* Bab. 1.
"Saya Trima nikah dan kawin nya Prameswari dewanti binti wicaksono dengan mas kawin seperangkat alat sholat, 1set perhiasan berlian dan rumah seharga 1 miliar di bayar tunai" ucap Albert sekali hentak di depan penghulu dan para saksi dan kedua orang tua Prameswari dan juga Prameswari yang saat itu sedang melakukan video call dengan sang ayah.
"bagaimana saksi" tanya penghulu memecang keheningan di sekitar.
"sah..." jawab saksi serempak yang langsung di matikan video call sama Prameswari tanpa ingin tau kelanjutan nya.
Prameswari dewanti saat ini sedang menyeka keringatnya, perjalanan dari tempat nya bekerja di Cafe tidak terlalu jauh dari kampus tempat nya menimbah ilmu. Gadis semester akhir yang hanya tinggal menunggu wisuda mencoba untuk berteduh menunggu sahabatnya yang akan datang sebentar lagi di bawah pohon rindang di depan kampus. Nampak dari jauh seorang gadis menghampiri Prameswari dewanti berada.
Damayanti sahabat yang selalu menemani dalam suka dan duka bahkan kala wawa nama singkat pemberian Damayanti saat terpuruk dan terjatuh Damayanti selalu menemaninya hingga Damayanti meminta wawa untuk tinggal menempati rumah pemberian orang tuanya.
" sorry wa... Lama ya nunggu!". Tanya Damayanti dengan menyodorkan air mineral yang di bawa nya dari rumah ke kampus.
"enggak lah nyante aja, aku juga baru aja nyampe kok!, thanks ya!". jawab Prameswari tersenyum menggapai air mineral dari tangan Damayanti dan meminumnya.
" tumben ngampus kan tinggal nunggu wisuda aja?" tanya Damayanti heran karena mereka hanya tinggal menunggu wisuda.
" ada perlu yan, ada temuin dosen katanya suruh ambil berkas dan ada yang mau di tanyakan ke aku!" jawab Prameswari melihat chat dalam aplikasi hijau yang ditunggu.
* profesor ari - * selamat siang. Saudari Prameswari bisa menemui saya sekarang di ruangan saya. Saya tunggu!.
* profesor ari.
* Prameswari - * baik profesor ari saya akan keruangan bapak sekarang! * Prameswari Dewanti.
Prameswari Dewanti menunjukkan chatnya dengan profesor ari kepada Damayanti.
" ok, yo kita jalan. Aku tunggu kamu di depan ruang profesor ari ya...gak usah kuatir. Kalau ada apa apa teriak atau gedor pintu ntar aku langsung terobosan". Ucap Damayanti tersenyum penuh arti.
"gila kamu yan...dasar..... Emang orangnya mau ngapain di kampus. Mau di jitak?" jawab Prameswari terkekeh dengan ucapan Damayanti yang kadang suka rendom
Mereka pun bangun melangkah menelusuri lorong kampus menuju ruangan profesor ari. Ruangan yang nampak kosong membuat mereka berdua tidak harus berlama menunggu untuk mengetuk pintu. Damayanti duduk di bangku yang tersedia di depan ruangan profesor ari, Prameswari melangkah ke depan pintu mengetuk pintu.
****Tok... Tok... Tok... *****
Setelah ada perintah masuk prameswaripun masuk dalam ruangan profesor ari sedang Damayanti memberi kode menunggu di ruang tunggu.
" masuk Prameswari dan silakan duduk. Saya ingin menyerahkan berkas rekomendasi dari sebuah perusahan besar di sini. Jika kamu berminat silakan kamu buat cv mu, serahkan langsung dan temuin orang di kartu nama ini." profesor ari pun menyerahkan berkas dan file yang di berikan dari perusahaan besar Vin Group yang berpusat di Inggris dengan anak cabang berada di beberapa negara termasuk Indonesia.
" trimakasih profesor ari atas kesempatan yang di berikan kampus untuk memberi kesempatan kepada saya" jawab Prameswari. Mengambil berkas, file dan kartu nama yang diserahkan profesor ari kepadanya.
"oh ya... Ini kesempatan bagus untuk kamu Prameswari. Dan itu dari perusahan langsung yang di tujukan kepada kamu dan hanya kamu satu satu nya yang di beri kesempatan oleh mereka jadi saran saya kamu terima, itu kesempatan langkah yang belum tentu datang 2 x " lanjut profesor ari memberi penjelasan panjang lebar kepada Prameswari.
"iya, profesor. Trimakasih banyak atas kesempatan nya. Saya undur diri profesor ari" pamit Prameswari karena Prameswari tidak ingin berlama lama berhadapan dengan profesor ari yang menatap nya dengan tajam dan itu membuat Prameswari jengah.
