanam di dalam lubuk hatinya. Hal itu yang membuat Leoni tidak mau menerimanya. Akan tetapi Verdo bukan hanya ingin menjadi ayah baginya, ada sesuatu yang menyelimuti hati Verdo ketika melihat tubuh Leoni yang masih murni.
Kondisi Alex semakin membaik, walaupun dia mengidap penyakit yang mematikan. Sampai sekarang Bu Rita dan Pak Roby masih belum memberitahu Alex tentang penyakitnya. Alex hanya berfikir kalau dia baik-baik saja.
Keesokan harinya Leoni bangun dengan wajah yang agak pucat karena terus memikirkan Alex Ayahnya. Dia mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah, sementara Gaby dan Verdo masih di kamar, Gaby masih tertidur pulas sedangkan Verdo sudah bangun untuk mempersiapkan dirinya ke kantor.
" Hmmm masih tidur...biarkanlah...mungkin dia masih lelah" fikir Verdo melihat Gaby yang masih tertidur nyenyak.
" Leni kan hari ini sekolah apa dia sudah bangun?" Pikir Verdo membetulkan kemejanya dan langsung bergegas ke luar kamar.
Saat dia sampai di luar Leoni sedang di dapur mengambil minum,
" Pagi...Kamu sudah sarapan ?" Tanya Verdo dengan lembut. Namun Leoni hanya menatapnya dengan sinis dan tidak menghiraukan perkataan Verdo.
" Hmmmmmmmm tidak dijawab" gumam Verdo namun tetap tersenyum padanya kemudian ia segera menuang air minum.
Leoni sudah terbiasa tidak sarapan karena Gaby tidak mempedulikannya, uang saku Leoni semua ditanggung oleh Bu Rita dan Pak Roby.
Leoni segera mengambil tasnya dan segera memakai sepatunya di depan. Saat dia memakai sepatunya Verdo ada di belakangnya, dia tidak menyerah untuk mengambil hati Leoni.
" Kamu ikut denganku ya, nanti aku antar ke sekolah?" Kata Verdo menawarkan dengan lembut.
" Hmmmm terimakasih....tidak perlu aku biasa kok naik angkutan" jawab Leoni ketus.
" Gak apa-apa kan kita searah" bujuk Verdo.
" Tidak perlu..." sahutnya segera pergi dan meninggalkan Verdo.
" Hufhhhh....agak susah" kata Verdo dalam hati segera masuk ke dalam rumah. Saat dia hendak ke dapur, dia melihat Gaby sudah sibuk mempersiapkan sarapan untuknya.
" Pagi sayang..." sapa Gaby sambil mengikat rambutnya.
" Loh kamu kok sudah disini, tadi masih tidur pulas...gak tega aku membangunkanmu" kata Verdo duduk di kursi.
" Hmmm hari ini aku harus ke kantor....Maaf ya saya telat...tapi tenang pasti aku buatkan sarapan yang enak" kata Gaby sambil mengoles roti tawar untuk Verdo dan membuatkan teh hangat untuk Verdo.
"Hmmm kamu memang istriku yang ter......dech....!!!" Puji Verdo.
" Ter....ter apa???" Tanya Gaby tersenyum.
" Pokoknya ter....segalanya..." pujinya kembali.
" Ini sayang sarapannya" kata Gaby membawa sarapan untuk Verdo.
" Terimakasih ya....hmmm kok Leni gak sarapan?" Tanya Verdo.
" Dia biasanya langsung berangkat sekolah, nanti juga dia sarapan di sekolah" kata Gaby cuek.
" Dia kan anak kamu...kok kalian ini sama-sama tidak perhatian" tanya Verdo penasaran.
" Hmmm tidak perlu dibahas ya sayang...Kamu makan saja...aku mau mandi dulu" kata Gaby.
" Kamu mau ikut sekalian kan denganku?" Tanyanya sambil menggigit rotinya.
" Iya donggg....masih keburu kan?" Tanya Gaby.
" Yupsh...masih kok...sana siap-siap dulu" kata Verdo.
" Oke....sebentar ya" kata Gaby manja sambil mencium kening Verdo.
Gaby masih terus berkarir...dia menjadi seorang sekretaris di sebuah perusahaan. Walaupun Verdo memiliki Perusahaan Gaby tetap bekerja.Sementara itu Leoni berjalan menuju ke luar gang rumahnya untuk menunggu angkot.
Dia berjalan sambil melamun, ketika dia menunggu angkutan tiba-tiba ada mobil berhenti di depannya, Leoni memperhatikan mobil itu dan orang yang ada di mobil itu menurunkan kaca mobilnya....
" Haiiiiii......" sapa Gerald dengan senyuman.
" Aiiihhj nie anak...kenapa ada dimana-mana" gumam Leoni dengan senyum sinis.
" Len...Len...halooo!!!" Sapanya kembali.
" Hmmm kamu...lagi" kata Leoni menepuk jidatnya.
" Yuk naik...bareng aku ajha" kata Gerald menawarkan tumpangan.
" Terimakasih tapi tidak perlu,,,kamu duluan aja" kata Leoni.
" Yuk...bareng kita" sahut Ayah Gerald.
" Hmmmm terimakasih Om...tapi saya biar naik angkot saja" jawab Leoni malu.
