° Mantan Tersayang - 10 °

1416 Kata
Aqillah Pov Hari ini aku tidak bisa menjemput Timmy, karena ada meeting dengan investor yang akan membantuku membuka cabang cafe di Bandung. Mungkin ini saatnya aku dan Timmy kembali ke Bandung, toh semuanya sudah tahu keberadaan Timmy. Tadi aku sudah menghubungi kak Ina, tapi dia tidak bisa karena dia juga sedang ada pekerjaan. Untungnya ketika aku menelfon Axel, dia kebetulan dinas di luar jadi bisa menjemput Timmy ku tapi tidak bisa menemaninya di cafe. Selesai meeting aku langsung ke cafe. Kata bang Axel, tadi Timmy minta di ambilkan ponselnya. Kalau sudah main ponsel, biasanya dia suka lupa waktu makan. Harus disuapi, apalagi kalau sudah melihat galeri fotonya. Sesampainya di cafe, Dian menghampiriku mengatakan bahwa ada yang mencari ku. "Terus orang yang nyariin saya dimana sekarang?" "Dia nunggu diruangan teteh sama neng Timmy." Semua pekerja di cafe memanggil ku teteh, awalnya mereka semua memanggil ku boss. Mana mau aku dipanggil begitu. Jadi aku meminta mereka memanggil ku teteh dan neng untuk Timmy. Aku berjalan menuju ruangan ku. Mataku terpaku sesaat melihat tamu yang dikatakan Dian tadi, aku mendengus melihat penampilan tamu itu. Setelan serba hitam yang dari dulu selalu dia suka. Kaos lengan panjang, kupluk, topi, kaca mata, dan jeans hitamnya. Dia ini paling hobby pakai setelan hitam-hitam seperti itu. Padahal mah udah punya istri dirumah, masih aja mau tebar pesona. Dasar playboy cap ikan terbang. "Mau ngapain kamu kesini?" aku bertanya to the point dan jangan lupakan nada ketus yang ku buat. Dia melirik kearah ku sebentar lalu kembali fokus ke ponsel Timmy yang di pegangnya. Sedangkan Timmy dengan nyaman duduk di pangkuan papanya. "Aku cuma mau ketemu Timmy dan pengen ajak dia jalan. Sekalian liat pertunjukan kembang api." jawabnya tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel Timmy. "Silahkan. Tapi tolong sore nanti antarkan kembali kesini karena hari ini papapnya pulang dari Singapura." "Oh oke." "Timmy mau nggak ikut papa jalan-jalan? Terus mampir ke hotel tempat papa nginep." Timmy menatapku minta persetujuan. Aku tersenyum kearahnya, tak lama wajah Timmy sumringah. Aku bahagia bila anaku bahagia, meskipun kelak hatiku sakit karena mendengar Timmy memanggil wanita lain mama. Malam ini ada pertunjukan kembang api, makanya bang Axel dinas diluar karena dia harus mengamankan acara. Sebenarnya tadi Doni, lelaki yang dua tahun terakhir ini mendekati ku dan Timmy, dia juga mengajak kami untuk nonton pertunjukan kembang api itu bersama tapi aku menolaknya dengan halus. Aku mengatakan jika aku ada kerjaan yang harus aku selesaikan. Padahal nyatanya tidak ada, aku hanya tidak mau sebab bagaimanapun saat ini hatiku masih terkunci pada sosok lelaki yang tengah bercanda dengan putri kecilku. Entah mengapa sulit sekali mengeluarkan Ibra dari hati dan pikiranku. °•°•°•° Ibra Pov Papap? Siapa? Apa mungkin itu panggilan Timmy untuk suami Aqillah? Jujur, aku merasa cemburu saat ini. Karena suami Aqillah lebih lama bersama dengan Timmy, sedangkan aku belum dua puluh empat jam tahu bahwa dia anak kandungku. Aku