Prameswari pun membuka pintu, keluar dari ruangan profesor ari, memberi kode Damayanti untuk ikut keluar dari ruang profesor ari
Prameswari dan Damayanti berjalan menyusuri lorong kampus untuk keluar kampus.
" kamu gak ada urusan di kampus yan" tanya Prameswari kepada Damayanti yang berada di sampingnya.
"urusan aku udah kelar semua tinggal wisuda aja, ntar wisuda orang tuamu hadir gak wa !" tanya Damayanti balik ke Prameswari.
" aku kurang tau, kalau ayah ingat sama aku. insyaallah ayah akan datang. Kamu tau sendiri ayahku takut sama ibu tiriku dan anak kandungnya! " jawab Prameswari lugas tanpa ada kebencian terhadap ayah nya, bagi Prameswari, di sekolahan sampai SMA oleh ayah nya wawa sudah bersyukur karena kuliah di sini adalah pilihan yang dipilih dengan beasiswa dan kerja part time yang di lakukan di Selah jam kuliah
hingga Prameswari dan Damayanti bisa menjalankan bisnis Cafe bersama dengan join modal dari hasil tabungan yang di kumpulkan Prameswari.
"udah gak usah sedih masih ada papa sama mama ku. Mereka akan wellcome untuk kamu,!" ucap Damayanti tersenyum kearah Prameswari lalu memeluknya erat.
"santai aja kamu kenal aku buka setahun dua tahun bahkan kita tinggal bersama bertahun tahun jadi kamu lebih tau gimana aku. Untung orangtuaku gak pernah tau aku punya usaha di sini kalau tau pasti kamu lebih ngerti adik tiriku kan" bisik Prameswari nelangsa membalas pelukan Damayanti.
" udah biarkan mereka bahagia dengan kehidupan mereka seperti kamu yang udah bahagia disini bersama aku dan keluargaku!" jawab Damayanti tersenyum menenangkan Prameswari yang sedih merasa sendirian. Tidak ada dari keluarganya yang peduli dan sayang padanya bahkan ayah nya sendiripun tidak pernah menghubungi nya selama Prameswari kuliah, bahkan untuk menanyakan kabar dan keadaan nya.
" oh ya,ngapain profesor ari menyuruh kamu datang keruangan beliau hari ini, Prameswari? ". Tanya Damayanti dengan kekepoan nya karena penasaran.
"oh itu profesor ari memberi berkas rekomendasi kerja dari perusahaan vin group, dan beberapa file yang harus di isi kalau aku ingin menerima tawaran kerja dari vin group kemudian mengantarkan kepihak perusahaan untuk menemui seseorang yang berada dalam kartu nama yang udah di serahkan ke aku". Jawab Prameswari panjang lebar sesuai keinginan profesor ari.
" vin group,...?????. Serius kamu dapat tawaran kerja dari sana!!!!!. Kita kan sering ikut seminar dari perusahan itu dan ceo nya ganteng kayak oppa korea padahal beliau keturunan Inggris, sayang orangnya dingin dan arogan?!" jawab Damayanti mengingat ceo dari vin group".
" ih serius kita pernah ikut seminar dari vin group, kapan kok aku gak ingat ya... Yan!! ". Tanya Prameswari berusaha mengingat semua seminar yang terlalu banyak seminar yang di ikuti.
" saat kita di semester 4,5,6 emang kita sering ikut seminar, banyak banget seminar yang kita ikuti juga tapi dari semua kita selalu aktif tapi 3x kalau gak salah kita ikut seminar dari vin group." jawab Damayanti memasang wajah serius mengingat semua dan jadwal seminar dari perusahaan ternama.
" karena banyaknya seminar sampe aku gak ingat dari mana aja...hadeh...." jawab Prameswari bingung.
" trus gimana, terima aja deh... kesempatan gak datang dua kali, ntar Cafe biar aku bantu tangani". Ucap Damayanti tersenyum memeluk sahabatnya.
" aku akan pikirin lagi deh..." jawab Prameswari membalas pelukan Damayanti. Merekapun melangkah menuju parkir.
* BAB. 2
Suasana Cafe yang mereka kelolah nampak sangat rame. suasana riuh, suara pengunjung bercampur lalu lalang para pemesan dan pelayan menambah suasana nampak padat. Prameswari dan Damayanti. Yang baru datang langsung berlari untuk membantu para pegawai mereka. Damayanti memegang kasir sedang kan Prameswari memegang barista.
2 jam kemudian suasana yang tadinya riuh mulai terkendali dengan berkurangnya para pengunjung cafe. Tadinya yang pengunjung di d******i anak anak sekolah sudah mulai lengang hanya tinggal pengunjung anak kuliah dan pengunjung lain yang berniat makan atau bersantai bersama teman atau keluarga bahkan sendiri.
" wa, kantor dulu yo. Sekalian makan siang ni???" seru Damayanti sambil memberi kode kepada Prameswari.