" Nggak papa...naik saja...kan kamu satu sekolah kan dengan Gerald" kata Ayah Gerald.Karena dipaksa, akhirnya Leoni naik ke mobil Ayah Gerald. Gerald tersenyum melihat muka Leoni yang memerah.
" Kamu tinggal di daerah sini juga ya?" Tanya Ayah Gerald.
" E...iya Om" jawabnya malu.
" Wah kebetulan, jadi kamu bisa belajar bersama dengan Gerald" kata Ayah Gerald.
" Iya pa...rumah dia dekat kok...masuk ke dalam sedikit" sahut Gerald.
" Apa betul?" Tanyanya kembali.
" Iya Om...benar" jawab Leoni malu.
" Kan aku kemaren antar dia Pa..." kata Gerald.
" Ooo begitu" kata Ayah Gerald tersenyum ramah.
Leoni hanya membalasnya dengan senyum.
Selang beberapa menit mereka sampai di sekolah. Gerald dan Leoni turun dari mobil. Spontan teman-teman Leoni melihat mereka dengan mata tercengang.Aris, Dian dan Tama pun kaget melihat Leoni turun dari mobil Pemilik Sekolah.
" Terimakasih Om" kata Leoni menundukan badanya.
" Sama-sama semangat ya mengerjakan ujiannya" kata Ayah Gerald.
" Iya Om" kata Leoni.
" Iya Pa..." jawab Gerald mencium tangan Ayahnya.
" Oke...Papa ke kantor dulu ya..." kata Ayah Gerald langsung pergi meninggalkan mereka.
Sementara itu Dian, Tama dan Aris saling berbisik-bisik...
" Wuihhhh Nih gak mimpikan aku" kaya Dian dengan mata yang tak berkedip.
" Sini biar kucubit" sahut Tama mencubit tangan Dian.
" Aduh...!!!! sakit tau...!!!" Teriak Dian mengelus tangannya.
" Hahahhahahahahahah....ini nyata kali...tapi kok bisa bareng sama anak baru itu Leni????" Kata Aris bingung.
Sementara mereka tercengang dan saling bertanya-tanya, Leoni dan Gerald menghampiri mereka.
" Halo...selamat pagi" sapa Leoni penuh semangat.
" Jie...yang punya gebetan baru" ledek Tama.
" Ih apaan sih...!!!" Kata Leoni menepuk pundak Tama.
" Wah ada yang cemburu ini" sahut Dian menatap Aris.
" Heehhhh siapa yang cemburu???" Jawab Aris dengan kesal.
" Apaan sih kalian" kata Leoni. Sedangkan Gerald hanya tersenyum.
" Udah yuk kita masuk ke kelas...biar gak telat" ajak Dian menggandeng tangan Leoni.
Merekapun segera naik ke atas untuk menuju ke kelas mereka dan segera mengikuti ujian.
Sementara itu di Rumah Gaby selesai bersiap untuk ke kantor, Verdo sudah menunggu di ruang tamu ketika melihat Gaby keluar Verdo sangat terpesona, tubuh Gaby yang anggun dibalut dengan rok yang mini dengan atasan yang elegant membuat tubuhnya tampak seksi dan sempurna.
" Wooowww kamu cantik sekali" Puji Verdo.
" Biasa ajha kok" sahut Gaby memakai sepatu berhak hak tinggi.
" Wah jangan sampai ada yang naksir nich" kata Verdo cemas.
" Enggaklah kan tahu aku sudah bersuami" jawab Gaby tersenyum.
" Jangan salah zaman sekarang ganas..." kata Verdo.
" Husshhh ..apaan sih....yuk kita berangkat sayang...takut telat" ajak Gaby.
" Oke...ayo...kita berangkat" kata Verdo.
Mereka berangkat ke kantor bersama.
Sementara di Surabaya, Pak Roby dan Bu Rita segera bersiap-siap untuk ke rumah Sakit melihat kondisi Alex. Tanpa sarapan mereka langsung pergi ke Rumah Sakit. Di Rumah Sakit Hery sudah terbangun dari tidurnya, Alex juga sudah bangun.
" Sana cuci dulu mukanya" kata Alex.
" Hoaaamzz....Kamu sehat kan?" Tanya Hery.
" Iyalah,,kan sudah ku bilang aku baik-baik saja..hanya kelelahan sedikit" kata Alex.
"Hmmm kamu ini...aku ke kamar mandi dulu ya" kata Hery.
"Oke..." jawab Alex tereenyu.
Ketika Hery masuk ke kamar mandi Suster masuk ke dalam ruangan.
" Permisi...selamat pagi Pak?" Sapa Suster.
" Pagi Sus" jawab Alex tersenym lebar.
" Saya periksa dulu tekanan darahnya ya Pak" kata Suster mengeluarkan alat tensi.
" Iya Sus silahkan" kata Alex.
" Semua normal Pak..." kata Suster.
" Oke berarti saya boleh pulang hari ini ya Sus?" Tanya Alex.
" Nanti Pak...biar Dokter yang memberi keputusan " kata Suster.
" Hmmm begitu ya?" Kata Alex.
" Saya permisi dulu Pak" kata Suster.
" Iya Sus terimakasih" kata Alex.
Hary selesai dari kamar mandi.
" Siapa barusan?" Tanya Hery menutup pintu kamar mandi.
