Author Pov
Pagi ini Levin mengajak Aqillah joging bersamanya. Karena Aqillah tidak mau meninggalkan Timmy terlalu lama, jadi mereka joging hanya disekitaran taman dekat rumah orang tua Aqillah. Aqillah nampak cantik dengan setelan olahraganya dan rambut yang diikat satu kebelakang.
Sedangkan Levin memakai setelan olahraga warna abu-abunya.
Melihat Levin yang sedari tadi sibuk tebar pesona pada cewek-cewek yang kebetulan lewat, membuat Aqillah jengah dan memutar bola matanya.
"Levin anaknya bunda Rara, kalau kamu ngajakin aku joging ditaman cuma buat nemenin kamu ngecengin cewek, mendingan aku berenang dirumah aja deh." Aqillah ngomel dengan mencebikan bibirnya. Sementara Levin terkekeh melihat tingkah sepupu kesayangannya.
Sesaat mata Levin tertuju pada sebuah mobil yang terparkir didekat taman, yang jendelanya terbuka setengah. Levin tau siapa pengendara mobil itu, Levin mendekat kearah Aqillah lalu sengaja mencium pipi Aqillah kemudian menyeringai kearah mobil itu.
Sementara didalam mobil seorang laki-laki melihat hal itu sudah mencengkeram stir mobilnya sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Siapa sebenarnya laki-laki itu? Batinnya bertanya-tanya penasaran dengan laki-laki yang sama dengan laki-laki mengancamnya semalam. Dia masih memperhatikan dari kejauhan wanita yang sampai saat ini begitu dicintainya.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Aqillah? Kenapa dia jadi begini? Bukannya dia sudah punya suami? Kenapa malah bermesraan dengan laki-laki lain ditempat umum seperti ini? Kamu berubah Aqillah." Laki-laki itu bermonolog pada dirinya sendiri.
Sementara disalah satu bangku taman Aqillah dibuat kesal setengah mati oleh Levin.
"Iiiiihh, kamu apa-apaan sih, Vin. Pake cium segala?"
"Hahaha, nggak apa-apa. Dari tadi ada yang merhatiin kita. Aku sengaja cium kamu."
Ketika Aqillah ingin menengok kebelakang Levin lebih dulu menahannya.
"Jangan, dia masih liatin kita. Aku punya edi eh ide. Aku akan buat seolah-olah kita ciuman."
Seketika Aqillah terkejut dan memukul lengan Levin.
"Jangan gila ya, Vin."
"Pura-pura aja dodol. Biar dia pergi, emang kamu mau dia buntutin kmu terus?"
"Iya deh aku nurut."
Levin menangkup wajah Aqillah, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Aqillah. Posisi Aqillah yang membelakangi mobil itu terlihat seolah-olah Aqillah sedang berciuman dengan Levin padahal tidak sama sekali.
Didalam mobilnya laki-laki itu sudah benar-benar merasa emosi pada apa yang dilihatnya pagi ini. Tadinya ia ingin menemui Aqillah dan keluarganya, tapi saat melewati taman ini, dia melihat Aqillah yang sedang duduk berdua dengan seseorang. Hatinya panas, dia cemburu. Sekarang dia melihat Aqillah dan laki-laki yang tidak ia ketahui namanya itu sedang berciuman ditempat umum. Kamu benar-benar sudah berubah Qill. Ucapnya sembari menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari tempat itu.
Ditempatnya, Levin langsung melepaskan tangkupan tangannya pada pipi Aqillah lalu tertawa terbahak-bahak. Aqillah yang melihatnya langsung menempelkan tangannya pada kening Levin lalu bergumam.
"Tidak panas. Kamu sehat Vin?"
"Hahahaha iya aku sehat dek. Cuma lucu aja liat orang itu." ucap Levin ditengah-tengah tawanya.
"Emang siapa sih orangnya?"
"Nanti juga kamu tahu. Ayo pulang, kasian princess nanti nyariin kamu."
❤❤❤
Ibra Pov
Kenapa Aqillah jadi berubah seperti itu? Sungguh, aku tak habis pikir dengan apa yang Aqillah lakukan dengan laki-laki yang bukan suaminya. Apa dalam waktu 5 tahun Aqillah berubah jadi lebih liar?
Aku benar-benar tidak menyangka dengan apa yang Aqillah lakukan di taman tadi, lagian apa suaminya tidak tau apa yang Aqillah lakukan?
Huh, bosan. Lebih baik aku pergi ke 18Hrs Cafe, tempat kenangan aku dan Aqillah dulu waktu kami pendekatan.
Sesampainya di cafe, aku melihat sosok yang aku kenali. Dia nampak cantik memakai dress merah selutut dengan rambut yang di curly.
Cantik seperti biasa, dari dulu tidak ada yang berubah dari Aqillah. Tapi aku masih merasakan sesak jika ingat kejadian ditaman pagi tadi. Aku berjalan mendekati mejanya.
"Selamat sore, Aqillah."
❤❤❤
Aqillah Pov
Tubuhku menegang mendengar suara itu. Suara yang selalu mmbuat darahku berdesir, Ibra. Dia kelihatan tampan dengan pakaian hitam-hitam seperti itu.