" biar anak anak dulu aja mumpung lagi sepi cafe suruh giliran karena pengunjung masih lumayan, ntar kita nyusul. Suruh ceff tio untuk siapin anak anak yang mau makan biar cepat dan suruh ceff tio makan juga. Barista aku yang jaga trus kasir kamu handel dulu ya!!! " ucap Prameswari ke Damayanti.
Damayanti pun mengintruksikan kepada Tia, salah satu pegawai untuk mereka istirahat dan mulai makan dan sholat yang muslim. Tia pun mulai mengajak pegawai yang lain makan dan istirahat juga sholat sedang cafe yang sudah tidak begitu ramr di Handel Prameswari dan Damayanti. Mereka berdua bekerjasama selama 1 jam menghandel pengunjung.
Para pegawai satu persatu mulai keluar dan siaga di posisi masing masing dan Tia yang tadi nya merangkap menjadi pelayan karena rame kembali ke tempat barista.
" mbak wawa, biar Saya yang handel. Mbak wawa kembali ke kantor aja biar gantian makan dan sholat bareng mbak Dama. Kalian pasti lapar banget apalagi mbak wawa tadi pas ke kampus tergesa gesa pasti cape banget" ucap tia ke Prameswari.
"iya mbak tia, saya ma yayan ke dalam dulu ya!!! Semangat kalau rame kayak gini kita bisa buka cabang mbak tia dan makin banyak gajian dan bonus kita" jawab Prameswari mulai mengambil tas dan hp lalu melangkah keluar dari barista menunju ke kantor yang di ikuti Damayanti di belakangnya.
"kamu, pingin makan apa wa!, biar kupesan ma ceff tio suruh antar ke sini aja!. Aku tau kamu pasti cape banget, iya kan!!!" tanya Damayanti berdiri.
"lalapan rebus sambal trasi sama ikan gurami bakar aja yan?!" jawab Prameswari membuka berkas dan file yang di berikan profesor ari.
Setelah mendengar pesanan Prameswari, Damayanti pun melangkah keluar menuju dapur memesan makan minta di antar ke kantor.
Dikantor Prameswari mulai mempelajari berkas juga file membaca dan mulai mengisi yang harus diisi. Bahkan Prameswari mulai membuat cv resume untuk lampiran pelengkap berkas, setelah dirasa cukup lengkap di jadikan satu dalam map lalui masukkan dalam tas.
Beberapa saat ceff tio datang dengan pesanan Prameswari dan Damayanti.
Merekapun makan berdua, mereka menilai resep yang akan menjadi menu andalan di Cafe mereka. Setelah selesai makan mereka telpon Tia untuk memesan kopi dan minuman andalan yang lagi banyak dipesan para pengunjung.
" menu apa yang lagi booming di Cafe kita wa?" tanya Damayanti.
" kalo makanan yang aku makan yan!" jawab Prameswari memberikan ikan di ujung sendok untuk di cicipi Damayanti.
"enak ya!!! Kupikir biasa aja." jawab Damayanti
" lo minuman sementara ini, apa yang banyak di sukai pengunjung!" tanya Damayanti lagi
" kalau minuman yang pasti es cream untuk pengunjung remaja dan anak sma lo para pengunjung lain nya sementara ini coffe masih jadi pilihan terbaik cafe kita". Jawab wawa
" wa ada menu baru yang kira nya bisa tambahkan di menu kita gak?" tanya Damayanti.
" kita rolling aja biar pada gak bosen tapi untuk bahan ikan bakar harus tetap ready takutnya banyak permintaan gurami". Ungkap Prameswari.
"iya itu juga harapanku. Oh ya... Aku ada requests menu dari bali ayam betutu sama ayam Taliwang., kamu bisa bikin ga?, ceff. Tio ." tanya Damayanti menatap ceff tio
" tio belum tau resep itu mbak dama? Gimana resep nya ceff browsing dulu ni?" tanya ceff tio menggelengkan kepala
" itu si gampang ntar aku yang kasih tau resep masakan, kebetulan dulu waktu SMA ada temen kasih dua resep dan udah pernah coba bahkan sering buat juga " jawab Prameswari tersenyum.
" oh resep yang pernah mbak wawa kasih cicip saya waktu itu ya... Yang pedas sekali! " tanya ceff tio menggidikkan bahu.
" bener banget ceff dan itu masih batas wajar biasanya asli nya sangat pedas. Untuk level kepedasan kita pake sesuai selera dan kita buat sambal aja ceff tio, biar pengunjung memberi sambal sesuai selera! ". Jawab Prameswari.
"untuk sambal kita pake sambal apa mbak wawa?" tanya ceff tio lagi.
" untuk sambal kita buat sambal mentah aja deh ceff!". Jawab Prameswari.