" Suster" jawab Alex
" Owh....kiraain siapa" kata Hery menyeka mukanya dengan handuk.
" Katanya sih sudah baik...tapi gak tahu deh bisa pulang hari ini atau enggak" kata Alex.
" Yah...Sabar..kan Dokter yang menentukan" sahut Hery.
" Sudah bosan nih...mau ke tempat kerja" kata Alex.
" Tenang kamu istirahat dulu...nanti kerjaan biar aku yang urus" kata Hery.
" Hmmm oke...percaya kok...aku..sama kamu" kata Alex.
Sementara mereka bercakap-cakap ponsel Hery berdering, Hery segera mengangkatnya.
" Halo...Her" kata Bu Rita.
" Halo Bu... gimana?" Tanya Hery.
" Kami sementara menuju ke rumah Sakit, kamu bisa bersiap-siap untuk urus kerjaan ya" kata Bu Rita.
" Baik Bu, saya sebentar mau ke kantor" kata Hery.
" Oke kalau begitu...gimana kondisi Alex?" Tanya Bu Rita.
" Alex sudah mulai membaik Bu...mungkin bisa pulang hari ini" jelas Hery.
" Syukurlah kalau sudah baik...oke kamu segera urus kerjaan ya...ini lima belas menit lagi kami sampai" kata Bu Rita.
" Baik Bu" jawab Hery
" Oke terimakasih ya...Her" kata Bu Rita.
" Sama-sama Bu" kata Hery mematikan ponselnya.
Sampai di Rumah Sakit Pak Roby dan Bu Rita segera bergegas pergi ke ruangan Alex dirawat. Ketika mereka masuk, mereka berpapasan dengan Hery di luar ruangan.
" Selamat Pagi...Pak..Bu.." sapa Hery dengan sopan.
" Pagi Her... Terimakasih sudah menjaga Alex semalam" kata Bu Rita.
" Iya Her terimakasih kamu sudah menjaga Alex, sekarang kamu boleh pergi ke kantor untuk mengurus bisnis kita, sekali lagi kami berterimakasih" sahut Pak Roby.
" Sama-sama Pak Bu...saya pamit dulu" kata Hery.
" Baik... hati-hati di jalan ya Her" pita Bu Rita.
" Iya Bu" jawab Hery segera ke luar rumah Sakit.
Mereka langsung masuk ke dalam ruangan Alex, dilihatnya Alex sedang makan.
" Pagi Lex..." kata Pak Roby.
" Pagi...Pak..Bu...mari makan" kata Alex tersenyum.
" Silahkan Lex...Kamu gimana keadaannya??" Tanya Bu Rita.
" Tadi kata Suster tensi saya sudah normal, tinggal di periksa Dokter" kata Alex sambil mengunyah makananya.
" Oke...semoga kamu diperbolehkan pulang Lex" kata Pak Roby.
" Harapan saya juga begitu Pak..Bu" kata Alex.
" Kamu makan dulu...jangan lupa obatnya diminum ya?" Kata Bu Rita.
Di lain Tempat, Gaby dan Verdo berangkat bersama ke kantor, di dalam perjalanan...
" Kamu tidak berhenti kerja???" Tanya Verdo sambil mengemudi.
" Hmmm tidak sayang...apa yang harus aku lakukan kalau hanya di rumah" kata Gaby sambil merias wajahnya.
" Kan kamu bisa santai di rumah, sehingga kamu bisa lebih memperhatikan Leoni" kata Verdo.
" Hmmmm ogah....biarkan saja...toh juga Leoni bukan bayi lagi..dia kan sudah bisa mengurus dirinya sendiri" kata Gaby.
Verdo terdiam, dia kehabisan Kata-kata...
" Okelah terserah kamu...yang penting kamu happy" kata Verdo.
Tidak terasa Gaby sudah sampai di kantornya.
" Makasih ya sayang...yang sangat kerjanya" kata Gaby mencium tangan dan pipi Verdo.
" Oke...Kamu juga ya...yang baik kerjanya" sahut Verdo.
" Pasti donggg...byeee" kata Gaby turun dari mobil membungkukkan badannya dan tersenyum kepada Verdo.
" Bye..." jawab Verdo tersenyum dan melambaikan tangannya kemudian
melanjutkan perjalanannya ke kantornya.Verdo berharap hubungan Leoni dan Gaby bisa rukun.
Sementara di Sekolah Gaby dan teman-temannya masuk ke dalam kelas, sambil menunggu bel mereka saling bercengkrama...
" Kok kamu bisa bareng sama di anak baru itu???" Bisik Dian ditelinga Leoni.
" Hmmm terpaksa!" Jawab Leoni sinis.
" Hahaaaaa.... terpaksa???" Sahut Tama meledeknya.
" Hush...Kamu nich" kata Dian.
" Terserahlah kalian mau anggap gimana" kata Leoni membuka bukunya.
Teman-teman Leoni tidak tahu dengan perasaan Leoni, dilema kehidupan yang dialaminya membuatnya menjadi seorang anak yang kuat dan tegar walau terkadang dia juga terkadang merasa rapuh.
" Kamu sudah sarapan???" Tanya Aris.
"Jie yang perhatian???" Sahut Tama.
" Apaan sih..." kata Aris.
" Kamu sudah sarapan belum Len?" Tanya Dian.