Tampan,nhanya itu yang bisa aku katakan. Ibra duduk tepat didepanku, duh kok aku jadi salting gini sih!! Nyebelin banget, ngapain coba dia duduk sini kayak gak ada tempat lain aja.
"Apa kabar Qill?" tumben dia nanya dengan nada datar gitu.
"Baik." aku hanya bisa menjawab ketus pertanyaannya.
"Aku nggak nyangka ya, ternyata kamu udah berubah jadi lebih liar."
"Maksud kamu apa?"
"Ya, setelah 5 tahun pisah kamu berubah jadi cewe yang sepertinya nggak tahu malu."
"Maksud kamu ngomong gitu apa? Kamu nggak tahu apa-apa tentang aku selama 5 tahun belakang ini, jadi jangan asal bicara."
"Oya jadi menurut kamu, apa pantas seorang wanita yang sudah bersuami datang ketaman terus kamu ciuman sama orang lain."
Mataku terbelalak kaget mendengar apa yang diucapkan Ibra. Aku tak menyangka Ibra akan mengucapkan hal itu. Bearti tadi pagi itu, yang mengikuti aku dan Levin itu, Ibra? Jadi dia pikir aku ini sudah bersuami dan dia juga menganggap aku liar karena jalan dengan laki-laki lain.
Astagfirullah, aku tak menyangka Ibra seperti ini. Padahal dia tahu gimana sifat aku, dan aku nggak mungkin melakukan apa yang dia tuduhkan tadi padaku.
"Dengar, jangan samakan aku sama kamu ya. Aku nggak akan mungkin jalan apalagi ngelakuin hal yang kamu tuduhkan itu sama aku. Asal kamu tahu, Levin itu sepupu aku yang kuliah di Jerman. Berarti kamu yang buntutin aku sama Levin pagi tadi?"
Ku lihat Ibra gelagapan menjawab pertanyaanku.
"Tadinya aku ingin silaturahmi kerumah kamu, tapi ditaman aku malah melihat hal yang tidak pantas dilakukan oleh seorang wanita yang sudah bersuami. Meskipun dia sepupu kami, apa wajar jika kamu ciuman sama dia? Nggak. Jangan bertindak layaknya w************n Aqillah."
Plak, satu tamparan aku berikan. Aku benar-benar tidak terima dengan tuduhan Ali. Sudah ku bilang aku tidak pernah melakukan hal yang dituduhkannya padaku dan apa dia bilang 'wanita bersuami'? Bukannya dia yang sudah menikah dan kenapa malah menuduhku?
"Anda sudah kelewatan Tuan. Anda tidak berhak menjudge saya seperti itu. Anda tidak tahu yang sebenarnya, jangan menyimpulkan sendiri. Saya permisi. "
Aku berjalan keluar tapi sebelum aku mencapai mobil, ada yang mencekal bukan mencekal tapi lebih tepatnya menariku kedalam mobilnya.
"Lepas!!!!"
Dia hanya diam dan menarik tanganku kemobilnya.
"Ibra lepas!!!!"
Dia masih diam, ketika sampai dimobil dia membukakan pintu mobilnya dan tanpa bicara dia mendorong aku masuk kedalam mobilnya. Setelah Ibra masuk, dia langsung menghidupkan mobil dan pergi entah kemana. Aku tahu saat ini Ibra sedang emosi, aku memilih diam.
"Kenapa kamu ngelakuin ini sama aku, Qill?"
Aku diam tak menjawab.
"Kamu tahu aku masih cinta sama kamu. Bahkan hingga detik ini aku nggak pernah bisa lupain kamu."
Hatiku menghangat mendengar pengakuan Ibra, tapi aku tepis rasa hangat itu. Tidak ini tidak boleh. Ibra sudah menikah dan aku tidak mau menjadi Nesya yang dulu menjadi sandungan dalam rumah tanggaku dengan Ibra dulu. Cukup aku yang merasakan sakit, jangan yang lain.
"Anda tidak berhak berbicara seperti itu pada saya tuan."
Setelah aku berkata seperti itu Ibra menghentikan mobilnya dipinggir jalan yang sepi.
"Aku nggak suka kamu bicara seperti itu"
Aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Ibra menciumku? Ini nggak boleh terjadi. Aku berusaha melepaskan bibirku dari bibir Ibra tapi tenaga ku kalah dibanding tenaga Ibra. Aku hanya bisa diam dan pasrah, saat ini aku benar-benar merasa bersalah pada Nesya. Setelah beberapa menit Ibra melepaskan tautan bibirnya lalu menempelkan keningnya dengan keningku. Sesaat aku hanya bisa meresapi rasa bibir Ibra dibibirku, rasanya masih sama. Sayangnya itu bukan milikku lagi. Aku memalingkan wajahku, enggan menatap Ibra lebih lama lagi. Karena aku yakin hati ini masih milik Ibra, aku tidak mau menghancurkan hati yang lain.
Setelah Ibra menjauhkan diri dariku, aku bergegas membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Setetes air mata turun dipipiku, aku tidak boleh menangis. Aku masih memiliki Timmy.