Author Pov
Selepas kepergian Aqillah, Ibra masih berdiam diri diruangan Aqillah. Disana ada foto seorang bayi mungil cantik sedang mengerjapkan mata kecilnya, yang diyakini Ibra itu adalah foto Timmy saat masih bayi. Dari baru lahir saja anaknya itu sudah cantik, mata hazelnya sama dengan milik Aqillah.
Andai papa juga ada saat itu. Papa akan jadi salah satu orang yang paling bahagia.
Ibra tersenyum memandang foto Timmy. Di sana dia juga melihat foto Aqillah sedang menggendong Timmy. Mungkin di foto ini Timmy berusia lebih dari enam bulan atau bahkan satu tahun. Senyum manis Aqillah terlihat bersama dengan senyum Timmy yang menunjukan giginya.
Satu foto yang membuat Aqillah tertegun. Sepertinya itu foto Aqillah saat dia setelah melahirkan Timmy. Nampak wajah Aqillah masih pucat tapi senyum bahagia terukir di bibir tipisnya.
Dalam hati Ibra merasa bersalah karena tidak ada di samping Aqillah saat dia membutuhkannya. Maafkan aku, Qill. Aku egois dan lebih mementingkan ego, tanpa aku tahu gimana perasaan kamu. Andai kamu belum menikah, aku pastikan kamu kembali kepelukanku lagi. Tapi kamu sudah menikah, meskipun aku sangat mencintaimu, aku tidak akan pernah sanggup melihat kamu terluka. Cukup dulu aku menyakiti kamu. Kecuali kamu di sakiti suamimu, maka aku akan merebut kamu dan Timmy kembali ke pelukanku lagi. Ibra bersumpah dalam hatinya sambil melihat foto Aqillah sedang menggendong Timmy.
Ruangan Aqillah dipenuhi foto Aqillah dan Timmy ada beberapa foto lain juga, seperti foto Daryl sedang menggendong Timmy saat Timmy baru lahir.
Timbul rasa iri dalam hatinya melihat semua foto-foto itu. Ibra melangkahkan kakinya dari ruangan Aqillah hendak keluar dari cafe milik Aqillah itu, tapi ada yang memanggilnya. Perempuan itu adalah perempuan yang tadi mengambil Timmy saat mereka ingin berbicara.
"Maaf mas, saya hanya mau bilang. Tadi saat masnya masuk ruangan teteh, makanan yang mas pesan datang. Kata teteh kalau masnya tidak mau makan disini bisa kami bungkus."
"Ah iya, maaf saya lupa. Biar saya makan disini saja." jawabnya, lalu melangkah ke meja yang tadi didudukinya dan melihat makanan yang sudah dingin. Melihat itu Dian -waiter- yang sudah ditugaskan Aqillah untuk melayani Ibra, langsung berkata
"Maaf mas, jika mas mau menunggu biar kami ganti dengan makanan yang baru."
"Tidak, tidak usah. Biar saya makan yang ini saja."
Setelah mengatakan itu Ibra duduk dan menyantap makanan yang telah dia pesan sebelumnya.
°•°•°•°
Didalam mobil yang dikemudikan oleh Axel, hanya terdengar celotehan lucu khas Timmy.
"Tante Ina, nanti abis makan malem kita jalan ya!"
"Kalau Timmy mau jalan, tanya dulu sama om Axel mau nggak nganterin kita jalan." Ina atau Sabrina Dwi Kusuma adalah tunangan dari seorang polisi tampan bernama Axel Wijaksana
"Mau ya om." ucap Timmy merayu Axel dengan gaya khasnya mengedip-ngedipkan mata. Sabrina yang melihat itu hanya bisa tersenyum, namun pandangannya jatuh pada orang yang duduk disebelah Timmy, Aqillah. Sejak tadi Aqillah tak sedikitpun mengeluarkan suaranya, lantas Sabrina melirik Axel yang juga meliriknya. Seolah tahu apa arti dari lirikan tunangannya Axel hanya mengendikan bahunya
"Aqillah, kamu kenapa?" tanyanya lembut.
Bagi Aqillah, sejak dia tinggal dikota Prabumulih. Yang dia punya di sini adalah Laras sahabat sekaligus kakak iparnya kini. Lalu Axel sepupu Laras yang selalu menjaganya dan Timmy, seperti dia menjaga Laras. Terakhir, Sabrina tunangan Axel, Sabrina adalah kakak terbaik yang tak pernah dia miliki. Sabrina tahu semua masalahnya dari masalah kecil hingga masalah yang besar. Selain Laras, Sabrina juga menjadi tempatnya berkeluh kesah.
"Aku nggak apa-apa kak." jawab Aqillah singkat, tak lupa memberikan senyumnya. Tapi Sabrina tahu Aqillah sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Untuk saat ini Sabrina akan diam tapi begitu tiba di rumah nanti dia akan menanyakannya pada Aqillah.