" Hmmm belum" jawab Leoni.
" Makan nich.... Ibuku membuatkan roti" kata Aris menawarkan bekal makananya.
" Hmmm nggak usah terimakasih" kata Leoni menolak pemberian Aris.
" Gak apa-apa, nanti kamu pingsan lagi kaya kemaren" paksa Aris.
" Iya deh Len...nanti kamu pingsan lagi" sahut Dian.
" Iya...betul... nanti kami digendong lagi sama Gerald" kata Tama melirik Gerald.
Tanpa berfikir panjang Leoni akhirnya menerima pemberian Aris, dia memang sudah lapar karena dari semalam dia belum makan.
" Baiklah... Terimakasih ya Ris" kata Leoni menggambil bekal Aris.
" Iya nich...dimakan ya"kata Aris senang.
Teman-temannya sangat senang melihat raut muka Leoni yang begitu senang setelah memakan roti pemberian dari Aris. Tak lama kemudian bel masuk berbunyi menandakan ujian segera dimulai. Guru mulai memasuki kelas dan membagikan soal ujian, suasana begitu sangat tenang, semua murid mengerjakan soal ujian dengan baik.
Di rumah Sakit Alex sudah selesai sarapan, Dokter datang untuk memeriksanya.
" Selamat Pagi Pak..Bu..." sapa Dokter dengan ramah.
" Pagi Dok" jawab mereka serentak.
" Saya periksa pasien dulu ya Pak..Bu.." kata Dokter.
" Iya Dok. Silahkan" kata Pak Roby.
" Gimana Pak Alex apa semalam bisa tidur?" Tanya Dokter sambil memeriksa.
" Bisa Dok..." jawab Alex.
" Oke...semuanya baik-baik saja, nanti saya perlu bicara dengan keluarga Pasien" kata Dokter.
" Baik Dok" jawab Bu Rita.
" Kalau begitu saya tunggu di ruangan saya ya" kata Dokter kemudian meninggalkan ruangan.
Pak Roby mengikuti Dokter, sedang Bu Rita menemani Alex.Sesampai di ruangan Dokter.
" Silahkan duduk Pak" kata Dokter.
" Iya Dok... Terimakasih" jawab Pak Roby kemudian duduk berhadapan dengan Dokter.
" Jadi begini Pak...sebenarnya penyakit Pak Alex ini cukup serius, jadi kita mau menganalisis perkembangan kesehatan Pak Alex selama sebulan ke depan" kata Dokter.
" Baik Dok, jadi Alex sementara boleh pulang?" Tanya Pak Roby.
" Iya Pak...boleh pulang, tapi kita tetap memantau kesehatan ya, kalau memang tetap sehat dan semakin baik, kita hanya akan memberikan terapi, akan tetapi kalau kondisi kesehatannya menurun maka kami akan melakukan tindakan operasi" jelas Dokter.
" Baik Dok...jadi apa yang harus kami lakukan agar Alex bisa tetap baik, dan sel kankernya tidak menyebar?" Tanya Pak Roby.
" Kondisi kesehatan Pak Alex akan semakin baik apabila pola hidupnya terjaga dengan baik, istirahat yang cukup, makan makanan yang sehat, dan juga pikiran dan hati yang sehat, kalau boleh jangan sampai dia memikirkan hal-hal yang berat" kata Dokter.
" Hmmm baik Dok akan kami usahakan, apa kami juga perlu memberitahu penyakitnya?" Tanya Pak Roby kembali.
" Alangkah baiknya kalau pak Alex mengetahui penyakitnya, supaya dia bisa berhati-hati dengan kondisi kesehatannya" kata Dokter.
" Kalau begitu, kami akan memberitahukan kondisinya yang sebenarnya" kata Pak Roby.
" Itu sangat bagus, ini saya tuliskan resep obatnya, nanti bisa diambil di apotek bawah, dan setelah administrasi selesai Pak Alex boleh pulang" kata Dokter sambil menulis resep.
" Baik, Dok terimakasih banyak" kata Pak Roby menjabat tangan Dokter, dan segera keluar untuk menebus obat tetapi dia ke ruangan Alex.
Alex dan Bu Rita sedang berbicara ketika Pak Roby datang...
" Bagaimana Pa, apa kata Dokter??" Tanya Alex.
" Hmmm hari ini kamu boleh pulang, ini aku mau ambil obat dan menyelesaikan administrasinya" kata Pak Roby.
" Syukurlah kalau boleh pulang hari ini" sahut Bu Rita.
" Terus sebenarnya saya sakit apa Pa?" Tanya Alex.
Pak Roby dan Bu Rita saling bertatapan...
" Hmmm sebenarnya kamu itu gejala sakit kanker otak" jawab Pak Roby.
" Apa!!!!!!!kanker otak!!!" Kata Alex kaget dan sedih.
" Iya Lex, tetapi jika kondisinya sebulan ini bagus maka hanya akan dilakukan terapi, tapi kalau kondisimu menurun maka akan dilakukan pengangkatan atau operasi" jelas Pak Roby.
" Sabar ya Lex...Kamu pasti bisa melewati ini semua, kami akan selalu mensupportmu" sahut Bu Rita mengelus pundak Alex.
" Kata Dokter kamu harus banyak istirahat dan makan makanan yang sehat, satu hal lagi kamu tidak boleh berpikir terlalu berat" kata Pak Roby.