"ok sebentar lagi kita coba buat dua menu itu ceff siapkan bumbu nya. Tong ceff siapkan kalau udah selesai panggil saya kita demo berdua ok!!" jawab Prameswari mengeringkan mata tanda siap kolaborasi memasak.
Ceff tio pun undur diri, Prameswari dan Damayanti mulai menikmati makan siang berdua. Setelah makan siang, sholat dhuhur dan istirahat sejenak sesuai rencana Prameswari pun mulai kolaborasi di dapur dengan ceff tio.
Hasil masakan ayam betutu dan ayam taliwang di plenting dan mulai di foto untuk di masukkan dalam menu Cafe. Damayanti sibuk memotret mencari gambar yang bagus dan dapat menarik minat pengunjung.
Para karyawan yang berjumlah 7 dengan ceff tio berkumpul di meja pengunjung suasana lebih sepi dan tenang, mereka mencoba resep baru yang dibuat Prameswari dan ceff tio.
Para karyawan cafe senang dengan rasa menu baru dan mereka merekomenkan untuk dijadikan menu baru yang akan mulai di masukkan mulai besok lusa karena ceff tio ingin lebih mempelajari bumbu agar sama rasa yang di buat Prameswari, karena ceff tio tidak percaya diri dengan rasa masakan yang di buat Prameswari sangat enak, empuk, gurih dan melekat rasa di lidah.
Setelah acara mencicipi menu baru selesai ceff tio mencoba menu baru di dapur sendiri, sisa bumbu yang sengaja di sisihkan oleh Prameswari di simpan ceff tio untuk di jadikan bahan uji coba pembuatan menu baru yang akan dia coba nanti ketika Cafe tutup. Ceff tio tidak ingin mengecewakan Prameswari yang telah menolong nya selama ini.
Ceff tio adalah seorang ceff hotel bintang 5 yang di pecat sepihak dan tidak di beri pesangon setelah di pecat. Mereka bertemu ketika Prameswari baru saja bertemu teman lama yang menginap di hotel tempat ceff tio bekerja, kebetulan Prameswari tidak sengaja bertemu ceff tio yang di fitnah mencuri bahan yang akan di masak sehingga terjadi masalah dengan salah satu pengunjung hotel.
Prameswari yang dari toilet saat itu melihat ceff tio dan mengajak nya bekerja di Cafe yang saat itu baru di bangun nya dan ceff tio sangat senang. Bagi ceff tio dihargai sebagai seorang ceff sangat berharga apalagi setelah dituduh dengan keji oleh rekan nya sendiri. Dan sejak saat itu ceff tio berjanji memberikan yang terbaik untuk Cafe ceff bekerja dan akan membuatnya maju dan besar nama Cafe dia bekerja.
* BAB. 3
Prameswari pagi ini berdiri di lobi VIN Group, dia melangkah menuju ke resepsionis.
" selamat pagi mbak, maaf saya ingin bertemu dengan pak Alex" tanya Prameswari dengan sopan
" ada kepentingan apa ya... Mbak, kalau boleh tau!" tanya resepsionis sopan.
" saya dari kampus xxxxx di suruh menemui pak Alex ada yang harus di serahkan ke beliau." warta Prameswari sedikit menjelaskan tujuan bertemu pak. Alex.
" tunggu sebentar ya... Mbak mohon duduk disana sebentar saya coba hubungi pak Alex. Apakah sudah datang atau belum? " jawab resepsionis sopan.
" baik, trimakasih banyak" jawab Prameswari sopan dan anggun yang hari ini memakai pakaian terusan rok panjang dengan atas diaplikasikan blazer dan sepatu high 7 cm cukup menunjang penampilan Prameswari pagi ini.
Setelah menunggu 5 menit kemudian resepsionis datang untuk naik ke lantai teratas lantai 10.
" mbak naik aja ke lantai 10 di sana hanya ada 2 ruangan yaitu milik ceo dan asisten nya pak Alex. Nanti mbak akan bertemu dengan sekretaris beliau dan bilang saja ingin menemui pak Alex. Kebetulan beliau sedang meeting dengan bos. Mbak tunggu saja" warta resepsionis atas nama yulia di atas meja.
Prameswari pun melangkah menuju lift menuju ke lantai 10.sesampai di lantai 10 Prameswari Di tabrakan seorang laki laki berparas bule tetapi kulitnya bersih seperti Cina, menggunakan semi jas, celana jeans dan rambut ala opa korea.
"maaf, pak saya tidak sengaja" inisiatif Prameswari meminta maaf lebih dulu sedang sang laki laki hanya menjawab dengan tatapan mengimintidasi lawan
"hmmm"
" gila dia yang salah gak minta maaf hanya jawab hmmm, syukur aku yang minta maaf duluan padahal dia yang salah. Gak ada sopan santun nya" gerutu Prameswari, sedang laki laki yang menabraknya hanya melirik sambil menyunggimgkan senyum mendengar gerutuan Prameswari.