ingin sekali Aqillah ikut bersama kami, tapi aku tak siap untuk penolakannya. Emmm mungkin lebih baik aku coba saja dulu. "Hmm, Qilla. Apa kamu mau gabung sama aku dan Timmy?" Sebelum Prilly menjawab bibir kecil putriku sudah menghentikannya. "Mama ikut aja ya sama Timmy dan papa. Lagian Om Axel dan Tante Ina pasti tidak menonton. Nanti mama sendirian kalau Timmy tinggal mama. Mama ikutan yaaa!" Aqillah diam, nampak berpikir. Namun aku yakin Aqillah tidak pernah menolak keinginan Timmy. "Oke baiklah. Lebih baik kita pergi sekarang karena kalau tidak nanti kita telat?" Timmy bersorak riang karena mamanya mau ikut bersama kami. Kesal dan marah rasanya. Kenapa dulu aku begitu bodoh menyakiti dan melepaskannya! Padahal saat itu Aqillah sedang mengandung Timmy. Andai aku tidak bertindak bodoh, pasti aku bisa mempunyai waktu lebih banyak dengan Aqillah dan Timmy. "Ayo sayang papa gendong." Saat aku sudah mengulurkan tangan ku dan siap menggendong Timmy, Aqillah kembali bersuara. "Timmy udah gede, jangan di gendong." Baiklah, lebih baik ikuti kata-kata Aqillah dari pada berdebat dan berujung tidak jadi menikmati pertunjukan kembang api nanti. Hari memang masih siang tapi aku yakin jalanan pasti macet untuk menuju kesana. Suasana dalam mobil sangat hening, tidak ada yang memulai pembicaraan baik aku atau Aqillah. Timmy, dia sedang asik memainkan ponsel kesayangannya. Suara ponsel Aqillah memecah keheningan yang ada di antara kami. "Sayang, ini daddy kayaknya mau facetime sama kamu." "Mana, Ma? Sini ma biar Timmy yang angkat." ucap Timmy riang. Daddy? Siapa lagi sih? Tadi papap, sekarang daddy. Ugh, ini membuatku benar-benar pusing. "Hallo daddy, Assalamualaikum." "Hallo juga Princess daddy, Wa'alaikum salam. Do you miss me Princess?" "Yeah, i miss you so much daddy. Kapan kesini?" "Oh i'm so sorry Princess, tadinya daddy, ayah dan papap ingin menemani new year Timmy dan Mama. Tapi kerjaan daddy dan ayah menumpuk sayang, jadi yang pergi hanya papap. Tak apakan Princess?" "Tak apa daddy." Timmy menjawab dengan nada sedih. "Oh sayang, please don't cry Princess." Tanpa berkata apa-apa Timmy menyerahkan ponsel itu pada Aqillah. "Dia sedang menangis." jelas Aqillah saat ponsel ditangannya. "Sayang, kamu lagi ada dimobil?" "Iya, aku mau ke Palembang, nemenin Timmy nonton pertunjukan kembang api nanti malam." "Ke Palembang? Are you kidding me? Just you and Princess?" "No, but i'm with eemmm, with Ibra." Aqillah menjawab dengan nada ragu. "Ibra? Papa Timmy, right?" "Yah." "Aku matikan dulu telfonnya. Assalamualaikum." "Wait, aaaahh." Kelihatannya Aqillah pusing. Apa suaminya marah Aqillah pergi denganku? Tapi dari nada bicaranya, seperti tidak keberatan? "Suami kamu marah?" "Maksud kamu?" dia terlihat bingung. Huh, ditanya malah balik nanya. "Yang tadi telepon it..." Sebelum aku berhasil menyelasaikan kata-kata ku, handphone Aqillah berbunyi lagi. "Hallo." ..... "Ya, aku ngerti." .... "Iya ih kamu mah bawel." .... "Nghak mungkin, diakan udah ada yang punya." .... "Awas aja kalau pulang aku nggak akan mau masakin makanan kesukaan kamu." .... "Mau ngapain?" .... "Jangan macem-macem