" Baik Pak...Bu...saya akan menjaga diri saya sebaik-baiknya" kata Alex semangat.
" Kamu harus semangat ya Lex...Kamu pasti sembuh" kata Bu Rita.
" Terimakasih Pa..Bu...sudah memperhatikan saya" kata Alex.
" Sama-sama Lex...Kamu harus tetap tegar" kata Bu Rita.
" Oke kalau begitu saya urus administrasi dan obat dulu ya, kamu bisa beberes untuk pulang" kata Pak Roby segera pergi ke ruang obat dan Bu Rita bersiap-siap untuk mengemas barang Alex.
" Bu... Terimakasih sudah mau menerima saya, walaupun saya hanya mantan menantu Ibu" kata Alex sedih.
" Kamu jangan bilang kamu mantan menantuku, kamu sudah aku anggap sebagai anaku sendiri" jawab Bu Rita mengemasi barang-barang Alex.
" Terimakasih banyak Bu, saya sebenarnya sangat rindu dengan Leni, tapi saya harus bisa sabar agar apa yang saya janjikan dulu kepadanya bisa terwujud" jelas Alex.
" Kamu yang sabar ya...nanti kalau liburan saya sudah bilang ke Leoni untuk datang ke Surabaya" kata Bu Rita menghibur.
" Benarkah Bu????" Kata Alex dengan wajah sumringah.
" Iya...sementara ini dia sedang ujian, selesai ujian baru aku pesan tiket pesawat untuknya, jadi mungkin dua Minggu lagi dia baru bisa datang" kata Bu Rita.
" Wah saya jadi tidak sabar untuk bertemu dengannya...Bu ..saya minta tolong agar Ibu tidak menceritakan penyakit saya kepadanya" pinta Alex.
" Hmmm baiklah...yang penting kamu harus semangat agar kamu bisa melawan penyakitmu dan semoga saja.. penyakitmu bisa sembuh" kata Bu Rita.
" Baik Bu...saya akan menjaga diri saya...Terimakasih banyak Bu" kata Alex.
" Sama-sama nak..." kata Bu Rita.
Ketika mereka bercakap-cakap Pak Roby datang sudah selesai mengurus administrasi dan juga mengambil obat.
" Sudah selesai???" Tanya Pak Roby.
" Sudah Pa...gimana kita bisa pulang sekarang?" Tanya Bu Rita.
" Iya semua urusan sudah selesai saya akan memesan taxi" kata Pak Roby.
" Terimakasih Pak...sudah membantu saya" sahut Alex dengan senyum lebar.
" Sama-sama Lex...gimana kamu sudah benar-benar sehat?" Tanya Pak Roby.
" Sudah Pak..sebentar saya mau ganti baju dulu" kata Alex turun dari tempat tidur dan segera ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
" Oke kami tunggu" kata Pak Roby.
" Pak...Alex meminta kepada kita agar kita tidak memberitahukan penyakitnya kepada Leni" kata Bu Rita.
" Hmmm... baiklah...kalau memang itu yang terbaik" kata Pak Roby.
Sementara itu di kantor Gaby sedang sibuk dengan pekerjaannya yang sudah beberapa hari ditinggalkan.
" Hufhhhhh...banyak banget ini dokumennya????" Katanya dalam hati.
" Hai...selamat ya..." sahut Rio teman sekerjanya.
" Eh.. kamu ngagetin aku ajha" kata Gaby.
" Sorry ya Gab....aku gak bisa hadir di acara pernikahanmu" kata Rio.
" Gak apa-apa kok santai ajha" kata Gaby tersenyum.
" Nie...ada sesuatu buat kamu..." kata Rio memberikan bingkisan kado untuknya.
" Wooowww kamu ini malah kasih kado segala" kata Rio.
" Ini gak seberapa kok...semoga bermanfaat untuk kamu dan suamimu" kata Rio.
" Oke...makasih banyak ya" kata Gaby menyimpan bingkisan ke dalam lacinya.
" Sama-sama selamat bekerja ya.. hehehehe numpuk tugasmu" kata Rio meledek.
" Iya nich banyak banget tugasku ini....hufhhh" kata Gaby menepuk jidatnya.
" Oke aku kembali ke ruang kerjaku dulu ya Gab" kata Rio meninggalkan Gaby.
" Oke..." jawab Gaby.
Gaby kembali dengan setumpuk dokumen di mejanya dan segera menyalakan komputer yang ada di mejanya dan memulai bekerja.Di Sekolah Leoni sudah terlebih dahulu menyelesaikan soal ujiannya dan segera keluar menuju ke kantin sekolah, disusul dengan Gerald. Tanpa sepengetahuan Leoni Gerald membuntutinya.
Sesampai di kantin seperti biasa Leoni memesan makanan kesukaannya dan segera duduk di meja kantin. Sambil menunggu makanannya datang ia memainkan Ponselnya dan berniat untuk menghubungi Bu Rita.
Sedangkan Gerald dia hanya melihat Leoni dari belakang tempat ia duduk. Leoni mencoba menghubungi Bu Rita menaruh ponselnya di telinganya..menunggu panggilannya dijawab...
" Ponselku berdering....Leoni" gumam Bu Rita segera mengangkat telepon dari Leoni.