°•°•°•°
Ibra Pov
Hari ini pekerjaanku tidak terlalu banyak jadi aku bisa pulang cepat. Rencananya hari ini aku akan mampir ke cafe Aqillah, aku merindukan princess kecilku. Emm, mungkin merindukan mamanya juga.
Aish, bicara apa aku ini? Aku tidak boleh seperti ini. Aku tidak mau karena sikapku ini nanti akan membuat Aqillah dan princess kecilku tersakiti.
Sebenarnya aku penasaran, siapa laki-laki yang semalam datang itu. Kelihatannya dia sudah akrab sekali dengan Aqillah dan Timmy. Seingatku itu bukanlah wajah suami Aqillah. Entahlah, aku jadi pusing memikirkannya. Kenapa setelah kami berpisah makin banyak lelaki di sekitar Aqillah?
Sesampainya aku dicafe aku disambut oleh waiter yang kemarin melayaniku, mungkin dia asisten Aqillah atau orang kepercayaan Aqillah.
"Selamat siang mas. Ada yang bisa saya bantu?"
"Apa Aqillah ada?"
"Oh, teteh sedang keluar tapi diruangan teteh ada neng Timmy baru pulang sekolah tadi diantar oleh mas Axel."
Axel, nama itu? Bukankah pria itu yang semalam pergi dinner dengan Aqillah dan Timmy?
"Kamu kenal Axel?"
"Tentu, mas Axel itu sering kesini nemuin teteh atau Timmy. Mas Axel kan sepupunya mbak Laras."
Aku hanya menganggukan kepala saja. Berlalu keruangan Aqillah. Di sana Timmy sedang duduk dengan ponsel di tangannya. Sepertinya dia belum mengetahui kalau aku ada disini.
"Hai, anak papa yang cantik."
Nampaknya Timmy terkejut mendengar suaraku, namun setelah itu dia tersenyum melihatku. Senyum itu adalah senyuman milik Aqillah.
"Assalamualaikum, papanya Timmy. Kata mama kalau kita ketemu orang,yang pertama kali harus kita lakukan adalah mengucapkan salam, pa. Terus kata mama juga mengucapkannya adalah sunnah dan bagi yang mendengar wajib menjawab."
"Eh, Wa'alaikumussalam, Timmynya papa. Wah pinternya anak papa bisa inget apa yang diajarin mama."
Timmy tersenyum bangga. "Kata mama, hal yang kayak gitu nggak boleh kita lupain."
Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan pada Timmy. Tapi aku merasa takut akan jawabannya tak sesuai dengan apa yang aku inginkan. Tapi, tak apalah dari pada aku penasaran.
"Emm, sayang. Waktu pertama ketemu papa, kenapa kamu nggak ngenalin papa? Sedangkan kemaren kamu ngenalin papa!"
"Waktu pertama ketemu papa, sebenernya Timmy lupa tapi pas sampe rumah baru Timmy inget kalau itu papa. Timmy sedih, pas pertama ketemu papa nggak ngenalin Timmy." Timmy berkata dengan nada sedih dan tatapan mata yang sendu. Oh sayang, maafkan papa.
"Terus Timmy dari mana tahu kalau itu papa?"
"Kan foto papa banyak dikamar Timmy."
Waw, jawaban yang sangat mengejutkan. Jawaban polos yang keluar dari bibir Timmy membuatku merasa bahagia. Mungkinkah sebenarnya Aqillah belum bisa melupakan aku? Lalu apa suaminya tak marah Aqillah meletakkan foto ku di kamar Timmy?
"Foto apa aja yang ada?"
"Ada foto papa pake kacamata dan earphone." Timmy menunjukkan foto ku, foto itu di ambil saat aku masih kuliah. "Terus ada juga foto papa pake topi kebalik. Kata mama fotonya di ambil pas papa masih kuliah. Di ponsel Timmy juga banyak foto papa, ada juga foto papa bareng mama."
"Boleh papa liat ponsel Timmy?"
Timmy menyerahkan ponsel yang di pegangnya tadi padaku. Ketika membuka galeri foto disana, ada beberapa folder. Ada folder yang berisi foto-foto Timmy, foto Prilly dan juga ada folder penuh dengan foto-foto ku. Satu folder yang membuatku tersenyum. Disana tertulis 'Papa dan Mama Timmy' isinya foto-foto kebersamaanku dan Aqillah saat kami pacaran sampai menikah. Aqillah juga masih menyimpan foto kami saat selesai Ijab Qabul dulu.
Saat sedang melihat-lihat foto yang berada di ponsel Timmy, pintu ruangan Aqillah terbuka. Meskipun sudah mempunyai anak tapi penampilan Aqillah masih layaknya anak sekolahan. Wajar saja bila banyak yang menyukainya dan wajar pula sekarang dia sudah bersuami. Inilah kenyataan yang paling membuatku sakit hati. Aqillah ku, kini bukan miliku lagi tapi sudah milik orang lain.