Baru saja Prameswari akan melangkah dari lift nampak seorang gadis yang tiba tiba berbicara sedikit agak keras
"oh jadi ini alasan mu putus dari aku hah. Kamu tau bert aku gak terima, gadis jelek kayak gini nyingkirin aku. Secara aku lebih cantik an kenapa dia yang kamu pilih" marah sang gadis. Menunjuk Prameswari yang tertegun mendengar ucapan gadis itu
"diam kau Helena ini kantor bukan pasar atau moll harusnya kamu punya sopan santun dan keluar kamu!!!, dari pada aku panggil satpam!" balas laki laki yang di panggil Bert dingin menatap tajam mengancam perempuan yang bernama helena. Perempuan itu pun mendengus menatap tajam Prameswari penuh dendam dan sorot mata kebencian.
" awas saja kamu, aku akan balas kalian! " ancam Helena langsung berbalik masuk lift sedang Prameswari melangkah keriangan pak alex.
*** tok...tok...tok.... ***
Prameswari pun masuk setelah di persilakan masuk oleh alex
" ada yang bisa saya bantu!" tanya Alex.
" maaf pak, saya datang untuk melengkapi berkas dan beberapa file yang bapak titipkan kepada profesor ari dari Universitas xxx" jawab Prameswari menyerahkan map kepada Alex. Alex pun mengambil berkas dan memanggil sekretaris nya.
" kamu ikuti sekretaris saya, dan kamu ambil name tag di HRD dan kamu ikuti arahan dari sekretaris saya untuk 3 bulan kamu training di bawah pimpinan saya langsung. Selamat bergabung, semoga kamu betah berkerja disini.". Ucap alex memberi isyarat kepada sekretaris untuk mengantar Prameswari ke bagian HRD.
" kamu antar nona? " tanya alex kelihatan ke arah prameswari
" Prameswari dewanti pak" jawab Prameswari.
"kamu antar nona Prameswari ke bagian HRD lalu siapkan 1 meja lagi di samping kamu. Ajari semua yang harus dia lakukan sebagai seorang sekretaris" ucap alex kepada sekretarisnya.
" dan kamu juga akan saya arahkan tugas apa saja sebagai seorang asisten setelah dari HRD langsung temui saya lagi!, kalian berdua boleh keluar". Ucap alex mengintruksikan untuk ke HRD dan kembali ke ruangan alex lagi.
Prameswari dan sekretaris Alex pun keluar ruangan untuk menuju ke HRD. Sementara Alex melangkah keluar untuk masuk keuangan ceo, tanpa mengetuk pintu alex masuk dan duduk di sofa ruangan ceo.
"masuk gak ketok pintu, gak ucap salam bikin heboh aja. Ada apa kenapa tiba tiba datang" tanya Albert Dirgantara
"kamu udah tau kan kalau dia datang, pujaan hatimu!" jawab alex antusias.
"ckk, jangan asal kamu pujaan hatiku, dia hanya calon pegawai" jawab Albert santai.
" jangan munafik kamu bert kamu lama putus dan gak pernah mau punya hubungan apapun selama 2 tahun karena dia kan?" Berondong Alex.
" dia berbeda, aku udah dapat informasi dari orang kepercayaan ku dan aku sudah meminangnya pada ayahnya 2 tahun yang lalu tanpa sepengetahuan putrinya. Dia calon istriku" jawab Albert santai.
"tapi kamu tekan dan ancam ayahnya." blas Alex.
" karena ayah nya bodoh tidak tau jika ibu tiri ya akn menjual ank gadisnya pada g***o!" jawab Albert geram.
" kenapa kamu begitu mencintainya?" tanya alex
" dia gadis kecilku, dia yang menolongmu dari pembunuhan yang sudah di rencanakan pamanku, kamu ingatkan!!! " jawab Albert.
" jadi dia gadis kecil itu! " tanya Alex.
" iya dia gadis kecil itu yang menolongku kalah masih berduka ditinggal mamanya" jawab Albert menerawang mengingat kalah penuh luka setelah mobil masuk ke jurang dan di pinggir jurang ada gadis kecil sedang menangis sedih. Gadis kecil itu menarik membantu nya untuk naik dan membawa ke rumah kosong untuk mengobati lukanya dan menelpon rumah sakit dan menelpon Alex yang kalah itu sedang berada di sekitar kejadian mencari Albert.
Seandainya tidak ada Prameswari kecil mungkin nyawa Albert tidak akan tertolong dengan luka parah dan banyak kehabisan darah. Bahkan rumah sakit banyak membutuhkan darah o untuk Albert, gadis kecil Prameswari juga menyumbangkan darahnya untuk membantu menyelamatkan ALBERT kalah itu.