" Halo sayang..." kata Bu Rita.
" Halo Nek...semalam Nenek sampai rumah jam berapa kok gak kasih kabar" kata Leoni khawatir.
" Owh iya maafin Nenek ya, semalam baterai ponselnya habis jadi Nenek cas...langsung tidur..lupa mau kasih kabar ke kamu, Nenek sampai jam sepuluh malam di rumah,kamu jangan khawatir ya sayang" jelas Bu Rita.
" Syukurlah....Nenek baik-baik saja kan?" Tanya Leoni.
" Iy Kami baik-baik saja, kamu gimana, udah selesai ngerjain ujiannya?" Tanya Bu Rita.
" Sudah Nek...ini lagi istirahat lagi di kantin" kata Leoni.
" Hmmm kamu ini jam segini baru sarapan, kalau kamu pingsan gimana?" Kata Bu Rita melihat Alex sudah selesai berganti baju.
" Hehehehe ya mau gimana lagi Nek....oke Nek nanti saya telepon lagi ya Nek, pesanan saya sudah datang...laper" kata Leoni.
" Oke nak...Kamu jaga baik-baik ya kesehatanmu" kata Bu Rita.
" Iya ..tenang ajha Nek...Nenek dan Kakek juga jaga kesehatan ya" kata Leoni.
" Iya sayang...." jawab Bu Rita.
" Oke Nek...saya makan dulu ya...da. . Neek" kata Leoni mematikan teleponnya dan segera memakan pesanannya.
Sementara itu Alex penasaran...
" Siapa Bu?" Tanya Alex.
" Leoni Lex" jawab Bu Rita.
" Dia baik-baik saja kan Bu?" Tanyanya kembali.
" Iya dia baik-baik saja, dia sudah selesai soal ujian pertama hari ini, sementara Istirahatdan sedang makan di kantin" kata Bu Rita.
" Makan di kantin?" Kata Alex kaget.
" Iya Lex dia sedang makan di kantin" tegas Bu Rita.
" Kasihan Leni Bu, sekarang pasti makannya tidak teratur, saya khawatir kalau dia tidak makan teratur" sahut Alex sedih.
" Lex...Kamu harus percaya kalau anak kamu pasti bisa jaga diri" kata Pak Roby menepuk pundak Alex.
" Hmmm semoga saja...dia seperti itu" kata Alex tersenyum simpul.
" Iya Lex...Kamu harus percaya padanya, Ibu jamin kok uang sakunya, jadi kamu tidak perlu khawatir, setiap bulan Ibu selalu memantaunya" kata Bu Rita.
" Hmmmm saya Ayah yang tidak berguna...saya tidak bisa memberikan apa yang dia butuhkan" kata Alex sedih dan menangis menyalahkan dirinya sendiri.
" Kamu jangan berbicara seperti itu Lex...Kamu ingat kalau kamu terpuruk kamu sama saja tidak bisa membuat Leni bahagia" kata Bu Rita.
" Iya Lex kamu harus menyingkirkan hal-hal yang tidak baik....Kamu inget kondisimu jangan sampai kamu terpuruk..." timpa Pak Roby.
" Hmmmmmmmm baik Pak...Bu...saya harus bisa menerima ini...saya akan lebih bersemangat agar nanti Leni bisa bersama saya" kata Alex menyeka air matanya.
" Gitu Lex...Kamu harus lebih fokus dengan semangatmu, jangan menyalahkan dirimu sendiri, karena apa yang saat ini kamu alami semua dalam Kendali Tuhan" kata Bu Rita menasehati.
" Iya Bu... Terimakasih untuk dukungannya" kata Alex mulai tersenyum.
" Yuk...kita keluar taxi sudah menunggu di depan" kata Pak Roby.
Mereka segera mengambil barang-barang yang mereka bawa dan segera keluar menuju loby Rumah Sakit.
Sementara itu di kantin sekolah, saat Leoni sedang makan, Gerald menghampirinya..
" Hai..." sapa Gerald.
" Hukk...hukkk...hukkk" Leoni tersedak karena kaget melihat Gerald muncul di depannya.
" Eehh ini minum...minum" kata Gerald memberikan air putih untuknya.
" Hmmmm kamu ini ngagetin saja" kata Leoni agak kesal.
" Maaf...Maaf...aku tidak sengaja" kata Gerald duduk di depan Leoni.
" Ada apa??????Kamu mau makan juga???" Tanya Leoni.
" Tidak kok hanya ingin menemani kamu makan" kata Gerald tersenyum.
" Idihhh gak usah sok senyum senyum gitu ach...sana cari tempat duduk lain" kata Leoni.
" Gak...aku mau disini mau liat kamu makan biar kamu gak pingsan kaya kemaren" kata Gerald.
" Hedehhh terserah kamu deh" kata Leoni cuek dan segera memakan makananya kembali.
" Kamu laper banget ya???" Tanya Gerald memperhatikan cara makan Leoni.
" Hmmmmmmmm iya . Memang kenapa???" Tanya Leoni.
" Pantas kamu nafsu banget makannya" kata Gerald.
" Terserah akulah...." jawab Leoni.
" Hehehehehhe....aku boleh tanya nggak?" Kata Gerald.
" Fuhssshhh...dari tadi kamu kan sudah Tanya....mau tanya apa lagi" kata Leoni ketus. " Sebenarnya kamu kemaren kenapa ngalamun di taman???" Tanyanya penasaran.
" Hmmm memangnya kamu harus tahu??????" Jawabnya semakin ketus.
" Enggak sih...kan mana tahu kalau kamu cerita bisa mengurangi bebanmu" kata Gerald dengan lembut.
" Apaan sih kamu...memangnya aku harus banyak bicara atau banyak cerita, sama sahabatku saja aku jarang bercerita apalagi dengan orang yang baru aku kenal seperti kamu!" Jelasnya dengan nada rada marah.
" Stttttttt sabar sabar Len...kan aku hanya nanya....Maaf ya.." kata Gerald menggaruk kepalanya.
" Hmmmmmmmm kamu ini jangan sok tahu dan sok deh!" Sahut Leoni berdiri dan segera membayar makanan pesanannya kemudian pergi meninggalkan Gerald. Saat Leoni pergi entah kemana, sahabatnya datang ke Kantin...dan kantin mulai ramai karena banyak siswa yang sudah selesai mengerjakan soal ujian.
" Lah...dimana Leni...kok sepertinya gak ada" kata Dian sambil mengarahkan matanya kesana kemari.
" Mungkin dia lagi di kamar mandi" sahut Tama.
" Yuk...kita pesan makanan dulu, nanti juga paling dia kesini" ajak Aris menuju ke kasir kantin dan memesan makanan. Sementara itu Gerald terus mengikuti Leoni dengan diam-diam. Leoni berjalan menuju ke arah perpustakaan, dia kemudian masuk dan melihat-lihat buku yang ada di perpustakaan. Gerald mengamatinya dari jendela luar perpustakaan.
Sambil melihat buku apa yang akan dibacanya...Leoni teringat dengan kata-kata Gerald..
" Mana tahu kalau kamu cerita bisa mengurangi bebanmu" kata-kata itu terngiang-ngiang di dalam hati dan pikiran Leoni.
Leoni mengambil satu buku dan duduk diruang baca, pandanganya kosong dia sedang memikirkan banyak hal dalam hatinya...
" Hmmm selama ini aku punya sahabat, tapi kenapa sulit bagiku untuk menceritakan isi hatiku...kesedihanku..amarahku....dan semua hal yang mengganjal dalam diriku, andai saja Ayah masih bersamaku pasti akan kucurahkan semua yang ada dalam diriku ini" pikir Leoni dalam hati, tampa sadar air matanya mulai menetes. Gerald yang melihat Leoni meneteskan air mata semakin penasaran dengan keadaan yang dialami Leoni.
" Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan sih Len...???" Hatinya bertanya-tanya dan semakin iba dengan keadaan Leoni.
Leoni menyeka air matanya dan pura-pura membaca buku walau hatinya tidak terfokus dengan buku yang dipegangnya..dia masih tenggelam dalam lamunannya.
" Ayah...andai engkau tahu betapa aku sangat merindukanmu...betapa aku sangat ingin bersandar di pundakmu.....Ayah aku sangat menyayangimu" katanya dalam hati dan air matanya tak bisa dibendung lagi....
Gerald yang melihat Leoni benar-benar sedih dan terus meneteskan air matanya dia kemudian masuk ke perpustakaan dan menghampirinya, kemudian memberikan sapu tangannya untuk Leoni..
" Nih...Kamu pakai.." kata Gerald memberikan sapu tangannya.
Leoni memandang Gerald dan tanpa sepatah katapun ia hanya meneteskan air mata, kemudian mengambil sapu tangan di tangan Gerald.
" Terimakasih" kata Leoni.
Gerald tersenyum melihat Leoni berterimakasih kepadanya.
" Tolong tinggalkan aku sendiri ya..." kata Leoni pelan.
" Oke baiklah kalau itu membuatmu lega, tapi ingat lima menit lagi masuk kelas" kata Gerald.
Leoni hanya menganggukan kepalanya dan menyeka air matanya dengan sapu tangan milik Gerald.
Teman-teman Leoni masih di kantin,mereka bingung karena Leoni tak kunjung datang ke kantin..
" Duh ini anak mana sich" kata Dian mengkhawatirkan Leoni.
" Mungkin dia ke perpustakaan kali...kan dia gitu...kadang gak mau diganggu" sahut Aris sambil memakan makanannya.
" Hedehhh hedehhh yang perhatian sampai apapun yang dilakuin Leni dia paham" sahut Tama meledek.
" Hahahhahaha.....iya nih kamu benar-benar naksir sama Leni ya Ris?" Tanya Dian tertawa.
" Hmmm entahlah...jangan mikir gitu dulu ah fokus ajha ke ujian" kata Aris mengalihkan pembicaraan namun mukanya memerah karena malu.
" Hahahaha......gayanya ujian....kalau memang suka tinggal ngomong ajha kali Ris...sama seperti aku suka Dian" sahut Tama.
" Eeeiiithhjhhh kamu bilang apa????" Kata Dian melotot ke Tama.
" Hehehehe......Sabar sabar bercanda kok" kata Tama.
" Hahahhahaha dasar Kamu Tam....!" Kata Aris.
