Ibra Pov
Rasa bibir itu masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Ya ampuuun, aku sadar apa yang aku lakukan ini adalah salah. Tidak seharusnya aku mencium Aqillah, saat ini dia sudah menikah. Aku dapat melihat tetesan air mata yang keluar menuruni pipinya, sesak rasanya melihat air mata yang keluar dari mata hazel Aqillah. Tapi aku sendiri pun tak dapat menahan diri.
Setelah malam itu aku tidak pernah bertemu Aqillah lagi. Saat aku datangi rumah orang tuanya, mama bilang kalau Aqillah sudah kembali ke kota yang dia tinggali sejak kami bercerai. Tapi, ketika aku bertanya kotanya dimana mama tidak mau memberi tahu padaku. Aku benar-benar merasa bersalah pada Aqillah, terutama suaminya. Bagaimana tanggapan suami Aqillah padanya jika suaminya tahu tentang ciuman kami? Oh, aku tidak mau membayangkannya.
°•°•°•°
Sekarang aku kembali ke kota kecil yang bisa di bilang sibuk karena jam segini masih cukup banyak anak-anak muda maupun dewasa yang nongkrong dicafe. Aku belum makan malam, aku mampir kesalah satu cafe. Perutku berontak minta diisi.
"Permisi mas, silahkan ini menunya. Mau pesan apa?"
"Saya pesan Avocado Green Tea sama Mozarela Chiken."
"Saya ulangi lagi ya mas pesananya, satu Avocado Green Tea dan satu Mozarela Chiken?"
Aku tidak menjawab, hanya anggukan kepala saja yang mewakilinya. Setelah itu aku mengecek email masuk seputar pekerjaanku. Saat sedang menyelasaikan sedikit pekerjaan, aku mendengar suara yang tidak asing lagi bagiku.
"Timmy tungguin mama."
Aku mematung mendengarnya, aku mengenal suara itu, Aqillah. Apa dia disini?
"Ayo mama, Timmy mau jalan-jalan sama om Axel."
Aku menoleh kebelakang, sontak mataku membulat sempurna. Benar itu Aqillah, jadi selama ini dia tinggal di Prabumulih? Kulihat Aqillah berdiri kaku ditempatnya begitu mata kami bertemu. Dia nampak tak percaya jika aku berdiri tak jauh darinya.
"Papa."
Aku menunduk melihat anak kecil yang dikejar Aqillah tadi. Bukankah ini anak yang tempo hari pernah tanpa sengaja menabrak ku? Aku berjongkok menyamakan tinggiku dan dia.
Tiba-tiba wajahnya sendu dan gadis kecil itu memelukku sambil terus bergumam memanggil 'papa'. Apa maksudnya ini? Tunggu, aku ingat nama belakang gadis ini Syarief. Apa mungkin? Aku menggendong gadis kecil yang sekarang masih menangis dipelukkan ku untuk menghampiri Aqillah. Aku butuh penjelasan.
"Jelaskan." aku mengucapkan itu dengan tegas. Tanpa mengucapkan apapun Aqillah berlalu kesuatu ruangan. Apa mungkin cafe ini milik Aqillah?
Ku lihat Aqillah duduk dengan gelisah, apa mungkin kecurigaan ku benar?
"Jelaskanlah sekarang, Qilla."
Hening
Hanya helaan nafas yang terdengar di ruangan ini dan juga isakan gadis kecil di pelukanku. Aqillah beranjak dari duduknya menghubungi seseorang, tak lama seorang wanita masuk dan mengambil gadis kecil ku dan mereka keluar dari ruangan ini.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Siapa anak kecil itu?"
"Anak ku." jawabnya singkat, tentu saja aku tahu itu anaknya
"Aku tau itu. Siapa namanya?" aku ingin memastikan jika apa yang ada dalam pikiranku benar adanya.
Aqillah tak langsung menjawab pertanyaan ku, dia menarik nafas dan memejamkan matanya sebentar.
"Namanya Timmy atau Fatimah Az Zahra...Syarief."
"Sya...Syarief? Jangan bilang dia anakku, Aqillah!" aku berteriak marah.
Aqillah, diam menunduk tanpa menjawab pertanyaanku. Jadi dia anakku? Darah dagingku?
"JAWAB AKU AQILLAH." Aku sudah benar-benar emosi, aku tak habis pikir. Mengapa Aqillah menyembunyikan anak kami selama ini? Dia membiarkan suaminya dipanggil ayah oleh anakku, sementara aku sendiri tidak tahu kalau ternyata selama ini aku memiliki seorang putri yang cantik. Ya Allah, sebenarnya ini salah siapa?
"Ya, dia darah daging kamu. Anak kandung kamu."
Aku merasa bahagia, aku punya anak? Aku punya anak? Selama ini impianku itu nyata. Aku punya anak. Tapi aku juga kecewa, kenapa Aqillah tidak memberitau ku bahwa kami mempunyai anak?
°•°•°•°
Aqillah Pov
"Tolong kamu ceritakan semuanya, Qill. Jangan terlewatkan sedikitpun. aku papanya, aku ingin tahu semua tentang putriku."
Aku menceritakan semua dari awal aku hamil sampai melahirkan, tidak ada yg aku tutupi. Bahkan, aku juga menceritakan tentang jalan-jalannya Timmy bersama Oma dan Opanya, mata Ibra langsung membulat kaget.
"Jadi selama ini papi sama mami sudah tahu tentang Timmy?"
"Tidak, papi baru tahu saat kami bertemu di pernikahan bang Daryl." Aku membantah tuduhan Ali.
"Kenapa kamu tidak memberitau ku kalau sedang hamil saat itu, Qilla?" jelas aku bisa menangkap nada frustasi di pertanyaan Ibra tadi.
"Kamu sendiri tahu kenapa aku tidak memberitahu kamu saat aku hamil Timmy. "
"Lalu suami kamu, apakah dia bisa menerima Timmy dengan baik? Karena aku nggak mau Timmy mendapatkan perlakuan kasar dari siapapun."
Dasar Ibra gila. Dia yang udah nikah eh, malah ngomongin suami segala. Nggak tahu apa kalau aku masih Cinta sama dia? Eh, astagfirullah, aku nggak boleh gini. Kasian Nesya, sekarang dia istri Ibra. Aku juga harus menghargai perasaannya, dengan tidak terlalu dekat dengan Ibra. Aku tidak mau mengganggu rumah tangga mereka.
"Lalu gimana dengan istrimu? Apa dia bisa nerima Timmy nanti? Setidaknya saat Timmy bersamamu dia tidak kehilangan sosok ibu."
"Istri?" tanya Ali sambil mengernyitkan keningnya. "Aku belum bilang kalau aku itu..."
Sebelum Ibra menyelsaikan kalimatnya aku melihat Axel masuk dengan Timmy di gendongannya. Axel mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya 'Dia papa Timmy?'. Mungkin Timmy sudah menceritakan kedatangan papanya pada Axel. Aku membalas tatapannya dengan mengangguk pelan, kemudian Axel tersenyum miring. Axel dan Timmy berjalan kearahku. Aku terkejut bukan main saat Axel mencium pipiku. Axel itu isengnya kelewatan, ini pasti dia ngisengin Ibra.
"Hai, sayang. Jadi mau dinner bareng?"
Aku melirik Ibra, dari mukanya saja aku tahu kalau dia sedang menahan marah sekarang. Apa dia cemburu? Tidak mungkin. Aku ingat Ibra itu adalah orang yang sangat cemburuan dan posesif. Aku menghela nafas sebentar.
"Iya jadi, aku selesein urusan aku dulu. Kamu sama Timmy tunggu dimobil aja?"
Timmy melihatku seolah minta persetujuanku untuk menghampiri papanya. Aku menunjukan senyumku sebagai jawaban. Timmy berbisik ditelinganya Axel, sepertinya Timmy minta diturunkan. Axel menurunkan Timmy dari gendongannya, Timmy langsung berjalan ke arah papanya.
"Pa, Timmy mau berangkat dulu ya. Nanti kita ketemu lagi. Meskipun Timmy masih kangen papa tapi Timmy harus makan dulu, supaya Timmy kuat dan bisa jagain mama."
Ibra tertegun mendengar ucapan Timmy. Matanya nampak berkaca-kaca. Mungkin dia tersentuh dengan ucapan Timmy. Anak sekecil Timmy saja berusaha melindungiku tapi dia sendiri malah menyakitiku.
"Iya sayang. Besok mau ya papa jemput! Maen sama papa? " Ibra bertanya dengan penuh harap. Timmy tidak langsung menjawab tapi dia menoleh padaku dan Ibra pun melihat padaku, aku mengangguk mengiyakan.
"Iya pa. Timmy berangkat dulu ya, pa. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Setelah Axel dan Timmy keluar, saat aku hendak menyusul mereka Ali mencekal tanganku.
"Kita belum selesai bicara, Qill. "
"Aku tahu, tapi tidak sekarang karna Axel dan Timmy sudah menungguku, permisi. "
Mungkin memang sudah waktunya Timmy mengenal papanya. Aku juga harus ikhlas jika nanti Timmy memanggil Nesya dengan panggilan mama atau apapun, karena saat ini status Nesya adalah istri dari papanya Timmy. Aku harus menguatkan hati dan mengikhlaskan semuanya agar terasa lebih mudah.