"trus bagaimana ayah nya saat 2 tahun lalu kamu meminangnya dan menikahi gadisitu tanda sepengetahuan nya. Bagaimana ayah nya?" tanya Alex.
"ayahnya tidak bisa berbuat apa apa. Dan ibu tirinya tidak bisa menjual gadis kecil itu lagi.ini bukti surat nikah dan foto ijab qobul aku dan ayahnya sedang saat itu putrinya mendengarkan via video call, aku juga punya video acara sakral itu.!" jawab Albert santai.
"kenapa kamu tidak bicara langsung kalau kamu suaminya! rasanya sungguh tidak tega jika kamu sembunyikan terus kebenarannya" tanya Alex.
Suatu saat aku pasti, aku hanya ingin kami pacaran versi halal, dan dia merasa aku pantas untuk dia". Jawab Albert
"ok. Aku akan kembali keruangan sebentar lagi mereka akn kembali ke ruangan ku!" pamit Alex.
"trimakasih banyak untuk bantuan mu selama ini Lex" jawab Albert.
"jangan lupa bonusku ha...ha..ha!!!!" jawab Alex. yang bangun dan melangkah keruangan nya disertai tawa meledek ke sahabat dan juga bosnya.
Albert hanya tersenyum menghadapi candaan sahabatnya yang selalu mendampinginya hingga mereka sampai berada di titik masa keemasan mereka di usia yang tidak mudah lagi 34 membuat mereka semakin matang dalam melangkah.
Alex yang telah menikah dengan sahabat mereka dan memiliki seorang putra memiliki kehidupan yang damai sedang Albert yang juga telah di ketahui menikah 2 tahun yang lalu namun terpisah dengan sang istri karena keadaan. Mereka saling mendukung satu sama lain dan Alex selalu mengikuti kemanapun sahabatnya berada.
* BAB. 4
" aku nitip Cafe dulu selama aku training gak papa kan yan?" tanya Prameswari kala pagi saat mereka akan berangkat. Damayanti ke Cafe mereka sedang Prameswari menjalani magang 3 bulan.
"gak papa kamu gak usah pikirin cafe kita aman kok!!".Jawab Damayanti pandangan tetap fokus kedepan karena jalanan lumayan padat dan takut terlambat mengantarkan Prameswari untuk magang.
"wa, kamu bawa bekal berat berat gak pa pa ya.!!!" tanya Damayanti
"aman kok!, aku seneng aja lo bawa bekal berasa tetap punya keluarga gak berasa sendiri" jawab Prameswari
"kita udah mau wisuda lo wa ga minat cari suami video call kamu ga!". Tanya Damayanti hati hati. Mendengar pertanyaan Damayanti, Prameswari tawa nya meledak.
"aku serius kok" lanjutnya bertanya.
" biarin aja, kalau ngerasa dia punya istri pasti di cari kok!!!" jawab Prameswari singkat.
"trus alamat mahar rumah kamu dimana?" tanya Damayanti hati hati.
" belum kulihat sih, masih kusimpan dalam koper kecil disana tersimpan semua barang penting dari nya" jawab Prameswari.
" Tapi aman kan" tanya Damayanti masih dengan pandangan ke depan
" aman karena bukan aku yang simpan tapi bank yang simpan dia yang naruh di sana, aku hanya sempat kesana untuk cek aja!" jawab Prameswari merekapun terus bercengkerama
Sesampai di vin group Prameswari pun turun di lobi setelah pamit Damayanti. Prameswari pun melangkah menuju lift untuk naik ke lantai 10 di sepanjang jalan menuju lift banyak yang memperhatikan nya. Baju kantoran dengan celana panjang kain dan blazer nampak sederhana membuat mereka merasa Prameswari bukan seorang yang memiliki selera tinggi tapi Prameswari hanya diem tetap melangkah dengan percaya diri.
Di lantai 10 Prameswari di sambut sekretaris alex dan mulai mengajari nya semua yang harus di kerjakan dan wajib di ketahui. Jam makan siang Prameswari diajak istirahat di kantin kantor sama Rena sekretaris Alex.
"kita makan di kantin ga papa dik meswari?" tanya Rena melihat wawa.
"ga papa mbak Rena kita ke kantin aja, mushola dekat sana gk mbak?" tanya wawa mengeluarkan mukena dari dalam tasnya. Lalu mengunci lokernya lagi.
"ada sebelah kantin, ntar kita bisa samaan aku antar biar gak kesasar!" jawab Rena tersenyum lalu berdiri dan melangkah menuju ke lift di ikuti Prameswari di belakang Rena.
Mereka jalan beriringan menuju kantin yang di ikuti pandangan pagawai dari divisi lain. Bagi perempuan mereka menilai penampilan pegawai baru di perusahaan mereka untuk menilai apakah patut menjadi saingan dalam memperebutkan hati sang ceo yang dingin dan arogan tetapi dengan semua kelebihan yang tak kalah menggetarkan jiwa para hawa. Sedang bagi kaum adam lajang, mereka berusaha mencuri perhatian Prameswari yang cantik, anggun dan sederhana.
Prameswari dan Rena terus berjalan mencari meja kosong dekat pintu keluar yang bersebelahan dengan mushola. Mereka berdua duduk berhadapan, Rena memanggil pelayan dan memesan makan siang.
"gimana hari pertama kerja disini!" tanya Rena.
" baik mbak Rena, banyak yang masih harus saya pelajari mbak. Tapi aku berusaha kok mbak supaya cepat dalam proses belajar". Jawab Prameswari bijak. Rena pun tersenyum melihat semangat Prameswari dalam belajar.
"kamu tau gak lo bakal jadi sekretaris bos besar".tanya Rena.
"hah... maksudnya gimana mbak Rena" tanya Prameswari bingung.
" oh, belum di kasih tau ya... Oh ga papa lupain aja". Jawab Rena takut.
"oh, iya mbak. Mbak Rena seneng nongkrong di Cafe gak mbak. Kalo suka aku mau rekomendasikan Cafe enak di sekitar sini mbak tempat nya okey kok, nyaman dan ramah pelayan nya" promosi Prameswari tentang Cafe nya dan Damayanti.
"apa nama Cafe nya? Aku sering nongkrong di Dames Cafe, Cafe nya asik banyak spot foto Dan suasana yang nyaman dan makanan nya yang enak gak kalau hotel bintang 5 tapi harga sesuai kaum kita" cerita Rena tentang Cafe yang sedang naik daun.
"itu maksudku mbak dames Cafe. Dames Cafe" jawab Prameswari semangat karena dia gak nyangka kalau Cafe yang di dirikan bersama Damayanti banyak di kenal tidak hanya anak sma, kuliah bahkan orang kantoran pun banyak mengenal Cafe nya.
" mbak Rena udah selesai makan belum?, aku udah mbak Rena mau sholat ni!" tanya prameswari
"aku juga udah, yuk kita sholat barengan" jawab Rena berdiri di ikuti Prameswari di belakang Rena Dan mereka keluar kantin menuju mushola di samping kantin.
Di dalam musholah setelah wudhu Prameswari dan rena pun mulai menghadap sang khaliq. Setelah selesai mereka jalan beriringan menuju ke ruangan mereka di lantai atas. Dari jauh ada sepasang mata memperhatikan setiap pergerakan Prameswari sambil tersenyum penuh cinta.
Saat menunggu di lift ada 2 manager keuangan dan pemasaran menyapa rena dan Prameswari.
"ren, ada pegawai baru ya... Kok gak di kenalin sama kita!" sapa pak hendra manager keuangan disambut senyum rena, Niko manager pemasaran Dan Prameswari sebagai kesopanan.
"iya pak, ini Prameswari bawahan bos besar langsung pak hendra. Pak niko" jawab rena.
"oh ya kenalan Prameswari ini yang tinggi kurus pak hendra manager keuangan dan ini yang agak berisi pak niko manager pemasaran" lanjut rena
"Salam kenal pak hendra pak niko, saya Prameswari" jawab Prameswari sambil menangkupkan tangan sebagai pengganti jabat tangan.
Prameswari menyadari kalau dia seorang istri walaupun belum bertemu suami dan tinggal bersamanya dan sebagai seorang istri dia harus menjaga diri dan marwahnya. Lalu merekapun melanjutkan naik ke lift sambil berbincang tetapi di lantai 8 pak hendra, dan pak niko keluar duluan baru di lantai 10 rena dan Prameswari keluar melangkah masuk ruangan duduk di meja mereka asing masing.
* BAB. 5
Malam minggu di Cafe Dames, Prameswari Dan Damayanti sibuk dalam posisi masing masing. Damayanti di kasir dan Prameswari dibarista dengan memakai celemek kantong. Suasana malam minggu yang rame membuat mereka tidak bisa berleha leha. Ceff tio yang di dapur pun terus berkolaborasi dengan masakan.
Prameswari yang terus menerus melayani pengunjung yang memesan minuman tidak menyadari sepasang mata elang mengawasi sejak awal dia duduk di ujung. Albert yang duduk di temani alex hanya tersenyum melihat tingkah Albert yang seperti abg jatuh cinta. Alex pun memanggil pelayan lalu memesan menu andalan malam minggu.
Setelah pesanan datang Albert dan Alex pun makan setelah tandas mereka melanjutkan ngobrol hingga jam 10 malam. Karena terlalu lelah dia pun mengajak Damayanti untuk pulang lebih dulu tapi Damayanti masih ingin menyelesaikan sampai tutup Cafe.
" yan balik yuk!!! Cape ni...!!!!". Ucap Prameswari manja kepada Damayanti.
"aku nunggu nutup dulu kamu tidur di kantor aja ntar aku bangunkan ya!!!" balas Damayanti kepada Prameswari.
" ya udah..., aku Cape banget rasanya badan pegal pegal. Aku tidur dulu ya!!!. Pusing cape bnget ntar bangunin aku ya lo mau balik" ucap Prameswari meletakkan celemek Batista nya lalu keluar stand barista melangkah masuk ke kantor.
Di dalam kantor, Prameswari masuk ketoilet membersihkan tubuh dan membuka paper bag untuk mengambil baju ganti, setelah ganti baju Prameswari pun keluar toilet dan tidur di sofa berbantal boneka doraemon yang di beli pertama kali launching cafe Dames.
Sementara diruang pengunjung nampak di meja Albert gelisah karena tidak melihat Prameswari keluar dari ruangan kantor.
"kenapa Bert kok gelisah kayak gitu?" tanya Alex.
" si wawa kemana ya!!!, kok gak balik ke barista lagi.!". Tanya Albert pada diri sendiri. Tapi masih sempat terdengar Alex.
" kata cewek kasir itu, dia ngantuk tadi ngajak pulang tapi kerjaan belum kelar. Makanya dia tidur di kantor! ". Jawab Alex.
" kok tau Lex, kmu nguping ya...!!? ". Tanya Albert.
" iya waktu dia ngobrol sama temannya tadi?" jawab Alex tak berdosa.
" tapi wawa gak sakitkan lex, dia hanya kecapean aja kan? ". Katanya cewek yang kasir sih gitu bert.
Sementara Albert dan Alex bertahan di Cafe hingga Cafe akan tutup, Albert menatap Bill pembayaran yang berada di tangan nya. Alex mengajak Albert untuk pergi dari Cafe
" kita tunggu di mobil aja bert sekalian keadaan bini lo, Bert" ucap Alex.
" iya sekalian kita antar kerumah temannya, lagian aku juga heran kenapa si dia gak mau tinggal di rumah yang jadi mahar dia si. Kan dekat sini?" tanya Albert geram sendiri.
"ya ntar kamu tanya deh biar enak, dari pada tanya aku yang gak tau perasaan bini lo yang aneh itu. Dikasih enak malah cari susah" jawab Alex asal yang di tinju dari samping sama Albert.
"gila lo main kdrt, habis kamu sih... Suruh temuin istrimu langsung gak mau malah mata mata in doi trus gerutu gak jelas ke aku mana kutau isi hati istri kamu si bert. Udah ajak baik baik bilang aku suami kamu yuk kita tinggal satu rumah.kan enak" seloroh alex bersungut sungut di sambut cengiran sama Albert.
Setelah menunggu sedikit lama terlihat dari kejauhan nampak mobil Damayanti keluar dari parkiran cafe melaju melewati depan mobil alex yang diparkir di luar cafe, setelah yakin jika Prameswari ada di dalam mobil bersama Damayanti. Alex melanjutkan mobilnya mengikuti mobil Damayanti dari jarang yang tak terlalu dekat sehingga tidak terlalu di curigai oleh mereka,mobil terus melaju membelah kemacetan kota metropolitan. Setelah mobil yang mereka ikuti memasuki garasi sebuah rumah maka merekapun berbalik kembali melanjutkan membelah kemacetan yang lagi lagi mereka lalui.
"kenapa kamu gak langsung jujur bilang sama Prameswari kalau dia istri sah kamu bert?, aku sahabatmu aku hanya kasih saran jujurlah daripada kamu tersiksa." tanya Alex masih menatap ke depan fokus menyetir.
" aku tidak mau di kira memanfaatkan keadaan nya!, aku ingin dia menerima aku apa adanya? " jawab Albert acuh mendengarkan music klasik Yang di putar alex.
" tapi minimal kasih tau atau datangi dia tunjukkan batang hidungmu, jangan bertemu dia sebagai pimpinan yang arogan. Come on dia your wife not your employee. Kenapa harus mempersulit diri si" tanya Alex lagi dengan menggeleng kan kepala tidak mengerti jalan pikiran sahabat karibnya.
"aku pasti akan temuin dia dan memberi kejutan di hari wisuda nya, aku akan menunjukkan bahwa dia tidak sendiri, dia masih punya aku yang akan melindungi dia dari orang yang berniat jahat padanya terutama ibu tirinya" jawab Albert panjang lebar.
"ya terserah kamu aja jangan sampai kamu menyesal karena dia mencintai orang lain. Kamu tau dia sangat cantik walau tidak suka bersolek dia masih alami" tanya Alex lagi memancing kecemburuan Albert.
" sit, diam kamu Lex!".