" Udah yuk bentar lagi masuk...kita kembali ke kelas!" Ajak Dian.Mereka akhirnya kembali ke kelas mereka. Saat mereka sampai ke dalam kelas mereka tidak menjumpai Leoni. Malahan mereka melihat Gerald yang baru saja masuk ke kelas.
" Eh Ge...Kamu liat Leoni???" Tanya Dian.
" Hmmm Dia lagi di Perpustakaan" jawab Gerald kemudian duduk di bangkunya.
" Wah dia bisa tahu Leoni...berarti mereka dari tadi berdua...jangan...jangan.." bisik Tama ketelinga Aris.
Aris merasa cemburu dia hanya diam dan memikirkan perkataan Tama.
" Apakah mungkin Leni sudah jadian dengan anak baru itu???"
" Oiii...malah ngalamun" kata Tama sambil menepuk pundak Aris.
" Apaan sih kamu ini...gaklah masak baru kenal udah jadian gak mungkin" sahut Aris ragu-ragu.
" Coba kamu pikir...tadi pagi aja mereka bareng berangkat sekolahnya...nah barusan Gerald bilang Leni di Perpustakaan jadi kemungkinan dari tadi Leni bersama dengan Gerald" bisik Tama.
" Husshhh gak usah ngomong macam-macam deh...!!" Sahut Dian memperingatkan Tama. Ketika mereka sedang berbisik-bisik, Leoni datang...wajahnya sangat kusut dan matanya merah...
" Nah...tu anaknya datang" kata Tama.
" Kamu kenapa Len kok sedih gitu?" Tanya Dian.
" Hmmm gak apa-apa kok..." jawab Leoni kembali ke tempat duduknya.
Tama terus memperhatikan Leoni dari jauh..
" Eh kamu dari mana saja Leni...kok kamu gak ada di kantin???" Tanya Aris.
" Aku dari perpustakaan kok" jawab Leoni datar.
" Tuh kan benar kata Gerald...." pungkas Tama.
" Kamu ini mulai dah..." kata Dian.
Bel masuk pun berbunyi, guru memasuki kelas dan mereka mengerjakan tugas ujian mereka.
Sementara itu Alek, Bu Rita dan Pak Roby sudah ada dalam taxi untuk kembali ke rumah Pak Roby.
Dalam perjalanan pulang...
" Kita ke rumah saja ya?" Tanya Pak Roby.
" Iya Pa..biar keadaan Alex membaik" jawab Bu Rita.
" Ke Kos kosan saja Pak..gak apa-apa" sahut Alex.
" Jangan begitu...sementara ini kamu tinggal bersama kami supaya kami bisa memantau kamu" jelas Pak Roby.
" Iya betul...kalau kamu di kos kami tidak bisa memantau kamu...dan malah nanti kamu semakin sakit" kata Bu Rita.
" Hmmm begitu ya...baiklah Pak..Bu saya ngikut saja mana yang terbaik untuk kita semua" kata Alex.
" Kan rumah kami juga besar, ada banyak kamar juga, nanti kamu bisa istirahat di kamar manapun" kata Bu Rita.
" Bu sudah suruh Bi Yati untuk membersihkan kamar?" Tanya Pak Roby
" Iya Pa...tadi saya sudah minta tolong Bi Yati untuk membersihkan kamar untuk Alex" jawab Bu Rita.
" Maaf Pak..Bu..jadi merepotkan" sahut Alex.
" Enggak kok...gak apa-apa kan kami senang kalau rumah semakin rame" kata Bu Rita.
" Iya...Kamu gak perlu sungkan...anggap saja itu rumah kamu juga, kalau kamu perlu apa-apa kamu bisa minta tolong Bi Yati" kata Pak Roby.
" Baik Pak Bu...Terimakasih banyak" jawab Alex.
Sementara itu Gaby sibuk dengan pekerjaan, Verdo berusaha menghubunginya untuk makan siang tidak bisa.
" Gaby kok gak aktif ponselnya, apa dia sangat sibuk ya?" Pikir Verdo.
Verdo terus mencoba menghubunginya tapi tetap tidak ada jawaban dari Gaby.
Gaby masih terfokus dengan komputernya, teman-teman Gaby satu persatu sudah istirahat tetapi Gaby belum juga selesai dengan tugasnya...
" Hufhhh...ini kapan mau selesai coba kerjaan segini banyaknya" keluh Gaby.
" Gab...makan yuk...!" Ajak Linda salah satu rekan kantornya.
" Kayaknya nie aku gak bisa istirahat nanti aku titip kopi mix aja ya Lin" jawab Gaby.
" Ooo begitu, baiklah nanti aku bawakan kopi...aku pergi dulu ya" kata Linda meninggalkan Gaby.
" Oke makasih ya.." jawabnya dan segera kembali menyelesaikan tugasnya.
" Hmmm bentar deh aku rileks dulu sebentar" katanya dalam hati kemudian mengambil ponselnya di tas.
Gaby terkejut ketika membuka ponselnya..
" Haduhhhh....banyak banget panggilannya!!!"
" Ya ampun....pasti Verdo khawatir, biar aku telepon dia"
Gaby berusaha menghubungi Verdo...
" Halo...Sayang...." kata Gaby setelah Verdo mengangkat teleponnya.
" Halo....hmmm akhirnya kamu telepon tadi aku menghubungimu tapi kamu gak angkat" katanya agak sedih.
" Maaf sayang" kata Gaby.