ya." Setelah mengatakan itu Aqillah menengok ke arahku. "Ini daddy Timmy mau bicara." "Ya hallo." "Senang bisa bicara dengan anda langsung. Saya Boy, daddynya Timmy." WHAT?! Enak saja dia mengaku-ngaku. Jelas-jelas aku ayah kandung Timmy. "Saya Ibra, PAPAnya Timmy." Sengaja aku tekankan kata papa agar dia tau porsi dan tempatnya yang hanya sebagai ayah tiri. "Wow, santai. Saya tahu kamu mantan suami ISTRI SAYA." sialan dia sengaja menekankan kata ISTRI SAYA, iya aku juga tahu kalau dia sudah menikah. "Saya hanya mau berpesan, tolong jaga Aqillah dan Timmy baik-baik." "Saya tahu apa yang harus saya lakukan." "Baguslah. Tolong berikan handphonenya pada ISTRI SAYA lagi." Brengsek lelaki itu benar-benar ingin mencari ribut disini. Aku memberikan handphone itu pada Aqillah. Saat ini Aqillah masih ngobrol dengan suaminya. Timmy? Dia ngambek duduk dibelakang sedang memainkan ponsel ku. °•°•°•° Author Pov Sesampainya di Palembang Ibra, Aqillah dan Timmy mencari tempat untuk mengisi perut mereka. Sekarang sudah jam 20.00, masih 4 jam menuju tahun baru. Mereka terlihat layaknya keluarga sempurna. Dalam hati masing-masing mereka berharap suatu saat nanti mereka bisa berkumpul seperti ini. Selesai makan ketiganya bergegas mencari tempat, agar bisa menikmati pertunjukan kembang api malam ini. Tidak ada pembicaraan apapun antara Ibra dan Aqillah, yang terdengar hanya suara celotehan Timmy dan juga suara-suara berisik lainnya. Triiing Merasakan ponselnya berbunyi Aqillah mengeluarkan ponsel dari tasnya. Ternyata w******p dari Levin. Papap Timmy Kamu beneran di Palembang, Dek? Me Iya, lagi nungguin pertunjukan kembang api. Papap Timmy Kenapa nggak bilang sih? Kan kalau aku tahu kamu mau ke Palembang, paling nggak kita pulang bareng. Asal kamu tahu aku sendirian, aku ulangin lagi ya. SENDIRIAN. Aqillah terkikik geli membaca chat dari Levin, yang memang alay. Me Aku juga dadakan ke Palembang, bukan karena udah direncanain. Aku tahu, kamu tahu aku sama siapa kesini, so jangan cerewet. Papap Timmy Iya aku udah dikasih tahu bang Boy. Selesai pertunjukan usahakan pulang. Tanpa disadari Aqillah, sedari tadi Ibra memperhatikannya. Waktu sudah menunjukan pukul 23.55 itu berarti sebentar lagi akan berganti tahun. Ditahun baru ini banyak yang mengharapkan sesuatu yang tidak baik di tahun kemarin tidak terjadi ditahun ini, dan sesuatu yang baik semoga bertambah banyak. Kini semua orang tengah menghitung mundur. 10... 9... 8... 7... 6... 5... 4... 3... 2... 1...... Preeeeet, duar, duar, duar. Ibra, Aqillah dan Timmy berdiri dari duduknya. Aqillah berdecak kagum dengan pemandangan Indah dihadapannya. Mereka berdua, ralat. Mereka bertiga sama-sama memanjatkan doa. Aku berharap tahun ini aku bisa disatukan kembali dengan orang yang sangat aku cintai, hingga detik ini. Tanpa mereka sadari, Ibra dan Aqillah mengucapkan harapan mereka di dalam hati secara bersamaan. Sedangkan Timmy, Ya Allah Timmy mohon, semoga tahun ini Timmy bisa liat mama dan papa bareng. Timmy pengen kayak temen-temen yang lain, kalau sekolah nanti bakal dijemput Papa dan Mama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN